Jejak Sulaiman di Nusantara, Siapa yang Tahu?

Berkat pembahasan di grup whatsapp Ikatan Kata, saya jadi kembali tertarik untuk mencari tahu tentang hasil penelitian KH Fahmi Basya. For your information, KH Fahmi Basya adalah seorang dosen matematika, yang kemudian memberikan pencerahan pada kita tentang cabang ilmu yang diberi nama Matematika Al-Qur’an.

Hasil penelitian beliau yang menyatakan bahwa Borobudur adalah peninggalan Sulaiman sebetulnya sudah menjadi pembahasan publik sejak lama. Saya sempat membaca tentang ini dulu, tapi lupa di mana. Mungkin di blog orang—entahlah. Tapi satu hal yang pasti, hasil penelitian beliau selalu dicap ‘sinting’, ‘ngaco‘, dan cocoklogi.

Orang yang menolak ini datang dari kalangan yang variatif. Dari kalangan Muslim, Buddha (yang selama ini dinyatakan sebagai pemilik situs Candi Borobudur tersebut), maupun dari kalangan saintis yang menyatakan Borobudur sebagai situs Buddha), serta sejarawan (yang selama ini percaya candi tersebut dibangun pada masa pemerintahan dinasti Syailendra, sekitar abad kedelapan).

Berkat pembahasan ringkas akan ini di grup obrolan, saya pun memutuskan untuk meminjam bukunya di perpustakaan Nasional. Tentu saja ebook dari iPusnas. Masih bersisa beberapa buku di sana, jika kamu tertarik untuk membacanya, silakan saja.

Di sana, di kolom review buku, respons ‘pembaca’ sangat skeptikal. Saya bahkan sangsi mereka sungguh sudah meminjamnya dan bahkan membacanya. Mereka cuma bilang ini ngaco, cocoklogi, mengada-ngada, dan lain sebagainya.

Hmmm. Semalam suntuk saya habiskan waktu untuk menyerap informasi dari dalam sana, dan saya pikir, enggak ada salahnya jika saya merangkum review saya ke dalam blog ini. Dan, seperti biasa, review buku saya tidak melulu soal buku semata, tetapi juga soal nilai dan inti yang terkandung dalam buku itu, serta apa yang mampu saya petik dari dalamnya.

Info Buku

Judul: Borobudur & Peninggalan Sulaiman
Penulis: KH Fahmi Basya
Penerbit: Ufuk Publishing House
Tahun Terbit: Edisi Baru, Mei 2015
Jumlah Halaman: 321 halaman + ix
ISBN: 978-602-0900-40-7

Mungkin selama ini kita hidup dengan pelajaran Sejarah yang menyatakan, candi-candi di dalam negeri adalah warisan kerajaan Hindu-Buddha. Saya maklum jika pemahaman bertahun-tahun dijejalkan dengan apa yang menurut kita tidak masuk akal, akan membuat kita menolak keras. Hal-hal seperti ini sudah mendarah daging dalam kehidupan manusia, bukan?

Kita tentu sudah akrab dengan kisah Nabi terdahulu dan umat-umat mereka. Bagaimana Nabi Ibrahim ditolak umatnya karena membawa risalah ketauhidan di saat mereka telah memiliki kepercayaannya sendiri. Atau Nabi Musa dan Harun yang didustakan umatnya. Bagaimana mungkin seorang biasa-biasa dan saudaranya yang gagap mengaku sebagai seorang Nabi di saat umatnya sudah enak-enakan hidup menyembah Firaun? Atau umat Yahudi yang menentang kerasulan Isa Almasih, karena beliau datang dengan maksud menggantikan hukum Taurat dengan hukum yang baru.

Bukannya saya mau menyamakan rasul dengan manusia biasa bernama Fahmi Basya, lho, jangan terfokus pada status itu. Fokuslah pada penolakannya. Para Nabi dan Rasul seringnya datang dari kalangan minoritas. Dan kita, hobinya mem-bully kalangan minoritas. Kita mungkin bisa berbangga hati karena hidup di masa tiada nubuatan, dan mampu mempelajari semuanya berdasar sejarah, lewat kitab yang sudah terbukukan secara resmi sehingga kita bisa memilih mana kebenaran dan mana bukan setelah semuanya dibuktikan. Tetapi, pernahkah kamu membayangkan bagaimana jika kamu hidup di zaman Rasul terdahulu? Apakah kamu yakin, bisa percaya pada mereka, di saat kamu sudah hidup nyaman dengan pemahaman mayoritas bertahun-tahun? LOL. Padahal sekarang, kamu saja selalu menutup diri dari hal-hal yang mematahkan pemahaman menahunmu?

