Ngalor-ngidul

POS ini saya beri judul ngalor-ngidul, karena pembahasan saya bakalan melebar dan bercabang-cabang. Dimulai dari satu titik, saya menggariskannya sampai tidak kunjung ketemu akhir. Biarkan saja. Pos ini memang saya tulis untuk menuangkan ide sendiri dan dibaca diri sendiri.

Dampak Negatif Corona

Wabah bernama Corona ini mengerikan. Memang, dan kengeriannya sudah tampak sejak semula, hanya saja kita, atau khususnya saya, terlalu menganggap remeh. Seolah tidak belajar dari pengalaman, bahwa sesuatu yang tidak bisa diterka atau dimengerti itu memang cenderung menakutkan. Atau mungkin terbalik. Kita yang cenderung takut pada sesuatu yang tidak kita mengerti atau tidak mampu kita terka.

Bukan cuma soal virusnya sendiri, karena untuk itu kita sudah dibekali wejangan untuk selalu menjaga kebersihan, cuci tangan, meminimalisir kontak fisik dengan terlalu banyak orang, dan sebagainya. Melainkan juga dampak buruknya yang diembuskan manusia-manusia di segala penjuru.

Sebelumnya saya sudah pernah menulis bahwa pemikiran manusia adalah hal yang paling mengerikan. Pernyataan ini juga menjadi satu lagi bukti ketakutan kita cenderung timbul terhadap sesuatu yang tidak mampu kita mengerti. Pemikiran satu saja manusia, mampu merusak tatanan yang semula baik-baik saja. Apalagi, jika kita telah bicara soal ribuan, bahkan jutaan manusia, dengan pemikiran mereka masing-masing. Tentu bukan hal yang mudah untuk mengatur jutaan pemikiran dalam sekali aksi. Timbul kekacauan di mana-mana karena masing-masing pihak akan memprioritaskan hal yang penting menurut pemikirannya sendiri.

Maka, muncullah beragam kekisruhan. Mulai dari penimbunan barang yang benar-benar sedang dicari, protes di sana-sini, keinginan mendapatkan pelayanan lebih dulu, harga barang yang mulai meroket, bahkan sampai pada bercandaan yang tidak sepantasnya hadir dalam kondisi darurat, yang akhirnya menuai kontroversi.

Berita seputar seorang selebriti asal negeri Ginseng yang mengaku mengidap Corona kemudian menyatakan bahwa dirinya cuma bercanda dalam rangka April Mop, memenuhi timeline media sosial saya. Sebagian fans murka, sebagian mengaku kecewa, sebagian merutuk sang idola, sebagian yang lain diam-diam saja. Yang merutuk bukan cuma mengungkit kasus kali ini, tetapi juga prahara yang tidak ada hubungannya dengan kasus ini. Mereka membahas umur, karir sang artis yang sempat redup sekian tahun silam, dan memadukannya dengan attitude blah-blah-blah. Membuat saya yakin bahwa ketika kita melihat seseorang melakukan kesalahan, kita cenderung suka menjelek-jelekkan dirinya, mengungkit kesalahan yang sudah berlalu, memojokkannya sampai tidak lagi tersisa sisi putihnya. Entah apa untungnya. Mungkin demi menghibur diri bahwa diri kita lebih baik dari orang tersebut. Yang jelas, baik mengungkit kasus yang sudah berlalu untuk hal yang tidak punya korelasi dengan kasus baru, atau menyalahkan satu pribadi secara utuh atas satu tindakannya, adalah perbuatan yang kejam. Sebagai manusia, tidak ada yang suka dihakimi secara personal atas satu dosa. Semestinya kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Tetapi dari sini, saya bisa memetik pembelajaran. Corona memang bukan sesuatu yang bisa disepelekan, dan sejak dulu, bercandaan atas nama penyakit, bukanlah hal yang etis. Dahulu, saya pernah dibilang tidak seru karena pernah mengomeli teman sekelas yang membawa-bawa autisme dan ayan dalam leluconnya. Ya, gimana. Saya punya kakak penderita epilepsi, lho. Kemudian, saya pernah terlibat perdebatan sengit di dunia maya karena wafatnya salah satu artis wanita Korea, Sulli, karena kasus bunuh diri, yang dibercandakan oleh warganet lokal. Lalu kini, kendati saya adalah bekas penggemar sang artis yang berulah (dibilang bekas karena, rasa cinta saya terhadap K-Pop dan K-Drama sudah tidak semeledak-ledak zaman SMA), saya mengecam tindakannya.

