Kesan Atas Apa yang Menahun Kubucini

ABAIKAN saja judulnya. Lama tidak menulis non fiksi sepertinya telah membuat kemampuan saya dalam menyusun judul jadi semakin tergerus saja. Intinya sih, saya sedang kepingin menulis tentang manga dan anime karya Aoyama Gosho yang satu ini:

Saya berasumsi tiada manusia masa kini yang tidak tahu siapa atau apa itu Detektif Conan. Bisa dibilang, ini adalah salah satu karya fiksi yang cukup fenomenal. Kendati mungkin anak-anak yang tumbuh satu dasawarsa ke belakang mungkin tidak tahu, karena masa kejayaan Conan sudah berlalu.

Sebagai Conanian nyaris lima belas tahun, saya pikir, Detektif Conan adalah salah satu fiksi yang ceritanya bakal kelar di episode satu kalau saja tokoh utamanya nggak gegabah. Atau mungkin, kalau tokoh utamanya nggak gegabah, cerita ini malah nggak bakalan ada. Kalau saja Kudo Shinichi, si tokoh utama nggak menuruti semangat detektifnya untuk membuntuti dua pria berbusana hitam yang mencurigakan di Tropical Land ketika sedang kencan dengan Mouri Ran, teman sejak kecilnya, dia nggak akan diminumkan obat aneh dan tentunya, dia nggak bakal mengecil. Kalau Shinichi nggak mengecil, nggak akan ada anak SD bernama Edogawa Conan. Dan, kalau Edogawa Conan tidak ada, maka cerita ini pun nggak akan ada. Judulnya saja Detektif Conan, kok.

Namun, kegegabahan Shinichi ini toh, tidak sia-sia. Dari sini, dengan dia mengecil, dia bisa tahu eksistensi kelompok kriminal besar yang kemudian ia beri nama ‘Organisasi Hitam’. Dengan dia mengecil, dia membantu Ayah Ran, Mouri Kogoro, menjumpai popularitas. Dengan dia mengecil, dia bisa bertemu dengan begitu banyak orang yang mungkin tak bakal dia temui kalau saja dia tetap menjadi Kudo Shinichi. Dengan dia mengecil, ia pecahkan banyak kasus yang mungkin tak akan menyerobot lingkaran hidupnya sebagai detektif SMU ternama. Dengan dia mengecil, cerita ini bisa melebar sampai lebih dari seribu chapter dan nyaris menembus seribu episode. Lol.

Kata Aoyama-sensei, Detektif Conan nggak diekspektasikan bakal sepanjang dan selama ini. Bayangkan saja, usia komik buah karya Aoyama Gosho ini sama dengan usia saya, tetapi Conan dari dulu sampai sekarang masih saja belum tumbuh-tumbuh juga. Wah, wah, wah. Ya, karena kendati telah mereka lewati berkali-kali pesta pergantian tahun, pergantian musim, sampai ujian negara; dari zaman pager, handphone lipat, hingga smartphone ditampakkan dalam komik ini, timeline cerita ini masih belum juga berganti. Ran masih tetap siswi kelas dua SMU Teitan, dan Conan masih tetap siswa kelas 1-B SD Teitan. Huhuhu.

Detektif Conan merupakan salah satu contoh serial yang menggunakan floating timeline atau sliding timescale, yang artinya, tidak terjadi pertambahan usia pada karakter, dan waktu di dunia nyata tidak relevan dengan cerita. Salah dua contoh fiksi yang menggunakan jenis timeline yang sama adalah Doraemon (yang sudah tamat), dan The Sims. Belum lagi masalah berbagai peristiwa seperti pergantian musim dan lain-lain tadi, serta kesinambungan antara satu kasus dengan kasus lain. Namun, okelah. Segalanya sah dalam sebuah fiksi. Sepertinya alur waktu bukan sesuatu yang menjadi fokus atau prioritas dari cerita ini, karena beberapa kali, alur utama (yang berhubungan dengan Organisasi Hitam), hanya disebutkan sebagai ‘beberapa waktu yang lalu’, seperti meninggalnya Akemi, kaburnya Haibara dari kamar gas, dan sebagainya. Pergantian musim pun nggak punya pengaruh, sebab kayaknya, kasus pertama sampai yang paling terbaru masih berlangsung dalam tahun yang sama. Semua kasus yang berjalan di Detektif Conan hanya berlangsung selama 250 hari (hitungan normal sekitar 20 tahun). Kalau dipikirkan secara logis, seharusnya Jepang sudah kacau-balau karena ada begitu banyak kasus dalam waktu yang sangat dekat.

Kalau mau cek urutan timelinenya bisa dilihat di Timeline – Detective Conan Wiki.