Pemikiran ini mencuat sejak kuliah dan dosen saya sempat menyinggung soal Musa dan Harun yang gagap dan menperbandingkannya dengan Firaun yang mempesona dan punya kekayaan mentereng. Bukan tidak mungkin, jika saya hidup di dunia masa lalu, maka saya ikut ke dalam golongan orang-orang yang menistakan nubuatannya, mengecap mereka orang gila atau tukang sihir. Makanya, saya tidak mau sombong dengan apa yang saya pahami sekarang, karena sewaktu-waktu, bisa saja ada yang mematahkan apa yang saya pegang. Bukankah sains memang seperti itu prinsipnya? Sebuah penelitian yang diimani hari ini, bisa saja dipatahkan oleh penelitian berikutnya. Manusia masa lalu percaya matahari mengelilingi bumi, jika kita kembali ke masa lalu dan menyuguhkan teori heliosentris ke depan mereka, bisa-bisa kita direbus hidup-hidup!

Kembali pada persoalan Fahmi Basya dan hasil penelitiannya. 30-an tahun masa penelitian bukan waktu yang sebentar. Di usia saya yang keduapuluhlima, sudah banyak hal-hal yang saya pelajari (meski tidak cukup banyak untuk bisa memahami segudang misteri dunia). Tentu sudah banyak hal yang diteliti oleh beliau sehingga beliau bisa tiba pada kesimpulan bahwa Borobudur adalah peninggalan Sulaiman.

Buku ini tidak lain adalah hasil laporan dari pengamatan beliau tersebut. Kumpulan kesimpulan yang dirunut biar bisa lebih bisa dimengerti.

Awalnya, beliau membuka dengan memberikan fakta ringan yang tertera dalam Al-Qur’an bahwa ‘Allah memelihara segala sesuatu‘ sehingga bukan tidak mungkin jika peninggalan Sulaiman dan apa yang telah menjadi sejarah, masih bisa ditelusuri.

Dalam buku ini, Fahmi Basya memberikan beberapa perhitungan Matematika Al-Qur’an (yang sering disebut cocoklogi oleh banyak orang), dengan membangun pondasi Borobudur dengan ayat-ayat tertentu. Saya akan skip pembahasan ini, karena jujur, seberapa suka pun saya dengan matematika yang merupakan bahasa alam, saya enggak mengerti. 😂

Intinya, beliau mendapatkan kesimpulan sebagai berikut:

1. Di bagian Selatan dari Borobudur, banyak ditemukan rumah-rumah semut. Dan sebagian umat Islam tahu tentang hubungan semut dengan Sulaiman a.s.. Sulaiman a.s diberikan kemampuan untuk bisa bercakap dengan mahluk gaib, pun binatang, dan ada kisah di mana Sulaiman mendengar percakapan bangsa semut terabadikan dalam Al-Qur’an.

Well, mungkin semut ada di mana saja. Tetapi bukan tidak mungkin juga jika banyaknya rumah semut di dekat Borobudur menjadi salah satu pertanda.

2. Kisah negeri Saba yang menyembah matahari, dan Kekosongan misterius di Istana Ratu Boko, Sleman. Namanya dikenal sebagai Istana Ratu Boko, tetapi belum tentu Ratu Boko adalah Balqis (Ratu Saba).

Di sana terdapat sebuah situs sejarah dengan bagian kosong yang ganjil, dan kelihatan seperti hilang tiba-tiba.

Kemudian, ada pula dua tempat yang disinyalir merupakan tempat pemujaan Ratu Saba kepada matahari, karena menghadap matahari terbit.

Selain itu, di areal yang sama juga terdapat bagian yang mirip bekas dirusak. Batu-batu bergelimpangan dan tertanam di dalam tanah secara acak. Menurut Fahmi Basya, itu adalah batu-batuan yang dilemparkan dari langit sebagai gertakan.

3. Lempengan emas bertuliskan Om Rudra Ya Nama Svaha yang kemudian diterjemahkan oleh Fahmi Basya (dan dianggap) memiliki arti persis dengan Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ditemukan di telaga di situs pada poin kedua, yang diduga kolam mandi milik Ratu Boko.

Dalam kisah versi Al-Qur’an, diceritakan reaksi Balqis terhadap surat itu adalah menyebutkan surat tersebut sebagai surat yang mulia. Apakah mungkin, beliau menyatakan kemuliaan tersebut adalah karena lempengannya terbuat dari emas?

4. Pemindahan istana juga cukup cocok dengan bukti kemiripan motif batuan di candi Ratu Boko dengan di Borobudur, hanya saja yang di Borobudur lebih menggembung. Menurut Fahmi Basya, ini terjadi karena pemindahan itu lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Dalam Al-Qur’an, ada kisah di mana seorang saleh mengaku mampu memindahkan istana Balqis ke hadapan Sulaiman dalam tempo yang kilat sebelum Sulaiman berkedip. Lebih lanjut, oleh Fahmi Basya, peristiwa ini dijelaskan sebagai peristiwa kuantum.

