Perdebatan yang Kebablasan

SEOLAH sudah menjadi agenda tahunan yang melintang di masyarakat, hari raya dua umat beragama terbesar di Nusantara tidak pernah luput dari sorotan publik. Sebut saja lebaran Idul Fitri dengan perbedaan tanggalnya, dan Natal yang mengembuskan perdebatan di kalangan umat mayoritas, yang meributkan perkara halal-haramnya mengucapkan selamat hari raya.

Bahasan Natal terus-menerus diungkit setiap akhir tahun, hingga bisa kita lihat tiga kubu terbelah dari perbedaan pendapat ini. Kubu pertama adalah mereka yang patuh dan taat pada keputusan yang telah dikeluarkan oleh Majelis Ulama, bahwa mengucapkan selamat Natal hukumnya haram atau tidak boleh dilaksanakan oleh umat Muslim.

Kubu kedua adalah kontra dari kubu pertama. Orang-orang yang menentang status haram tersebut, tidak jarang mereka menertawakan, mencela, dan menghina lawan argumen mereka. Bagi saya, dua golongan ini sebetulnya tidak jauh berbeda. Sama-sama ngotot, dan sama-sama tidak mau menerima pendapat dari kubu lain.

Yang paling adem, tentu saja kaum tengah. Kaum-kaum ini seringkali ogah menunjukkan keberpihakan mereka dalam setiap kekisruhan, tidak cuma ribut-ribut soal halal-haram ucapan Natal semata. Tidak jarang, mereka menerima predikat munafik atau pengkhianat atas bungkamnya. Padahal, mereka cuma pantang ngegas untuk urusan seperti ini.

Sebagai seseorang yang sering dicap plin-plan karena terkesan berpindah-pindah kubu, saya tidak berpihak pada kubu mana pun. Saya bukan seorang penganut Islam konservatif, bukan pula liberal. Saya lebih sering melihat pendapat dari sudut pandang saya sendiri, memetiki daun-daun hijau dari kedua pohon yang saling beradu, dan menyisihkan beberapa yang layu dari kedua pohon itu juga. Alih-alih mengambil kesimpulan yang sudah ada, saya lebih senang mengambil poin-poin terbaik, kemudian merancangnya menjadi kesimpulan tersendiri.

Dalam drama kali ini, orang-orang percaya bahwa saya ada pada tim yang mendukung pernyataan ‘Selamat Natal’. Kenyataannya tidak demikian. Saya memang pergi bersilaturahmi ke sanak-famili, tetapi saya tidak sekalipun melafalkan ucapan Selamat Natal. Bukankah yang diharamkan adalah mengucapkan kalimat tersebut? Bahkan salah seorang pemuka agama berani menyatakan bahwa itu lebih buruk ketimbang mengucapkan selamat berzina. Kendati saya sendiri kurang setuju dengan pernyataan pendakwah itu. Dosa tidak untuk diperbandingkan.

Setiap kali bertandang ke rumah-rumah kenalan Kristiani, yang saya lakukan adalah menyetorkan muka, bahwa saya turut bahagia dalam perayaan hari besar mereka. Saya cuma datang sebagai tamu, salam-salaman, peluk-pelukan, bertukar kabar, agar teman-teman dan kerabat saya tahu bahwa saya sedang berilaturahmi.

Demikian pula dalam urusan lainnya, seperti misalnya pro-kontra LGBTQ+. Sebagai umat beragama yang bolak-balik mengkhatamkan kisah Nabi Luth dan kaumnya, saya meyakini LGBTQ+ adalah jenis yang terlarang. Namun demikian, rasanya keterlaluan jika ketidaksetujuan dijadikan alasan untuk menghakimi orang-orang seperti mereka.

Kubu yang menolak selalu menggunakan alasan seperti:

  1. LGBTQ+ dilarang oleh Tuhan. Oke, saya tahu itu dan alhamdulillah saya masih suka lawan jenis.
  2. LGBTQ+ mengancam pergaulan anak kita. Yap, itulah mengapa saya memilih untuk tidak punya anak karena saya khawatir tidak bisa mendidik mereka agar terhindar dari LGBTQ+.
  3. LGBTQ+ menjadi sebab Tuhan mendatangkan azab. Jika yang engkau maksud adalah gempa dan tsunami, itu hal yang wajar karena kamu hidup di Indonesia yang dilalui lajur cincin api. LGBTQ+ tersebar di seluruh penjuru dunia, tapi mengapa cuma Indonesia yang diazab?
  4. LGBTQ+ merupakan salah satu tanda dekatnya hari kiamat. Wahai engkau yang beriman, jika itulah pertanda yang tersebut dalam kitab yang kau imani, maka benarlah hari kiamat akan tiba sebentar lagi. Apakah dengan mencegah tersebarnya LGBTQ+ atau memusuhi mereka mati-matian akan membuat hari kiamat tertunda?

