Selamat Hari Lahir Pancasila dari Kota Pancasila!

Tanpa mengubah niat saya dalam menulis pos ini, izinkan saya mengucapkan bela sungkawa terlebih dahulu atas berpulangnya Bupati Ende, Bapak Marselinus Y W Petu, dan Mantan Ibu Negara Republik Indonesia, Ibu Ani Yudhoyono, ke haribaan Tuhan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, rest in peace, Bapak dan Ibu. Selamat jalan. Semoga Tuhan menempatkan Anda di sisi terbaikNya dan memberi penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan. Aamiin.

Sebab sesungguhnya, kami yang sekarang menyampaikan belasungkawa, cepat atau lambat akan menyusul. Tiada jaminan hidup kami akan lebih lama.


Tidak terasa, sudah setahun saya menetap di Pulau Flores, tepatnya di kota Ende. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan Pulau Timor sebagai tempat saya lahir dan tumbuh. Panasnya serupa. Hanya saja di Kupang, tidak akan saya jumpai gunung yang menjulang menutupi kaki langit.

Ende. Saya ingat dulu ketika saya masih SD, nama kota ini disebutkan di dalam buku IPS dan membuat saya bangga. Saya bukan orang Ende, bukan orang Flores. Saya anak Timor. Namun menemukan salah satu unsur NTT yang kadar pentingnya tinggi sampai bisa masuk buku pelajaran membuat saya katrok setengah mampus. Wah, Ende! NTT! Masuk buku!

Bukannya saya mengatakan bahwa kota lain di NTT tidak penting. Bagi saya, semua titik di Nusantara dipastikan memiliki geliat perjuangannya masing-masing di masa silam. Tiada sejengkal pun tanah di muka bumi ini yang tidak punya sejarah.

Waktu itu, oleh Belanda, Ende didapuk jadi lokasi pembuangan Bung Karno. Tahun 1930-an (menurut Wikipedia, sekitar tahun 1934-1938. Menurut tuturan penjaga, tepatnya tanggal 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938). Bersama keluarga kecilnya, lelaki yang beberapa tahun lagi bakal menjadi Pemimpin pertama negeri ini, diberangkatkan dengan kapal sebagai tahanan Hindia Belanda. Penyebab pengasingannya adalah, Bung Karno yang menggabungkan diri dalam Partai Indonesia (Partindo) dianggap mengancam dan meresahkan mereka. Pulau Flores masih diselubungi kesunyian kala itu. Di kota sekitar pesisir pulau yang bernama Ende, Bung Karno bersama sang istri, Inggit Garnasih serta ibu mertua (Ibu Amsi) dan anak angkatnya, Ratna Djuami, tiba setelah delapan hari berlayar.

Selama empat tahun ke depan, Bung Karno dan keluarganya menjalani hidup di rumah warga bernama Abdullah Ambuwaru di Kampung Ambugaga, Ende. Rumah tinggal yang sangat sederhana, tidak bernomor dan berada di tengah rumah penduduk yang beratap ilalang. Sepertinya, pihak Hindia Belanda memang sengaja mendepak Bung Karno ke tengah-tengah lingkungan terpencil dengan penduduk berpendidikan rendah agar mengentaskan hubungan Soekarno dengan para loyalisnya.

Selama berada di Ende, pergerakan Bung Karno sangat dibatasi oleh pemerintah Hindia Belanda. Saban hari, beliau berkebun, membaca, melukis, bahkan menulis naskah drama pementasan. Semula beliau merasa depresi, tapi berkat penyertaan keluarga serta teringat nasib rakyat yang terombang-ambing, Bung Karno bangkit melawan pengawasan kaku kolonial. Tak dipedulikannya pasang mata yang mengintai dengan garang. Kaki beliau rutin bertandang mendatangi sejumlah kampung di sana, bercengkrama dengan warga, bahkan sempat menyelenggarakan pertunjukan sandiwara atau tonil dengan rakyat sana yang mayoritas buta huruf.

Kondisi yang teduh dan jauh dari hiruk-pikuk di Jawa malah membuat Soekarno lebih banyak berpikir daripada sebelumnya. Akan masa depan bangsa dan negara ini. Hendak ke mana dibawanya negeri yang masih harus tunduk patuh pada titah orang asing? Di saat yang sama, beliau mulai mempelajari lebih jauh soal agama Islam. Lantas, perjalanannya mengunjungi ceruk-ceruk rumah warga membuatnya tersadar akan kondisi masyarakat yang sangat beragam, terlebih setelah banyak berdiskusi dengan Pastor-pastor di Ende. Salah satu pastor yang sering menjadi sumber diskusinya bernama Pater Huijtink. Beliau juga giat berkorespondensi dengan rekan di luar nusa. Sosok yang terus berkirim surat dengannya bernama TA Hassan–tokoh Islam di Bandung.

Aktivitas inilah lalu disebut menjadikan Soekarno lebih religius dan memaknai keberagaman secara lebih dalam.