Peristiwa kuantum ini memberikan dampak kepada belahan bumi lain. Mungkin ini juga yang menjadi contoh pernyataan, ‘Kepakan sayap kupu-kupu di sini dapat memicu badai di sana‘.

Beliau merunutkannya dalam rumus fisika, sbb:

Jarak pandang terdekat : 30 cm, bolak-balik = 2×30 cm = 60 cm
Jarak Istana Ratu Boko – Borobudur = 36 km = 3.600.000 cm
Sebelum cahaya berjalan sejauh 60 cm, istana sudah dipindahkan 36 km.
Kecepatan pemindahan = 60.000 C, di mana C adalah kecepatan cahaya.

Energi yang dibutuhkan => M(60.000 C)² = 3,6 milyar MC²
Luas bumi = 510.072.000 km²
Luas bumi dibagi 3,6 milyar = luas 142,2 km² (petak A).

Jika massa Arupa Dhatu (yang dipindahkan) 72 ton atau 72 × 103 kg, energi minus yang terjadi pada tiap petak A di bumi = 648 × 1019 J
Dan jika permukaan bumi waktu itu bersuhu rata-rata 30°C, maka tiap petak A menjadi es setinggi 11.400 km dengan temperatur -1.000.000° C.

Menurut Fahmi Basya, bumi mengalami pendinginan tiba-tiba karena ini. Ice cap terbesar di daerah tropis ada di Peru, Quelccaya Ice Cap. Ahli paleoclimatologi, Lonnie Thomson dari Ohio State University telah menelitinya sepanjang 30 kali eskpedisi sejak 1974, dan menyatakan tumbuhan di sana terbekukan secara sangat cepat. Pembekuan ini juga terjadi di Gunung Kilimanjaro, Kenya, Afrika.

5. Banyak relief yang mirip kisah-kisah tertentu. Seperti seorang wanita yang menaikkan pakaiannya karena melihat kolam, yang mirip kisah Balqis yang terpesona melihat istana Sulaiman dan mengira lantainya adalah kolam, padahal kaca; burung Hud-hud yang memantau dari atas; ada pula gambaran manusia yang dimakan ikan, yang mirip kisah Yunus a.s.. Menurut Fahmi Basya, Borobudur adalah salah satu penggalan Zabur yang dimanifestasikan dalam stupa, dan itu dikerjakan oleh bala tentara jinnya.

6. Ada bagian yang tidak selesai dikerjakan. Dalam Islam, kita mengenal kisah kematian Sulaiman a.s., sebagai peristiwa yang tidak disadari. Para tentara jinnya mengerjakan suruhannya, dan begitu sadar bahwa Sulaiman sudah meninggal karena tongkat tempat bertumpunya rapuh dimakan rayap, mereka menghentikan semua pekerjaannya.

7. Ada bangunan di dasar laut setinggi 1,8 km, 62 km sebelah utara Jayapura, yang oleh Fahmi Basya, dinyatakan sebagai buatan jin pada masa Sulaiman.

8. Nama tempat yang mirip. To be honest, saya tidak terlalu tertarik dengan hal ini karena bahasa itu sebuah permainan peradaban. Seseorang yang diabadikan dalam kitab sebagai nama a, bukan berarti namanya di masa lalu menjadi a. Bisa saja ia dikenal sebagai b yang artinya dalam bahasa lain menjadi mirip arti a. Bisa jadi pula kisah itu didengarkan dari peradaban lain, kemudian dijadikan nama bagi peradaban itu.

Tetapi berdasarkan buku ini, ada beberapa nama yang terkesan mirip:
– Sulaiman = Su-man yang merupakan nama umum orang Jawa. Dan, adanya kemungkinan bahwa Sulaiman memiliki ibu dari dataran Nusantara. Sebab, di masa lalu, para raja biasanya menjalankan praktik poligami.
– Sulaiman yang mirip Sleman
– Wonosobo = Wana dan Saba atau hutan Saba

9. Stupa dan relief di Borobudur tidak dibuat dengan cara dipahat. Motif rambut yang tergulung, ombak air, dan brankas, dibuat dengan membentuk batuan lunak. Dan teknologi seperti itu tidak ada di masa kerajaan abad muda setelah Masehi.

