Makna Menulis

SAYA LUPA kapan tepatnya mulai mencoba merangkai kata dan menuangkannya dalam tulisan. Saya memang sudah menyukai tugas mengarang dan pelajaran Bahasa Indonesia, mungkin sejak saya tahu apa itu mengarang. Namun, saya ingat dengan jelas diary pertama yang saya jadikan media untuk karya-karya yang masih sangat hijau, baik dari segi ide, maupun kepenulisan.

Buku itu berwarna hijau, bermotif bunga-bunga dengan semburat oranye pada setiap kelopaknya. Sampulnya keras, dan motif bunganya terasa timbul jika disentuh. Ketika lembar pertama yang kosong, polos, dan harum dibuka usai kaver yang keras itu, ada kolom untuk menuliskan biodata standar, seperti nama, alamat, dan nomor telepon.

Di baliknya, berbarislah lembaran-lembaran isi buku. Berkolom lebar dan aromanya harum. Helai kertasnya tebal, wajar saja harganya relatif mahal pada saat itu. Kalau saja tidak pakai duit sendiri hasil menang lomba tilawah, pasti saya tidak akan bisa membelinya.

Pada lembaran-lembaran itulah saya tuliskan sebuah kisah pembuka; tentang dua gadis remaja yang saling berebutan cowok idaman mereka. Sangat klise. Namun, dengan kepercayaan diri yang tangguh, saya paksa kawan-kawan sekelas yang saya cukup akrab atau punya hobi membaca cerita, membaca karya saya dan mengomentarinya. Rasa bahagianya sudah seperti saya telah memenangi sebuah lomba.

Cerita kedua yang ditorehkan dalam buku itu adalah kisah misteri. Tentang seekor kucing yang hilang, dan pemiliknya meminta bantuan dua teman sekelasnya untuk mencari. Proses pencarian memakan waktu dari pulang sekolah sampai magrib. Dari rumah sampai ke lapangan tempat main anak-anak. Melibatkan petunjuk jejak kaki dan serpihan makanan. Melewatkan adegan dramatis di mana pemilik kucing menangis dan mengenang kucing kesayangannya. Membuahkan dugaan si kucing kabur karena bosan, diculik orang jahat karena termasuk kucing mahal, atau sudah mati. Dan, berakhir dengan fakta bahwa sang kucing sedang membuntuti kucing kampung betina di kompleks sebelah dan berhasil mengajaknya kawin.

Lagi-lagi, klise. Namun, lagi-lagi pula, komentar kawan-kawan yang positif membuat saya terus bersemangat mengisi diary dengan cerita lain yang sama klisenya. Saya bahkan tidak tahu, apakah mereka betulan membaca dan betulan suka, atau sengaja memuji biar saya bahagia. Yang saya tahu, saya bahagia menulis dan bahagia menerima tanggapan atas tulisan saya.

Cerita yang entah keberapa adalah cerita yang saya tulis berdasarkan kisah nyata. Agak mirip dengan kisah pertama. Kisruh dua sahabat yang mencuat gara-gara menyukai orang yang sama. Saya tulis cerita itu sebagai pelampiasan untuk menghibur hati setelah terlibat masalah dengan seorang sahabat. Tentu saja, cerita itu tak berani saya tayangkan pada siapa-siapa. Sejak cerita itu tertulis di dalamnya, diary menjadi benda privat yang serbarahasia. Dilesakkan di dalam lemari pakaian, di tumpukan paling bawah, bukan di rak buku. Tak berani saya bawa ke sekolah karena tahu kawan sekelas saya bukan orang yang mengerti kata rahasia atau privasi.

Buku itu saya bakar begitu lulus SMP. Selain karena menuh-menuhin rak buku, saya kalut dan merasa bakal amat malu jika rahasia yang ada di dalamnya terbongkar. Keputusan ini saya sesali kemudian. Saya menyesal tidak lagi punya kenang-kenangan masa SMP selain buku paket yang teronggok dalam kardus.

