Bacaan Anak-anak

BEBERAPA waktu yang lalu, news feed Facebook saya heboh oleh pengumuman sebuah sayembara penulisan cerita anak yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Sebab, dari pengumuman tersebut, dewan juri yang terdiri dari A.S Laksana, Reda Gaudiamo, dan Hamis Basyaib, menyatakan bahwa pemenang pertama, kedua, dan ketiga Tidak Ada.

Yang ada hanyalah 9 orang penulis yang harus puas ditempatkan pada posisi pemenang harapan.

Beberapa orang—saya tidak tahu apakah mereka peserta, ataukah cuma sekadar pengamat seperti saya—berpikir bahwa para juri terlalu berlebihan dalam menilai, atau dengan kata lain, memiliki standar terlampau tinggi.

Kehebohan ini kemudian mendorong para juri untuk membuktikan pertanggungjawaban mereka.

Dalam pernyataan para juri, tercantum semacam kekecewaan akan penulisan bacaan anak yang mampu melekat dalam ingatan anak-anak zaman sekarang. Dahulu, kita tentu mengenal cerita sejenis Si Unyil, Oki dan Nirmala, Peterpan, Lima Sekawan, Pippi si Kaus Kaki Panjang, atau Alice in the Wonderland. Tapi dekade ini, tidak banyak bacaan anak yang mampu membekas di ingatan anak masa kini.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa yang diinginkan oleh para juri itu sederhana. Mereka ingin ada cerita anak yang pure menceritakan kehidupan anak-anak yang polos, seru, penuh petualangan, dan terlepas dari kungkungan serta tuntutan orang dewasa.

Sementara itu, dalam laporan pertanggungjawaban disebutkan bahwa 80% dari 190-an cerita yang lolos seleksi administrasi, nyatanya mengambil pola yang sama serupa: mengunjungi nenek dan kakek, persis seperti cerita pengalaman liburan yang sering kita karang sebagai tugas libur panjang sewaktu SD.

Maka, saya sendiri tidak berkebaratan jika ketiga juri dengan gamblang menyatakan bahwa negeri ini miskin akan cerita anak. Kalimat pembuka dalam laporan pertanggungjawabannya pun lumayan kontroversial: “Anak-anak penting bagi semua orang, kecuali penulis.”

Mungkin di luar sana ada para penulis yang mumpuni dan masih aktif dalam menulis cerita anak. Sebut saja Ary Nilandari. Namun, ya, beliau tidak mengambil jalur untuk menulis cerita anak dalam wujud novel. Karya beliau kebanyakan mengambil kisah remaja, dan bercerita tentang persahabatan dengan sedikit bumbu romansa. Ya tidak terlalu banyak seperti cerita teenlit lainnya. (Omong-omong, remaja juga masih masuk dalam kategori anak kan?) Sementara tulisan anak, beliau pos ke akun facebook-nya.

(Opini Ary Nilandari tentang kepenulisan cerita anak bisa dilihat di sini: Ary Nilandari)

Atau ya, jangan jauh-jauh. Reda Gaudiamo sendiri punya karya yang menargetkan anak-anak. Tokoh dari serialnya adalah Na Willa, seorang anak peranakan Tionghoa yang berkisah soal Indonesia. Sayangnya, Na Willa tidak sampai ke banyak orang. Ia tidak bisa kita temukan di Gramedia.

Saya merasa kasihan dengan anak-anak zaman sekarang.

Sebab saya jadi menyimpulkan bahwa kurangnya sastra anak, khususnya dalam negeri, adalah dampak dari tiadanya perhatian lebih dari para orang dewasa. Alur pikirnya begini. Sesuatu dijual karena ada permintaan atau penawaran. Produksi buku, seperti yang kita ketahui, berlandaskan pada permintaan pasar. Penerbit mau menerbitkan apa yang sekiranya laku di kalangan pembaca. Setelah melihat fakta bahwa buku anak yang dulunya banyak lama-lama berkurang, kemudian kini menjadi tidak ada, bukankah itu artinya buku anak sudah tak laku lagi?