Gara-gara kelamaan menjumpai ending, beberapa orang yang dulunya antusias, sudah mulai bosan memburu kabar tentang kehidupan anak SMU yang mengecil ini. Wajar saja mereka bosan. Mungkin mereka kelewat penasaran akan siapa sebetulnya musuh utama Detektif Conan, dan tidak sabar untuk itu. Namun, saya tidak. Meski saya juga mempunyai pertanyaan seputar mengapa Aoyama-sensei memutuskan menggunakan perhitungan waktu yang beku tetapi di sisi lain juga ditubruk oleh beberapa hal, saya masih tetap setia menanti kelanjutan di balik misteri yang masih belum juga mampu tersingkap dalam Conan Universe. Lagipula, sebenarnya semua kasus yang berlangsung selama dua dekade ini sebetulnya sistematis, kok, terlepas dari problem timeline di atas. Memang banyak selingannya, makanya kelihatan seolah lambat, tetapi pergerakan Organisasi Hitam yang menjadi alur utamanya, kelihatan beraturan. Dimulai dari Shinichi yang mengecil, bertemu Akemi, ketemu Tequilla, kaburnya Haibara, menyelidiki Suguru Itakura, pergerakan Vermouth, pertemuan mereka dengan Pisco, pergerakan Bourbon, sampai kemunculan Rum. Bahkan, jujur, saya menikmati selingan-selingan kasus ringan, seperti aksi para Detektif Cilik.

Sampai saat ini, hanya Detektif Conan yang masih nangkring di daftar komik yang saya ikuti. Untuk merayakan tahun kesekian belas (?) saya yang masih setia menanti ending, saya berniat untuk membuat ulasan tentang kesan-kesan per-fandom-an dari poin-poin tertentu, di antaranya:

  • Kasus favorit
  • Kasus paling ngeselin
  • Karakter pertama yang pernah membuatku jatuh cinta
  • Karakter yang pernah menjadi biasku, tetapi sekarang sudah tidak lagi
  • Pasangan yang dulu pernah kusukai, tetapi sekarang tidak
  • Ultimate favorite character
  • Karakter tercantik menurutku
  • Karakter yang paling kubenci
  • OTP
  • Karakter yang disukai semua orang, tetapi aku tidak
  • Karakter yang ‘even if you’re a piece of trash but you’re still a fave
  • Beautiful cinnamon roll yang pantas mendapatkan hal yang lebih baik
  • Pasangan ini salah, dan membuat saya kepingin ngeguyur diri pakai air suci, tapi ya gimana …
  • Kutipan favorit

Kasus Terfavorit

Ada begitu banyak kasus yang sudah berlangsung dalam Detective Conan Universe, mungkin malah telah mencapai ratusan kasus. Mulai dari kasus sepele yang melibatkan kode-kode kecil, sampai pada kasus baku tembak antara FBI dengan Organisasi Hitam yang mereka buru sampai Jepang. Saya mencoba menderetkan Lima Kasus Terbaik menurut saya pribadi, di sini, di antaranya:

1—Kasus pembunuhan Akai Shuichi oleh Kir alias Mizunashi Rena. (File 605). Segera setelah Rena Mizunashi terlepas dari pengawasan FBI dan kembali ke sisi Organisasi Hitam, Gin tidak menunggu lama. Dengan dalih membuktikan kesetiaan Kir, ia memberi misi: membunuh Shuichi. Semula saya memang sudah percaya bahwa Shuichi tidak akan mati semudah itu. Maka dari itu, selama membaca adegan ini, saya sudah berdebar-debar menanti kejutan. Saya juga sudah yakin, Gin nggak akan semudah itu percaya pada kerja Mizunashi Rena. Nyatanya saya dikecewakan karena pada akhirnya saya sedikit kena tipu. Ternyata memang semudah itu. Ternyata tidak ada kejutan selama penembakan. Sehingga batin saya mencelus. Apakah memang Shuichi harus mati begitu? Kok, gampang sekali? Namun, satu sisi saya tetap memegang kepercayaan bahwa pasti, ini, hanya rencana, terlebih ketika melihat respons Conan yang melanjutkan hidupnya seolah nggak terjadi apa pun. Bahkan, FBI pun pada percaya kalau Shuichi memang sudah mati, karena bukti sidik jari memang bukti yang tak terbantahkan. Ide ini keren. Untuk menipu lawan, kadang kita memang perlu menipu kawan terlebih dahulu.

2—Kecurigaan Amuro Tooru pada Okiya Subaru yang membuat agen PSB menyerbu rumah Shinichi. Syalund. Amuro memang punya kemampuan analisis yang patut diacungi jempol. Dia bisa mencurigai kemunculan tiba-tiba Subaru dalam lingkaran itu dan memcocoklogikannya dengan kematian Shuichi yang dirasanya terlalu gampang. Padahal, kepribadian Subaru jauh berbeda dengan Shuichi. Namun, sebagai seseorang yang juga kerap menyamar, tentu Amuro punya feeling khusus untuk menilai. Makanya, ia pun datang menyambangi rumah Shinichi demi meng-skakmat Okiya. Mungkin, ia juga berniat membunuh Akai dengan tangan sendiri, kali, ya? Saya pun sudah menduga, akan ada kejutan yang dihadirkan dari kasus ini. Dan, itu adalah kemunculan Akai dari dalam mobil, sementara Subaru masih ada bersama Amuro di dalam rumahnya. Yang membuat saya takjub, saya nggak menyangka bahwa The Kudos, yakni Yukiko dan Yusaku, turut melibatkan diri. Terbaik sekali.

