Apakah Dua Salah Bisa Menjadi Benar?

SEBUAH ruang kelas yang dipakai untuk ujian, tengah dicekam keheningan. Hanya ada bunyi gesekan kertas soal yang sedang diperiksa ulang oleh seorang dosen yang terkenal galak.

Atmosfer dalam ruang tersebut seolah mengintimidasi penghuninya. Bukan cuma karena tekanan tak kasatmata karena aura kehadiran sang dosen killer dan gugupnya mahasiswa-mahasiswi tingkat satu dalam menghadapi ujian akhir semester perdana, melainkan juga karena suasana yang pengap. Pengatur suhu yang jatuh di titik dua puluh seakan tidak memberi kesejukan. Pengaruhnya ditutupi oleh eksistensi tujuh puluh satu manusia yang berhimpitan dari ujung dinding ke ujung dinding lainnya. Karena terbentur jadwal libur lebaran, mahasiswa dari dua kasta berbeda—kelas reguler dan kelas pegawai—harus ikhlas berjejalan di waktu dan tempat yang sama, untuk mata uji yang sama pula.

Mungkin karena menyimpan potensi kecurangan dalam ruang serba-pengap itulah, sang dosen killer dikerahkan sebagai pengawas. Konon, lelaki berdarah Ambon dengan codet di pipi, takkan segan menyobek kertas ujian milik siapa pun yang kedapatan curang. Dan konon pula, tidak ada yang berani curang dalam pengawasannya karena mata legam itu terlampau jeli mendeteksi kecurangan.

Kertas-kertas dibagikan. Beruntung, saya duduk di bangku tengah paling pojok kanan, dekat dengan embusan ‘semriwing’ dari AC, sehingga tidak begitu merasakan kepahitan mengerjakan soal di bawah intimidasi dan kegerahan.

Belum sempat menuliskan nama di pojok lembar jawaban, satu sikutan mengusik.

“Dek, bisa pinjam pena?”

Seorang ibu yang masih berbalutkan busana dinas di samping kiri menatap saya penuh harap. Lirikan saya jatuh pada sebatang bolpoin yang terselip di jari dan coretan bertinta buram di atas tisu.

Oh, penanya macet.

Saya mengangguk sebagai jawaban. Mengeluarkan kotak pensil dari dalam tas—

“HEH! KAMU BIKIN APA DI SITU?!”

—dan terperanjat. Dalam hitungan dua detik, sang dosen killer sudah berdiri di depan kami.

“Mau mengambil pena, Pak. Dipinjam sama Ibu ini,” jelas saya sambil mengarahkan tangan ke si ibu peminjam.

“Iya, Pak. Pulpen saya macet, jadi saya pinjam ke Adik Nona ini.”

“Sudah tahu mau ujian. Tapi tidak membawa alat tulis,” geram sang dosen. “Cepat pinjamkan.”

Hiii. Saya merogoh kotak pensil, mengeluarkan pena dan menyodorkannya kepada si ibu peminjam, sambil bergidik. Saya bertekad bakal bungkam dan meminimalisir pergerakan sebisa mungkin selama ujian berlangsung dalam pengawasan si Bapak.

Tik … tok … Tik … tok ….

Waktu berlalu. Beberapa anak sudah bangkit dan mengumpulkan kertas ujian, lalu disuruh pulang. Usai mengecek kembali jawaban dan memastikannya mantap, saya pun menyusul.

Baru ketika sudah di atas motor dan berada di tengah jalan, saya teringat akan pena yang masih berada di tangan si ibu dari kelas pegawai.

“Ah, sudahlah. Besok saja kalau ketemu lagi baru ditagih,” batin saya.

Tapi besok, kami tidak ujian bersama.

Lusanya pun, tidak.

Tulatnya, status quo.

Ingatan tentang pena lindap dimakan kesibukan lain.

