Be Prepared, Nothing Permanent

AKHIRNYA, hari ini saya menamatkan sebuah serial Korea kolosal, setelah maraton menekurinya lebih-kurang sepekan. Judulnya Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo, yang dibintangi oleh sederet nama kondang seperti IU, Lee Jun Ki, Kang Haneul, Baekhyun EXO, Nam Juhyuk, dan kawan-kawan. Drama ini ditelurkan 2016 silam, tetapi baru saya tonton pada penghujung 2019. Bisa dipastikan bahwa saya terlambat mencecapi euforianya.

Moon Lovers merupakan sebuah drama sejarah yang berlatar pada masa kerajaan Goryeo masih berjaya. Kerajaan Goryeo adalah salah satu dari 3 kerajaan besar yang dahulu pernah berkuasa di semenanjung Korea, bersama Silla dan Bekje. Dalam latar waktu ini, kerajaan Silla dan Bekje diceritakan sudah lebur karena peperangan melawan Goryeo.

Sejujurnya, saya memang cenderung lebih suka drama Korea kolosal ketimbang modern. Selain karena saya bisa belajar banyak sejarah Korea tanpa merasa bosan, sensasi mengikuti drama kolosal pun berbeda, seolah ada kesakralan tersendiri. Busana mereka, dandanannya, pemandangannya, ditambah dengan paduan OST yang menyayat hati mampu membentuk nuansa yang khas. Dari semua drama Korea (baik modern maupun kolosal) yang saya tonton selama ini, belum ada yang bisa menyamai pesona The Great Queen Seondeok sama sekali. Drama kolosal itu tayang di Indonesia sebelum tren hallyu masuk, sehingga bisa dipastikan, ia bukan tipe drama yang mengedepankan visual dengan menjual tampang mulus atau ketenaran aktor dan aktrisnya.

Kembali pada cerita Moon Lovers. Bukan drama Korea namanya jika tidak menyisipkan makna-makna kehidupan di dalamnya. Kali ini, drama IU dan Lee Jun Ki mampu membuat saya terpekur lama.

Moon Lovers berkisah tentang seorang Raja yang memiliki begitu banyak putra dari istri yang berbeda-beda. Ada delapan putra yang masih hidup, salah satunya bakal menjadi pewaris takhta raja. Raja sendiri sudah meletakkan gelar Putra Mahkota pada pangeran pertama, Moo, anak yang terlahir sebelum ia meraih gelar Raja. Namun, sebagaimana konflik umum dalam drama kerajaan, di antara kedelapan putranya, tercetus ambisi untuk merebut takhta.

Perebutan takhta ini yang menjadi sorot utama cerita ini. Delapan putra yang tersisa, saling mendepak untuk sebuah kedudukan tertinggi.

Adegan di mana keenam pangeran mandi bersama pada babak perkenalan merupakan scene yang saya favoritkan. Bukan karena eksposur roti sobek yang menggoda, tetapi karena kebersamaan mereka yang hangat dan bersahabat. Dalam adegan ini, sang tokoh utama memang belum bergabung bersama saudara-saudaranya. Ada pula adegan ketika tokoh wanita yang diperankan IU berkelahi dengan Pangeran Eun dan ditonton oleh pangeran lainnya. Kocak.

Di awal-awal episode, kita memang masih disuguhkan dengan tingkah lucu para pangeran. Cerita belum begitu berpusat pada konflik, meski sudah bermunculan clue-clue tertentu pada babak perkenalan yang membuat saya bertanya-tanya.

Salah satunya adalah pada label para Pangeran. Kedelapan pangeran diberi label pada adegan perkenalan berdasarkan urutan kelahiran. 1st Prince (Putra Mahkota; Moo), 3rd Prince (Yo), 4th Prince (So), 8th Prince (Wook), 9th Prince (Won), 10th Prince (Eun), 13th Prince (Baek Ah), dan 14th Prince (Jung).