10. Ada relief kendaraan berroda gigi di dinding Borobudur. Bukti bahwa kerajaan itu dulunya adalah kerajaan dahsyat.

11. Adanya bencana banjir besar yang melanda sehingga membuat daratan yang semula ada persis tulang-belulang yang berserakan. Yang menurut Fahmi Basya, mirip seperti kepulauan Indonesia yang kita kenal saat ini. Banjir itu juga diikuti dengan penukaran buah menjadi buah pahit. Dan, kita mengenal salah satu buah pahit yang melegenda dan menjadi cikal-bakal nama sebuah kerajaan megah setelahnya, yaitu buah Maja.

Di buku itu, sebetulnya ada 40 poin, tetapi saya kerucutkan jadi 11 poin saja karena beberapa poin saya gabungkan dan beberapa di antaranya lagi menurut saya kurang gereget.

Setelah membaca buku ini, mungkin kita akan mengangkut-pautkannya dengan Atlantis. Yah, bukan tidak mungkin kok Atlantis itu berlokasi di area yang sama dengan Saba, dan bukan tidak mungkin pula keduanya mengambil tempat yang kini menjadi posisi negara Indonesia terletak. Siapa yang tahu?

Ada banyak situs-situs peninggalan yang menjadi misteri dunia, seperti piramida Mesir dan Sphynx, Piramida di Aztec, Stonehenge di Inggris, Gunung Padang di Indonesia, dan lain sebagainya. Satu hal yang saya pelajari setiap kali mempelajari sejarah adalah, jangan bertindak dan berpikir sebagai manusia masa kini, dan, jangan mencerna semuanya dengan sudut pandang masa kini. Biarkan imajinasimu berkelana, dengan membuatmu membayangkan seperti apa bangunan tersebut di masa lalu. Dan, bukan tidak mungkin semua hal itu adalah peninggalan para Nabi. Bukankah nabi itu banyak sekali jumlahnya? Siapa yang tahu?

Kemudian, terkait respons orang-orang yang berkeberatan dengan hal ini, saya lihat mereka menganggap Fahmi Basya sinting karena mereka masih enggan keluar dari sekat-sekat agama. Karena Islam yang begini dan Sulaiman adalah Nabi Islam, menurut mereka enggak mungkin patung batu dan tempat ibadah begitu bersangkut paut dengan Nabi Islam. Nabi Islam katanya. Kalau menurut saya, sih, para Nabi bukan milik siapa-siapa. Mereka adalah orang-orang hebat yang menyampaikan amanah dari Maha Kuasa untuk menjaga bumi dan menyembahNya. Perkara mengenai di mana mereka diutus, untuk umat mana mereka diutus, serta tatacara penyembahan itu seperti apa, siapa yang tahu?

Sepertinya, kita sudah didoktrin bahwa Nabi-nabi dan Rasul yang kita imani ini asalnya dari Timur Tengah sana, memiliki nama Arab atau Ibrani, dan mengenakan jubah. Ini mengingatkan saya pada sebuah meme akan film-film Hollywood tentang invasi alien atau kiamat yang latarnya pasti di sana saja. Hanya karena tiga kitab agama Samawi dinubuatkan di sana, belum tentu semua kisah di dalamnya mengambil latar di sekitar situ-situ saja, ‘kan? Bisa saja Buddha, Ahura Mazda, Konfusius, dan orang-orang di masa lalu merupakan bagian dari nabi. Bisa saja agama-agama yang kita tahu ini sebetulnya berasal dari hal yang Satu, hanya saja dipengaruhi oleh peradaban dan kebudayaan pada masa dan lokasi masing-masing. Islam kan datang sebagai penyempurna, maka wajar saja kalau ajaran di dalamnya membenarkan ajaran-ajaran sebelumnya. Bukan berarti orang Islam tukang klaim. Sekali lagi, siapa yang tahu?

Well, pertanyaan ‘siapa yang tahu’ sudah ada jawabannya.

Wallahu a’lam bish shawaab. Hanya yang menciptakan segala sesuatu di alam semesta inilah Yang MahaTahu.

3 respons untuk ‘Jejak Sulaiman di Nusantara, Siapa yang Tahu?

  1. Iya, waktu kuliah kami juga sering dibanyoli sama dosen. Jangan sombong, mentang kuliah di UIN, jadi remehan sama orang yang masih awam agama. Mentang2 lebih dulu atau lebih bia dapat kesempatan ngaji, jadi angkuh dan suka mengejek/ menyindir yang belum punya kesempatan ngaji agama. Lagian kita juga harus makasih sama ulama terdahulu yang bisa bikin kita paham syariat tanpa ngaji langsung ke kitabnya atau bahkan jalan ke arab sana. Lagian, kalau misal kita jadi orang quraiys zaman Nabi dulu belum tentu bakal langsung menyatakan diri beriman. Siapa tahu justru malah jadi penghina Nabi. Makanya jangan sombong 😅😅

    Nice post Mbak. Kapan2 saya kepoin bukunya.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.