Yahudi oh, Yahudi, Malang Nian Nasibmu

“Jangan main Pokemon! Pokemon itu dalam bahasa Syria, artinya ‘Aku Yahudi’!”

Kamu, kok, nonton Upin Ipin, sih?! Itu konspirasi Yahudi!”

Dan, berhubung ponsel lama saya menggunakan stiker Pikachu, serta gantungan kunci saya juga berbentuk Pikachu, sekali waktu saya pernah kena yang beginian:

“Itu gambar Pikachu, kan? Itu artinya ‘Jadilah Yahudi’, tahu!”

HAAAAAH?!

[Disclaimer. Tulisan ini merupakan rangkuman informasi dan opini pribadi, pengalaman sendiri, serta informasi dari beberapa Quoran atas pertanyaan Mengapa banyak Muslim di Indonesia dan di dunia yang membenci orang dan agama Yahudi? Bagaimana kita bisa membenci tanpa mengenal satu pun dari mereka?]


Saya tidak tahu, orang yang bilang arti Pikachu dan Pokemon demikian itu, bermaksud satir atau memang betulan jadi korban kampanye anti Pokemon Go bertahun-tahun silam. Maka, saya cuma ber’oh‘ sambil ketawa sumbang.

Yah, kita semua pasti mengerti kalau pernyataan-pernyataan di atas itu cuma beberapa dari sekian banyak potret anti-Yahudi yang melintasi negeri kita. Yahudi bagaikan seonggok najis yang harus kita jauhi. Sebelumnya, pada tahun 2010an, tersiar kabar bahwa Ahmad Dhani adalah seorang Yahudi dan Pemuja Dajjal karena simbol-simbol tertentu yang diselipkan dalam video musik grup-grup yang ditelurkannya, yang dinamakan Subliminal Message. Iya dong, saya tahu, sebab saya juga salah satu yang rajin cari tahu soal ini, dulu.

Apa salah Yahudi?

Kenapa ia begitu dibenci oleh banyak kalangan?

Mayoritas orang Indonesia membenci Yahudi karena diri mereka sendiri Muslim. Beberapa dalil yang menjadi alasan membenci Yahudi, adalah sebagai berikut:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Lalu, apakah dengan landasan tersebut, kita jadi merasa pantas membenci mereka?

Ada satu hal yang acapkali luput dari perhatian kita di saat menukil suatu ayat dan memadupadankannya dengan fenomena masa kini. Asbabun nuzul. Sebab-sebab diturunkannya ayat. Ada kisah tertentu yang melatarbelakangi suatu ayat diturunkan, tak terkecuali ayat di atas.

Orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu‘. Mari kita telaah dari bahasa Arabnya. Teks aslinya berbunyi begini: وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ yang ditransliterasi ke huruf Latin, jadi walan tardhā ‘anka. Sampai di sini, mengerti?

Tidak? Belum?

Ayat tersebut menggunakan partikel kata tunjuk singular: ka, dan bukan kum.

Yang bermakna, ia disasarkan hanya kepada satu orang. Kita tahu dengan jelas siapa orang itu. Ia yang menerima Al Qur’an. Rasulullah bernama Muhammad bin Abdullah yang lahir di jazirah Arab.

Jangan kepedean dengan mengira surat itu ditujukan kepada kita.

Melalui ayat itu, Nabi Muhammad diminta fokus untuk mengharapkan ridha Allah, dan tidak perlu mencari-cari cara untuk menyenangkan Yahudi dan Nasrani. Apa yang Nabi dakwahkan kepada mereka untuk berkumpul bersama dalam kasih Islam itu, akan mereka tentang karena di antara mereka sendiri saja saling tidak cocok. Nasrani tidak cocok dengan Yahudi, begitu pula sebaliknya.

Yahudi dan Nasrani tidak dapat bertemu untuk rela padamu, wahai Nabi, kecuali kalau engkau menjadi seorang Yahudi atau seorang Nasrani. Dan hal itu tidak mungkin. Karena engkau adalah pribadi yang satu. Tidak mungkin kau menjadi keduanya sekaligus yang saling bertentangan itu. Jadi, carilah ridha Allah semata dan tidak perlu risau dengan mereka yang tidak rela denganmu. Kurang lebih, seperti itu pesannya.

