Estafet Penghargaan

KETIKA sedang jalan-jalan melihat jejeran blog yang mencuat di area pembaca, atensi saya menangkap pos penghargaan yang ditulis oleh Kak Ayu Frani. Usai mencari tahu lebih lanjut, saya temukan informasi kalau Liebster Award ini ialah bentuk penghargaan berupa gambar yang diberikan secara estafet dari satu bloger ke bloger lainnya.

Kata Liebster sendiri dalam bahasa Jerman artinya ‘tersayang’. Konon, Liebster Award memang awalnya bersumber dari seorang bloger Jerman, diestafetkan dari blog ke blog, hingga ujungnya sampai ke Indonesia.

Terbersitlah harapan untuk bisa mendapat senggolan award semacam itu dari bloger yang saya kenal. Siapa pun. Kendati saya sadar isi blog saya yang ini sampah semua, saya juga kepingin ikut ramai. Mengikuti bandwagon adalah jalan ninja saya.

Pada akhirnya, gayung pun bersambut. Pertama, Mbak Rahma Frida menyenggol saya dalam award yang beliau susun. Akhirnya, saya punya kesempatan terlibat langsung. Akhirnya, tantangan ini tiba di tangan saya. Akhirnya, saya mendapatkan penghargaan ini. Akhirnya … akhirnya … akhirnya …. Meski masih menduga saya dinominasikan secara tidak sengaja, saya ucapkan terima kasih pada Mbak Rahma Frida yang sudah berkenan jadi perantara terkabulnya harapan saya. Sungguh, saya senang sekali.

Kemudian, beberapa bulan usai tulisan ini terbit, saya menemukan nama saya lagi dalam deret narablog yang diberikan penghargaan serupa dalam tulisan Mas Andy Ryan. Bagi saya, penghargaan itu tidak boleh dibiarkan tidak tersahuti, dan pertanyaannya sayang jika tidak dijawab. Walhasil, saya putuskan untuk menyunting lagi postingan ini, demi menyertakan ungkapan terima kasih serta jawaban-jawaban saya atas sebelas pertanyaan ekstra. Terima kasih, Mas Andy.

Saya mengenal Mbak Rahma Frida dan Mas Andy Ryan ketika bergabung dalam komunitas Ikatan Kata beberapa bulan yang lalu. Di mata saya, Mbak Frida dan Mas Andy adalah orang-orang yang haus belajar; suka menampung dan menyalurkan ilmu pengetahuan, sehingga saya sering menanti tulisan-tulisan mereka lewat di timeline reader. Beliau berdua kerap menyuguhkan beberapa topik dan/atau menimpali bahasan saya dalam perspektif yang berbeda, yang akhirnya membuat saya belajar lagi, menggali lagi; dengan penuh semangat menadah ilmu dari mereka. Kepada beliau berdua pula saya berikan tempat pada deret nol untuk penghargaan ini.

Mengapa nol?

Karena sebagai orang yang menyebut nama saya dalam pos penghargaan mereka, nama keduanya tidak mungkin lagi berada dalam deret satu sampai sebelas penghargaan saya. Namun, bukan berarti beliau berdua tidak mendapatkannya. Maka saya pikir, angka nol adalah opsi yang menarik. Meskipun nol yang berdiri sendiri bukan angka yang masuk deret hitung, tetapi bagi pekerja keuangan, nol adalah bilangan yang paling berharga. Yang berkilau dari uang bukan angka di depannya, melainkan berapa banyak nol di belakangnya. Saya berharap semangat Mbak Frida dan Mas Andy untuk menulis terus bertahan selama-lamanya.

Peraturan:

  1. Ucapkan terima kasih pada bloger yang menominasikan Anda.
  2. Bagikanlah 11 fakta tentang dirimu & pajang 3 link ke artikel blogmu.
  3. Jawablah 11 pertanyaan yang diajukan (para) narablog kepadamu.
  4. Nominasikan 11 narablog dan bikin mereka senang!
  5. Buatlah 11 pertanyaan untuk dijawab oleh para nominator.
  6. Beritahukan 11 nominatormu.

Seni Menelanjangi Diri

Bagi saya, ulasan mengenai diri sendiri itu sama seperti menelanjangi diri. Mengupas satu demi satu selaput yang melingkupi saya. Mengikis sekat antara saya dan Anda, sekat bernama ketidaktahuan dan keterasingan, kemudian menunjukkan pada dunia ‘inilah saya’. Namun, ia tetap menyenangkan. Maka saya namai ia ‘Seni Menelanjangi Diri’.

Sejujurnya, saya sempat bingung ketika harus bercerita tentang diri saya tanpa petunjuk mengenai apa tepatnya yang mesti saya ceritakan. Terkadang kita bingung bukan karena tidak punya pilihan, melainkan karena ada begitu banyak pilihan. Usai melalui fase ketik-hapus beberapa kali, berikut adalah beberapa fakta yang saya pilih, yang barangkali sudah sering saya ceritakan pula dalam pos-pos sebelumnya.

1—Saya memiliki banyak sekali hobi dan minat, tetapi hanya dijalani sekadarnya saja. Mungkin ini akibat pembawaan saya sebagai orang yang mudah bosan. Saya suka menyanyi, main musik, menggambar, menciptakan lagu, menulis, bertilawah, public speaking, berdeklamasi, (sok-sokan) sulih suara, menari, martial arts, tetapi kebanyakan tidak bertahan lama. Saya pernah jadi penyanyi, qariah, penari, pemain musik, pencipta lagu, master of ceremony dalam berbagai event, atlit taekwondo, tetapi satu-satunya yang menerima kekonsistenan saya cuma menulis, itu pun cuma buat mengisi blog gratisan dan karena salah satu alasannya adalah sebagai sarana terapi.

