Is This Really ‘Kesetaraan’?

MEMASUKI seperlima abad dalam milenium ini, sudah kenyang perut kita disuguhi seabrek wacana egalisasi gender. Perempuan atau wanita (bagi saya maknanya sama saja, yang memberi bias pengertian kan manusia) yang sebelumnya cuma dipandang sebagai jenis kelamin minor dibanding lelaki, kini bisa lebih bebas melakukan apa yang dulunya cuma bisa dilakukan oleh lelaki. Di dalam negeri, khususnya, perempuan yang semula ditolak untuk duduk dalam bangku sekolah, sekarang bisa mengenyam pendidikan, dengan kesempatan yang sama dengan laki-laki.

Memang masih ada suara-suara kecil dari kalangan masyarakat tradisional yang berpendapat, perempuan tidak semestinya sekolah tinggi-tinggi, karena tugas utamanya adalah mendukung suami, menjadi ibu yang baik, dan mengurusi rumah. Atau sebatas protokol dari pihak keluarga yang ingin seorang putri atau menantu perempuannya berfokus menjalankan profesi penuh waktu sebagai seorang ibu rumah tangga, bukannya merangkap sebagai pekerja sebuah institusi atau instansi.

Jika dibandingkan dengan abad sebelumnya, kita sudah mengalami peranjakan yang lumayan. Telah banyak kalangan yang menerima kehadiran wanita karier dalam keluarga. Entah karena masyarakat kita mulai menyadari bahwa diskriminasi terhadap perempuan dalam pekerjaan dan ranah publik itu sudah kuno; termakan rasa simpati dan semangat atas kesetaraan hak yang diperjuangkan RA Kartini; mulai memahami mimpi dan cita-cita beberapa perempuan yang memang punya passion dalam pekerjaannya; atau telah menyadari bahwa biaya hidup zaman sekarang rasanya tak cukup jika hanya ditanggung oleh satu orang.

Apa pun alasannya, penerimaan itu menyebabkan satu hal yang pasti: di beberapa kota besar, bisa kita temukan banyak perempuan yang bisa tetap mempertahankan mimpi mereka untuk bekerja dan berkarier selagi mengurus anak. Maka, bisakah kita menyatakan kalau nasib kesetaraan gender sudah lebih baik daripada seabad sebelum ini? Setidaknya, jika dilihat sepintas.

Tetapi, apakah benar yang sedang berlangsung ini adalah kesetaraan?

Kesetaraan di saat masih ada banyak kaum-kaum seksis, patriarkis yang kebablasan dan … jangan lupakan ini, pemuja maskulinitas toksik?

Berbicara soal kesetaraan, berarti kita bicara tentang kesepadanan dan kesamarataan antara dua kubu, dalam hal ini, lelaki dan perempuan. Mungkin memang melalui prinsip kesetaraan ini, perempuan sudah bisa lebih mendapatkan hak mereka dalam hidup sebagaimana lelaki. Bahkan, sampai disediakan kementerian negara dan undang-undang khusus tentang perempuan, demi mencegah terjadinya kekerasan dan pembodohan atas kaum hawa.

Tetapi masih bisa kita temukan ada beberapa poin yang timpang. Katakanlah di satu tempat, perempuan masih sering disiksa karena dianggap sebagai gender minor yang memiliki fisik lemah. Masih banyak juga keluarga yang merasa sayang jika mendapat anak perempuan, entah apa pun alasan mereka. Perempuan juga sepertinya masih sering dipandang sebagai dalang dalam kasus perselingkuhan, pemerkosaan, aborsi, dan sebagainya tanpa menilik kemungkinan-kemungkinan lain. Perempuan yang masih sering dipandang sebelah mata dalam kepemimpinan atau pekerjaan. Perempuan yang masih kerap jadi target pelampiasan.