Ingatan itu baru muncul kembali pada semester keempat saya menjadi mahasiswa. Kala itu, status saya telah bergeser jadi mahasiswi pegawai yang mengambil kelas dari sore hingga malam hari karena berkuliah sambil bekerja. Kebijakan kampus memperbolehkan kami untuk convert di awal masuk semester baru.

Ingatan itu mencuat ketika saya terburu-buru menandatangani presensi yang diperebutkan sekoloni umat manusia demi bisa pulang lebih cepat karena sudah digelayuti lelah luar biasa.

“Bu Devi, pinjam penanya sebentar buat tanda tangan,” cegah saya seketika waktu melihat Bu Devi—wanita yang dulu pernah meminjam pena saya itu—baru selesai mengisi presensinya. Saya sudah terlalu malas untuk merogoh tas dan mengeluarkan pena sendiri.

Pulpen pun tersodorkan. Usai perjuangan mengerubuti daftar presensi demi membubuhkan tanda tangan, saya pun keluar dari kerumunan itu. Kepala melongok ke sana kemari mencari eksistensi Bu Devi. Namun, sosoknya tidak terlihat di dalam ruangan lagi.

Di saat itulah, mendadak, ingatan beberapa waktu yang lalu terbayang kembali.

Ah, tidak perlu dikembalikan. Toh, dulu juga Bu Devi pernah meminjam milik saya yang tidak dikembalikan sampai hari ini. Anggaplah pena ini sebagai ganti pena yang lalu. Impas, ‘kan?


Kasus di atas hanya satu peristiwa yang saya alami, tetapi kita tentunya sudah akrab dengan kejadian sejenis itu. Ketika seseorang melakukan kesalahan kepada kita, yang kita lakukan justru membenarkan kesalahan lain yang kita lakukan padanya di kemudian hari, karena menganggap itu bisa menutupi kesalahannya terdahulu. Kita menganggapnya sebagai buah balasan. Dengan membalasnya, maka kesalahan yang dilakukan kepada kita pun menjadi impas.

Perlakuan balas-membalas ini sudah bukan lagi sesuatu yang jarang kita temui. Bahkan dalam beberapa kasus, bisa jadi apa yang dianggap pantas dibalas justru hanya sebatas asumsi. Misalnya saja, seorang penumpang taksi menerima kembalian berlebih dari pengemudi yang keliru menghitung, kemudian berpikir bahwa kalau saja penumpang memberi uang berlebih kepada pengemudi tadi, si pengemudi juga enggak akan mengembalikannya. Maka, si penumpang tidak jadi mengembalikan uang yang kelebihan kepada si pengemudi.

Memang, jika ditilik dengan prinsip one eye for one eye, hal seperti ini masuk akal. Peristiwa ini lumrah dikenal dengan ‘two wrongs make right‘.

Two wrongs make a right adalah cara berpikir yang dianut seseorang dengan membenarkan perbuatan salahnya terhadap orang lain karena orang lain itu telah melakukan tindakan salah yang sama terhadap dirinya.

Orang-orang tertentu menindas kaum lain dan pada akhirnya, kaum yang tertindas juga ikut menindas orang lain dengan dalih, “Lho, lihat! Orang-orang kita ditindas di sana, kenapa kita enggak boleh menindas?” Pernyataan ‘kenapa mereka bisa dan kita tidak bisa’ biasanya dijadikan pembenaran dalam peristiwa seperti ini.

Seperti misalnya dalam kasus di mana seorang istri mendapatkan kenyataan bahwa suaminya berselingkuh, sehingga menganggap bahwa perselingkuhan yang si istri lakukan kemudian adalah tindakan yang benar dengan menggunakan alasan, “dia bisa, maka aku juga bisa”. Lantas, apakah tindakannya ini benar jika dipandang secara menyeluruh?