2—Saya juga punya hobi yang cenderung aneh, yaitu memanjat pohon, mengamati tingkah laku hewan liar, terutama kucing jalanan, serta menyambangi pantai waktu tengah malam atau dini hari. Sebetulnya saya juga gemar mengamati manusia. Mengurutkan deskripsi tentang objek pengamatan saya dalam wujud narasi di kepala. Misalnya, ketika sedang duduk sendirian di sebuah kafe, saya terbiasa memperhatikan bagaimana seseorang masuk dari pintu, merunutkan seperti apa penampilan mereka dari atas sampai bawah, tingkah laku, sampai pada apa yang mereka pesan dan bagaimana mereka menghabiskannya, perlahan, atau cepat. Kemudian menyusun dugaan sendiri tentang siapa kira-kira mereka dan apa yang bisa saya baca dari laku mereka. Sepenuhnya saya sadar, kelakuan saya bisa membuat orang tidak nyaman. Tetapi sebagaimana kebiasaan pada umumnya, yang ini juga sulit saya lenyapkan. Untungnya hingga saat ini, saya belum mendapatkan pengalaman buruk dengan orang yang keberatan diamati.

Beberapa pengalaman dalam mengamati kucing bisa dilihat dalam pos saya tentang sebagian hobi saya: Ketika Aku Menyendiri

3—Membenci pelajaran hafalan, khususnya sejarah, karena lemah dalam subjek tersebut. Kita cenderung benci dan takut pada apa yang tidak sanggup kita kuasai atau terka. Selama enam tahun masa studi sekolah menengah, saya langganan remedial sejarah serta pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, karena tak punya kemampuan mumpuni untuk mengingat nama pahlawan, tempat dan tanggal bersejarah, serta pasal dan ayat butir undang-undang. Menurut saya alasannya bukan karena ingatan saya lemah. Saya masih mampu menghafalkan surat atau lagu-lagu. Barangkali ketidakmampuan saya timbul lantaran saya tidak mampu memahami polanya. Bagi saya, tanggal 23 dan tanggal 21 atau pasal 1 dan pasal 6 terlalu saru untuk dibedakan.

4—Didiagnosa bipolar pada usia 24 tahun, setelah sebelumnya mengalami salah diagnosa baik secara klinis maupun diagnosa sendiri sebagai depresi, skizoid, skizotipal dan borderline. Itulah salah satu alasan mengapa saya cenderung sensitif terhadap orang yang doyan mendiagnosa diri sendiri. Dalam perjuangan melawan penyakit saya, saya bertahan tanpa caregiver selama satu setengah tahun. Syukurnya, saat ini kakak ipar saya sudah menerima fakta mengenai penyakit saya usai saya jelaskan panjang lebar atas saran Ibu Kos, setelah sebelumnya saya rahasiakan. Memang, segala sesuatu akan lebih cepat kelar jika kita mau menyelesaikannya, bukannya kabur.

5—Tuli sebelah, bahkan pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan pendengaran total pada dua telinga.

6—Mulai menulis sejak SD. Saya percaya para penulis adalah pembaca yang berani melebarkan sayapnya. Minat saya pada dunia kepenulisan sebetulnya sudah mencuat sejak mendapat pelajaran Bahasa Indonesia. Dahulu, hal pertama yang saya cari setiap kali buku paket dibagikan adalah cerpen atau potongan novel. Kemudian, berkat majalah Bobo dan Ummi (majalah Ummi punya bagian khusus anak-anak, biasanya pada halaman-halaman pertengahan), saya mulai tahu akan Asma Nadia.

Saya sadar saya suka menulis berkat pekerjaan rumah mengarang. Ketika SMP, saya menemukan teman dengan minat serupa, dan berkatnya, saya mulai berani bermimpi untuk membuat, bukannya sekadar menjadi penikmat. Dimulai dari mengarang sendiri di buku diary. Cerpen yang kalau dibaca kembali saat ini rasanya malu separuh mampus. Namun, itulah bagian dari proses pembelajaran.

Ketika SMA, saya mulai mengenal fanfiksi. Dari sanalah saya belajar menyusun fanfiksi Detektif Conan, Naruto, disusul FT Island walau cuma untuk konsumsi pribadi bersama seorang teman sekelas dari fandom yang sama.

Peranjakan saya berlanjut lagi ketika tahu facebook. Sebelum ada platform khusus menulis seperti Wattpad, Storial, Cabaca, atau Kwikku, mengubek catatan facebook Kumpulan Cerita Rorafizous dan Bandar Ftff—yang sering kami panggil Tante Bandar—adalah aktivitas rutin saya setiap pulang sekolah. Sensasinya mengasyikkan, mungkin mirip menggali berlian.

Setelah cuma berani jadi pembaca, akhirnya saya punya nyali untuk mempublikasikan tulisan di sana usai mengenal komunitas Fanfiction of Korean di tahun 2011.

Tidak selamanya bermain facebook itu mengundang mudarat. Berkat media sosial yang satu itu, saya mendapatkan banyak kenalan penulis seperti Chocola, Cuncun, Jung Ok Ja, Nurama Nurmala, Stephie Anindita, terutama ketika bergabung dengan Akademi Sastra Fanfiction (AstraFF), sebuah komunitas menulis roleplay yang berbasis di facebook, pada Maret 2013 silam.

