Mishil, Femme Fatale Antagonis

SALAH satu perbedaan besar antara drama Korea dengan sinetron Indonesia adalah, drama Korea biasanya menawarkan pilihan. Penonton bisa memilih untuk memihak pada tokoh siapa, dan tak membatasi diri pada pilihan protagonis atau antagonis. Sebab, kebanyakan drama Korea mengungkit kasus di mana orang jahat memiliki sisi baik atau setidaknya punya alasan yang membuat kita tidak bisa membencinya hanya karena tindakannya yang menentang tokoh protagonis.

Salah satu karakter antagonis yang tidak bisa saya benci (dan malah menjadi tokoh favorit saya) adalah Lady Mishil dalam serial Queen Seondeok atau The Great Queen Seondeok. Sejak kemunculan perdananya bahkan sampai akhir kehidupannya, Mishil tak pernah gagal membuat saya jatuh cinta.

Dalam sejarah, Lady Mishil (미실, 美室, 540-600) merupakan seorang wanita figur sejarah kerajaan Silla yang wilayahnya kini menjadi bagian negara Korea Selatan. Beliau adalah seorang figur yang paling penting di dalam transkripsi Hwarang Segi. Beliau disebut Ibu dari para Hwarang.

Menurut Hwarang Segi, ia adalah putri Lord Mijinbu, dengan ibu ayahnya (Nenek dari ayah) adalah Putri Samyeop, putri Raja Beopheung. Ibunya adalah Lady Myodo, saudara perempuan Ibu Suri Sado (permaisuri Raja Jinheung). Dengan hubungan-hubungan tersebut, Mishil mendapatkan kualifikasi untuk menjadi seorang jingol (眞骨/ 진골) atau seorang bangsawan di antara sistem rangking tulang.

Ia menjadi berkuasa berkat kecantikannya dan hubungannya dengan para raja di Silla dan berbagai Pungwolju; ia adalah istri Lord Sejong (Pungwolju ke-6), kekasih Jenderal Seolwon (Pungwolju ke-7), dan merupakan selir dari 3 raja di Silla: Raja Jinheung, Raja Jinji, dan Raja Jinpyeong. Putra Mahkota Dongryeon juga jatuh cinta kepadanya.

Kekuatannya yang sangat besar membuktikan bahwa ia membujuk para bangsawan untuk menggulingkan Jinji dari tahtanya. 2 putranya (lewat banyak relasi), Lord Hajong dan Bojong, masing-masing menjadi Pungwolju ke-11 dan ke-16.

Dalam serial Queen Seondeok yang mengungkit sejarah kehidupan ratu pertama Silla (Ratu Seondeok) yang ditayangkan MBC 2009 lalu, Mishil digambarkan sebagai orang yang paling berpengaruh di kerajaan Silla. Jabatannya tak main-main. Ia adalah wanita istana (menjadi selir Jinheung dan selir raja Jinji), Penyimpan Stempel Kerajaan (璽主/ 새주/ Saeju), juga Wonhwa (kepala wanita pasukan Hwarang).

Mishil digambarkan sebagai wanita luar biasa. Ia cantik, manipulatif, cerdas, kuat, dan kendati memiliki kekejaman tak terkira dengan menumpas nyawa orang banyak, Mishil masih memiliki hati untuk orang-orang tertentu. Maka tidak heran jika ia memiliki segudang orang-orang yang setia padanya. Mishil membuat banyak orang jatuh hati.

Dikisahkan bahwa Mishil bisa mendapatkan tempat yang tinggi di mata masyarakat sebagai sosok Pendeta Ilahi karena pemahamannya akan sains yang kemudian dimanfaatkan untuk menipu rakyat. Ia membaca peristiwa alam, seperti gerhana atau datangnya hujan, memanfaatkan pengetahuannya serta kebodohan rakyat di masa itu, sebagai jalur untuk menjadikannya sosok suci. Dibantu koneksinya, ia berhasil mencapai posisi yang nyaris setara dengan keluarga kerajaan. Tetapi hanya itu saja tak cukup membuatnya puas. Mishil bermimpi untuk menjadi permaisuri Raja.

Pada masa pemerintahan Raja Jinheung, ia adalah selir, pengikut, serta pendamping yang setia. Telah dibuktikannya bakti pada sang Kaisar dengan berjuang di medan perang dan melindungi Raja. Ia menumpahkan darahnya di berbagai daerah Shilla. Kaisar Jinheung pun mempercayainya. Maka, selain pada cucunya, hanya kepada Mishil, sang Penguasa bercerita tentang kisah belati (soyeopdo) yang menyelamatkan nyawanya dari terjangan harimau. Ketika sebelah tangan Raja Jinheung digigit harimau, ia tidak menarik lengannya untuk membuat harimau marah. Ia justru memasukkan tangannya yang menggenggam belati lebih dalam lagi, lalu mengoyak seisi rongga mulut dan batang tenggorok harimau dengan benda itu.

