Memori tentang Mimpi

MASA LALU tak dapat diulang. Sebab waktu berjalan linier, tak bisa diputar. Sayangnya, walau tahu dan mengerti betapa valid pernyataan ini, kita tidak bisa menyangkal bahwa masing-masing kita pernah berharap setidaknya ada satu adegan dalam hidup yang bisa kita ulang kembali.

Ada begitu banyak alasan yang mendorong keinginan kita untuk kembali ke masa lalu. Kamu ingin kembali agar tidak perlu menyesal karena pilihan yang keliru. Dia ingin kembali mengenang dan merasakan euforia masa lalu, sebab rasa mungkin tak pernah lagi sama seiring waktu berlalu. Saya ingin kembali bersama orang-orang yang kini sudah tiada lagi di sisi. Dan, mungkin saja mereka ingin kembali ke masa lalu dengan alasan yang lain lagi.

Di dalam kepala, ada begitu banyak kenangan yang saling tumpang tindih. Terkadang kita bisa merogohnya kembali untuk bernostalgia sejenak. Lebih sering lagi, isi brankas ingatan beraksi seolah punya kuasa sendiri; ia mencuat begitu saja, ketika kita mencium aroma, melihat tayangan, mendengar suara, atau membaca tulisan yang punya kaitan. Tanpa perlu upaya pengerukan.

Sayangnya, di antara semua adegan yang terulang, tidak hanya ada peristiwa menyenangkan, tapi juga menyakitkan. Rasa yang sekarang bisa saja tidak serupa dengan yang dulu, bisa saja ia terkikis oleh masa, lebih-lebih ia kedaluwarsa. Bagi saya, bila ada rasa yang masih tertinggal, itu artinya sebagian diri ini masih belum bisa memaafkan.

Lupakan paragraf di atas. Saya cuma mau curhat.

Menulis cerita tentang nostalgia ternyata lebih menguras energi ketimbang cerita lain yang pernah saya telurkan. Saya harus mencari referensi yang cukup tentang apa saja yang hits di masa itu. Saya terkungkung oleh tuntutan saya sendiri untuk bisa menghadirkan gelombang nostalgia itu dalam setiap racikan kata, tapi saya tidak sanggup. Saya belum sanggup.

Sedikit banyak, hal ini membuat saya tersadar kalau ternyata nyaris semua pos saya, di blog, Twitter, atau Quora, adalah prosesi mengenang peristiwa yang sudah berlalu. Saya terekspos sebagai orang yang tidak punya rancangan masa depan, dan memang benar, saya tidak lagi suka berkhayal, merancang ini dan itu, karena saya sudah sering melakukannya, dulu. Maka, saya pun paham sakitnya ketika realita membakar semua rancangan saya jadi serpih abu tak bernilai yang teronggok di pembakaran.

Saya tak lagi berani bermimpi. Namun, saya senang mengenang waktu ketika saya dulu bermimpi.

Di waktu SD, saya pernah bercita-cita menjadi seorang polwan karena kagum melihat kegagahan dan kegarangan mereka. Semenjak mengenal novel dan komik detektif, impian saya menjadi polwan semakin menjadi-jadi, lalu mengerucut jadi intel polisi. Inilah yang mendorong saya bersemangat mempelajari code dan cypher. Sayangnya postur tubuh tidak mendukung saya untuk lolos dalam tes polwan.

Saya juga pernah bercita-cita jadi guru, yang menurut saya memiliki pahala yang luar biasa, karena ilmu yang diberikan bakalan bermanfaat sampai akhir hayat, dan bisa jadi amal jariyah. Cita-cita ini bertahan sampai saya duduk di bangku SMA, namun sayangnya, tidak terealisasi. Saya hanya harus berpuas diri menjadi pendidik temporer, guru les, yang mengajarkan para keponakan tentang matematika, bahasa Inggris, sains dan sosial. Saya melakukannya dengan sukarela. Sebab bagi saya, ilmu bukanlah komoditas.

Saya pernah bercita-cita jadi penulis yang menelurkan banyak novel best seller, dan dengan bangga mengumumkannya kepada semua teman-teman saya. Tapi berikutnya, saya mengubah pandangan saya. Rasa cinta adalah rasa tanpa timbal balik. Saya cinta menulis, tapi saya tak cukup ambisius untuk mewujudkannya jadi nama atau rupiah. Maka, saya berjalan di tempat. Menulis untuk diri sendiri. Terkadang, kebahagiaan kita rasakan dalam petak mungil sederhana yang tersusun dari bambu, bukan sebuah apartemen mewah dengan fasilitas komplet.

Waktu kecil, ada sebuah kutipan yang seringkali didendangkan banyak orang sebagai motivasi:

Gantunglah mimpimu setinggi langit.

Setelah memaknai mimpi saya ternyata belum setinggi langit, saya pun kembali membangun mimpi yang lainnya dengan menyerap pernyataan di atas secara harfiah maupun kiasan. Saya ingin jadi seorang astronot. Membaca buku-buku tentang astronomi membuat imajinasi saya meliar. Saya membayangkan mendarat di bulan, di Mars, bahkan di galaksi berbeda. Saya mengandai-andaikan kehidupan lainnya di luar bumi. Dan, saya berkaca bahwa saya tak pantas jumawa jadi manusia. Betapa bumi hanya setitik debu di angkasa raya. Lalu apa kita? Siapa kita? Kehadiran kita bahkan enggak terlihat nyata di tatanan semesta.

Bila dipikir-pikir, kok rasanya lucu sekali mengingat mimpi yang pernah ada. Saya kembali ke masa lalu hanya untuk menarik angan-angan akan masa depan. Lantas saya mendapati kenyataan bahwa masa depan di masa lalu adalah masa sekarang, dan semua mimpi saya terbukti hanya jadi mimpi masa lalu. [Lihat, ada begitu banyak keterangan waktu yang ada dalam pernyataan tersebut.]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.