Kondisi Psikis dan Pengaruh Perilaku Orang tua, Sebuah Curhat Colongan

MENJADI seseorang yang perasaannya mudah dipengaruhi kondisi sekitar kadangkala bukan hal yang baik. Mungkin keuntungannya, saya bisa mudah berempati dengan kondisi sekeliling, walau seperti kata Harper Lee dalam To Kill a Mockingbird, saya tidak benar-benar mengerti karena bagaimanapun saya mencoba, saya tidak hidup sebagaimana orang yang bercerita itu hidup. Selamanya saya hanya menyikapinya melalui sudut pandang orang ketiga.

Kerugiannya, segala jenis cerita yang saya cerna sangat mempengaruhi kondisi perasaan saya. Itulah sebabnya, kendati punya kebiasaan menggelontorkan curhatan, saya tidak kuasa mendengarkan orang curhat. Sayangnya, tidak semudah itu untuk bisa menjauh. Saya selalu kepingin membantu. Terkadang, seseorang yang tengah berada dalam masalah tidak butuh solusi. Mereka hanya butuh didengarkan. Dan saya selalu ingin membantu, setidaknya dengan mendengarkan.

Beberapa kali saya menemukan fakta bahwa teman-teman saya rupanya sama seperti saya. Orang-orang yang remuk di dalam, tetapi memiliki tuntutan untuk terus berakting segalanya baik-baik saja. Beberapa kali saya mendengarkan, tidak jarang saya temui bahwa kerapuhan mereka tidak lain adalah hasil dari didikan yang keliru dari orang tua.

Hal ini membawa saya pada pemikiran ‘kenapa orang-orang bisa dengan tanpa mengerti menyatakan, “Seburuk apa pun orang tua, mereka tetap orang tua,” semata agar anak-anaknya mau menerima apa pun perlakuan buruk orang tua terhadap anaknya?’ Seakan-akan jika seorang dipukul, digampar, disiksa seperti apa pun, seorang anak punya keharusan memaafkan segala perbuatan orang tua.

Bukan hal yang keliru jika kita menyatakan pemberian maaf itu adalah sebuah imbal jasa atas pengorbanan orang tua dalam melahirkan, merawat, membesarkan dan sebagainya, kendati sejatinya, sederet jasa itu memang tanggung jawabnya. Saya selalu berprinsip bahwa orang tua memang wajib memenuhi tanggung jawabnya dalam memastikan hidup anak-anak mereka aman hingga akhir, karena dari hasil perbuatan mereka yang membawa si anak hadir ke dunia. Memang benar pula bahwa Tuhan yang menentukan eksistensi seorang makhluk di muka bumi. Tetapi semua itu tak akan pernah terjadi tanpa olah perbuatan manusia. Jika mengutip pernyataan dalam sebuah meme, ‘Anak bisa menjadi anugerah, bisa pula tidak. Melakukan seks tanpa kondom, apa yang kalian harapkan? Plasma TV?

Sayang, dalam perjalanannya, maksud dari pernyataan ‘Seburuk apa pun orang tua, mereka tetap orang tua’ seringkali dimaknai keliru. Mau setoksik apa pun orang tua, seorang anak harus tetap menerima kenyataannya bahwa orang toksik itu orang tua mereka. Ini pun tentu tidak salah. Memang betul, mau seperti apa pun diubah, kenyataan jika seorang anak lahir dari pasangan tertentu tidak akan pernah bisa berubah. Tetapi, secara tidak langsung, ia menjadi alasan orang tua toksik untuk mengemis maaf tanpa meminta maaf. Seolah kelakuan toksiknya sudah seharusnya dimaafkan karena statusnya sebagai orang tua. Orang-orang di luar kasus ini pun seringkali setuju dengan pihak orang tua, dengan berlindung di balik dalih orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya, serta kewajiban sang anak untuk senantiasa berbakti. Tiada yang memahami, kalau sekalipun sang orang tua melakukan rekonsiliasi pada akhirnya, dampak dari kelakuan toksik itu bisa saja berbekas terus seumur hidup seorang anak, dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupannya.