Mishil pula yang berada di sisi Raja Jinheung ketika beliau mangkat, serta mencatat wasiat Raja. Yang menarik, setelah mendapati kematian Raja, Mishil berterima kasih atas rahmat sang Raja sampai akhir, yang telah membuatnya tidak harus mencabut nyawa Jinheung dengan tangannya sendiri. Minuman berisi racun yang hendak diberikannya pada Raja pun berakhir di tanaman.

Karena ia yang mencatat wasiat raja Jinheung, ia pula yang memanipulasinya. Raja Jinheung sebetulnya menurunkan takhta pada cucunya, Raja Jinpyeong, anak dari putra pertamanya. Tetapi oleh Mishil, takhta diserahkan pada Raja Jinji, putra kedua raja Jinheung. Wasiat bagi Mishil untuk melepaskan semua kekuasaannya dan mengabdi pada Buddha pun tidak diindahkan oleh wanita itu. Itulah mengapa Raja Jinheung memberi wasiat lain pada orang lain untuk membunuh Mishil. Sang Kaisar sudah menduga jika selama hidup Jinheung, Mishil menjadi orang paling setia yang pernah ada, maka sepeninggal Jinheung, wanita itu justru menjadi orang yang berbahaya.

Raja Jinheung tidak sadar bahwa orang-orang yang mengabdi pada negeri selama itu, bukanlah orang-orang Raja, tetapi orang-orang Mishil. Mishil yang memiliki bakat luar biasa untuk mengumpulkan orang-orang berbakat lain demi mengolah negeri.

Dengan diangkatnya Raja Jinji, Mishil berharap untuk bisa dijadikan Ratu. Jika hanya sekadar selir, sudah dijalaninya bertahun-tahun. Sayang, Raja Jinji tidak kunjung memenuhinya. Mishil menolak menjadi sekadar selir raja. Maka dari itulah, ia beserta orang-orangnya menggulingkan Jinji dari takhta, menyatakan Jinji telah memalsukan wasiat raja, kemudian mengangkat Jinpyeong, raja semestinya, yang masih sangat muda. Anaknya dari Raja Jinji, Hyeong Jong pun ditelantarkan.

Ketika Jinpyeong beranjak dewasa, Mishil menculik permaisuri dan berniat membunuhnya, dengan harapan bahwa kali ini ia benar-benar bisa menjadi permaisuri. Jinpyeong yang sudah tahu watak Mishil sesungguhnya karena menyaksikan bagaimana kakeknya meninggal pun pasrah, membiarkan Mishil melakukan apa pun yang ia mau. Tetapi rencana Mishil gagal. Permaisuri Maya pulang dengan selamat, bahkan membawa kandungan yang selamat pula. Oleh sebab itu, Mishil selalu dan selalu punya niat untuk menggulingkan raja.

Karakter Mishil adalah salah satu antagonis yang tak bisa saya benci. Cerdas dan cerdik, juga licik. Mishil pandai menilai kemampuan dan kelemahan orang, menilai kebohongan, menyusun strategi, dan saya pikir, sebenarnya ia bukan pemimpin yang buruk, jika tidak dibutakan oleh ambisi yang berlebihan.

Dalam sebuah alur atau kisah cerita, kita selalu dihadapkan pada konflik, yang mana melibatkan tokoh antagonis dan protagonis. Deokman adalah sang protagonis, sebab drama ini memang mengisahkan perjuangan Ratu Seondeok (Deokman) dalam mencapai dan mempertahankan takhta. Maka, Mishil sang penentang berada pada posisi antagonis.

Akan tetapi, Lady Mishil bukanlah antagonis yang mudah saya benci. Biasanya, pembaca atau penonton sebuah drama bakalan digiring dan larut untuk membela tokoh protagonis, tetapi saya tidak merasakannya di sini. Bukan karena ini adalah drama sejarah sehingga kita bisa tahu endingnya kayak apa, melainkan karena karakter itu sendiri.

