Perkara Pseudonim

What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.

BEGITULAH kata William Shakespeare, pujangga termahsyur dari negeri sang Ratu Elizabeth. Iya. Apa sih, artinya sebuah nama? Tapi pertanyaan ini sepertinya enggak berlaku kalau Anda tinggal di Indonesia, Bung Shakespeare.

Di Indonesia, orang tua perlu mikir panjang lebar kali dalam untuk menamai anaknya. Pertama, banyak orang yang masih percaya dengan anggapan bahwa nama adalah doa. Jika orang tua menamakan seorang anak dengan nama Muhammad, maka bisa dipastikan orang tersebut kepingin anaknya punya kepribadian seperti Muhammad S.A.W.

Kedua, nama itu label. Identitas. Orang enggak mungkin terus-terusan memanggil orang lain dengan ‘kamu’ atau ‘si kribo’, karena maknanya ambigu. Kan, enggak lucu kalau saya memanggil seseorang “Eh, Si Kribo” tapi orang kribo lain di sana yang menoleh. Makanya dibutuhkan sebuah nama yang simpel sebagai identitas.

Enggak heran jika dalam kartu identitas atau data diri nama selalu dimunculkan paling awal. Karena itu krusial. Enggak heran juga jika ada orangtua yang menamakan anaknya dengan nama yang bukan cuma punya arti baik, tetapi juga unik. Karena nama yang pasaran kadangkala dirasakan seseorang kurang menunjukkan identitasnya, atau kurang spesial.

Makanya, kalau muncul kasus seperti beberapa waktu lalu di mana seorang artis memarahi penggemarnya yang menamakan anaknya dengan nama anak sang artis, saya maklum. Karena tentu si artis sudah susah-payah memikirkan nama yang unik buat anaknya, yang enggak ada duanya di dunia. Namun, mirisnya, justru dalam satu hari saja, sang penggemar mematahkan harapan si artis. Ya wajar dong, kalau si artis ngamuk-ngamuk.

Ketiga, kalau kamu salah memberi nama buat anak, itu bisa jadi bahan ejekan. Jika seseorang dikasih nama yang artinya jelek, pelafalannya ambigu, atau mudah diplesetkan jadi kata yang lucu, namanya bisa diolok-olok temannya. Beberapa anak mungkin bisa menerimanya sebagai candaan, tetapi ada juga yang bisa emosi dan mendendam karena itu.

Sebagai manusia yang demen memplesetkan nama orang, saya pernah ketemu beberapa teman saya yang menolak diplesetkan namanya. Bisa-bisa mereka jadi benci pada nama mereka sendiri karena sering dijadikan bahan olok. Itu bukan karena humor mereka rendahan, mereka cuma enggak mau nama mereka dilecehkan. Sesederhana itu.

Kalau soal menamakan mawar dengan nama lain (seperti tahi, misalnya), tentu saja dengan nama tahi pun, bunga berduri enggak akan jadi bau. Sayangnya, interpetasi orang yang mendengar nama tahi-lah yang bakalan melenceng. Tahi sudah dikenal sebagai benda ampas yang keluar dari perut manusia untuk dibuang ke kakus, dan beraroma tidak sedap. Itulah yang dinamakan dengan identitas. Kecuali kalau penamaan mawar menjadi tahi dimulai sejak awal sekali—sejak manusia belum mengenal nama benda. Maka tidak apa-apa jika bunga berduri namanya tahi, dan kotoran dari anus makhluk hidup ber-kingdom animalia disebut mawar. Orang-orang bakal mengenal kedua benda itu tanpa tahu bahwa di dunia paralel kedua benda itu berkebalikan namanya.

Kesimpulannya apa? Nama itu identitas. Label. Apalagi kalau manusia menambahkan makna di dalamnya. Maka, nama menjadi berarti. William Shakespeare mungkin bisa tetap dikenal sebagai penyair dengan nama lain sekalipun. Namun, faktanya, kini, namanya kondang di mana-mana. Siapakah William Shakespeare? Oh, itu seorang penyair. Orang-orang jadi tahu Romeo and Juliet itu karyanya karena ada nama William Shakespeare yang tercatut di depan sampulnya. Kalau ada yang bilang Hamlet itu karya Celestilla, bisa dibilang ngaku-ngaku.