Jadi, ayat ini sama sekali bukan kabar bahwa umat Nasrani dan Yahudi itu membenci kita. HAHAHA. Lagipula, kalaupun memang benar begitu–jika engkau ngotot dengan mengutip kisah Nabi dihina orang Yahudi atau Nasrani, dan mengabaikan fakta bahwa orang pertama yang mengakui kenabian Rasulullah adalah dari kalangan mereka juga–pantaskah kita membalas itu dengan kebencian yang sama?

Larangan Menyerupai Suatu Kaum

Selain ayat di atas, ada lagi dalil yang digunakan oleh beberapa kalangan Muslim yang melarang kita jadi seperti Yahudi. Yaitu larangan agar bersikap tasyabbuh (meniru) kaum-kaum terdahulu.

“Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi, juga Nashrani, karena sungguh mereka kaum Yahudi memberi salam dengan isyarat jari jemari, dan kaum Nasrani memberi salam dengan isyarat telapak tangannya.” (HR Tirmidzi)

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR Abu Dawud)

Ayat inilah yang sering disampaikan ketika kita menggunakan atribut pikachu, memainkan game pokemon, padahal di masa lalu, orang Yahudi tidak tahu apa itu pokemon dan pikachu. Hebat juga, Yahudi, mereka merancang sesuatu yang lebih kukuh daripada syahadat, untuk generasi masa depan, yang tanpa melafalkannya serta meyakininya. Cukup menyukainya saja, maka syahadat orang Muslim bisa terguncang.

Uh-oh. Tentu saja larangan meniru ini berlaku dalam konteks tertentu. Dalam syiar agama (seperti orang Nasrani yang memanggil dengan lonceng, Yahudi dengan terompet, dan Majusi dengan api, sementara Rasulullah memerintahkan azan), ritual-ritual agama dan beribadatan, serta sesuatu yang bertentangan dengam anjuran agama kita, misalnya mengikuti kaum terdahulu yang menentang Rasul mereka.

Kalau saja kita mau jeli melihat, tidak ada hal asli dari suatu kaum tertentu. Ketauhidan yang kita gembar-gemborkan, justru bermula dari Nabi Ibrahim, dan dari Ibrahimlah diturunkan Yahudi, Nasrani, lalu Islam. Ibadah yang kita sombongkan juga dulu sudah dilakukan oleh umat sebelum kita (dalam beberapa riwayat, nabi-nabi tertentu dikatakan melakukan salat, puasa, kurban, berderma (zakat), dan mendalami kitab mereka masing-masing). Nabi yang kita imani pun berasal dari kalangan mereka. Beberapa aliran Kristen Ortodoks atau Yahudi tertentu juga mengenal ibadah dengan waktu-waktu yang ditentukan, seperti sembahyang fajar, pagi, tengah hari, sore hari, petang, malam, dan tengah malam. Tanpa sadar, kita ini sebenarnya memang sudah mengikuti kebiasaan dan tradisi umat terdahulu. Semua ini warisan. Turun-temurun diimani sejarah. Bahkan, tradisi menggunakan baju, atau menguburkan orang mati ke dalam tanah pun, diturunkan dari umat terdahulu. Bukan sebuah inovasi yang baru dilakukan pada abad ke-6 Masehi.

Apakah pantas kita membenci sampai sebegitunya?

Yahudi dari Masa Ke Masa

Pilunya, bila kita membalik sejarah, akan kita temukan bahwa sejak dulu, Yahudi memang sudah dimusuhi.

Zaman Mesir: ketika lahirnya Nabi Musa, Firaun ingin membunuh bayi-bayi orang Israel.

Zaman Persia: Orang Yahudi sempat mau dibunuh oleh kerajaan tersebut karena bangsa Yahudi berserakan di berbagai tempat dan kerajaan. Pada akhirnya, Ratu Ester menyelamatkan orang Yahudi dan peristiwa ini dikenal sebagai Purim.