Ada pula perempuan yang sukarela; mau-mau saja merendahkan diri dan nasib mereka sendiri dalam toxic relationship atas nama cinta, kasihan, tidak enakan, bahkan ekonomi, yang nyatanya justru pelan-pelan merusak diri serta keturunan mereka. Well, ini bukan cuma soal korban kapitalisme yang akhirnya menjual kelamin mereka demi uang. Kalau mau dilihat secara teknis kita semua melacurkan diri demi sesuap nasi. Bedanya adalah komoditas yang kita tawarkan. Saya tidak sedang glorifying sex worker lho, ya, tapi kelamin orang ya hak mereka. Their body their rules. Saya lebih menitikberatkan pada mereka yang rela hidup dikerasi baik secara fisik maupun batin, seolah tiada kesadaran untuk bangkit atau menerima uluran tangan dari pihak lain, sehingga membiarkan anak mereka jatuh dalam lubang yang sama. Kasus-kasus seperti itu membuat saya setuju pada pernyataan bahwa masyarakat kita ini, terlalu larut dalam kepasrahan tanpa mengerahkan upaya. Padahal, kadangkala kuat bukan bermakna kau tabah menghadapi semua himpitan dengan mengabaikan jalan keluar. Itu bukan tabah, melainkan bodoh. Kuat berarti seberapa mampu engkau berjuang agar bisa terlepas dari belenggu.

Lantas, ketika kita memalingkan muka ke tempat lain, kita justru bisa melihat betapa wacana kesetaraan gender telah menembus batas kewajaran, yang akhirnya tidak lagi menjadikannya setara atau setimbang. Beberapa kaum perempuan justru menampakkan kekuasaannya dengan kelewat tinggi hati dan malah balik menyiksa lelaki, dalam siksaan berat maupun ringan, baik secara langsung ataupun tidak langsung, seolah itu pelampiasan dendam atas penindasan bertahun-tahun. Meminta dihargai, dihormati, dimengerti, tetapi pantang menghargai, menghormati, serta mengerti pihak sebelah sendiri. Karena wanita ingin dimengerti, katanya. Lantas, apakah lelaki tidak harus dimengerti?

Bahkan masih banyak golongan masyarakat yang mengelu-elukan standar maskulinitas toksik dalam penindasan mereka terhadap lelaki. Lelaki tidak boleh menangis, lelaki harus bekerja keras, lelaki harus kuat dalam hal fisik atau psikis, lelaki tidak boleh patah semangat, lelaki tidak boleh depresi karena depresi itu kelakuan perempuan, lelaki tidak boleh melakukan pekerjaan rumah tangga karena itu menyiratkan kebancian … standar-standar yang menahun dan mengerak di masyarakat, yang sebetulnya tidak punya alasan kuat di baliknya. Mengapa jika lelaki memukul perempuan itu perbuatan laknat, tetapi jika perempuan yang memukul lelaki malah seringnya dipuji sebagai tindakan berani, tanpa melihat alasan-alasan di balik pemukulan itu? Mengapa lelaki tidak diperbolehkan menangis? Bukannya setiap makhluk, tidak peduli apa pun kromosomnya, diberikan mata beserta kelenjar air matanya secara setara? Sejak kapan depresi dan pekerjaan memiliki jenis kelamin? Kita sudah mulai keluar dari sekat-sekat warna feminim dan maskulin serta mulai menerima perawatan wajah bagi siapa saja yang sebelumnya bagai barang haram bagi kaum lelaki, tetapi masih terbawa dalam standar konyol lain yang tersisa.

Belum lagi catcalling dan kekerasan seksual yang masih sangat timpang penanganannya. Jika seorang wanita yang dipegang payudaranya, maka itu masuk dalam kategori pelecehan, sementara jika seorang lelaki yang menjadi korban pelecehan, maka hal itu dibebaskan. Mengapa? Jawaban yang sangat mudah didapatkan adalah, ‘tiada lelaki yang tidak senang dilecehkan. Mereka justru akan minta tambah’, seolah-olah otak lelaki hanya diisi oleh kepuasan kelamin semata. Ke mana para lelaki di sini? Mengapa banyak yang tidak mengeluarkan suara? Mengapa justru lebih banyak melakukan tindakan asusila dan seenaknya menggelar bahasan soal seks di ruang publik, seolah ingin membenarkan anggapan sampah seperti ini dan menguatkan dugaan bahwa otak lelaki adanya di kelamin?

