Bidam, Kesatria yang Tersakiti

TIDAK afdol berbicara soal Mishil jika tidak menyinggung Bidam. Bidam adalah tokoh antagonis lain dalam serial Queen Seondeok yang sampai akhir tidak bisa saya benci. Alih-alih demikian, ia malah menuai simpati dari berbagai kalangan.

Percayakah kamu pada pernyataan bahwa orang jahat adalah orang baik yang tersakiti? Saya percaya. Sebagian besar orang jahat adalah orang baik yang tersakiti, baik oleh orang lain, atau justru oleh Semesta sendiri. Walau rasa sakit tidak boleh lantas menjadi pembenaran orang tersakiti sah-sah saja menjadi jahat, kita bisa melihat kebanyakan tindakan jahat memiliki motif yang tidak pernah jauh dari itu. Dan apa yang Bidam lakukan hingga apa yang ia tuai, menunjukkan hal tersebut.

Sejak lahir, Bidam alias Hyeong Jong ditelantarkan oleh ibunya sendiri, Mishil. Ia dibesarkan oleh Sang Guru Besar, Munno, tetapi dengan cara yang jauh dari kasih-sayang. Mungkin karena terbawa pemikiran dan kecemasan akan asal-usul Bidam, Munno cenderung takut padanya.

Suatu hari ketika Bidam masih kecil, ada insiden di mana anak itu melindungi buku pemberian Munno dari kuasa para penjarah, dengan cara meracuni satu kampung penjarah itu. Peristiwa itu membuat Munno percaya bahwa Bidam adalah anak yang mengerikan. Ia tidak mengerti, sebetulnya Bidam hanya butuh tuntunan. Namun, bukannya mencoba untuk menuntun jalan Bidam ke arah yang lebih baik, Munno justru menjaga jarak. Ia menolak jadi gagang pagi pedang Bidam yang terlalu tajam.

Harus saya akui bahwa darah memang lebih kental daripada air. Bidam mewarisi beberapa sifat ibunya, yakni ambisius, manipulatif, dan cerdas. Jawaban briliannya ketika menjadi seorang pendeta Ilahi gadungan saat membantu Deokman untuk muncul ke depan publik sebagai Putri, membuktikan hal ini.

Sewaktu ia ditangkap oleh orang-orang Mishil karena dianggap meresahkan warga, Mishil, yang mencari citra melalui trik sebagai pendeta Ilahi tetapi sebetulnya menampik keberadaan kehendak langit, menantang Bidam.

“Jika kau benar-benar pendeta Ilahi, kau pasti tahu kapan kau mati. Kapan kau mati? Jika kau bilang hari ini, aku akan membunuhmu besok. Jika kau bilang besok, aku akan membunuhmu hari ini.”

Bidam menjawab,

“Yang jelas, kematianku hanya berjarak tiga hari sebelum kematian Raja.”

Jawabannya sontak membuat Mishil tak berkutik. Mishil pun mengakui kecerdasan Bidam memilih menyebutkan kematian Raja. Jika saja Bidam menggunakan kematian Mishil sebagai pembanding dan bukannya kematian Raja, Mishil tidak akan segan membunuhnya.

Kendati Bidam tampak begitu liar, barbar, dan ceria seolah tak memiliki beban apa-apa, sesungguhnya ia adalah sosok rapuh yang kehilangan pegangan. Ia tidak dikaruniai cinta. Maka, ketika Deokman muncul dengan kepercayaan penuh akan Bidam, lelaki itu mengikuti Deokman bagai anak itik mencari induk. Deokman adalah orang pertama yang akhirnya memasuki cangkang kosong dalam hati Bidam dan mengisinya dengan kepercayaan. Tidak heran jika Bidam merasa sangat tersanjung setiap kali Deokman mempercayainya, memberinya tugas rahasia, atau memujinya.

Bidam pun membantunya dengan tulus, tanpa tahu atau peduli Deokman itu siapa. Lelaki yang biasa hidup berkelana itu tidak tahu tata krama di kerajaan. Semua orang berbicara pada Deokman dengan rasa hormat dan sopan, tetapi dia berbicara pada Deokman sebagai seorang teman dan bukannya seorang hamba pada Putri Raja.

Sedihnya, Bidam akhirnya tahu bahwa Mishil yang merupakan musuh besar Deokman adalah ibu kandungnya. Ia adalah anak Mishil dengan Raja Jinji (Raja Shilla yang ke-25). Hal itu membuat Bidam sangat terpukul. Jika dia berpihak pada ibunya, dia akan melawan Deokman. Jika dia tetap berpihak pada Deokman, artinya dia harus membantu menyerang ibunya.

Bidam mengobrolkan banyak hal dengan Mishil. Mishil yang selama bertahun-tahun terkenal tidak pernah meyerah untuk meraih impiannya akhirnya memutuskan untuk menyerah dan bunuh diri. Demi menyusun rencana untuk menyerahkan takhta pada Bidam. Pada Putranya.

Akan tetapi, Bidam bertahan di sisi Deokman. Melindunginya, menjadi perisai dan pedang bagi Deokman bersama Yushin dan Alcheon. Mereka menjadi orang kepercayaan Deokman, membantunya merebut takhta dan menguatkan posisi keluarga raja dari kudeta yang dilancarkan Mishil. Bahkan setelah Deokman berhasil menduduki takhta, Bidam adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisi Deokman dan berani menganggap Deokman sebagai Deokman, bukannya Sang Ratu Seondeok. Di saat semua orang menganggapnya sebagai Yang Mulia, Bidam tidak. Yushin tunduk pada Deokman dan menghormatinya, Alcheon memperlakukannya sebagaimana ia memperlakukan seorang Raja, tetapi Bidam tidak. Bagi Bidam, Deokman tetap Deokman, temannya.