Lihatlah urutannya. Ada lubang pada posisi pangeran 2, 5, 6, 7, 11, dan 12. Ke mana mereka?

Yah, jawaban ini terbuka setelah salah seorang pangeran membocorkan fakta kepada penonton bahwa pangeran kedua sudah mati, dan kematiannya bukan jenis kematian yang normal. Berarti, mungkinkah pangeran lain yang ada pada lubang tersebut juga telah mati? Dan apakah itu terjadi karena mereka saling menghabisi dalam rangka mengeliminasi rival?

Bagaimana mungkin mereka yang saling menghabiskan waktu bareng-bareng, mandi bersama, makan bersama dan bermain bersama, bisa saling menghabisi satu sama lain seperti itu?

But times flies, and people changes. Waktu telah mengubah keadaan. Atas nama keserakahan manusia akan takhta, waktu membalikkan keadaan dari kedelapan pangeran yang saling tertawa bersama dan memanggil ‘Hyung‘ dengan karibnya, menjadi kedelapan pangeran yang kebingungan siapa kawan dan siapa lawan.

Pangeran yang hari ini terlihat setia pada pangeran yang satunya lagi, bisa saja menjadi orang yang balik berkhianat dan memihak musuh, atau justru memanfaatkan kondisi demi dirinya sendiri. Semua hal ini seakan sah dilakukan dalam merebut takhta–dunia perpolitikan.

Hal ini memberikan kita gambaran bahwa pada dasarnya tidak ada yang bisa dipertahankan dari muka bumi ini. Kolaborasi manusia dan waktu bisa menjadi sebegitu mengerikan. Waktu bisa mengubah manusia menjadi orang yang sama sekali berbeda. Hari ini seorang teman yang kita curhati dan menjadi tempat kita berkeluh-kesah, bisa saja memanfaatkan kelemahan kita untuk membelot dan menghancurkan kita suatu hari nanti.

Seseorang yang menjadi tangan kananmu, esok lusa bisa saja menjadi orang kepercayaan musuhmu.

Seseorang yang hari ini tertawa bersamamu, bisa saja menumpahkan darahmu di kemudian hari.

Seseorang yang menyelamatkanmu hari ini, boleh jadi bakal menjebloskanmu dalam mara bahaya suatu hari nanti.

Pasangan yang hari ini mencintaimu, melindungimu sepenuh hati, akan meninggalkanmu suatu hari nanti.

Dia yang menjanjikan kebahagiaan bagimu, mungkin malah akan menjadi orang yang menyakitimu kelak.

Uang yang kamu simpan, bisa saja lenyap.

Sebuah perusahaan yang jaya di masa sekarang, sewaktu-waktu bisa ambruk kena krisis.

Waktu berlalu, dan orang-orang berubah seiring peristiwa-peristiwa yang telah menimpanya. Zaman berganti, pemikiran beralih, pendirian goyah, benda-benda lenyap, ada yang datang dan ada yang pergi, ada pula yang datang untuk pergi lagi.

Kehidupan memang seperti itu. Sebagaimana yang berulang kali diperingatkan oleh rasionalitas kita tetapi seringkali pula kita lupakan: semua ini fana. Hari ini saya hidup, boleh jadi besok mati. Orang yang selama ini saya percayai, bisa menjadi orang yang paling ingin saya hindari. Mereka yang selalu ada bersamamu, tidak selalu ada untukmu. Ia yang kau cintai, bisa menjadi mantan yang ingin kaubasmi.

Mengingat ketidakabadian dalam hidup ini terkadang bikin merinding. Saudara-saudara masa kecil yang dahulu bermain gundu bersama, memetik buah kersen, mencuri mangga, mencari kutu, …. ke mana mereka sekarang? Apakah mereka sudah sibuk menjalani roda kehidupan masing-masing dan lupa akan dirimu? Ke mana sahabat yang dulu berkata, ‘Aku ada untukmu’, saling berteriak penuh histeria hanya karena menonton sebuah video, atau menangis bersamamu ketika kau baru saja putus cinta? Dan, ke mana pula pacarmu dulu?