Kembali lagi pada persoalan Natal. Saya melihat ada orang-orang dari kedua kubu, baik pro maupun kontra, yang terlalu lebay dalam menyikapi urusan ini. Yap, tidak cuma orang yang kontra, tetapi juga pro. Dan inilah yang bakalan saya singgung sebagai potret ‘toleransi dan perdebatan yang kebablasan’.

Ada yang kenal siapa dia?

Bukan lelaki berpeci yang tersenyum sambil menampakkan gigi. Semua orang di negeri ini tahu bahwa beliau adalah sosok RI1. Yang saya maksud adalah perempuan berkerudung merah muda yang memegang ponsel.

Afi Nihaya Faradisa, gadis muda yang terkenal karena sebuah postingan beberapa waktu yang lalu. Saya lupa seperti apa persisnya status yang dipublikasikannya hingga meraup atensi masyarakat.

Yang menarik perhatian saya ada 3 hal. Postingannya tentang ‘agama warisan’, karena apa yang ia katakan merupakan apa yang pernah terbersit dalam pikiran saya; isu plagiarisme atas salah satu postingannya (saya tidak tahu apakah postingan ini adalah postingan agama warisan tersebut dan/ atau yang membuatnya viral); dan status facebook-nya yang menyinggung ucapan selamat Natal karena kebetulan lewat di beranda setelah dibagikan oleh seorang relasi.

Apa yang salah dari status Afi tersebut?

Sebenarnya tidak ada, karena Afi hanya mengungkapkan pendapatnya. Meskipun sepintas saya sempat berpikir bahwa apa yang dia lakukan terlalu berlebihan. Ia berfoto dengan latar belakang salib, dengan caption yang seakan menyalahkan eksistensi agama sebagai sekat-sekat bagi manusia dalam memahami Sang Pencipta. Tetapi selebihnya, biasa-biasa saja …

… sebelum saya menggulir ke bawah untuk membaca komentar di bawahnya, beserta status susulannya.

Apa yang Afi Nihaya tampakkan dalam statusnya adalah sebuah pernyataan yang mengundang perdebatan. Saya yakin Afi tahu itu, dan dengan menuruti wasangka, saya menyimpulkan bahwa dia sengaja melakukannya untuk memicu perdebatan. Terlebih dengan munculnya pernyataan persuasif yang mempromosikan akun pada lapak yang sama. Tidakkah Dik Afi tampak ingin panjat sosial?

Betapa ironinya jika mengutip pernyataannya sendiri untuk ditujukan kembali padanya.

“Coba baca, betapa damainya komentar-komentar dari umat agama damai di sini.”

Dan lihatlah siapa yang telah membuka sesi untuk menunjukkan kedamaian itu sendiri. 🙂

“Wow, ini orang-orang dari “agama damai” semangat banget ya dalam membully saya.”

Wow, dan engkau, Dik Afi, yang juga berasal dari agama damai, semangat sekali memanen bully-an mereka. 🙂

Kita semua tahu bagaimana semangat orang-orang di negara kita dalam menindas mereka yang berbeda dengannya. Apalagi, jika mereka memiliki kalangan tersendiri yang mereka percayai akan mendukung dan membela atas nama solidaritas dalam pendapat atau pilihan yang sama. Semua ini ada pada mereka yang mengaku kaum mayoritas. Ironisnya, saya juga menemukan hal serupa dalam diri Afi Nihaya Faradisa berkat status yang bersangkutan di atas. Sayang sekali, Dik Afi bermaksud untuk menunjukkan betapa ia adalah sosok yang toleran terhadap saudara-saudara Kristiani, tetapi justru menunjukkan bahwa ia intoleran terhadap perbedaan pendapat yang terbentang di kalangan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.