Sekali lagi, bukan hal yang elit membawa-bawa nama penyakit dalam bercandaan, terlebih penyakit itu adalah wabah yang telah membuat sekian ratus juta penduduk bumi resah karena tidak bisa beraktivitas sebagaimana biasa, merenggut nyawa yang bahkan tak bisa dilihat untuk kali terakhir oleh keluarganya, membuat tetangga memendam kecurigaan pada tetangga lainnya, menyumpal sumber dana hidup, dan memberi krisis lain dalam berbagai aspek.

Dampak Positif Corona

Kemarin, sempat saya bertanya-tanya, apa hikmah di balik wabah pandemi Covid-19? Berdasarkan pos sebelumnya, saya pikir, mungkin wabah ini, sepaket dengan pengisolasian warga, bisa membuat masyarakat lebih kreatif, produktif, atau setidaknya kontemplatif. Bukan berarti saya menyarankan kita untuk mengikuti jejak Newton yang membangun dan menyelesaikan teori matematika, atau Buya HAMKA yang merampungkan buku. Itu terlalu kejam. Productive doesn’t mean doing more work, tetapi lebih menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan/ atau orang lain.

Namun, sepertinya anjuran saya tidak begitu dibutuhkan, karena tanpa itu pun, setiap orang telah melakukannya, baik secara langsung dan disengaja, maupun tidak. Bila sebelumnya seseorang berpenat-penat memaku diri di kursi, menghadap layar, diiringi semriwingan pendingin udara yang membuat kulit cepat mengisut, kini bisa lebih santai melakukan pekerjaan, sambil makan, bahkan bisa menyisihkan sekian menit untuk berolahraga, menjaga metabolisme tubuh. Bila sebelumnya kita hanya bisa memesan makanan lewat ojek daring, kini kita bisa berlatih memasak dan menyicipi karya sendiri, yang mungkin tidak sebegitu enak, tetapi mampu membuat kita puas. Bila sebelumnya kita jarang berinteraksi dengan anggota keluarga, kini kita bisa lebih perhatian pada mereka, bahkan hanya sekadar bertanya, “Apakah kalian sehat-sehat saja?”. Jawaban “Ya”, “Alhamdulillah”, atau “Puji Tuhan” yang sebelumnya terkesan biasa-biasa, kini jadi lebih bermakna, sehingga kita bisa lebih bersyukur akan nikmat sehat. Bila sebelumnya kita kelewat disibukkan oleh putaran dunia sehingga kesulitan mendalami buku atau kitab suci, kita punya waktu lebih luang untuk merenungkan isinya, memikirkan makna hidup, mendekatkan diri pada ilmu pengetahuan juga Tuhan. Bila sebelumnya kita abai akan putaran zaman, kini kita bisa lebih banyak merenung, memikirkan dosa (dosa sendiri, bukan dosa orang lain), merencanakan sesuatu untuk masa depan, memikirkan penciptaan alam semesta, tentang asal usul kita, saya dan Anda.

Kemudian, saya teringat akan foto-foto yang sempat berseliweran di dunia maya. Potret kondisi kota tanpa aktivitas manusia. Apa yang bisa kita pelajari dari foto-foto tersebut? Saya pribadi menangkap, bahwa tanpa manusia, bumi ini jadi bisa lebih bernapas. Bumi bisa rehat sejenak, mengistirahatkan diri, melepaskan udaranya dari kontaminasi polusi, asap pabrik, limbah industri, dan sebagainya. Bahkan sempat saya melihat berita bahwa di India—yang entah betulan ataukah cuma hoax— saking nihilnya warga yang memenuhi lingkungan luar, hewan liar jadi berani turun ke jalan raya.

Saya jadi mulai bertanya-tanya, apakah benar bahwa sesungguhnya, manusia adalah sosok perusak keseimbangan alam?

Dugaan ini sudah pernah saya kemukakan, sebagai argumen misantropis tentang alasan mengapa manusia sebaiknya tidak terus-menerus berkembang biak. Sisi buruk manusia adalah pembawa katastrof. Barangkali inilah yang menjadi dugaan malaikat sebelum Adam diciptakan. Di satu sisi, manusia yang menuruti jalan Ilahi bakal memakmurkan bumi, sebagaimana beban (saya lebih menganggapnya beban, alih-alih tanggung jawab, sih) yang dipikulnya, yakni sebagai ‘khalifah‘. Sementara di sisi lain, manusia juga yang akan merusaknya, menumpahkan darah, seperti yang pernah ditanyakan oleh malaikat.

