Kulepaskan Borgolmu, Handcuffed Heart

LAGI-LAGI, kesintingan saya membuahkan satu tulisan lagi. Kali ini, saya coba merambah genre yang sebetulnya membuat saya alergi: romans. Kendati ia sebetulnya tidak terfokus pada cinta-cintaan semata, melainkan juga persahabatan, dan kekeluargaan.

Kesintingan saya masih menemui muaranya dalam kenekatan lanjutan. Setelah menghabiskan waktu selama kurang dari sebulan untuk menyusun kerangka sampai mengakhiri tulisannya, saya nekat mengikutkan cerita abal-abal ini ke dalam kompetisi menulis lagi. Kali ini di Kwikku. Padahal, cerita ini benar-benar bukan cerita yang matang. Lantaran ia diposting segera setelah saya merampungkannya, ia masih butuh banyak revisi. Namun, deadline pengumpulan semakin dekat, dan saya bukan tipe manusia yang doyan bekerja pada waktu terhimpit karena itu justru akan memberi saya tekanan yang cukup besar. Saya sudahi segalanya kemarin, satu hari sebelum deadline. Meluputkan diri dari pengeditan terlalu banyak atau terlalu dalam. Mengabaikan idealisme saya dalam menulis, hingga mungkin menyisakan beberapa typo atau plot hole.

Niat saya bukan mau menang. Saya cuma mau dinotis salah satu jurinya: Dee.

Sebagai penggemar Dee dari zaman prasejarah (nggak, ini bercanda, mana ada Dee dan novelnya malah hidup di zaman prasejarah), saya amat antusias melihat nama Dee ada di jajaran para juri. Apalagi, masa diselenggarakannya lomba ini cukup lama. Saya mendapat informasi perlombaan ini dari bulan Maret, dan batas pengumpulannya adalah hari ini. Sudah saya sediakan cerita yang tersusun tegas demi turut berpartisipasi.

Lantas, mengapa saya justru baru ikutan di hari-hari terakhir?

Jawabannya adalah, karena awalnya, saya mengikutkan karya yang sama dengan karya yang saya ikutkan dalam event Storial kali lalu, yaitu Rumpi Rumpang. Untungnya, cerita itu tidak lulus kurasi Kwikku Novel, lantaran saya gagal terus-menerus membubuhkan kaver, padahal sudah saya masukkan isi ceritanya sampai belasan bab.
Mungkin, memang Rumpi Rumpang menemukan jodohnya di Storial, bukannya Kwikku. Maka, usai Rumpi Rumpang terkonfirmasi diterima di sana, saya pun akhirnya memutar otak. Menyusun ide-ide yang lainnya. Demi dibaca Dee.

Alternatif pertama setelah Rumpi Rumpang gagal dikirim ke sana adalah La Nina, cerita yang idenya mengendap sudah hampir dua tahun lamanya, tetapi belum sempat saya eksekusi secara utuh. Tiga bab awal, sempat saya poskan ke blog, tetapi kemudian ngadat. Kendalanya ada pada riset. Dan, usai sekian lama waktu berlalu, kemudian saya kembali mau memilih La Nina sebagai kandidat pengganti Rumpi Rumpang di Kwikku, batu sandung saya masih tetap sama. Riset.

Akhirnya, di tengah waktu yang semakin lama semakin mepet, saya pun nekat mengikutsertakan cerita yang konsepnya belum tersusun benar. Handcuffed Heart dengan berat hati saya lepaskan untuk menggantikan dan menyusul kakaknya melayang. Saya mengetik seperti orang gila, bahkan sempat tidak tidur dua malam lamanya. Memang, proses riset untuk Handcuffed Heart pun lumayan lama dan berat. Tetapi setidaknya google punya lebih banyak informasi terkait dunia kepolisian dan kedokteran, daripada informasi seputar apa saja yang berlangsung satu dekade silam, dan bagaimana saja kehidupan mahasiswa pada masa itu. Tidak ada yang bisa saya tanyai lebih lanjut. Atau, lebih tepatnya, belum ada yang bisa menjadi narasumber saya untuk itu.

Maka, inilah jadinya. Anak kedua saya yang mau tidak mau, harus lahir prematur dengan 40.000 kata lebih. Namun, sebagaimana ibu pada umumnya, saya tetap menyayangi anak saya. Saya pun menyurutkan ambisi serta harapan untuk menggapai reward yang sebegitu gila-gilaannya. Ambisi saya berganti menjadi lebih sederhana: yang penting bisa dibaca oleh Dee.

Kulepaskan engkau, Anak Keduaku. Selamat berpatroli, dan memborgol pembaca-pembaca yang mungkin sudi mampir ke tempatmu. Akan Bunda peluk dan benahi kamu lagi jika sudah waktunya nanti.

Cerita ini bisa dibaca di: Handcuffed Heart (baru 9 bab yang lolos kurasi. Masih ada 5 chapter lagi yang mengantre di meja kurator)

Salam,

Celestilla

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.