Perjalanan menulis saya lebih lanjut bisa dilihat dalam tulisan berikut: Makna Menulis

7—Tea Person. Tanpa segelas teh, mau itu manis atau tidak, baik cuma s*riwangi celup sachetan atau tw*nnings aneka varian, intinya saya harus memulai hari dengan teh buatan sendiri jika ingin hari saya berlangsung baik-baik saja. Meski bahkan dengan teh pun kurva mood saya dapat anjlok karena faktor lain, menyeduh teh sudah jadi semacam ritual harian yang tak boleh ditiadakan.

8—Ada beberapa blog artis yang jadi langganan saya, padahal beberapa di antaranya sudah dipenuhi laba-laba akibat lama tak terpakai. Di antaranya ada blog Dee Lestari (baik website resmi maupun dua blog lain kepunyaan beliau yang masih ber-subdomain blogspot), Marcell Siahaan, Pandji Pragiwaksono, Marshanda ‘Marshed’, serta almarhum Glenn Fredly.

9—Warga Muhammadiyah yang sebelah kakinya terpasak di ranah NU dan kini mulai tertarik mempelajari Darwis Daudiyah. Perjalanan religius saya cukup panjang (dan masih panjang), tetapi tidak banyak peristiwa menarik selain bahwa saya pernah menjadi pribadi konservatif ketika masih kuliah. Berikutnya, perjalanan iman saya mengalami pasang-surut dengan segudang pertanyaan yang masih belum terjawab. Walau saya tahu, iman itu persoalan keyakinan, bukan logika, tetapi separuh hati saya baru akan puas jika segalanya bisa dijelaskan.

10—Saya pernah punya cita-cita menjadi seorang guru, polisi wanita, astronom, apoteker, bahkan detektif, dan kesemuanya adalah pengaruh tokoh fiksi. Berkat itulah saya punya ambisi terpendam untuk membuat karya yang bisa memengaruhi banyak orang.

11—Tertarik pada perempuan dan laki-laki, tetapi bukan ketertarikan secara seksual. Ketertarikan saya lebih menjurus pada kekaguman akan paras, pola pikir, dan pengaruh mereka terhadap lingkungan dan dunia. Saya tidak jarang memuji kalau seseorang cantik atau ganteng, pintar juga cerdas. Ketika SMP, saya bahkan pernah mengaku langsung dan terang-terangan kalau saya kagum pada adik kelas saya yang bernama Marissa, karena dia cantik dan menarik dari visual, akhlak, maupun prestasi.

Saya cukup tidak percaya diri untuk melampirkan tautan tulisan saya yang ada di blog ini, karena … sekali lagi, isinya sampah. Ini serius. Bukannya saya sedang humblebragging atau sok merendah. Di atas sudah saya selipkan dua tulisan yang berkaitan dengan fakta yang saya ceritakan, dan saya pikir untuk sisanya lebih baik jika saya beri Teman-teman bacaan fiksi saja.

Ini dia: Seharusnya Lima


Engkau Bertanya Saya Menjawab

Dalam tulisan Mbak Frida, beliau memberi para nominator penghargaan sebelas pertanyaan. Dan, inilah kesebelas jawaban saya:

1—Siapa orang yang paling menguatkanmu ketika kamu down/ mendapat masalah?

Ada banyak sekali orang yang sangat berjasa dalam hidup saya, mengingat saya memang doyan bikin ulah dan cukup … mengkhawatirkan. Lol.

Pertama, dr. Rifki. Sahabat, yang kendati kini kami sudah merenggang karena punya urusan sendiri-sendiri, beliaulah yang selalu menemani setiap ke-absurd-an saya sejak SMA sampai akhirnya kami sama-sama mendewasa.

Kedua, semua anak AstraFF. Karena merekalah saya masih bertahan sampai detik ini. Mereka menciptakan tempat kabur dan pulang terbaik untuk saya, dan meski saya selalu larut dalam kelabilan hilang lalu muncul kembali, tangan mereka senantiasa terbuka untuk menerima saya lagi. Mereka memberi hiburan bahkan tanpa saya minta. Membuat saya tertawa di saat saya ingin menangis. Beberapa orang dari mereka selalu ada untuk saya, memberi perhatian-perhatian kecil yang rasanya justru begitu besar oleh jarak yang terpaut.

Mama Kos, Bu Maria Estheria Tanaos. Walaupun kami punya begitu banyak perbedaan, dan beliau seringkali kebingungan akan sikap dan kelakuan saya yang tak terdefinisikan, beliau tabah berdiri di sisi saya demi memastikan saya tidak jatuh lagi. Seolah beliau punya tanggung jawab untuk itu, padahal tidak.

Dan, tentu saja dr. Niniek. Sebagai ahli kejiwaan, beliau paham saya mau apa atau butuh apa, dengan atau tanpa saya harus repot berkisah. Yang selalu ada di saat saya tengah berdiri di puncak tertinggi atau palung terdalam. Yang mau mendengarkan semua celotehan saya meski tidak senantiasa punya jawabannya. Yang mampu memotivasi tanpa menjadi motivator. Kata beliau, kami berjalan beriringan, bersama-sama. Jika saya jatuh maka beliau pun sama sakitnya. Beliau mematahkan pandangan mula-mula saya bahwa psikiater tidak akan sudi mendengar banyak karena mereka lebih fokus pada pemberian obat.