Kemudian, saya bertanya-tanya, mengapa malaikat, yang senantiasa dikisahkan sangat saleh dan selalu mematuhi perintah Tuhan, dan tidak memiliki kehendak selain untuk mengerjakan tugas dari-Nya, bisa sebegitu skeptisnya terhadap manusia? Apakah memang karena makhluk sebelumnya yang mendiami bumi (yang mungkin dinosaurus atau manusia purba, barangkali) pernah menumpahkan darah di sana?

Ataukah justru keraguan para malaikat sendiri pun merupakan bagian dari rencana Tuhan? Sebab kala itu Tuhan hanya menjawab bahwa Dia tahu apa yang tidak makhluk-Nya ketahui. Manusia adalah ciptaan paling sempurna, karena kita dikaruniai akal pikiran dan kehendak bebas. Setidaknya, begitulah yang seringkali saya dengar. Dan, sebagaimana yang kita pelajari, bahwa Tuhan selalu menciptakan segalanya berpasang-pasangan. Cahaya senantiasa bersanding dengan kegelapan, dan justru cahaya paling teranglah yang mampu menghasilkan bayangan paling pekat. Akal manusia, bukan cuma bisa memberikan hal positif, tetapi juga punya dampak negatif. Pemikiran manusia yang paling brilian, mampu menciptakan bayang-bayang yang justru menjauhkan diri dari-Nya.

Kenyataannya, yang dipertanyakan malaikat menjelma nyata. Peperangan, pemerkosaan, pembantaian, keserakahan, dan beberapa kejahatan lain akibat ulah manusia dan pemikirannya benar-benar terjadi. Padahal, Tuhan justru memerintahkan kita untuk membaca, belajar, berpikir, menggunakan akal yang sudah Ia beri. Lantas apa? Bagaimana caranya agar manusia bisa menggunakan akal tanpa menjadi perusak itu sendiri? Dan, sudah tentu sebagai Pemilik dan Penguasa tatanan semesta, Dia tahu hal ini bakal berlangsung. Sekali lagi, ataukah justru ini merupakan bagian dari rencana-Nya?

Bahkan sampai sekian ratus ribu tahun berlangsung, kita belum bisa memecahkan misteri di balik termuntahkannya manusia ke dalam bola biru yang sangat mungil di jagad semesta. Mengapa manusia? Oh, ya. Ada kisah soal manusia yang jumawa meminta tanggung jawab dari Tuhan. Kisah tentang iblis yang membangkang terhadap titah-Nya untuk bersujud pada Adam juga sudah sering kita dengar dan baca. Bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna, karena dikaruniai akal pikiran dan kehendak bebas.

Tetapi, lagi-lagi, apakah kehendak bebas memang benar-benar bebas? Tentu Dia punya kuasa menyusupkan bisikan-bisikan dan pergerakan kosmik untuk kemudian kita percayai sebagai hal yang berlangsung alami. Apakah semua ini benar-benar terjadi secara natural, ataukah justru merupakan bagian dari skenario Ilahi, sebagaimana teori fatalisme?

God doesn’t play dice with this universe, kata Einstein dalam suratnya kepada Max Borne. Bisa saja Tuhan sudah mengatur agar manusia meminta tanggung jawab memakmurkan bumi. Bisa saja Ia sudah mengatur agar iblis membangkang. Atau justru iblislah makhluk paling patuh pada Tuhan, karena ia enggan bersujud pada sesama makhluk? Apakah justru iblislah makhluk paling patuh dan salah satu kepatuhannya adalah menyanggupi peran untuk jadi tokoh antagonis sejak peradaban dimulai sampai akhir zaman kelak?

Lantas, mengapa bumi yang menjadi latar berlangsungnya kehidupan? Dari delapan planet dalam tata surya, mengapa bumi? Dari sekian banyak bintang dan sistem peredarannya masing-masing dalam galaksi ini, mengapa bumi? Dari ratusan galaksi yang memenuhi alur kosmos, mengapa bumi? Sespesial apa kehidupan di bumi sampai segala kemewahan yang memenuhi jagad raya ini hanya ditujukan sebagai pengiring bagi planet biru pudar yang jika dilihat dari alam semesta tidak ada apa-apanya? Apakah benar taburan batu-batu dan gas melayang itu cuma berfungsi memperindah angkasa malam? Atau adakah kehidupan lain di luar sana, yang juga menganggap kita sebagai makhluk asing, atau justru tidak tahu pasti bahwa ada sebuah planet bernama bumi yang juga menyimpan kehidupan sepertinya? Apakah ada peradaban lain luar sana yang lebih sistematis, dengan satuan waktu, sistem, gas-gas, unsur kehidupan yang berbeda, yang hanya bisa menduga-duga akan kehidupan planet di luar mereka, sebagaimana yang kita lakukan? Ataukah justru kehidupan di galaksi lain, telah berhasil mencari tahu soal manusia, dan kini sedang menertawakan atau bahkan mengecam tindakan manusia yang mereka anggap sangat bodoh dan kejam?