Berhubung nama itu identitas, maka enggak heran jika ada banyak orang yang memutuskan untuk mengubah namanya. Beberapa alasan orang mengubah nama mereka, di antaranya:

Nama mereka pasaran. Ada ribuan manusia yang bernama sama seperti mereka. Ada ratusan Dewi Lestari, maka Dewi Lestari menambahkan nama barunya ‘Dee‘, agar lebih eksklusif dan mengerucut bahwa Dee Lestari yang dimaksud adalah Dewi Lestari penulis Supernova.

Kurang menyukai nama aslinya. Sekalipun banyak orang yang berceramah soal mensyukuri nama pemberian orang tua, ada banyak pula pemilik nama yang enggak nyaman menyandang nama mereka sendiri.

Saya ambil contoh seorang teman SD saya. Namanya Jufri. Jufri saja, tanpa embel-embel nama tengah, nama belakang, pun fam (marga). Sewaktu kami hendak mengikuti ujian akhir, guru kami menjelaskan kalau ijazah SD ini yang bakalan jadi identitas formal awal, jadi siapa yang kepingin ganti nama, silakan.

Jufri mengangkat tangannya. Dia berkata, bahwa namanya terlalu singkat. Ia ingin menambahkan nama belakang. Sampai kini, namanya kami kenal sebagai Jufri Alfarizi.

Ingin membuat identitas baru. Tahu Dena Rachman? Kalau googling, kita bisa menemukan fakta bahwa Mbak Dena Rachman adalah seorang artis transgender. Nama aslinya Renaldi Denada Rachman, dan dulu ia dikenal sebagai penyanyi cilik dengan nama Renaldi. Mungkin dia enggak mengubah namanya secara total karena toh, nama barunya dipetik dari nama tengah. Akan tetapi, kita bisa memaklumi jika namanya diubah karena dia ingin dikenal sebagai seseorang yang berbeda setelah operasi kelamin. Dia ingin memulai hidupnya sebagai Mbak Dena Rachman.

Contoh lain yang mungkin, misalnya Barbie Kumalasari yang dulu dikenal sebagai Kumalasari ‘Ijah’ dalam film Bidadari. Dia mengganti namanya begitu balik lagi ke dunia entertain setelah menjalani serangkaian operasi.

Di kehidupan sekeliling, banyak pula orang yang convert, entah mengganti kelamin, wajah, jenjang karier, atau pun agamanya, yang kemudian mengubah nama mereka. Karena mereka ingin membuka lembar hidup yang baru. Poin ini juga relate dengan para penulis yang menyusun nama pena, atau artis yang membuat nama panggung. Bahkan, Agatha Christie yang kita kenal sebagai penulis novel misteri terkenal pun, membuat identitas baru ketika ia mulai merambah genre lain. Bisa saja ada kasus di mana seseorang membuat nama palsu untuk menulis, nama palsu yang lain lagi untuk menggambar, nama palsu yang lain lagi untuk mengarang lagu.

Ingin menyamarkan identitas asli. Dalam anime dan manga Detektif Conan, kita menemukan banyak ilustrasi kasus ini. Conan Edogawa aslinya adalah Shinichi Kudo. Jodie Santemillion aslinya adalah Jodie Starling. Dai Moroboshi, anggota organisasi hitam dengan nama kode Rye, rupanya adalah Shuichi Akai, seorang penyusup dari FBI, yang kini menyamar (lagi) sebagai mahasiswa pascasarjana Universitas Beika bernama Subaru Okiya. Ribet? Enggak juga.