Pertama, kendati membenci Deokman sampai mati, Mishil tak pernah pelit berbagi ilmu. Ia seakan ingin membentuk lawan yang sepadan untuk bisa disandingkan dengannya. Jika ia hanya melakukannya di awal hingga pertengahan pertemuannya dengan Deokman sih, bisa dibilang itu karena sudah menilai Deokman adalah anak yang cerdas dan berbahaya, sehingga ia berminat untuk mererkrut sang putri masuk ke dalam faksinya. Tetapi ia tetap melakukannya bahkan ketika keduanya berseteru memperebutkan takhta. Ini hal yang sulit dilakukan kecuali oleh orang yang benar-benar sportif. Ia sendiri yang membiarkan Deokman memahaminya sampai akhirnya bisa membaca setiap gerak-geriknya.

Kedua, ia pandai menarik orang. Sebagian besar orang penting dalam pemerintahan adalah orang-orangnya, sejak zaman raja Jinheung sampai Raja Jinpyeong wafat. Dan mereka adalah orang-orang berbakat dalam mengurusi negeri dan setia padanya.

Ketiga, Mishil menghargai kesetiaan. Mengapa bahkan pada akhir hidup sang penjaga stempel, ada dua orang (Chilsook dan Hwarang Seokpum) yang masih rela mati bareng dia? Kedua-duanya sama-sama diangkat dari kalangan bawah dan dijadikan orang hebat oleh Mishil. Siapa pun yang setia padanya, yang pulang setelah menjalani perang demi dia, akan dia jadikan orang-orang yang ia percayai.

Keempat, Mishil menghormati hak-hak pribadi. Barangkali karena kisah cintanya yang kandas dengan Sadaham (Sadaham adalah cinta sejati Mishil. Mishil sendiri mengaku bahwa orang-orang mendekatinya dan menawarkannya sesuatu untuk ditukarnya dengan sesuatu pula, tetapi tidak dengan Sadaham. Sadaham hanya memberi dan memberi. Akan tetapi, karena harus berperang, Sadaham meninggalkan Mishil dengan sebuah janji yang tidak bisa ditepati oleh Mishil. Ia sudah bertekad untuk menanggalkan semua mimpinya, lalu kabur bersama Sadaham, hidup sederhana di belahan bumi lain. Ketika Sadaham kembali, Mishil sudah menjadi milik orang lain, Lord Sejong, yang cinta mati padanya, tetapi memiliki ibu yang memperlakukan Mishil dengan buruk. Berikutnya, Mishil harus rela lelaki yang dikasihinya tewas di medan perang. Rentetan peristiwa ini membentuk Mishil sebagai pribadi yang keras hati. Akan tetapi, ia masih memiliki toleransi pada kisah cinta murni seperti yang pernah ia jalani dengan Sadaham). Seperti bagaimana ia menoleransi relasi antara Chil Sook, orang kepercayaannya, dengan So Hwa, dayang Permaisuri Maya dan ibu susu Deokman, yang seharusnya sudah mati. Ia memaafkan ketidakpatuhan Chil Sook yang membela dan melindungi So Hwa (meski pada akhirnya So Hwa mati di tangan Chil Sook secara tidak sengaja). Mishil juga menoleransi perasaan Bidam alias Hyeong Jong pada Deokman. Mungkin karena ia sadar bahwa cinta yang seharusnya ia beri pada Bidam, yang tidak bisa diberinya itu, telah disodorkan Deokman. Sebagai karakter antagonis yang menolak hal sentimentil, pemikiran Mishil tentang cinta ini sangat menarik.

Berikut, tentu saja kepribadian karakternya sendiri. Mishil konsisten dengan mimpinya untuk menjadi permaisuri raja atau orang berkuasa, meski harus melakukan banyak hal kotor. Pokoknya, ia harus jadi permaisuri. Titik. Kemudian, mungkin karena sadar usianya udah cukup tua, dia mengubah mimpi itu dengan mencari orang demi menjadi raja yang bisa diaturnya dan berdiri di pihaknya. Mulai dari Jinji, Bojong, Kim Yushin, sampai berakhir pada Kim Chun Chu. Turbulensinya baru muncul waktu perseteruan Putri Deokman dan Pangeran Chunchu. Jika Putri Deokman yang wanita dan Pangeran Chunchu yang bukan keturunan asli raja bisa maju menjadi penguasa, mengapa ia tidak bisa? Sebab selama ini, ia tidak pernah memikirkannya, dan tidak pernah berani berpikir untuk menjadi Penguasa itu sendiri. Berkatnya, ambisi Mishil berubah. Ia mengincar takhta untuk dirinya sendiri.

Keputusan Mishil pada akhirnya juga menakjubkan. Saking enggannya ia mengalah pada Deokman, ia lebih memilih bunuh diri. Tetapi kematiannya juga sebuah taktik untuk melemparkan bakal takhta pada putra yang tidak pernah diakuinya, Bidam alias Hyeong Jong. Licik betul.