Zaman Romawi: Orang Yahudi dibenci karena ibadah mereka untuk menyembah satu Tuhan. Menyembah Tuhan berarti menolak kaisar sebagai tuhan mereka. Akhirnya, Bait Allah diruntuhkan. Peristiwa ini diingat sebagai Hanukkah.

Abad Pertengahan: Gereja Roma Katolik mengadakan Perang Salib untuk merebut Yerusalem kembali dari orang Muslim. Namun, mereka menemukan ada Muslim atau non-Kristiani lainnya yang tidak percaya Yesus/Salib, yakni orang Yahudi. Muncullah ide tentang anti-semitisme di Eropa di mana orang Yahudi dikenal sebagai ‘Pembunuh Yesus’.

Reformasi: Martin Luther menulis traktat tentang The Jews and Their Lies setelah gagal mengkonversi orang Yahudi.

Modern: Orang Yahudi dikenal sebagai kelompok yang anti-naisonalis sebab keberadaan mereka berada di berbagai negara. Kemudian pemerintah Nazi Jerman bergerak untuk menghabisi orang Yahudi dengan membuat Holocaust.

Hari ini: Orang Yahudi dibenci oleh kelompok Muslim dan orang Barat karena kebijakan negara Israel yang anti-Palestina.

Jews, Judaism, Zionist

Kebencian orang-orang di masa sekarang kadang tidak berdasar.

Sebagian besar orang keliru mengenali Yahudi sebagai bangsa atau agama, dan antara Yahudi dengan Zionis. Mereka tidak tahu bahwa mereka membenci orang yang salah karena melihat dari sudut yang keliru. Begitu mendengar kata Yahudi saja, akan timbul rasa jijik bersamaan dengan munculnya tayangan bagaimana ‘Yahudi’ versi mereka menindas bangsa Palestina.

Dan mereka tidak sadar tengah termakan kebodohan sendiri.

Sekurang-kurangnya, ada 4 hal berbeda yang dipersamakan oleh masyarakat Indonesia, yaitu Yahudi sebagai bangsa (Jews), Yahudi sebagai agama (Judaism), gerakan Zionis, dan negara Israel.

Yahudi Sebagai Bangsa

Sungguh hipokrit mereka yang membenci bangsa Yahudi, tapi di sisi lain mengaku sebagai orang beragama Abrahamik. Dari sekian banyak nabi dan rasul yang wajib diimani, beberapa di antaranya justru adalah kaum Yahudi. Yahudi sendiri, adalah julukan bagi bangsa keturunan Ya’qub (Yakub) bin Ishak, atau di dalam Al Qur’an, dinamakan Bani Israil. Maka, Nabi Yusuf, Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Yahya, Zakaria dan Isa, adalah bangsa Yahudi.

Masih mau membenci orang Yahudi?

Yahudi Sebagai Agama

Yahudi sebagai agama adalah suatu risalah ketauhidan yang disampaikan melalui Musa (Moses) kepada kaumnya. Perlu diketahui bahwa sekarang ini, agama Yahudi adalah agama eksklusif yang hanya bisa dipeluk oleh bangsa Yahudi dan keturunannya. Jadi, ungkapan ‘aku Yahudi’ sampai beratus kali sambil main game Pokemon Go tidak akan diakui sebagai orang Yahudi, kalau kamu tidak punya darah Yahudi. Sekali lagi, jangan kepedean.

Zionisme

Zionisme merupakan gerakan politik di kalangan warga Yahudi yang mencuat pada tahun 1897. Pendiri gerakan politik tersebut adalah seorang wartawan Yahudi bernama Theodor Herzl.

Theodor Herzl

Pada saat itu, bangsa Yahudi tersebar ke seluruh Eropa. Mereka tidak memiliki tanah dan negara yang menyatukan mereka. Satu-satunya yang mereka miliki adalah identitas darah Yahudi yang oleh Herzl ingin disatukan dalam kesatuan geografis, sebuah negara yang menaungi warga Yahudi.