Pernah tidak kita balik premisnya jadi: “Mau orang tua kek, kalau kelakuan toksik ya tetap saja toksik“?


Mayoritas teman sesama milenial terjangkit penyakit ini. Mereka dibesarkan dalam pengajaran yang keliru, sehingga kondisi psikis mereka rusak parah akibat didikan dahulu. Maka tidak heran jika kebanyakan generasi ini kita lihat lebih senang hidup sendiri, di saat orang lain telah dengan nyaman merajut keluarga. Entah mereka masih dalam tahap pemulihan, atau merasa takut akan kemungkinan buruk yang terjadi di depan karena kondisi mereka, yang pasti mereka sudah tidak lagi ingin segegabah orang tua mereka. Mereka ingin memutus habis lingkaran setan. Sebab dalam kebanyakan kasus, orang tua toksik juga terlahir dari didikan yang sama beracunnya.

Sebuah pergerakan kecil saja bisa berpengaruh besar bagi perkembangan seorang anak. Seorang anak yang terbiasa dipukuli, dibentak setiap kali melakukan kesalahan, atau mungkin hanya sekadar dimarahi ketika ia justru tidak melakukan kesalahan apa pun, mungkin akan menjadi pribadi yang selalu ciut, tidak berani melangkah maju dan mengambil keputusan karena selalu dibayang-bayangi dengan rasa takut salah. Di sisi yang lain, seorang anak yang senantiasa dibela padahal telah melakukan kesalahan bisa jadi tumbuh menjadi orang yang tidak pernah mau mengakui kesalahannya dan gemar mencari kambing hitam. Seorang anak yang kerap diperbandingkan dengan anak lain, bisa jadi tumbuh sebagai pribadi yang selalu insecure dan pesimistis, karena merasa dirinya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan orang lain.

Terkadang apa yang dipikir sebagai sebuah cara didik yang bagus, rupanya tidak sebagus itu. Mungkin memang ada beberapa anak yang mampu menyintas cara didik tertentu dengan baik, tetapi tidak berarti cara itu bisa diaplikasikan kepada semua anak.

Saya pernah membaca sebuah jurnal tentang kemungkinan faktor krisis kepercayaan pada diri setiap orang. Saya lupa judul maupun penyusunnya, sudah lama sekali. Rupanya, ada kemungkinan krisis kepercayaan adalah akibat dari perkembangan psikososial yang terganggu sejak kecil.

Menurut teori perkembangan psikososial yang dikemukakan oleh Erik Erikson—salah seorang pakar psikologi perkembangan dan salah satu penganut aliran psikoanalisa Freud—ada delapan tahap perembangan psikososial dari manusia, sejak lahir hingga dewasa, yaitu:

  1. Trust vs Mistrust
  2. Autonomy vs Shame & Doubt
  3. Initiative vs Guilt
  4. Industry vs Inferiority
  5. Identity vs Confusion
  6. Intimacy vs Isolation
  7. Generavity vs Stagnation, dan
  8. Integrity vs Despair

Apabila salah satu dari tahapan ini terganggu, maka kemungkinan besar akan terjadi masalah psikososial pada seseorang. Psikososial sendiri adalah hubungan antara kondisi mental dan emosi dengan kehidupan sosialnya. Saat psikososial seseorang terisak, kehidupan sosialnya pun ikut terdampak.

Perkembangan psikososial Trust vs Mistrust mencuat sejak manusia lahir hingga berusia 18 bulan. Pada fase ini, seorang bayi akan belajar untuk memahami dunia sekitarnya, apakah dapat dipercaya dan aman, ataukah tidak.