Di satu sisi Bung Karno melebarkan sayapnya dengan berinteraksi bersama banyak kalangan, di sisi lain beliau demen merenung.

Selain ruang sembahyang sebagai area buat bersemadi, spot perenungan favorit Bung Karno adalah di bawah pohon sukun bercabang lima yang menghadap ke arah pantai. Lokasinya sekitar 700 meter dari rumah kediamannya. Sebatang pohon yang unik, yang keunikannya bakal saya jelaskan lebih jauh nanti. Konon, di sanalah Bung Karno mendapatkan gagasan tentang butir-butir Pancasila yang kini menjadi falsafah negara.

Rumah pengasingan Bung Karno itu lantas dijadikan museum oleh Bung Karno sendiri pasca kemerdekaan Indonesia. Beliau mampir lagi di tahun 1951, bertemu Abdullah Ambuwaru dan meminta agar tempat tinggalnya itu dijadikan museum. Di kunjungan yang kedua, tanggal 16 Mei 1954, Bung Karno meresmikan rumah tersebut sebagai Situs Pengasingan Bung Karno yang beralamat di Jalan Perwira.

Sampai detik ini, saya baru dua kali bertandang ke lokasi meskipun jarak antara kediaman saya dengan museum ini hanya beberapa puluh kilometer saja. Kunjungan pertama berlangsung tahun 2004, bersama keluarga. Saya masih duduk di bangku sekolah dasar, kala itu. Kunjungan kedua, setahun lalu. Saya bersama dua teman kerja saya, di mana saya bertemu banyak pengunjung yang ingin ikut mengenang tempat tersebut di momen Hari Pancasila. Ada perbedaan fasad yang cukup jauh antara kunjungan pertama dan kunjungan kedua. Semakin waktu berlalu, rumah itu malah kian meremaja. Seingat saya, dahulu rumah itu tidak serapi sekarang. Dulu tidak ada patung Bung Karno yang memijaki halamannya dengan postur tegap. Rupanya, memang ada pemugaran yang dilakukan pada tahun 2012 atas inisiatif Wakil Presiden kala itu, yakni Bapak Boediono. Pemugaran dilakukan pada bagian atap berbahan seng, pelapisan cat dan peremajaan bangunan tapi dengan tetap mempertahankan kondisi semula.

Sebagai tempat yang bernilai sejarah tinggi, saya bisa merasakan bulu kuduk saya meremang bahkan sebelum kaki saya memasuki liang pintu. Mungkin ini hanya efek dari euforia saya yang berlebihan, bukannya karena ada makhluk gaib di sana. Mungkin juga karena memang ada aura khusus yang bisa kau jumpa ketika mengunjungi bangunan sederhana ini. Benda-benda bermodel kuno menarik memori dan imajinasi akan masa lalu.

Di depan pintu yang terbuka, kau akan melihat deret dua kursi dan satu meja tamu nan rapi, berbahan kayu. Ada sebuah pintu yang mengarah ke kamar Bung Karno ada di ruang tamu itu. Ada pula perabot lainnya, di sisi kanan, lemari kaca tempat ditaruhnya benda-benda seperti biola, setrika, lampu pelita, pena, dan sebagainya yang dahulu menemani Bung Karno dan keluarga. Serta beberapa naskah tonil dan foto-foto berwarna hitam putih yamg dipajang apik bersama koleksi buku tentang Bung Karno.

Tidak ketinggalan, surat keterangan kawin milik Bung Karno dan Bu Inggit yang terpampang dan dibingkai di dinding. Namun, seolah menjadi bukti perjalanan cinta sang presiden cassanova, surat itu ditemani oleh surat perjanjian cerai antara keduanya. Sebagaimana yang terukir dalam sejarah, bahwa setelah Bung Karno diasingkan ke Ende, beliau dipindahkan ke Bengkulu dan jatuh hati pada Bu Fatmawati. Baik Bu Fatma maupun Bu Inggit enggan dimadu, sehingga salah satu memilih mundur dari kisah cinta nan rumit ini.

Ada pula luisan-lukisan sang Proklamator yang terpajang apik di beberapa sudut rumah. Yang paling menonjol, adalah lukisan perempuan-perempuan Bali yang bersembahyang.

Masuklah lebih ke dalam, kau akan mendapati ruang kecil yang menjadi ruang tengah dengan dua pintu lain di sana. Satu pintu menuju kamar yang ditempati oleh Bung Karno dan Bu Inggit, istrinya, sementara pintu lainnya menuju kamar sang mertua. Jadi, kamar Bung Karno memiliki dua liang pintu. Rangka tempat tidurnya berbahan besi, tipe ranjang zaman baheula. Rangka itu asli. Hanya saja oleh pihak pengelola, diberikan tambahan kasur dan kelambu agar terkesan lebih seperti rumah yang masih didiami.