2—Apakah kamu tipe orang yang setia?

Saya tidak yakin untuk menjawab ‘Ya’ atau ‘Tidak’. Kendati saya suka kestagnanan, saya tipe yang cepat bosan dan cenderung tidak puas akan suatu hal. Bertolak belakang, memang, maka mungkin saya bisa bertanya kembali, “Jawabannya tergantung, setia pada apa?”

Kalau pada sebuah instansi, saya cukup setia, selagi mendapatkan timbal-balik yang sepadan dengan apa yang saya mau, atau karena memang saya punya kewajiban mutlak yang tidak bisa tidak saya jalankan tanpa kesetiaan. Sedangkan kalau pada manusia, mungkin jawaban saya ‘enggak’. Entah sejak kapan saya kurang suka keterikatan. Dan kesetiaan dalam hubungan romansa adalah seutas tali yang mengekang. Yang merenggut kebebasan. Yang meniadakan ego. Saya cukup egois. Dan sekali lagi, saya cenderung cepat bosan.

3—Naik gunung atau berburu sunset di pantai?

Opsi kedua! Pertanyaan ini bisa saya jawab dengan tegas, sambil mengibarkan bendera kebangsaan pencinta langit senja dan pencinta pantai, kalau ada. Saya anak pantai. Lahir dan hidup di kota pesisir. Bahkan, saya pertama kali belajar berenang di pantai, bukannya kolam anak-anak. Kendati bukan anak indie, saya sangat, sangat, sangat mencintai angkasa yang memar oleh perginya mentari.

Bukan berarti saya membenci gunung, ya. Saya juga pernah naik gunung, dua kali. Kelimutu – Ende dan Fatule’u – So’e, sudah pernah saya sambangi, tetapi itu sudah bertahun-tahun silam. Karena ketahanan saya terhadap udara dingin cukup alay, saya tidak mampu sering naik gunung. Perbandingannya dengan pantai di mata saya cukup jauh. 20:80.

4—Apa kejadian konyol waktu sekolah yang masih kamu ingat sampai sekarang?

Sangat banyak. Selain sering gagal move on terhadap memori masa lalu, saya juga tipe yang cukup malu-maluin ketika sekolah dulu.

Ketika masih duduk di bangku SMP, saya pernah melupakan tas di kelas. Jarak sekolah dengan rumah tidak begitu jauh, hanya terpaut sekira 500 meter (setelah saya cek di google maps). Hanya saja, rumah saya berada di atas tanjakan, sementara sekolah saya berada di bawah, sehingga kami harus mendaki dan menuruni tanjakan tersebut setiap pergi atau pulang sekolah. Nyaris semua anak yang bersekolah di sana bertempat tinggal di kompleks terdekat. Biasanya, kami pulang sekolah jalan kaki berbarengan.

Suatu hari, saya pulang seperti biasa, tetapi agak telat karena masih harus menyalin sesuatu. Tidak saya rasakan setitik pun keanehan. Dengan semangat 45 saya berlari mengejar teman-teman yang mendahului. Sampai di depan gerbang SMA (lingkungan tempat tinggal saya adalah lingkungan dengan TK, SD, SMP, SMA dan Universitas), barulah seorang teman yang sedari tadi asyik menyeruput es sari buahnya, menyadari keanehan saya.

“Lho, Il? Kamu enggak bawa tas?” tanyanya.

Saya melongo. “Bawa ko—haaah?! Astaga lupaaa!”

Saya pun ngibrit, kembali ke sekolah. Membawa rasa malu separuh mampus. Diiringi tawa semua anak yang menyaksikan kejadian itu. Selama beberapa hari berikutnya pun saya harus menahan keki lantaran diejek ‘Lupa tas’ berkali-kali.

Masih sewaktu SMP, saya pernah memecahkan kaca jendela kelas karena berkelahi dengan seorang teman laki-laki. Saya ingat betul kejadiannya, tetapi alasan perseteruan kami malah luput dari ingatan. Yang saya tahu kami saling hina. Kala itu saya yang ada di dalam kelas sementara teman laki-laki saya di luar, sama-sama menempelkan tangan ke kaca jendela. Entah seberapa kuat tenaga kami, sampai-sampai kaca itu retak dan luruh begitu saja. Menciptakan kenang-kenangan bekas luka pada lengan dan tangan kami.

Meski saya belajar bela diri dan suka bermain bulu tangkis, saya membenci pelajaran olahraga, jika materinya berkisar pada lomba lari. Bagi saya, lomba lari hanya pertunjukan kekonyolan saya, karena endingnya cuma dua. Kalau tidak sampai ke garis finish paling akhir, berarti saya jatuh di tengah-tengah lintasan. Bukan berarti fisik saya lemah. Saya bisa berlari, tetapi bukan untuk berkompetisi.

Salah kostum karena lupa hari. Saya punya dua kali pengalaman salah seragam. Yang pertama berlangsung ketika SMP. Efeknya tidak begitu parah. Selain karena rumah saya dekat dengan sekolah dan bisa ditempuh dengan jalan kaki, saya juga punya waktu untuk pulang lantaran datang sebelum jadwal salat Duha. Yah, walau saya tetap harus menelan malu dan menuai ejekan juga, sih. Hari itu hari Selasa, jadwal di mana kami masih harus pakai baju putih-biru, sementara saya berpikir itu hari Rabu sehingga melenggang dengan baju batik dan rok putih.

