Ketika Menyendiri

ME TIME, momen menyenangkan diri sendiri, merupakan momen krusial bagi seseorang untuk beristirahat dari aktivitas sehari-hari dan menyediakan waktu bagi diri sendiri. Melepaskan diri dari anak, suami, istri, tetangga, kerabat, rekan kerja, bahkan sahabat. Intinya, menyendiri.

Masing-masing orang punya kegiatan sendiri yang bisa dilakukan ketika me time. Mulai dari belanja cantik, menyambangi salon atau spa, blogging serta blogwalking, bahkan sampai hal sesimpel tidur. Beberapa orang terdekat saya bilang, tanpa me time, sepertinya mereka bisa jadi zombie. Stress dan suntuk sepanjang waktu.

Makanya, saya pikir, me time ini memang sangat diperlukan buat kesehatan psikis manusia.

Saya sendiri enggak perlu meluangkan waktu untuk me time, sebab di luar urusan pekerjaan dan hal-hal krusial lainnya, saya memang demen menyendiri. Hampir setiap hari saya habiskan waktuku untuk memanjakan diri, mencari, melakukan, menemukan apa yang saya inginkan. Dan, apa pun yang saya lakukan dalam me time versi saya, bakal membawa banyak cerita.

Menulis

Di kesempatan sebelumnya, saya pernah bilang bahwa menulis adalah katarsis. Tanpa menulis, saya tidak akan tahu saya ada. Tanpa menulis, saya cuma cangkang tanpa isi, raga tanpa atma, hidup tanpa rasa. Tanpa menulis pula, sepertinya saya bisa lupa akan banyak hal. Seperti kata Ali bin Abi Thalib r.a., menulis bisa mengikat ilmu. Selalu saya sempatkan waktu sebisa mungkin untuk menulis apa saja. Status, memo, cuitan Twitter, pos blog, komentar, menjawab pertanyaan di Quora, atau bahkan cuma sekadar mencoret-coret asal di dalam agenda atau notes. Kalau tidak sedang menulis di sini, mungkin saya ada di tempat lain. Kalau tidak di tempat lain pula, maka barangkali saya sedang melakukan kegiatan di bawah.

“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.” ― Imam Al-Ghazali


Membaca

Bila menulis adalah penyaluran, maka membaca adalah menabung. Dr. Seuss pernah bilang, semakin sering kita membaca, semakin banyak hal yang kita tahu. Saya memaknainya bukan cuma membaca tulisan, tapi juga membaca alam, adat istiadat, dan lingkungan sekitar.

Seperti menulis, saya membaca apa saja. Al Qur’an, buku agama, buku ilmiah, novel, pos-pos blog atau situs, status Facebook, komik, cerpen, artikel, jawaban Quora, bahkan koran sobek buat bungkus beli cabai. Dan, kalau saya kepingin benar-benar menseriusi bacaan, saya harus melakukannya sendirian, di kamar sambil tiduran di kasur. Enggak ada posisi yang lebih nikmat ketimbang itu. Konsekuensinya, mata saya rusak di masa belia.

Tidur

Bagi kebanyakan orang, tidur adalah kesempatan untuk mengistirahatkan tubuh dan otak. Bagi saya, tidur itu kebutuhan primer. Apalagi kalau lagi dismenorea parah, bisa banget saya tidur seharian sampai ileran dan nembus. Makanya, kalau tidur dalam kondisi tengah period, saya lapisi ranjang pakai perlak bayi.

Beda waktu, beda adegan. Walau mengaku punya relationship abadi dengan kasur, selimut, bantal dan guling, tapi di kondisi normal, jadwal tidur saya malah sangat minim. Terkadang saya enggak bisa tidur sampai pagi sehingga tidak tidur selama dua hari. Terkadang saya cuma tidur sejam atau setengah jam. Saya seolah punya alarm alami untuk terbangun pukul setengah empat, tak peduli berapa lama saya tidur. Jam biologis saya sungguh kacau-balau.

Merenung

Adalah kebiasaan rutin yang saya lakukan setiap hari tanpa alpa. Biasanya yang jadi pelanggar rutinitas ini cuma tamu atau kondangan. Banyak orang bilang, kita enggak bakal jadi apa-apa kalau banyak melamun. Mungkin orang-orang ini lupa kalau Bung Karno menemukan Pancasila justru dengan melamun. Walau saya lebih suka menyebutnya dengan kata merenung.