Penyamaran identitas asli seringkali dilakukan oleh orang-orang yang bekerja dalam bidang yang berbahaya dan berisiko, seperti intel, polisi, teroris, detektif, kriminal atau hacker. Jangan heran apabila kita menemukan nama alias yang banyak dari seseorang. Namun, bukan berarti masyarakat sipil enggak boleh menyamarkan identitas asli mereka. Seseorang bisa menjadi faker karena mereka punya alasan dan tujuan tertentu. Entah itu hal yang baik ataupun buruk.

Mungkin masih ada alasan lain di balik dibuatnya nama baru seseorang. Saya sendiri membentuk identitas baru di dunia maya, karena enggak kepingin ditemukan oleh orang-orang dari dunia nyata. Ada banyak faktor yang terkandung dalam alasan tersebut, seperti image saya yang berbeda (kamu boleh bilang saya munafik lol), pengalaman dicibiri, dan lain sebagainya.

Celestilla saya susun sekitar dua atau tiga tahun silam. Dulu, sewaktu masih SD, saya punya nama karangan “Desi” karena nge-fans sama Mbak Desi Ratnasari. Kemudian, saya punya nama karangan “Nia” karena nge-fans sama Mbak Nia Ramadhani, yang jelas sebelum beliau jadi istri orang konglomerat. LOL. Berikutnya, ada Sherry, Alice, Khalem, U-Niel, Han Hwa Ra, Choi Hwa Ra, dan Hiromi Asano. Sherry saya ambil karena nge-fans sama Ai Haibara. Alice karena kebetulan lagi suka kelompok berandal bernama Alice dari manga Rose Hip Zero. Khalem karena pengin kalem (Lmao). U-Niel karena nge-fans sama IU dan Juniel, penyanyi Korea. Han Hwa Ra, Choi Hwa Ra, dan Hiromi Asano adalah nama Korea dan Jepang yang saya peroleh dari situs Rum and Monkey yang pernah ngetren di masa lalu.

Celestilla kini saya jadikan identitas di dunia maya. Hampir semua akun saya menggunakan nama ini atau Illa Al-Mira. Illa adalah nama pena pertama ketika gabung Astraff dan kini saya lebih dikenal sebagai Illa, bukannya nama asli yang pasaran. Al-Mira sebetulnya sebuah anagram dari nama asli saya dan nama tengah ayah saya yang kemudian saya tambahkan awalan Al-.

Saya menggabungkan Celestial dan Illa untuk membentuk Celestilla. Sejak TK, saya tergila-gila dengan benda langit. Angkasa, hujan, petir, mendung, matahari, bintang-bintang …. Sampai ketika SMP, saya berhasil maju ke tingkat Provinsi usai seleksi Olimpiade Sains Astronomi tingkat Kota. Saya enggak berhasil masuk lima besar, sih, pada akhirnya, sehingga tidak berkesempatan maju ke OSN. Namun, dari sana, saya menemukan banyak sekali ilmu pengetahuan tambahan tentang alam semesta yang membuat kecintaan saya pada langit enggak surut-surut bahkan sampai sekarang.

Kedengarannya juga cantik. Celestilla. Makanya untuk sementara ini, saya enggak punya niat buat mengubah nama. Selain karena repot, saya juga udah kadung jatuh hati.

Walau demikian, enggak ada yang tahu besok-besok keputusan saya bakal gimana. Di pos sebelumnya, saya pernah bilang kalau saya ini konsisten dalam inkonsistensi, soalnya. :p

5 respons untuk ‘Perkara Pseudonim

    1. Sudah. Itu olimpiade pertama yang saya ikuti, sebetulnya. Hehehe. Tahun 2008 kalau enggak salah. Jadi dari sekolah dikirim empat orang perwakilan untuk masing-masing mata pelajaran. Dulu waktu SMP kami belum dapat Kimia, jadi yang dikirim cuma Matematika, Biologi, Fisika dan Astronomi. Saya baru tahu setelahnya kalau itu olimpiade astronomi buat SMP yang terakhir, karena berikutnya ditiadakan, terus akhirnya dimunculkan lagi beberapa tahun yang lalu.

      Terima kasih, ya 🙂

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.