Sementara itu, peristiwa untuk kedua kalinya yang berlangsung di masa SMA adalah momen sial saya. Saya datang ketika bel sudah berbunyi. Double sialnya, itu hari Kamis di mana kami wajib apel di lapangan. Dan triple sialnya, baju putih abu di tengah lautan pramuka begitu mencolok sehingga menarik atensi satu sekolahan, tak terkecuali Wakasek Kaur Kesiswaan yang jadi pemimpin apel. Saya hampir menangis, mau pulang saja. Tetapi saya malah jadi bulan-bulanan guru Olahraga saya—seorang guru tomboy yang terkenal senang mengejar dan mengerjai anak pelanggar aturan bahkan memburunya sampai ke dalam wese. Saya ditanya-tanya beliau. Membuat atensi yang mengarah pada saya semakin masif saja. Nama saya diangkat jadi topik pengarahan apel hari itu atas nama teledor dan tidak disiplin. Untungnya, saya diberikan waktu untuk pulang dan ganti baju selepas apel setelah melapor ke guru piket. Sayang, malunya itu yang harus dipendam sampai berhari-hari lamanya.

Sejak kelas 1 sampai 3 SMA, saya sering tidur, alih fokus, atau bolos pelajaran Fisika. Bukan karena saya benci pelajarannya, melainkan karena selama tiga tahun itu, kendati guru Fisika berbeda setiap jenjang kelas berganti, saya tak pernah menyukai cara mengajar mereka. Biasanya saya membawa komik untuk alih fokus, dan izin ke wc, padahal sebetulnya keliling sekolah.

Mencoret-coret poster Girls Generation, salah satu girl band asal Negeri Ginseng, dengan bangga berpose bersama poster itu dan mengunggahnya ke sosial media dengan caption penuh kebencian. Untungnya, akun saya yang satu itu sudah lama mati. Makanya, setiap kali melihat orang yang kelewat benci atau cinta pada sesuatu, saya jadi teringat masa-masa SMA dan jadi cringe-cringe-cringe-bunyi-sepeda sendirian. Memang, kembali lagi, bunyi kalimat itu saya laungkan. Kita sebaiknya tidak mencintai atau membenci sesuatu secara berlebihan.

Sebetulnya masih banyak lagi, tetapi pos ini bisa sangat panjang jika saya harus menceritakan pengalaman konyol semasa sekolah. Pasalnya, nyaris semua pengalaman zaman sekolah saya adalah kekonyolan. Lmao.

5—Kapan terakhir kali kamu menangis?

Barangkali beberapa hari yang lalu, setelah bermimpi buruk. Meski itu pun tidak bisa dibilang menangis, karena saya cuma terisak tanpa pakai air mata.

6—Apakah di komunitasmu, kamu merasa menjadi perempuan/laki-laki tercantik/tertampan?

Saya merasa saya cantik dan tampan, tetapi bukan yang paling cantik atau tampan. Di kantor, ada para front officer yang bening-bening sampai ketika melihat mereka saja, rasanya ada embusan angin surgawi yang bertiup ke dalam hati. Mengademkan batin. Di komunitas Astraff, kami jarang menunjukkan wajah asli, tetapi saya tahu bentukan orisinal beberapa dari mereka dan tahu betapa cantik wanita-wanitanya. Saya juga merasa cantik, tetapi kecantikan kami ada di jenis dan taraf yang berbeda.

7—Apa manfaat menulis yang sudah kamu rasakan hingga saat ini?

Di atas sudah sedikit saya singgung, bahwa menulis adalah katarsis saya. Dengan menulis, saya bisa bebas menuangkan apa pun perasaan, pemikiran atau aktivitas saya, dan itu amat menolong untuk melegakan pikiran. Menulis juga membantu saya untuk belajar mengolah sesuatu yang kusut menjadi runut. Mengabadikan peristiwa untuk lebih mudah dikenang kembali. Memori manusia itu cepat sekali lesap. Tetapi tulisan punya masa eksis yang lebih lama mengendap.

8—Acara televisi favorit?

Saya suka menonton kuis-kuisan seperti Ranking 1, Family 100, Who Wants to be a Millionare?, etc. Selain itu, saya juga penggemar acara informatif seperti On the Spot, Spotlite, Tahukah Kamu?, Dr. Oz, serta talkshow yang menghadirkan narasumber keren seperti Mata Najwa atau Kick Andy.

9—Inisial orang yang sedang kamu rindukan?

Saya tidak sedang merindukan siapa-siapa. Kalaupun ada, mungkin I. Saya merindukan saya yang dahulu.

10—Apa hal baru yang kamu pelajari saat #dirumahaja?

Saya tidak masuk bagian yang #dirumahsaja karena masih masuk kerja dan bisa belanja seperti biasa. Biasanya pun aktivitas saya di luar cuma berkisar pada kedua hal itu. Tetapi setiap hari berganti, selalu ada hal-hal yang saya pelajari, tidak cuma saat #dirumahsaja.

Mungkin beberapa di antaranya:

  • Saya belajar bermain werewolf di telegram.
  • Saya belajar memasak kolak kacang hijau meski rasanya tidak selezat buatan ibu, kakak ipar, atau penjaja kaki lima di depan kantor.
  • Saya belajar senam dan yoga sendiri bermodalkan tutorial youtube.
  • Saya belajar bahwa manusia memang tidak bisa hidup dengan baik tanpa manusia lain.