Omong-omong soal Bidam, hubungan ibu dan anak antara keduanya juga seru. Bidam mulanya dilahirkan Mishil demi bisa jadi permaisuri, tetapi setelah kesempatannya hilang, ia menelantarkan anak itu dengan kalimat, “Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi“. Keduanya juga saling tahu bahwa mereka berhubungan, tetapi membiarkan jalinan mereka terajut tanpa dibumbui sentimental berlebih. Mishil sering meminta Bidam menemaninya, tetapi enggan mengakui Bidam sebagai anaknya secara langsung (ia mengakui Bidam putranya pada keluarganya). Entah karena dia pantang jadi lemah, atau kepalang malu pada Bidam.

Scene waktu Bidam meminta Mishil menyerah pada Deokman sangat mengharukan. Bidam yang memanggilnya Eomeoni (Ibu) dengan susah-payah, kemudian Mishil yang berkaca-kaca, tangannya naik ingin mengelus wajah putranya, tetapi ia urungkan dan cuma menggusur kotoran di pundak Bidam … argh …! My tears!

Kendati demikian, dari segudang prestasi Mishil itu, ada satu hal yang menjadi kekurangannya, dan hal ini diungkapkan oleh Deokman. Kenapa meski Shilla memiliki pemimpin wanita yang luar biasa seperti Mishil sejak zaman Raja Jinheung hingga Raja Jinpyeong, Shilla masih begitu-begitu saja? Kata Deokman, itu karena Mishil bukan ‘pemilik asli’ Shilla (yang menyinggung status Mishil sebagai bukan keturunan suci), sehingga tidak bisa merawat Shilla sebagaimana ia merawat anak kandungnya sendiri (ya habis bagaimana lagi, anak kandungnya saja berani dia telantarkan wqwq). Walau saya tidak setuju dengan pernyataan ini karena zaman sekarang pemimpin tidak lagi diturunkan berdasarkan silsilah darah, tetapi kepercayaan warga, dan ada banyak pemimpin dari hasil kepercayaan warga yang menjadi pemimpin bijaksana. Buat saya, mungkin alasannya adalah Mishil tidak bermimpi untuk mengubah Shilla. Dia hanya ingin berkuasa, melemahkan otoritas raja dan kerajaan, dan mempertahankan kepercayaan warga. Berbeda dengan Seondeok yang meletakkan mimpinya lebih jauh dengan melibatkan kemajuan rakyat yaitu ingin menyatukan seluruh Han sebagaimana mimpi kakeknya, Raja Jinheung.

Last but not least, akting Go Hyun Jung yang sangat, sangat, sangat memukau. Go Hyun Jung mampu membawakan perannya dengan brilian, seolah Mishil adalah dirinya sendiri. Seluruh ekspresinya berbicara dengan tidak berlebihan. Baik marah, senang, jengkel, licik, atau kebingungan, seluruhnya ditampilkan dengan elegan. Perannya membuat karakter ini jadi semakin kuat. Sumpah, saya sangat salut pada aktingnya. Angkat topi untuk Go Hyun Jung.

Drama Korea juga terkenal akan kutipan-kutipan ciamik. Dalam Queen Seondeok, banyak sekali pernyataan Mishil yang saya suka,

seperti peringatan Mishil pada Putri Cheonmyeong dan Deokman,

Ada dua cara mengatasi rasa takut. Pertama, lari. Dan yang kedua, marah;

Atau sebuah cara untuk mengumpan sesuatu, karena untuk setiap mimpi yang ingin dicapai selalu ada yang harus dikorbankan, dengan “Serahkan daging, patahkan tulang”;

Atau tips yang ia tawarkan bagi Bidam untuk tampak lebih tangguh dengan cara tidak tertawa terbahak-bahak dan cuma menaikkan sedikit sudut bibirnya;

Atau pernyataannya sewaktu akhirnya ia memilih untuk menyerah dengan meminum racun,

Selama kau masih bisa berjuang, maka berjuanglah. Jika sudah tidak bisa berjuang, maka berlindunglah. Jika sudah tidak bisa berlindung, maka mundurlah. Jika sudah tidak bisa mundur, maka menyerahlah. Dan jika sudah tidak bisa menyerah, maka akhirilah.

Yah, akhirnya Mishil secara tidak langsung mengakui bahwa ada kehendak Langit yang turut serta berkontribusi dalam kehidupan dan tidak bisa diubah meski kita sudah berupaya mati-matian. Setelah sebelumnya, ia cukup jemawa menyatakan tiada kehendak Langit, karena semua itu bisa ia putuskan sendiri.

3 respons untuk ‘Mishil, Femme Fatale Antagonis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.