Dalam prosesi merenung, saya menggali apa saja yang saya lewati seharian itu. Seringnya enggak banyak hal luar biasa yang saya jumpai atau saya lakukan, sehingga yang saya renungkan adalah apa yang baru atau pernah saya baca. Biasanya, pekerjaan merenung bisa memberi ide baru untuk menulis. Blog ini adalah buah dari hasil renungan saya. Jadi, tepatlah bila saya katakan tempat ini adalah tempat sampah untuk membuang rongsokan isi pikiran.

Ke Pantai

Kulari ke hutan kemudian menyanyiku
Kulari ke pantai kemudian teriakku
Sepi… sepi dan sendiri aku benci
Ingin bingar aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat
Enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri


Itu versi Ada Apa dengan Cinta?. Kalau versi saya beda lagi. Berhubung saya pengin ke hutan tapi nggak cukup nyali pergi sendirian karena takut kesurupan meski enggak membenci kesepian, saya harus menggubah puisi sendiri biar relatable.

Kulari ke hutan, tapi tak cukup nyali
Aku pun mundur lalu lari ke pantai, menghibur diri
Hitam, legam, kelam, tetap saja tak kubenci
Aroma malam terbawa angin
Kulit mengisut terbasuh dingin
Namun, tetap saja tak menyurutkan ingin
Bersama butir pasir yang terinjak
Anganku terangkat tinggalkan pijak
Berkelana bersama bintang dan sajak-sajak
Di sanalah kulihat Tuhan beranjak
Diiringi suara debur air yang beriak
Mendekat
Mendekap
Lalu erat
Lalu kerlap


Saya sering sekali mendatangi pantai. Di kota saya, ada pantai yang di sebelahnya berdiri sebuah masjid, sehingga saya tak perlu memusingkan urusan ibadah. Menyambangi pasir pantai pada dini hari, lebih menyenangkan, apalagi kalau sudah bolak-balik memejamkan mata, tapi enggak kunjung bisa tidur. Pukul satu atau dua malam, duduk bersila di sana. Saat jalanan lagi sepi-sepinya. Terkadang bertemu nelayan yang pulang melaut. Kadang melihat orang-orang mabuk dan aromanya sampai tercium dan membuat diri ini ikutan mabuk.

Yang saya lakukan di sana cuma berdiri. Diam. Menyaksikan ombak. Merasakan angin meski besoknya saya bisa kena masuk-angin. Kalau langit sedang cerah, saya bisa melihat bintang. Lalu merenung (lagi). Tentang hidup, alam, karuniaNya yang luar biasa. Kadang saya ketawa sendirian, tapi toh enggak ada orang yang lihat. Lagipula dengan masker di muka, hoodie menutup kerudung kepala, enggak akan ada yang mengenali siapa makhluk sinting yang bertengger cekikikan di pesisir.

Mengamati Kucing
Saya menyukai hampir semua hewan, tapi berhubung di tempat saya lebih banyak kucing liar, merekalah yang lebih sering jadi objek pengamatan.

Dulu, saya suka curhat sama kucing, karena merasa tidak akan ada seorang manusia pun yang mengerti saya, meski kalau ada orang yang melihat bakal mengira saya sinting. Pernah juga saya curhat sama ayam, waktu abang keempat masih tinggal bersama dan kami masih memelihara ayam. Pernah pula saya curhat sama kelinci, tapi tak lama karena mereka berdua keburu mati. Namun, kucing tetap jadi teman curhat bahkan sampai sekarang, walau cuma ditimpali dengan tatapan waspada—atau apalah, saya enggak paham bahasa tubuh meong selain minta makan.

Ada tiga peristiwa berkesan yang berlangsung dalam proses mengamati kucing.

Waktu kecil, saya suka melihat kucing pup. Semua itu bermula dari pengalaman pertama yang sampai sekarang tidak bisa saya lupa.

Sore sekitar waktu ashar, saya bermaksud memberi makan Ongky—kucing liar yang sering datang minta makan dan numpang tidur di rumah—karena kalah taruhan monopoli. Saya panggil-panggil si Ongky. Tak lama, ia dyatang, tapi seperti bimbang sebentar, ia pun berlari ke samping rumah. Lho, Ongky kenapa, mau dikasih makan, kok malah pergi? Enggak biasanya.