11—Jika kamu menemukan dompet berisi banyak uang di jalan yang lengang, sementara kamu sendiri sedang butuh duit, apa yang bakal kamu lakukan terhadap dompet itu?

Saya tidak punya jawaban pasti. Segala perbuatan saya selalu tergantung mood. Kalau saya sedang butuh uang tetapi kondisi hati saya sedang bahagia saja, saya bisa saja mengambilnya untuk dilaporkan pada kepolisian. Bisa pula saya abaikan karena, (1) boleh jadi itu jebakan (2) belum tentu itu uang asli (3) itu bukan hak saya. Tetapi jika saya sedang benar-benar jatuh dan sSSSangatTTT butuh uang, kemudian kepala saya dipenuhi kabut karena sebegitu butuhnya saya akan uang, mungkin saya akan mengambilnya.

Selanjutnya, dari nomor 12-22, adalah jawaban saya buat pertanyaan-pertanyaan yang datang dari award Mas Andy.

12—Jika kamu ingin menulis/membuat sesuatu yang ingin kamu tulis dan kamu lakukan, apa halangan terbesar yang mungkin menghambatmu untuk mewujudkannya?

Mood. Lawan terberat bagi diri saya dalam sebuah aktivitas adalah diri saya sendiri. Sesuatu yang sama bisa saya lakukan lebih lama dan lebih cepat pada dua waktu berbeda, tergantung pada kondisi perasaan saya pada masa itu. Jika saya sedang aktif-aktifnya, saya bakal melaksanakannya semaksimal dan selekas mungkin. Namun, pada kondisi yang lain, saya bakal kehilangan gairah untuk ngapa-ngapain (bahkan sekadar buat hidup saja malas wqwqwq). Makanya, saya lebih sering berakhir dengan setumpuk ide yang mandek di tengah jalan, karena sesuatu mengisap semangat saya.

13—Bagaimana pendapatmu tentang kualitas pendidikan bangsa kita hari ini?

Saya bukan orang yang punya kredensial untuk membahas ini sih, tetapi dari kacamata awam, saya melihat ada kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, negara kita sudah mulai membenahi sistem pendidikan (saya bicara di luar masalah pendidikan daring di masa Covid-19). Kabar buruknya, kita masih jauh tertinggal dibanding negeri tetangga.

Itu menurut pengamatan saya, ya, saya terlalu mager buat nyari data, soalnya wqwqwq.

Dengan kata lain, kita masih punya banyak PR. Beberapa PR yang ternotis(?) oleh saya di antaranya:

Pertama, kualitas SDM peserta didik masih rendah, dan ini ada sangkut-pautnya dengan kualitas gizi. Karena katanya, sel-sel di otak itu dibentuk dan dipengaruhi oleh asupan makanan.

Kedua, lingkungan masyarakat kita lumayan buruk. Masyarakat kita lebih suka informasi instan. Itulah mengapa banyak sekali yang terjerumus judul clickbait, termakan hoax, serta kalau ditanya, jawabannya lebih sering to the point, ketimbang mengurutkan opini pelan-pelan. Padahal, kata dosen saya, mengurutkan opini teratur itu berpengaruh pada cara berpikir asosiatif untuk mengingat hal-hal yang relevan. Dan, ini sedikit-banyak punya pengaruh dengan minat baca masyarakat. Sering kita dengar pernyataan bahwa masyarakat Indonesia punya minat baca yang rendah. Menurut saya sih, bukan karena minat bacanya. Bahkan ibu-ibu dan bapak-bapak masih membaca postingan hoax dan berita-berita tertentu dengan semangat empat-lima, kok. Dengan kata lain, masyarakat bukannya tidak bisa membaca, tetapi kurang minat untuk membaca sesuatu yang menurut mereka bertele-tele. Lingkungan yang seperti itu mau tidak mau ikut membentuk generasi muda yang seperti itu juga. Maka, jadilah anak-anak Indonesia sebagai anak yang tidak doyan menyusun teori dan hipotesa. Kalau mereka besok-besok menjadi guru, lingkungan yang sama bakal kembali diwariskan.

Ketiga, setiap siswa dituntut untuk bisa segala; bisa semua pelajaran. Jadi, dari awal sudah tidak mengerucutkan konsentrasi dan fokus jadi ke mana-mana. Belum lagi metode ujiannya yang lebih condong ke hafalan alias melatih daya ingat, bukannya pemahaman konsep.

Keempat, kualitas guru. Di negara kita, guru bukan profesi most wanted, kecuali di daerah-daerah tertentu. Lulusan sekolah-sekolah terbaik, biasanya tidak sudi jadi guru. Kebanyakan yang berakhir jadi guru, ya kalangan ekonomi menengah ke bawah. Universitas-universitas ternama, justru biasanya tidak punya fakultas keguruan. Kalaupun punya juga akreditasinya, ya begitu-begitu saja. Padahal kita semua tahu, guru-lah yang bakal menurunkan setiap ilmu pengetahuan ke generasi berikutnya. Ibaratnya, kalau ada kotoran di genteng, air tadahan di bawah juga bakalan ikutan kotor, ‘kan?

Kelima, menteri pendidikan beberapa dekade belakangan bukan orang keguruan. Anies Baswedan? Bambang Sudibyo? Mohammad Nuh? Apalagi Nadiem Makarim yang jelas-jelas orang bisnis. Yang masih relate hanya Muhajir Effendi yang pernah jadi dosen. Dan, bisa saja ini berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan yang beliau-beliau ini ambil. Orang-orang ini mungkin saja tidak tahu apa yang dibutuhkan dan perlu ditiadakan dari pendidikan yang tokoh utamanya adalah guru.