Tentu kita pernah, setidaknya sekali di dunia maya, mendengarkan atau membaca ujaran seperti ini dari kaum hawa:

“Mas sayang, rahimku anget…”

Oh, Dear … we fight for our rights not to be catcalled and sexually harassed—in the internet or in real life—but we sometimes forgot to educate our sisters not to catcall too. Tidak ada yang salah memang dengan fantasi seksual, baik bagi perempuan ataupun laki-laki. Itu hal yang normal, wajar, dan manusiawi. Hanya saja, apakah adil jika kaum perempuan boleh merasa terganggu dan bahkan mati-matian memperjuangkan aturan untuk tidak lagi dilecehkan, tetapi di sisi lain saudarinya sendiri justru sengaja melecehkan gender lawan? Saya tidak melihat ada perbedaan antara kalimat di atas dengan, “Mbak, kontol gue tegang”, tetapi mirisnya, kalimat kedua akan langsung mendapatkan teguran atau kecaman, sementara pernyataan pertama justru mendapatkan tawa, react ha-ha, seolah itu memang bercandaan yang pantas.

Ini sama seperti orang-orang yang meminta dihormati tetapi melanggar kehormatan orang lain. Sama seperti mereka yang menyalak-nyalak bahwa orang lain egois, tetapi tanpa menyadari bahwa dirinya pun tengah berjuang untuk egonya sendiri.

Sekarang, di mana letak kesetaraannya jika menahun kita betah berkubang dalam hidup seperti ini? Jika sesuatu setara, tidak akan tampak ada sekat apa pun, kubu mana pun, sekalipun kita tahu untuk membedakan antara perempuan dan lelaki itu sangat mudah. Jika sesuatu berada dalam kesetimbangan, tidak ada segregasi apa pun berdasarkan gender mana pun. Memang, saya akui, tidak semua hal yang bisa dilakukan lelaki diperbolehkan pula untuk dilakukan oleh wanita, dan begitu pula sebaliknya, karena sudah ada aturan universal yang menempatkannya. Seperti perempuan tidak boleh menjadi imam salat bagi lawan jenis, tetapi lelaki boleh, kecuali dalam beberapa kasus tertentu, karena memang sudah ada aturannya dalam tata cara peribadatan yang berlaku. Perempuan dan lelaki memang tidak sama, tetapi semestinya mendapat kesempatan yang sama.

Namun, penerapan standar ganda dalam menyikapi ‘kesetaraan’ ini sejujurnya sangat mengusik. So, what should we do? Sadari, bangkit, bicara, dan berubah. Ubah stigma bodoh yang melekat dalam masyarakat seperti perempuan itu lemah dan lelaki itu brengsek dan sederet pengkotak-kotakkan lainnya. Ubah juga kebiasaan playing victim, merasa paling tersakiti, tetapi tanpa menyadari kalau kita pun tengah menyakiti.

Yha, tulisan ini terlahir dari pemikiran dangkal saya berkat tontonan saya dan komentar Kak Ayu Frani dalam pos sebelumnya tentang sebuah film Korea. Setidaknya bahasan ini juga agak mengena dengan momentum April. Berhubung hari ini ada peringatan Hari Kartini, tanggal kelahiran ikon emansipasi wanita dalam negeri.

Anyway, selamat hari Kartini, saudari-saudariku tersayang. Semoga kita bisa mengejar kebahagiaan kita masing-masing. Kamu bisa pakai jilbab atau rok mini, gamis atau dress, ber-burqa arau tidak, rambut panjang atau pendek, natural atau diwarnai. Kamu bisa pakai make up atau tidak, tebal atau tipis. Kamu bisa jadi ibu rumah tangga, wanita karier, keduanya, atau tidak keduanya. Kamu bisa jadi guru, CEO, astronot, ilmuwan, sosialita, pendakwah, artis, komikus, pembalap, atlit, politisi, menteri, bahkan presiden. Kamu bisa menikah muda, menikah setelah mapan, menikah di atas usia tiga puluh, atau tidak menikah sama sekali. Kamu bisa punya anak banyak, cukup satu atau dua saja, atau tidak punya anak sama sekali.

Kita bisa memilih. Kita berhak memilih mau seperti apa kita hidup. Kita berhak hidup lebih baik, lebih besar, lebih bahagia, dibanding standar dan konstruksi sosial ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.