Karena penasaran, saya pun mengejarnya. Ternyata Ongky lagi pup di atas gundukan pasir yang dipersiapkan untuk membangun rumah tetangga. Saya amati bagaimana Ongky pup sampai tuntas, berlanjut sampai ia mengubur fesesnya dengan pasir. Setelah itu dia mengendus-endusi pasirnya, seolah memastikan masih bau atau tidak. Mungkin karena masih bau, ditimbunnya lagi. Beberapa kali ia melakukan ini sampai mungkin hidungnya enggak lagi mencium bau aneh, baru datang ke arah saya sambil mengeong minta makan.

Di situlah saya bertanya, ‘Dari mana kucing belajar adab seperti itu, ya?’ Pertanyaan ini sampai sekarang enggak saya tahu jawabannya.

Berikutnya, kejadian beberapa tahun setelahnya, di mana hari berhujan deras sekali. Dari kaca jendela, saya dan keluarga yang lagi berkumpul melihat di tengah pasir, ada induk kucing kebingungan. Ia terlihat bingung mau kabur atau bagaimana, pasalnya, ia punya lima ekor anak kucing yang kelihatannya baru lahir dan belum bisa bergerak lincah. Mereka terguyur hujan sampai basah kuyup.

Kakak ipar saya menyeru, “Aduh, kasihan kucingnya. Itu induknya mau ngubur anaknya pakai pasir biar enggak keguyur, kayaknya.” Diperintahkannya saya mengambil kardus, dan menemaninya pergi memunguti kucing-kucing itu. Saya memikul kardus, dan ia menggenggam payung.

Induk kucing kelihatan bingung waktu saya membentak, menyuruhnya masuk kardus yang sudah dilapisi kain. Ya iyalah, mana ngerti dia. Kakak ipar saya yang tak sabar menyaksikan ketololan saya, menyuruh untuk memasukkan anak kucing saja dulu ke dalam. Dan, ternyata benar. Setelah dua ekor masuk, induknya juga ikutan menggigit sisa anaknya yang lain dan memasukkannya ke dalam, sebelum ikut masuk. Kami membawanya ke dalam rumah.

Omong-omong, Kakak ipar saya alergi bulu kucing dan benci anak kucing. Hari itu, ia ogah dekat-dekat dapur dan bersin-bersin sampai besok.

Lalu, peristiwa baru. Tadi sore.

Sudah seminggu ini, saya jadi hafal jadwal kucing gang datang di dekat pohon di belakang indekos. Mereka tiba berbarengan dengan kepulangan saya. Pukul lima sore lewat sedikit. Personilnya terdiri dari induk kucing dan empat bayinya. Bulu si induk belang tiga dengan dominan putih. Satu anaknya putih dengan sedikit bercak cokelat di punggung, satunya lagi abu-abu polos, dan dua lainnya kuning. Mereka selalu mengais makanan dari tong sampah drum. Namun, sejak beberapa hari yang lalu, disediakan piring plastik khusus buat makan mereka yang isinya enggak jauh dari tulang ikan atau daging yang enggak sanggup dikunyah.

Hari ini, saya dibuat terharu gara-gara si induk kucing. Ia mendapatkan sisa makanan dari kamar sebelah, tapi semuanya keburu dikeriapi empat anaknya. Walau enggak kebagian, ia diam saja. Sehabis itu, datang lagi makanan lain mengisi wadah mereka. Kembali anak-anaknya melalap habis, dan ia diam saja. Setelah itu, anak-anaknya malah menyusu. Dengan pemikiran orang awam yang tidak mengerti apa-apa tentang kucing, saya pun bertanya-tanya bagaimana si induk bisa mengeluarkan air susu buat empat anaknya kalau dia enggak kebagian makanan. Dasar anak kucing egois.

Saya belum masak dan tak punya makanan saat itu, sehingga, saya cuma masuk kamar, membuka refrigerator dan mengeluarkan ceker ayam yang rencananya mau diolah jadi sop. Saya lumatkan tulangnya dengan batu cobek, dan menaruhnya di luar. Anak-anak kucing kembali mengerubuti. Si induk kucing pun pasrah, lagi-lagi. Untungnya, tidak semuanya saya taruh dalam wadah mereka. Sisanya saya masukkan dalam piring kecil yang sering saya pakai sebagai wadah sambal, dan saya letakkan di depan si induk.

Akhirnya si induk pun makan. Saya pun senang.

Dua kasus di atas membuat saya sadar, kalau hewan pun memiliki sisi keibuan yang mengharukan. Kenapa manusia seringnya malah mengabaikan rasa itu, ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.