Keenam, orang-orang di hierarki puncak. Mereka punya pengaruh juga. Kata dosen saya lagi, dana pendidikan dalam anggaran APBN itu sebenarnya besar, hanya saja kucurannya kecil. Kenapa? Ya karena pipanya bocor ke mana-mana. Seperti pipa ruc*ka yang airnya mengalir sampai jauh ….

Ketujuh, segalanya bisa dibeli di negara ini, termasuk pula ijazah. Selain itu, kalau kita perhatikan dan renungkan lagi, orang-orang (termasuk kita, mungkin) bersekolah, berkuliah, itu tujuannya adalah biar bisa mendapatkan lembaran ijazah, untuk kemudian memperoleh pekerjaan yang layak di mata masyarakat; bukannya belajar itu sendiri.

Jadi, seperti itulah teori sotoy saya terkait masalah pendidikan di negeri ini. Omong-omong, pertanyaan ini senada dengan pertanyaan saya di bawah, lho. Dengan kata lain, sebenarnya saya juga lagi menjawab pertanyaan sendiri.

14—Banyak orang yang bertanya kepadamu, “Jika kamu bisa menghentikan waktu…”. Pertanyaanku adalah sebaliknya: Jika waktu tak pernah berhenti dan akhirnya kamu abadi, kira-kira apa yang sedang kamu kerjakan untuk mengisi hari-harimu sedemikian sehingga kamu terus dapat menikmati seluruh waktu dalam keabadian itu?

Saya sepertinya bakal sangat-amat bosan dan depresi seumur hidup karena tidak bisa keluar dari cengkeraman hidup yang bikin gerah dan jenuh. Melalui begitu banyak pengulangan-pengulangan menjemukan. Mungkin, yang saya lakukan setiap hari adalah … menulis. Karena, kalau waktu tidak pernah berhenti sedangkan saya hidup abadi, maka akan ada banyak kenangan yang saya lewati dan bakal jadi sejarah di kemudian hari. Maka, saya harus mengabadikan setiap detik yang sudah lewat, supaya bisa dikenang besok, lusa, setahun, sepuluh tahun, bahkan seratus tahun kemudian.

15—Berapa usiamu sekarang? Pada ‘rentang’ usia berapakah kamu merasa paling bahagia, apa yang terjadi saat itu?

Wah, Mas Andy. Katanya, ada dua pertanyaan yang haram ditanyakan kepada perempuan: yang pertama adalah berat badan, dan yang kedua umur.

Bercanda. Usia saya di bulan September 2020 adalah dua puluh enam tahun kurang tiga bulan.

Saya tidak ingat masa hidup saya merasa bahagia, karena setelah semuanya berlalu, yang tersisa cuma penyesalan. Wqwqwq. Namun, karena yang ditanyakan adalah bagian superlatif di sini, maka saya bakal menjawab, pada usia 19-22 tahun. Di masa-masa itu saya sangat produktif: saya bekerja, berkuliah, berorganisasi, dan melakukan sederet hobi saya: menulis, roleplaying, bikin lagu, manggung bersama teman-teman Flobamora Islamic Voice, mengisi kajian untuk adik-adik SMA, mengajar les untuk anak tetangga, serta punya kehidupan sosial yang normal dengan sahabat saya. Yah, meskipun semua kesibukan itu sebetulnya adalah pelarian untuk masalah yang lain lagi, tetapi bagi saya yang saat ini kerjaannya cuma kepu-kepu alias kerja-pulang-kerja-pulang, masa-masa seperti itu amat berharga.

16—Apakah kamu setuju dengan kalimat ini, “Semua orang pernah jatuh cinta.”? Jika setuju berapa kali kamu pernah jatuh cinta dan berapa kali pula di antara jatuh cintamu itu yang terbalas?

Ya. Saya setuju. Semua orang pasti pernah jatuh cinta, entah kepada manusia, idola, hobi, alam, atau sesuatu yang abstrak. Entah kepada orang tua, sahabat, atau kepada lawan jenis. Saya jatuh cinta berkali-kali, dan saya enggak menghitung berapa kali rasa itu berbalas, karena, (1) saya gampang jatuh cinta sehingga frekuensinya tidak terhitung lagi; dan (2) kalau kepada manusia, saya tidak tahu apakah mereka yang saya jatuh-cintai jadi jatuh cinta pada saya kembali, atau tidak.

17—Sekarang ini ada banyak platform media sosial, coba sebutkan media sosial yang paling kamu sukai dan yang paling tidak kamu sukai dan apa alasannya.

Media sosial yang paling sering saya gunakan ada tiga. Facebook, untuk tetap terkoneksi dengan teman-teman penulis. Twitter, untuk tahu arus informasi paling baru, mencari thread-thread menarik (meskipun kebanyakan dongeng), dan up to date akan kabar dari beberapa figur yang saya ikuti, seperti Gus Nadir, Najwa Shihab, Dee Lestari, dsb. Berikutnya, ada Quora. Di sana, saya bisa mendapatkan asupan pengetahuan langsung dari pakarnya.

Saya tidak punya media sosial yang paling tidak saya sukai, tetapi kalau dideretkan, mungkin saya bakal bilang, Tiktok? Eh, itu media sosial bukan, ya? Wqwqwq. Alasannya, karena saya tidak punya alasan menyukainya.

18—Pepatah mengatakan, “Waktu adalah uang.” Menurutmu apa itu artinya?