Dan …, Deokman membiarkan Bidam seperti itu. Ia tidak ingin menegur ataupun merubahnya. Ia membiarkan Bidam tetap menjadi Bidam yang dikenalnya. Setelah Deokman berhasil merebut takhta dan menjadi pemurung karena berbagai pemikiran akan negeri dan rakyatnya, Bidam adalah satu-satunya orang yang mampu membuatnya tersenyum dengan sikapnya yang polos dan tingkahnya yang lucu.

Sayang, kepercayaan antara mereka justru memudar setelah itu. Benar jika Deokman bilang, bahwa setelah ia merangsak maju, tiada seorang pun yang mampu dipercayainya lagi. Bidam yang dihasut di sana-sini, dibutakan oleh ambisi untuk mengalahkan Yushin yang selama ini diketahuinya memiliki hubungan sangat erat dengan Deokman. Ditambah dengan pernyataan gurunya, Munno, yang berminat memberikan buku yang selama ini diyakininya sebagai miliknya kepada Yushin yang Munno anggap layak menjadi Raja, Bidam semakin terbakar cemburu. Belum lagi hasutan orang-orang toksik di sekelilingnya; orang-orang Mishil yang diharap Deokman mampu dikendalikan oleh Bidam tetapi justru berbalik mengendalikannya. Karena hidup dalam keskeptisan dan nihilnya kasih-sayang, Bidam tidak bisa memilih siapa yang bisa dipercayainya ketika ia dihasut di sana-sini. Lelaki itu larut dalam adu domba. Dibutakan cemburu, Bidam menjebak Yushin dan berniat menghancurkannya, agar ia bisa menjadi raja dan bersanding dengan Deokman tanpa ada satu pun penghalang. Bidam pikir, Deokman akan bisa ditundukkan dengan jalan ditaklukkan dan Bidam yang naik takhta. Dengan lancang Bidam mengimpikan bagaimana ia bisa menjadi lelaki yang lebih tinggi lagi untuk bisa menganggap Deokman sebagai Deokman tanpa diberikan label lancang atau menghina.

Inilah letak perbedaan antara Bidam dan Yushin. Yushin rela melepaskan Deokman, kemudian menikah dengan orang Mishil, sehingga keluarganya dan Deokman tak lagi diusik. Yushin juga rela melepaskan kesempatan untuk naik takhta, padahal ia didukung penuh oleh orang-orang Gaia, karena ia ingin selalu mengabdikan dirinya bagi Deokman. Sementara itu, Bidam justru sebaliknya. Ia memburu kedua-duanya, baik Deokman maupun takhta, dan tidak peduli kendatipun ia harus menjadi seorang pemberontak.

Ini menyedihkan. Padahal, Bidam bisa saja bertahan di sisi Deokman sampai akhir, sebab Deokman pun sebetulnya percaya sampai akhir, padanya.

Saya tidak bisa menyalahkan Bidam sepenuhnya. Sekali lagi, ia tidak memiliki tuntunan sejak mula-mula. Meninggalnya Munno, meninggalnya Mishil, naik takhtanya Deokman, kedekatan Deokman dengan Yushin, rasa insekur yang melanda dirinya, rasa irinya pada Yushin, hasutan orang-orang di sekeliling, semuanya membentuk Bidam menjadi lebih rapuh lagi.

Kenekatannya untuk merebut takhta membuatnya menerima predikat pengkhianat dan pemberontak yang harus dibunuh karena membahayakan Ratu.

Adegan kematiannya adalah adegan kematian paling miris yang pernah saya tonton dari sebuah drama Korea. Ia rela tercabik-cabik sembari menghitung langkah mendekati Deokman demi menyatakan sesuatu. Mendekati Deokman, bukannya mendekati Yang Mulia. Lima puluh langkah menuju Deokman, ribuan pedang menikamnya, tetapi orang-orang yang menyerang berhasil ditumbangkannya. Tiga puluh langkah menuju Deokman, lesatan anak panah menusuk tubuhnya, tetapi Bidam tetap nekat melangkah demi mendekati gadis yang ia cintai. Lima langkah menuju Deokman, Kim Yushin menghujamkan pedangnya, menumbangkan Bidam hingga jatuh tak berkutik.

Orang-orang yang dulu berjuang bersamanya membela Deokman, justru yang mencabut nyawanya di hadapan Deokman. Dan, kata terakhir yang dilirihkannya dalam embusan napas terakhirnya adalah nama Deokman. Kekasihnya.

Cinta Bidam pada Deokman adalah jenis cinta yang membakar dirinya sendiri karena dibutakan ambisi.

Dan yang memilukan adalah, sejarah mengenangnya sebagai seorang pemberontak. Tiada kabar jelas yang bisa diperoleh tentang seorang bangsawan bernama Bidam, kecuali sebagai salah satu pemberontak pada masa kepemimpinan Ratu Seondeok. Padahal semasa hidupnya, ia pernah menjadi orang yang paling dekat, paling berjuang, dan paling dipercayai Ratu Seondeok. Tetapi itulah jadinya. Terkadang, hidup memang terlalu kejam untuk bisa menilai proses karena pada garis final, dunia hanya melihat hasil akhir. Ending yang mengenaskan yang melibatkan hidup Bidam justru membuat drama ini jadi jadi kian mengesankan.

Akting Kim Nam Gil di drama ini juga sangat menakjubkan. Yah, buat saya, hanya ada segelintir aktor Korea yang cocok melakukan adegan berantem, dan di antaranya ada Kim Nam Gil Oppa. Gerakannya benar-benar gesit. Kim Nam Gil memang pantas sekali berperan jadi preman, LOL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.