Dan, apakah segala-galanya akan musnah kemudian, sebagai akhir dari peradaban bumi? Berikutnya, apa yang akan terjadi? Apakah akan terbangkitkan lagi untuk kehidupan yang lain, atau tidak?

Semakin dalam saya memikirkannya, yang saya temukan hanya kebuntuan. Tidak ada jawaban pasti kecuali ‘Tuhan punya segudang rahasia’ yang itu sendiri pun saya bentuk agar tidak terlau larut dalam kecemasan. Tetapi pertanyaan itu ada, akan selalu ada, dan bahkan akan terus menggariskan cabang-cabangnya yang baru, yang mungkin tidak akan pernah menemui jawabannya.

Orang-orang sering menyepelekan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, dengan alasan kita bakalan diazab karena mempertanyakan hal yang tidak sepantasnya kita pertanyakan. Sebetulnya, bagaimana ukuran pantas dan tidak pantas itu sendiri? Apakah benar mempertanyakan kehidupan kita masuk dalam kategori tidak pantas? Mengapa? Apakah karena kita telah lancang mengusik kuasa Ilahi, di saat semestinya kita cuma tunduk dan taat pada setiap garis takdir-Nya? Kalau begitu buat apa akal diciptakan? Kalau cuma tunduk dan taat, malaikat juga bisa. Bahkan malaikat saja mempertanyakan keputusan Tuhan, kok, meskipun jawaban-Nya tetap penuh rahasia.

Apakah karena ini tipe perenungan yang sia-sia yang alih-alih mendapatkan imbal balik materi, kita malah bakalan dapat predikat kafir? Apakah kalau kita tidak bisa merupiahkan sesuatu, maka segalanya sia-sia? Apakah lebih baik jika kita taat buta pada aturan, tanpa mempertanyakan dan memikirkan esensinya? Kalau mempertanyakan Tuhan melencengkan iman, mengapa Ibrahim a.s justru diangkat sebagai Rasul?

Ataukah karena pertanyaan ini tidak lebih berguna daripada memikirkan dengan siapa saya menikah besok, pakai adat apa, pakai kebaya atau gaun/ gamis, pakai resepsi atau tidak, di rumah atau sewa gedung, kira-kira budget berapa, mau bulan madu di mana, malam pertama pakai gaya apa, dan mau punya anak seberapa banyak? Seolah manusia dihidupkan cuma untuk berkembang biak. Memang, beranak-pinak merupakan perintah Tuhan pada Ibrahim a.s dan keturunannya, tetapi apakah hidup harus selamanya tentang reproduksi?

Mungkin beberapa orang akan menjawab bahwa, pertanyaan soal kinerja Tuhan akan membuat kita gila, menjauhkan diri kita dari-Nya dan mengingkari kuasa-Nya. Orang-orang ini kelewat takut—dan malah termakan rasa takut untuk berpikir itu sendiri. Buktinya, saya, meski memang sudah jadi gila, dan seringnya harus uring-uringan sendiri karena terus menemui jalan buntu dalam banyak sesi kontemplasi, justru semakin terpesona pada Sang Maha berkat memikirkan semua ini.

Bagaimana bisa tidak terpesona, ketika kita menyadari bahwa baik makrokosmos ataupun mikrokosmos, segalanya Dia ciptakan dengan begitu detailnya, sampai tidak ada satu pun karakter penciptaan-Nya yang sama. Baik pemikiran dan kepribadian manusia maupun alam semesta adalah jejaring kompleks yang menyimpan segudang misteri dan cukup sulit untuk diselami. Semua ini tidak akan ada kecuali Tangan yang menciptakan dan mengaturnya adalah Tangan Sempurna yang Mahadahsyat dan Mahakreatif. Bahkan satu virus yang tidak terlihat oleh mata telanjang manusia, mampu Dia ciptakan sebegitu menggemparkan penduduk dunia dan merombak rencana-rencana yang sudah kita susun jauh-jauh hari.

Tetapi, sungguh. Semoga semua ini lekas berlalu dan tinggal sejarah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.