Di bagian belakangnya, kau akan menemukan sebuah ruang kecil yang tak punya furnitur apa pun. Ruang berukuran sekitar tiga setengah kali dua setengah meter itulah yang menjadi tempat persemedian sang presiden pertama. Ada beberapa bagian di lantai yang lebih rendah daripada permukaan lantai lainnya bagai tak kuasa menampung beban tubuh, di mana klop dengan jidat, dua tangan, dan lutut-lututmu bila kau berpose selayaknya orang bersujud dalam salat. Ruang itu menjadi saksi betapa getolnya Bung Karno bersembahyang. Sungguh bertolak-belakang dengan isu yang pernah menimpa beliau bahwa beliau adalah seorang Komunis yang anti-Islam.

Berangkatlah dari sana, lihatlah ke pelataran. Ada sebuah sumur yang menjadi sumber air di rumah itu. Sumur itu masih dipertahankan sampai sekarang, padahal setahu saya, sumur-sumur di kota Ende sudah lama dibongkar semua. (Ya iyalah, situs sejarah, kan?) Sumur itu masih mengeluarkan air; air yang lantas dikeramatkan warga. Saya maklum, orang kita memang demen mengkultuskan seseorang, sesuatu yang ajaib atau sesuatu berkaitan dengan orang yang kita puja.

Perjalanan berakhir di taman perenungan Bung Karno. Sosoknya yang diabadikan dalam wujud arca, duduk bersilang kaki di bawah rerimbun pohon sukun bercabang lima. Jumlah yang mengingatkan kau pada butir Pancasila. Konon, pohon itu memang memberi inspirasi bagi Bung Karno dalam menyusun dasar negara kita. Lantas apa spesialnya pohon sukun itu? Tidak ada, kecuali bahwa telah ditebangi namun tetap tumbuh dengan jumlah cabang yang sama. Oleh masyarakat sekitar, pohon itu dijuluki ‘Pohon Pancasila.’

Melihat patung beliau duduk di sana membuat imajinasi saya meliar. Orang-orang pudar. Yang saya bayangkan berikutnya adalah bagaimana di suatu hari, Bung Karno duduk seperti kemarin-kemarinnya di spot yang sama, memandang lepas ke arah pantai, gamang memikirkan nasib rakyat. Lantas kepalanya berputar, matanya tertumbuk pada jumlah cabang pohon yang menjadi naungannya, lalu kepalanya memberi ide tentang lima butir penting yang bisa menjadi naungan negara. Mungkin kejadiannya tidak seperti itu. Mungkin imajinasi saya menyalahi sejarah yang ada. Namun, membayangkan betapa sosok Bapak Proklamator merenung dan memikirkan dasar negara untuk ke depannya membuat saya getir. Wahai, Bung, atau lebih etis saya panggil ‘Pak’. Wahai, Pak … Adakah engkau membayangkan bahwa perjuanganmu bakal dilungsurkan oleh orang kepercayaanmu sendiri? Dan … Adakah engkau telah menduga bahwa dasar negara yang kau pikirkan dalam-dalam itu, kelak dicorengi, dinistakan, dan ingin didepak dari negara ini oleh rakyatmu sendiri?

Bila benar, apakah ini yang kau maksud dalam pernyataanmu bahwa perjuanganmu lebih mudah karena melawan penjajah, sedang perjuangan kami bakal lebih sukar karena melawan bangsa kami sendiri?

Dan, wahai engkau orang-orang yang tidak percaya pada kekuatan Pancasila …, pernahkan engkau sedikit saja menekuri bahwa untuk membentuk lima butir yang kini kaunistai itu, para pendahulu telah memikirkannya matang-matang dengan melihat kondisi negeri? Negeri yang majemuk. Negeri yang diharap bijaksana. Negeri yang airnya kau minum, tanahnya kau pijaki dan hasil alamnya kau masukkan ke dalam perutmu.

Dulu, setiap upacara bendera, saya selalu malas kalau sudah berdiri di tengah terik, lantas harus mengikuti pembina upacara melantangkan Pancasila. Walhasil, saya akan melafalkannya dengan nada malas. Untuk apa sih dibaca keras-keras? pikir saya. Tapi kini saya punya bayangannya. Mungkin dengan melantangkannya keras-keras, lima kalimat yang menjadi dasar negara itu bakal tertoreh di kepala, tertanam di hati, hingga kita bisa benar-benar menjadikannya dasar dalam berperilaku sebagai warga negara.

Saya Indonesia, Saya Pancasila

Ende, 1 Juni 2019
Selamat Hari Lahir Pancasila
dari saya, warga negara yang belum memberimu apa-apa

ps:

Oh, ya. Bila kau bertandang ke Ende, selain menyambangi Danau Kelimutu, datanglah ke mari. Datanglah pada hari Senin-Jumat di jam kerja, karena Sabtu dan Minggu museum ini ditutup kecuali bila ada janji khusus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.