Bahwa waktu itu sama berharganya dengan uang. Kita bisa menggunakannya untuk membeli hal-hal yang kita mau. Kalau mau hiburan, nonton saja, bayarannya waktu selama durasi tertentu. Kalau mau makanan, beli saja, bayarannya uang dalam jumlah tertentu. Dan, kalau waktu dan uang terbuang percuma, seharusnya penyesalan kita juga timbulnya sepadan.

19—Kamu memilih Macintosh, Linux atau Windows? Kenapa?

Windows. Saya tim ‘pakai yang ada saja’.

20—Apa inisial orang yang paling tidak kamu sukai?

I.

21—Apa merek deodorant favoritmu dan sejak kapan kamu memakainya?

Saya pakai ini:

Nu Skin. Saya pakai karena sudah kadung nyaman, dan saya mulai pakai sejak 2015, waktu sedang sibuk-sibuknya ke sana kemari. Bisa mengurangi keringat berlebih di ketiak, apalagi kalau tinggal di daerah panas seperti Kupang.

22—Apa pertanyaan yang paling menyebalkan yang pernah diajukan kepada kamu?

“Apa pertanyaan yang paling menyebalkan yang pernah diajukan kepada kamu?”

Bercanda.

“Kapan nikah?” For God’s Sake, mau saya menikah atau tidak, mau besok atau sepuluh tahun lagi, satu-satunya urusan Anda adalah nerima undangan dan naruh amplop. Jadi, selagi undangannya belum dikirim, silakan mengurusi urusan Anda yang lebih krusial terlebih dahulu. Terima kasih.


Nominasi Liebster Award versi Celestilla

… adalah …

/jeng jeng jeeeng/

0. Rahma Frida

0. Jejak Andi

  1. Moronic Zombie
  2. Ar Risalatuna
  3. Risda’s Data Collection
  4. Mirabilias
  5. Lost in Woderword
  6. Arene Rin
  7. Intermemories
  8. Cerebral Cranium
  9. Katarsis
  10. Switch On Off
  11. Narasi dari Utara

Saya ucapkan selamat bagi para nominator. Selamat, kalian mendapatkan penghargaan untuk meneruskan estafet ini kepada sebelas blog lain yang bakal kalian pilih. Dan, selamat atas kesempatan menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

Pertanyaan yang Menanti Jawaban

  1. Apa makna atau cerita di balik nama blogmu?
  2. Siapa atau apa yang menginspirasimu untuk menulis?
  3. Kalau kamu punya kemampuan telepati, siapa orang pertama yang kamu ajak bicara? Dan tentang apa?
  4. Apa hal paling polos yang pernah kamu lakukan ketika masih anak-anak?
  5. Apa kebiasaan buruk yang sulit kausingkirkan dari hidupmu?
  6. Apabila kamu diberi kesempatan untuk melintasi lorong waktu sekali saja, ke mana kamu akan pergi? Masa lalu, atau masa depan? Mengapa, dan apa yang akan kamu lakukan setiba di sana?
  7. Apakah kamu punya pendapat yang tidak biasa mengenai musisi atau lagu tertentu? Bagaimana pendapatmu tentang itu?
  8. Menurutmu, apa masalah terbesar dalam bidang pendidikan Indonesia?
  9. Apa pendapat terjujurmu tentang dirimu sendiri?
  10. Buku atau bacaan apa yang mengubah pola pikirmu?
  11. Ke kubu mana kau golongkan dirimu sendiri? Tim optimis, atau tim pesimis? Apa alasannya?

Tolong jangan menganggap pertanyaan di atas sebagai beban, ya. Ini bukan tes seleksi sesuatu atau uji pemahaman. Mereka butuh jawaban yang jujur dan dilepaskan dengan ringan. Jadi, jawab saja semurni apa yang ingin kaujawab.

Berhubung saya merasa senang menerima penghargaan ini, saya harap pemilik sebelas blog di atas juga senang mendapatkan award dari saya. Setelah membaca lebih lanjut tentang Liebster Award, kita bisa tahu bahwa misi ini adalah ajang untuk saling mengenal. Jadi, mari berkenalan!

5 respons untuk ‘Estafet Penghargaan

  1. Omegat
    Omegat
    Omegat
    Keren banget jawabannya..

    Mbak Mira akhir 2020 nerbitin buku ya 😆😍 Aku suka sekali gaya bahasanya ❤️❤️ Btw, aku dulu juga pernah salah kostum pas sekolah. Dan pernah juga ga masuk sekolah karena ga ada kostum. Di surat izin, aku bilangnya gak enak badan, tapi sebetulnya seragamku masih basah wkwkwk

    Suka

    1. Aku enggak tahu bagian mananya yang keren tetapi terima kasiiiih 😹😹😹😹

      Aamiin aamiin aamiin Mbak Frida juga, kuy.

      Wkwkwkwk sampai nggak masuk sekolah. Waktu itu karena takut ditanya-tanya dan kena omel guru terus dipulangkan atau takut kena malu, Mbak? *digebuk

      Suka

      1. ya semuanya menurutku kak hihihi..

        cuma menunda ditanya-tanya sama diomelin wkwkwk.. soalnya hari itu kan ga punya kostum lain yg sama, kak 😆😆 yaudah mending ga berangkat aja… terus pas besok paginya aku berangkat, aku cerita jujur sama temen²… diketawain sih, tapi yaudahlah udah biasa diketawain 😂😅

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.