Gregory S. Kavka dalam Journal of Business Ethics menyatakan bahwa jika sebuah standar moral atau aturan yang sudah disepakati bersama dalam lingkungan dilanggar oleh satu kelompok masyarakat, maka seseorang atau kelompok dalam masyarakat yang lain boleh melanggar standar atau aturan itu juga, karena sebelumnya mereka telah dirugikan dan diperlakukan tidak adil.

Seseorang yang diserang terlebih dahulu, diperbolehkan melakukan serangan balasan karena itu (dianggap) benar. Sebuah negara yang menjadi sasaran tindakan agresi militer negara lain, diperbolehkan melakukan serangan balasan karena itu menyangkut sistem pertahanan. Dalam kasus yang lebih sederhana, misalnya, ada seseorang dijelek-jelekkan oleh temannya di depan publik, kemudian balas menjelek-jelekkan. Yang kemudian terjadi adalah saling mengejek tanpa ada habisnya kecuali jika mereka dilerai. Lantas, ketika kedua pelaku diinterogasi, keduanya sama-sama mengaku tidak salah. Yang satu mengaku cuma iseng, yang satunya berdalih bahwa ia cuma membela diri.

Two wrongs make one right. One eye for one eye. Two wrongs make a right akan selalu bisa kita temukan dalam hidup sehari-hari. Kesempatan itu akan sering datang dalam relasi antar manusia. Orang bijak pernah bilang hal serupa: “Hurt people hurt people”.

Pertanyaannya, apakah kasus serupa bisa digunakan untuk membalaskan pelaku pembunuhan? Apakah membunuh pelaku pembunuhan sebagai bayaran atas nyawa yang telah dihilangkannya itu tindakan benar?

Sehingga muncullah negasi dari itu yang menyatakan, two wrongs make one right adalah kekeliruan logika. Two wrongs don’t make one right. Peristiwa salah yang dilakukan untuk membalaskan peristiwa salah sebelumnya tidak akan menjadi benar. Hal ini menggunakan paham logika matematika, bahwa ketika dua angka negatif diduplikasi, itu enggak serta-merta melunaskan apa yang telah terjadi. Justru hasilnya akan menjadi angka negatif, yang nilai negatifnya lebih besar lagi.

-2 + (-2) = -4

Tetapi, bagaimana dengan utang? Ketika si Fulan meminjam uang kepada si John sebesar Rp5.000.000,- tetapi enggak kunjung dibayar, apakah si Fulan tidak perlu lagi membayar ketika si John mengutang kepada Fulan dengan nominal yang sama,? Bukankah utang si Fulan maupun si John sama-sam terhapuskan?

Uhum. Okay. Ternyata, persamaan matematika dan akuntansi dalam prinsip ini memiliki penyelesaian yang berbeda. Dan, mungkin, orang-orang yang memiliki paham two wrongs make one right mengambil pandangan bahwa perlakuan buruk yang mereka terima adalah sebuah piutang yang harus mereka tagih dalam sebuah bentuk pembalasan. Tetapi berangkat dari sini, kita pun bertanya kembali.

Apakah memang harus dibalas?

Apakah seorang pencuri harus mengalami kecurian untuk mendapatkan balasan yang setimpal? Apakah seorang pemerkosa harus diperkosa untuk mendapatkan balasan yang setimpal? Apakah seorang pembunuh harus dibunuh? Haruskah seorang peselingkuh diselingkuhi?

Dalam kondisi lain, misalnya seseorang sedang dibegal dan dipukuli. Haruskah si korban begal balik melawan untuk membela dirinya sebagai balasan, ataukah ia harus pasrah karena paham two wrongs don’t make right membuatnya berkesimpulan kekerasan tidak akan selesai jika dibalas dengan kekerasan?

Nah, saya pikir, kita bisa menyimpulkannya. Tidak selamanya dua hal salah menjadi benar, dan tidak selamanya dua hal salah menjadi tidak benar. Namun, di saat yang seperti apa ia menjadi benar dan tidak benar sepertinya adalah hal yang cukup saru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.