Ini adalah siklus, sebetulnya. Saya percaya kalau di luar sana ada banyak penulis yang bisa dan sanggup menulis cerita anak. Hanya saja, cerita mereka enggak laku karena tidak dicari oleh penerbit. Dan penerbit sendiri tentunya melihat situasi pasar. Mana ada penerbit yang mau rugi? Sudah dicetak dan disebar, malah diretur karena enggak laku.

Pertanyaannya, siapakah pasar buku anak? Tentu saja anak-anak itu sendiri, bukan? Pastinya, anak-anak nggak bisa mengatur minat diri sendiri. Ada orangtua mereka yang memperkenalkan dunia ini pada mereka.

Masih adakah orangtua yang doyan mendongengi anaknya ketika mau tidur? Mungkin ada, tetapi sangat langka. Daripada repot-repot mendongengi anak, lebih baik kasih mereka ponsel atau hadapkan mereka pada layar televisi, lalu putarkan film-film kartun seperti Spongebob, Hey Tayo, Upin-Ipin. Selesai. Bukankah sekarang ini era digital dan visual? Atau lebih praktis lagi, putarkan mereka film dari Disney atau MCU, sehingga orangtua bisa ikut nonton tanpa mati bosan. Ujungnya, anak-anak jadi mengidolakan Cinderella atau Spiderman. Berharap cepat gede agar bisa jadi secantik Cinderella dan sehebat Spiderman. Lalu lupa untuk menikmati momen-momen masa kecil mereka.

Saya enggak menyatakan bahwa Spongebob, Upin-Ipin, Tayo, Robocar Poli dan sejenisnya itu buruk buat anak-anak. Tetapi di sini, kita sedang berbicara tentang literasi bagi anak. Bacaan yang mungkin bisa membuat mereka mengenang indahnya masa kecil, jika kelak mereka sudah dewasa. Sama seperti kita yang mengenang Lima Sekawan, Lupus Kecil, Oki dan Nirmala, Bona dan Rongrong, atau Alice in the Wonderland.

Saya semakin yakin bahwa anak-anak zaman sekarang ini menyedihkan. Bukan cuma bacaan anak. Lagu anak pun senasib. Adakah lagu anak yang diciptakan dalam dekade ini? Oh, selamat. Anak-anak memang lebih suka menyanyikan lagu cinta atau galau karena ditinggal pacar. Adakah penyanyi cilik yang wara-wiri dalam dekade ini? Oh. Nanti bisa-bisa dibilang eksploitasi anak, ya?

9 respons untuk ‘Bacaan Anak-anak

  1. Lagu anak dalam dekade ini? Ada. Hanya belum booming seperti dulu.
    Mendongeng bukan keahlianku, tapi anakku sungguh senang bila aku membacakan buku cerita sebelum ia tidur. Orang tua yang harus lebih aktif untuk memfasilitasi bacaan apa yang baik untuk anak-anak zaman sekarang. Era digital sekarang anak-anak memang dituntut untuk tidak gaptek dengan teknologi, selama ada batasan dan penggunaannya tidak berlebih menurutku tidak masalah.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Nah, itu dia, Mbak. Yang membuat booming kan, masyarakat. Apakah ini pertanda anak-anak sudah enggak tertarik dengan lagu anak, atau memang kurang bisa bersaing dengan lagu pop dewasa.

      Saya senang, Mbak Dian tergolong orang tua yang ‘langka’ tersebut.

      Tadi saya sempat diskusi soal ini dengan seorang rekan kerja, dan kemudian saya mulai mikir, apakah ini karena anak-anak sekarang sudah mulai kristis sehingga enggak mau diberikan bacaan anak, atau bagaimana, ya?

      Soal digital sih, saya sepakat, Mbak. Hanya saja sayang kalau pengajaran berbasis visual kemudian menyingkirkan literasi.

      Disukai oleh 2 orang

      1. Nah lingkungan harus mendukung kalo gitu.
        Sekali lagi, orang tualah yang ikut mensejahterakan bacaan anak-anak.
        Terima kasih tulisannya Mir, ini bisa jadi pertimbangan orang tua untuk lebih menggalakkan gemar membaca pada anak-anak. Salut dengan kepedulianmu! 😊

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.