Menginjak masa SMA, tulisan saya sudah beralih genre. Bukan lagi curhat terselubung atau halu tersusun, melainkan sarana untuk fangirling-an. Menjadi K-Popers di masa kejayaan FFN dan fitur catatan Facebook membantu saya untuk itu, kendati saya tidak mengisi akun FFN atau catatan Facebook saya dengan tulisan pada masa itu, karena tidak punya sarana. Semua fanfiksi saya tuangkan dalam buku tulis. Pembacanya pun hanya satu orang, teman satu fandom, Pit, yang itu pun karena kami saling tukar buku. Kebanyakan di antaranya adalah cerita tentang personil FT Island. Ada salah satu kisah khayalan saya tentang bagaimana Oh Won Bin keluar dari band itu, meninggalkan teman seperjuangannya. Dan, ya … Buku tulisnya pun sudah jadi debu tanah sekarang.

Selulusnya saya dari masa dua belas tahun pendidikan, geliat menulis saya sudah bukan lagi menulis. Tinta pena beralih jadi ketikan di layar. Tiada lagi kertas polos yang disulap jadi penuh coretan. Saya menulis di status, di kolom komentar, di note Facebook, terlebih setelah saya bergabung dengan sebuah komunitas roleplay. Di sana, saya banyak belajar dari teman-teman yang memiliki kemampuan menulis, baik yang sudah menelurkan karya dan sering memenangkan juara, ataupun yang tidak. Mereka hebat-hebat. Membuat saya kerapkali merasa kerdil setiap membaca karya-karya mereka.

Mungkin karena kebiasaan yang berubah jadi hobi itulah, maka kini menulis adalah candu. Saya merasa harus terus menulis, apa saja. Cerpen, drabble, flashfiction, diary, puisi, ide-ide di kepala, atau mimpi. Saya tak pernah bisa berhenti menulis, merangkai kata, sependek atau seremeh apa pun tulisannya. Saya pun tak peduli ada dan tiadanya manusia yang membaca tulisan saya. Sepertinya saya memang ketagihan menulis sampai rasanya putus asa bila tak melakukannya.

Bagi saya, menulis adalah terapi. Katarsis untuk semua kegundahan dan masalah hidup. Dengan menulis, saya bisa melupakan sejenak masalah-masalah yang melanda dan membiarkan otak ini menari-nari bersama rentetan diksi. Dengan menulis, saya bisa mengenang masalah-masalah itu dan melampiaskannya dalam wujud paragraf yang membantu saya mengempiskan balon penampung di kepala dan hati. Dengan menulis, saya bisa menghibur diri, mencegah waktu saya terbuang untuk hal yang tidak nyaman bagi diri sendiri. Menuangkan curhatan dalam wujud cerita naratif ternyata menyenangkan. Saya jadi bisa lebih melihat masalah bukan sebagai masalah saya, melainkan masalah dari seseorang yang saya tuliskan.

Bagi saya, menulis adalah refleksi. Momen di mana saya berkaca akan diri sendiri, memikirkan hal-hal secara mendalam, mengelaborasinya baik-baik, lalu melontarkannya dalam susunan aksara bermakna.

Bagi saya, menulis adalah solilokui. Ada terlalu banyak kalimat, ide, atau pemikiran, yang butuh untuk saya lontarkan, tapi terlalu malas untuk saya ungkapkan secara lisan, karena tiada yang akan mendengar. Mengabadikannya dalam sebuah wacana adalah pilihan yang lebih menenangkan.

Bagi saya, menulis adalah kebebasan. Dengan menulis, saya bisa menjadi diri saya sendiri.  Saya bisa bercerita selepas yang saya ingin.

Bagi saya, menulis adalah seni. Keterampilan. Upaya. Penggalian. Pelampiasan. Pengalihan. Pelepasan. Puja-puji. Doa. Mimpi. Mukjizat. Fakta. Opini. Pengklaiman. Latihan. Mengenang. Mengabadikan. Keegoisan.

Satu kata, tapi berjuta makna. Satu aktivitas, tapi berjuta tujuan.

Seajaib itulah menulis.