Saat pertama kali dilontarkan Herzl, gagasan tersebut tak sepenuhnya diterima oleh para rabi Yahudi. Beberapa tokoh kunci seperti Martin Buber, Karl Popper, Hermann Cohen, hingga Judah L. Magnes dengan lantang menolak gagasan Herzl tersebut. Alasannya, gagasan tersebut akan sia-sia, tak sesuai dengan visi Yahudi yang justru harus menyebar ke seluruh dunia.

Negara Israel

Meski mendapat penolakan, gerakan zionis itu sendiri pada akhirnya berhasil membangun negara Israel pada 14 Mei 1948. Setelah beratus tahun bangsa Yahudi berdiaspora, mereka ingin pulang ke tanah asalnya. Bagi mereka, tanah bernama Betlehem adalah tanah yang diperjanjikan Tuhan kepada mereka. Persoalannya, tanah yang mereka ambil untuk dijadikan negara telah diduduki oleh bangsa Palestina. Perang besar pun sempat tak terhindarkan.

Jadi, duhai sobat ber-flower, konflik Palestina bukanlah konflik agama. Jadi percuma umat Muslim sok jadi korban kezaliman umat Yahudi. Kenyataannya, data berbicara bahwa di Israel bukan cuma orang Yahudi (Judaism) yang hidup dan menetap, tapi juga ada Muslim dan Kristiani. Warga negara Israel pun bukan cuma orang Yahudi (Jews) tapi ada pula orang Arab.

Kenyataan pula yang mengatakan, bahwa Rasulullah tak pernah membenci orang Yahudi. Justru dalam suatu riwayat, dikisahkan beliau memberi makan dan menyuapi seorang Yahudi. Beliau beri perlindungan bagi kehidupan orang Yahudi dan Nasrani. Jadi, siapakah yang engkau teladani dengan membenci kaum Yahudi sampai separuh mati?

Bagaimana dengan bangsa Yahudi yang ngaco sehingga dikutuk Allah? Ya itulah cerita yang diabadikan dalam kitab untuk jadi bahan pembelajaran umat selanjutnya. Pada dasarnya, setiap kaum memiliki pengacau tersendiri. Yang perusak dan dikutuk bukan cuma umat Yahudi. Ada kaum Sodom (Luth), bangsa Aram (Hud), bangsa Ninewe (Yunus), Madain (Saleh), termasuk pula kafir Quraisy dari tanah Rasulullah.

Dan, merupakan kenyataan juga bahwa ketika Islamophobia marak diperdengungkan di Amerika, kaum Yahudi turun ke jalan, ikut membela orang Muslim dengan alasan solidaritas dan persaudaraan. Selain karena mereka pun tahu bagaimana rasanya penindasan dari zaman ke zaman, mereka juga merasa bahwa kita ini sama. Serumpun. Berasal dari satu Bapak, Bapak Monoteisme, Ibrahim a.k.a Abraham.

Sayangnya, setelah kita bicara tentang data, masih akan ada orang yang bandel membantah,

“Alah, itu kan, cuma akal-akalannya media saja! Media sudah disusupi Yahudi!”

Kebiasaan denial akan fakta. Giliran orang Islam meneror orang lain dengan membawa nama agama, bakal ditampik, ‘Itu bukan golongan kami!’. Padahal, bukti-bukti kalau Yahudi tidak seperti apa yang dipersepsikan, ada dan nyata. Bukan seperti orang yang membenci dan menakuti hal yang dispekulasikan sendiri.

“Kiamat sudah dekat! Dasar pengikut Dajjal, kamu! Kebenaran dibilang penipuan. Omong kosong kok dipercaya?”

Nah, bagaimana kalau kalimat itu dikembalikan? Tidak ada yang bisa tahu pasti kebenaran dan bukan selain Allah Yang Mahatahu.

Atau, yah, silakan saja kalau mau hidup dalam kebencian pada hantu ilusi bernama Yahudi dan kena skizofrenia karena ketakutan ini sendiri.