Konsep Yin dan Yang dari “Satu Kelas” Bareng Mantan dan Gebetan

Jarang ada novel teenlit yang membuat saya tertarik untuk membeli. Jangankan membeli, membaca saja nggak sanggup. Buat apa dibeli kalau nggak dibaca? Novel teenlit terakhir yang saya tamatkan adalah Ada Apa Dengan Cinta, sebuah novel yang diadaptasi Silvarani dari film keluaran tahun 2000-an produksi Mira Lesmana. Itu pun saya baca karena penasaran, mampukah novel ini merepresentasikan dengan baik adegan-adegan terkenal dari film dalam bentuk narasi? Selebihnya, nihil. Nggak minat. Mungkin memang sudah bukan masanya. Setelah gumoh karena baca Dilan, saya agak trauma dengan novel teenlit.

Waktu saya mudik kemarin, saya menemukan novel teenlit keponakan saya. Baiklah, mari kenalan terlebih dahulu, seperti apa keponakan saya ini. Kalau di rumah kami ada orang yang minat bacanya paling rendah, saya bakal langsung menunjuk namanya. Satu-satunya jenis barang yang bakal dibacanya dengan sukarela cuma komik (termasuk webtoon). Makanya, saya takjub melihat halaman depan setelah kover berterakan namanya yang artinya, itu novel punya dia.

Berawal dari rasa penasaran akan ‘kayak apa sih novel yang bikin dia jadi bersedia membaca?’ maka saya pun memutuskan menganalisisnya. Dimulai dari penulisnya, Citra N. Masih asing buat saya, tapi saya tahu ini karena main saya yang kurang jauh, bukan penulisnya yang kurang tenar. Lalu sampul, uhm … Not bad. Sudah kelihatan teenlit banget karena gambarnya seragam SMA dan buku rumus. Warnanya juga kalem, netral, nggak feminim juga maskulin. Berikutnya saya lihat info buku serta blurb-nya dan saya temukan data seperti berikut ini:

Satu Kelas by Citra Novy

Judul: Satu Kelas

Penulis: Citra Novy

Penerbit: Elex Media Komputindo

Ketebalan: 356 halaman

ISBN : 9786020485577

Tahun Terbit: November 2018

Blurb:

Aldeo punya mantan, namanya Sandria. Sedangkan status Elvina itu gebetan.

Kalau satu kelas sama mantan itu kesialan, terus satu kelas sama gebetan itu keberuntungan. Nah, kalau satu kelas sama mantan dan gebetan, jadinya apa?

Ojan, temen sebangku Aldeo bilang, “Mungkin aja itu sama kayak konsep Yin dan Yang. Ketika dua sifat berlawanan bersatu, maka akan memberi kekuatan satu sama lain.”

Yang bisa Aldeo lalukan hanya mengangguk-angguk, lalu berkata lembut ke telinga temannya itu, “Kekuatan nenek lo nungging!”


“Wah, receh nih!” pikir saya. Nggak ada salahnya saya kembali nostalgia ke masa SMA dengan membaca buku yang saya asumsikan nggak bakal ngebosenin ini.

Daaan setelah saya baca …

Saya berani bikin pernyataan lebih doyan novel ini karena Satu Kelas tiga kali lebih keren daripada Dilan. Bagi saya lho, ya. Konfliknya tuh simpel banget, asli, ini cuma tentang bagaimana kasus percintaan anak remaja doang.

Seperti yang tertera di blurb, ini adalah kisah sengketa hati(?) yang melibatkan Aldeo, seorang cowok yang suka main sepakbola, sama mantannya, Sandria, cewek berkacamata, disiplin dan paling pinter seangkatan yang dijagokan bakal mewakili sekolah dalam lomba olimpiade matematika, dan Elvina, gebetannya yang energik, populer dan jago nge-dance.

Hanya saja, bukan remaja kalau persoalan simpel nggak dibikin jadi rumit. Selain karena konflik-konflik lain yang memang nyesek seperti masalah keluarga Sandria atau persahabatannya dengan Rita, masalah utamanya yaitu kelabilan hati dan tingkah laku Aldeo juga dapet banget rasanya. Sebenarnya saya kurang suka novel yang POV-nya gonta-ganti, tapi penggunaan POV 1 dari sudut pandang Aldeo, Sandria dan Elvira secara bergantian, justru memberi satu poin plus agar pembaca paham apa sebenarnya yang mereka rasakan dan pikirkan tentang tingkah laku satu sama lain. Walau porsi Elvira nggak sebanyak Aldeo dan Sandria yang disorot sejak awal cerita. Dan, inilah yang bikin kita gemas sama kelabilan Aldeo.

Kisah Aldeo bukan satu-satunya masalah cinta-cintaan di sini. Ada pula masalah anggota geng Aldeo yang terdiri dari Ojan yang kocak, Sonson yang woles dan Dito si ketua kelas yang pendiam, yang masing-masing punya porsi tersendiri, lengkap dengan kerecehan dan dialog sampah mereka. Walau Aldeo lagi mumet sama kasus percintaannya serta perhatiannya yang bikin baper, dia nggak bisa melepaskan diri dari jiwa kocak yang mendarah daging kalau sudah ngumpul sama gengnya. Nggak lebay kalau saya bilang novel ini adalah novel gado-gado, bikin nyesek iya, bikin gemes iya, bikin kesel iya, bikin ngakak juga iya.

Membaca Satu Kelas membuat saya betulan nostalgia akan masa SMA. Pasalnya, ada beberapa adegan ringan yang memang lazim berlangsung di lingkaran pergaulan dan sekolah remaja baik di zaman dulu maupun sekarang, kayak sahabat yang naksir orang yang sama, jotos-jotosan, teman yang nggak bisa dipercaya alias tukang MT, sampai ngutang gorengan kantin dan tagihan uang kas. Citra Novy mengemas semuanya dengan santai dan rapi.

Ilustrasi-ilustrasi di dalam novel ini juga berkontribusi membangun mood. Nilai plus untuk buku ini dari aspek percetakannya, terlebih buat mengabadikan kutipan receh dari Ojan. Yup, di sini, tokoh favorit saya ya Ojan.

Kutipan yang paling receh bagi saya adalah:

Mantan itu masalalu, bukan masalague (Ojan, hlm. 47)

Bisa nggak sih, gue balik aja jadi sperma? Yang masalahnya cuma satu, kejar-kejaran sama sel lain buat nyampe duluan di sel telur. Yang menang, ya hidup, yang kalah, ya mati. (Ojan, hlm. 278)

Seperti pepatah, kalau jauh keingetan, kalau deket keringetan. (Ojan, hlm. 312)

Cewek tuh suka sama rayuan buaya, karena mereka sangat tahu kalau lidah buaya itu banyak manfaatnya. (Ojan, hlm. 324)

Iya, Ojan memang se-quote-able itu.

Maka, nggak heran kalau keponakan saya yang nggak doyan baca jadi tertarik membeli novel ini.

Dari semua penilaian di atas, saya bisa bilang kalau novel ini recommended buat kalian yang pengin bacaan ringan tapi tetap berisi. Ending Satu Kelas juga masuk dalam kategori favorit saya karena saya memang doyan ending yang gantung sehingga ngasih saya kesempatan buat memuaskan diri saya sendiri dengan bayangan yang ada di kepala saya. Untuk itu, saya dengan ikhlas ngasih rating 4 dari 5 bintang untuk Ojan. Well, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan semata. LMAO.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.