Berangkat dari perubahan ini membuat saya tersadar bahwa sejatinya, tidak ada yang namanya rutinitas. Akan ada perbedaan, baik kecil maupun besar, antara yang kamu lalui hari ini dengan yang kemarin, atau esok hari dengan hari ini. Tiada pengulangan. Dunia memang selalu berputar, tetapi ia tidak akan kembali ke titik yang sama. Hari Selasa minggu ini akan berbeda dengan Selasa pekan depan. Boleh jadi pukul sembilan hari ini kamu sibuk memasak makan siang untuk suami, tetapi besok hari di jam yang sama, suamimu terbaring di ranjang rumah sakit, dengan kamu yang mendampinginya di sisi dalam perasaan khawatir.

Seringkali saya—kita—menjalani hari dengan terlampau damai, seolah semuanya akan berjalan stabil terus seperti ini, dalam denyut ‘biasa’. Hal ini membuat perubahan-perubahan yang membuat kondisi jadi ‘tidak biasa’ jadi mengejutkan. Orang-orang yang hidup dalam zona nyaman seperti saya, tentu bakal terguncang mendapati sesuatu berjalan di luar lajur biasa. Maka tidak heran beberapa orang syok mendapati kabar baru. Karena itu ada di luar jangkauan ekspektasi ataupun prediksinya.

Ini kejam, memang. Dunia sepertinya memang diciptakan jadi lumbung percobaan bagi manusia. Sulit rasanya mempersiapkan diri untuk menerima kemungkinan terburuk tanpa membuat diri menjadi pribadi overthinker atau bahkan paranoid. Ketakutan terhadap masa depan menjadi salah satu faktor banyak orang muda yang diserang penyakit mental.

Ditambah dengan fakta bahwa tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa kita percayai, maka lengkaplah sudah penyebab kita untuk menjadi orang yang pesimistis. Semua manusia punya potensi untuk membelot. Tidak ada jaminan orang yang kamu bela hari ini akan ikut membelamu kelak.

Dengan seorang manusia terlahir ke dunia, dia sudah setuju mencelupkan kakinya dalam permainan dadu semesta. Ia tidak bisa menebak angka berapa yang akan muncul pada kocokan kesekian. Ia tidak akan bisa menerka masa depan seperti apa yang akan menjemputnya, dan perubahan seperti apa yang bakal mengguncangnya.

Tidak ada yang bisa menerka, maka yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri menerima segala kemungkinan terburuk. Karena sekali lagi, tidak ada yang permanen dalam kehidupan ini.

4 respons untuk ‘Be Prepared, Nothing Permanent

  1. Saya juga penyuka drama kolosal kak. The great queen seondeok emang jempolan. Ditonton ulang pun gak bosen.
    Oh ada drama kolosal lagi yg saya suka. Jewel in the palace atau Jang geum. Drama itu dulu booming banget. Tapi emang bagus sih.

    Suka

    1. Salam kenal dan salam solidaritas, Kawan sepeminatan! Wkwkwk. Oh, benar. Jewel in the Palace juga keren. Kayaknya itu drama saeguk pertama yang pernah saya tonton. OST-nya juga tenar banget sampai dulu saya pikir itu lagu kebangsaan Korea Selatan. Wahaha.

      Suka

    1. Ceritanya bagus, cuma memang bukan yang terbagus. Kebanyakan adegan bucin dan muter-muter setia-membelot, lumayan buat bosan kalau ditonton orang yang nunggu-nunggu akhir. Akhirnya sendiri juga ngegantung( Ya ampun, maaf spoiler), tapi bisa ketutupan sama chemistry IU-Jinki sama tingkah uwu Baekhyun 😂.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.