Telah kita ketahui bahwa salah satu bukti komunikasi awal bayi dengan dunia sekitar adalah menangis. Saat ia merasa tak nyaman entah karena lapar, popoknya penuh, atau cuma butuh pelukan, ia akan menangis. Ketika kebutuhannya langsung terpenuhi dan tangisannya ditenangkan, ia pun belajar bahwa orang sekitar atau dunia di sekelilingnya dapat ia percayai. Lain halnya bila ia dibiarkan menangis. Ia akan menyerap informasi bahwa dunia tak dapat dipercaya.

Menurut jurnal tersebut, kondisi ini relatif menetap sampai dewasa, tetapi tidak disadari sebagian orang. Dan syukurnya, menurut beberapa psikolog, hal ini bisa diterapi.

Dari sini kita bisa melihat, hanya dari sebuah tangisan bayi yang tidak ditenangkan, mampu berdampak pada kehidupan lanjutan seorang individu. Bagaimana dengan perlakuan lainnya? Memang, tidak menutup kemungkinan ada faktor lain dari luar yang turut mempengaruhi, tetapi bukankah dari sini kita bisa melihat bahwa hal sekecil apa pun, bisa menentukan masa depan seorang individu?

Ketika membaca-baca curhatan beberapa teman dunia maya, saya pun melihat, betapa banyak orang yang sama sakit, yang disebabkan oleh didikan yang keliru dari orangtua, atau kondisi ekonomi yang pincang. Dan, kebanyakan dari mereka sama seperti saya. Takut untuk melangkah ke jalur normal seperti orang-orang kebanyakan pada usia kami, yaitu menikah.

Jadi, saya mohon dengan sangat kepada siapa pun yang bertahan membaca tulisan ini sampai di sini, tolong, belajar untuk menjadi orang tua yang bijak. Karena apa pun yang engkau ajarkan di masa kini, bisa saja membekas sampai kelak anakmu mendewasa. Dan, tolong berhenti meminta, menuntut, orang-orang untuk segera menikah. Mereka memiliki alasannya sendiri untuk bertahan seorang diri. Juga tolong, jangan menghakimi pasangan yang pada akhirnya memutuskan untuk child free. Mungkin mereka cuma ingin memutuskan lingkaran sakit itu, dengan tidak ingin ada anak-anak yang bernasib tidak beruntung seperti mereka.

2 respons untuk ‘Kondisi Psikis dan Pengaruh Perilaku Orang tua, Sebuah Curhat Colongan

  1. Tulisan yang sangat luar biasa! Saya suka!
    Suka, karena I can related so much with it!
    Saya dibesarkan dengan dibayangi oleh harapan dan keinginan kedua orang tua saya, dulu saya merasa bahwa standard mereka terlalu tinggi dan saya terlalu lelah untuk mencapai standar tersebut. Keadaan ini membuat luka bagi saya sendiri, tentu saja. Perlu waktu yang tidak sedikit untuk memulihkan perasaan sakit ini, dan berdamai dengan kedua orang tua saya dan tentu saja saya sendiri. Prosesnya panjang, dan memang tidak mulus.
    Saya bahkan berpikir, alasan saya untuk belum memutuskan untuk menikah saat ini adalah karena alasan ‘trauma’ melihat perilaku kedua orang tua saya dulu. Saya takut akan berubah menjadi mereka nanti, dan melakukan hal yang sama terhadap keturunan saya sendiri. Padahal kekhawatiran ini pun pasti.
    Saya mungkin terlalu banyak berpikir!

    Suka

    1. Ya ampun terima kasih, Kak Ayu. Ketika tulisan ini dibaca sama tenaga kesehatan rasanya senang sekali.

      Kak Ayu sudah mengalami banyak hal. Itulah, Kak. Kadang buat menyakiti itu cuma butuh beberapa saat, tapi untuk menyembuhkan butuh usaha berlapis-lapis.

      Mungkin orang-orang bilang, rasa takut untuk bisa mengulang kesalahan yang belum terbukti itu tindakan pengecut, tapi kata saya itu berarti kita sudah belajar untuk tidak bertindak terlalu gegabah, apalagi jika itu melibatkan orang lain.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.