[BM] Kembali Bernyanyi

Suatu hari, gue mendatangi sebuah acara yang diselenggarakan di pusat kota, bersama keluarga. Ada pula seorang teman lama gue sejak SD sampai SMA, sebut saja namanya Ani. Di kota, dalam sepekan itu, akan ada dua acara spesial. Acara yang sedang gue datangi saat itu, serta acara berikutnya yang merupaakan kedatangan seorang selebriti kondang, yang meresmikan taman bermain baru.

Singkat cerita, gue dan saudara gue sudah ada di acara pertama. Acara itu ramai sekali, tetapi seolah ia berlangsung di sebuah rumah, yang terlihat akrab banget di mata gue. Gue masih berada di dalam rumah, entah rumah gue atau rumah saudara gue membantu merapikan, memasak, dan sebagainya. Kemudian, kakak gue datang, dan menyuruh gue ke kamar. Di sana, ada sebuah ranjang bertingkat yang tenar satu dekade silam.

“Tuh. Nanti kamu sama Kak Ijah (sepupu gue yang menderita sakit ayan), tidur di situ.”

“Wah, gue di atas berarti, dong. Kalau Kak Ijah di atas kan bisa ambruk.”

“Terserah.”

Ia keluar, gue pun turut keluar kamar. Di sana gue menemukan Ani—teman gue—yang kemudian seperti biasa, menghampiri gue dengan genit. Kami bertukar apa kabar, lalu berniat masuk ke bangku undangan. Tetapi langkah kami tertahan oleh suara koor yang khas sekali. Gue pun celingukan.

“Kok gue kayak kenal ya, ni suara?”

“Itu, tadi gue lihat Fika, mantan lu sama anak nasyid lain, deh.”

“Lhah, masa? Jadi itu mereka?”

“Kali aja, ‘kan?”

Musik berhenti. Lagu berganti. Berikutnya, adalah lagu kesukaan gue yang sering sekali gue bawakan solo sewaktu masih di manajemen. Lagu tentang persahabatan.

Gue bergegas menyingsingkan gamis. “Ni, gue gabung sama mereka, ya.”

“Oke.”

Derap langkah gue terpacu seiring mulut gue yang turut bersenandung. Mata gue memanas. Sial, betapa gue merindukan mereka. Jalur keluar rasanya jauh sekali, masa gue kudu muter terus naik-turun tangga, sebelum mencapai pintu? Dengan napas ngos-ngosan, akhirnya gue berhasil tiba di serambi, tempat mereka berada.

Dan di sana, gue disambut dengan ledakan tawa. Seolah mereka memang sudah menanti kedatangan gue. Seolah mereka memang sudah tahu gue bakalan datang karena dipancing dengan lagu ini.

Di bangku perempuan, Fika melambaikan tangan. Di bangku laki-laki, Mas Yud—mantan gue tersenyum. Gue menghampiri Fika dan berpelukan.

Kami menyapa sebagaimana biasanya. Ada pula Bang Irfan, ‘kepala gank’ kami, yang menyambut gue dengan sapaan seperti biasa.

Gue duduk di samping Fika, yang langsung menyerahkan mic. Lagu berikutnya, gue yang harus mengambil bagian pertama. Hal yang sebetulnya mustahil, karena bagaimana pun, kami harus menjalankan lagu sebagaimana yang kami laksanakan sewaktu latihan. Dan kala itu, gue sama sekali tidak ikut latihan.

Lagu itu pun selesai, dan acara dilanjutkan dengan sebuah penghargaan nasyid (hah? Bukannya ini pesta saudara gue? Entah, enggak paham juga). Selama itu, gue memberikan mic ke sebelah gue, yang entah bagaimana wujudnya mirip Hancun Eonneh, teman dunia maya gue.

Kemudian, gue dan Fika bertukar cerita. Tahu-tahu Mas Yud manggil-manggil gue.

“Ir, itu mic-nya matiin dulu. Suara kalian kedengeran sampai luar.”

Gue buru-buru mematikan mic di tangan Hancun Eonneh, dengan rasa kalut dan malu luar biasa. Tapi Mas Yud malah tersenyum menenangkan di seberang.

Kemudian, gue dan Fika kembali bercerita. Gue jadi kepingin balik aktif bernyanyi. Gue bertaya, “Sehabis ini, ada job manggung lagi?”

Katanya, “Yah, paling acara peresmian taman kota milik artis itu. Mau ikutan?”

“Itu tanggal berapa?”

“Hari Minggu.”

“Oke, gue ikut, ya?”

Fika melongokkan kepala, mencari Bang Irfan. “Bang, dia ikut.”

Sebuah jempol teracung. “Mantap,” kata Bang Irfan.

Sekonyong-konyong, MC mempersilakan sebuah tim naik ke panggung karena mereka pemenang pertama. Gue bisa menangkap sosok familier di sama. Rambutnya sedikit gondrong, dan ia tinggi. Ia juga yang memberikan pidato kemenangan. [Hello, sejak kapan juara lomba beginian ada pidato kemenangannya?]

Ia familier, tetapi gue tidak tahu siapa.

Gue pun bertanya pada Fika, “Mak, Mak kenal itu?”

“Oh, itu namanya *** (enggak tertangkap), anak Nasyid juga.”


Ah, seandainya emang masih bisa bergabung kembali. :”’) Sepertinya gue memang kangen mereka, terutama Fika dan Mas Yud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.