3—Kasus Perburuan Shiho di Kereta Misteri (Dimulai dari File 818). Di sinilah terbongkarnya identitas Bourbon, anggota Organisasi Hitam yang ditugaskan untuk memburu Sherry, tetapi sebetulnya punya tujuan untuk membunuh Shuichi. Dalam sebuah kereta, Organisasi Hitam berencana untuk menghabisi pengkhianat organisasi. Usai dibingungkan dengan tebak-tebakan tentang siapakah Bourbon sesungguhnya dari tiga kandidat: Okiya Subaru yang dicurigai Haibara dan memang mencurigakan (LOL); Sera Masumi yang semula dicurigai Conan karena agresif mendekati mereka; sampai pada Amuro Tooru yang pada awal kemunculannya nggak mengundang kecurigaan siapa pun, hingga akhirnya ketahuan bahwa Amuro-lah anggota organisasi Hitam yang genius, bisa menyamar, dan punya daya analisa tinggi. Namun, Conan sudah bisa memprediksikannya. Saya bahkan nggak nyangka kalau di dalam kasus yang mengumpulkan orang-orang penting di kereta itu, akan ada sekian banyak kejutan. Scar Akai yang rupanya penyamaran Vermouth, Okiya Subaru yang ternyata adalah Shuichi Akai dan ada di pihak Conan, detektif cewek berdada rata—Masumi—adalah adik Shuichi, dan wanita yang saya kira Vermouth ternyata adalah Yukiko. Yang paling tidak saya duga adalah keterlibatan Kaito Kid yang dimintai bantuan oleh Conan demi menyamar sebagai Shiho. Dengan ini, Shiho dan Shinichi yang mengecil pun terjaga dari endusan Gin dkk (kecuali Vermouth, tentunya).

4—Kasus Undangan Pesta Hallowe’en. (Volume 42). Kasus ini berlangsung pada Vermouth’s Arc, atau dengan kata lain, pada interval di mana Vermouth, si Wanita Seribu Wajah, didatangkan oleh organisasi demi memburu Sherry. Vermouth pulalah yang mengirimkan undangannya pada Kogoro dan Shinichi. Namun, pada undangan yang tiba di tangan detektif SMU kita ini, sekalipun nama pada sampul undangannya adalah To: Shinichi Kudo, pada bagian dalamnya justru memuat Dear, Conan Edogawa. Dengan kata lain, inilah pertanda bahwa Vermouth telah mengetahui identitas asli Conan.

Dalam kasus ini pun ada banyak kejutan. Di mana Shinichi benar-benar datang ke pesta, tetapi sesungguhnya ia adalah Hattori Heiji yang menyamar berkat bantuan Yukiko. Di sini pula terkuak bahwa Jodie Saintemillion yang selama ini digambarkan misterius dan punya kesan buruk sehingga mungkin dianggap justru sebagai jelmaan Vermouth, adalah petugas FBI. Dan Vermouth sendiri malah menyamar sebagai seseorang yang sama sekali tidak terlihat mencurigakan, yakni dr. Araide Tomoaki. Shinichi sendiri sama sekali nggak menggunakan obat antidote APTX 4869 yang diduga dicuri, melainkan dalam wujud Conan, ia menyamar sebagai Haibara yang diculik. Yang membuat saya sedikit mencelus adalah kemunculan Haibara yang sesungguhnya di lokasi itu. Sebagaimana pernyataan Vermouth, dia menghancurkan rencana Conan. Namun, untunglah, ada bantuan dari kejutan lain: Ran yang meloncat dari bagasi mobil Jodie (Damn! I love this girl!) dan langsung mendekap Ai, serta Shuichi yang datang menembak kaki Calvados. Kasihan Calvados, dia pun bunuh diri demi cintanya pada Vermouth 😥

5—Percobaan Pembunuhan Pejabat (lupa namanya) (File 499). Di kasus ini, Mizunashi Rena yang telah diketahui merupakan anggota organisasi dan disuruh untuk membunuh seorang calon walikota dari alat penyadap Conan yang tanpa sengaja melekat di alas sepatu Rena, diburu oleh Conan serta anggota FBI. Ketika pihak Conan terdesak karena Gin tahu tentang keberadaan penyadap itu dan mengganti sasaran basmi kepada Mouri Kogoro, orang-orang tertentu datang pada momen yang tepat. Itu adalah Conan yang menendang sepak bola hingga memecahkan kaca jendela kantor detektif untuk meluputkan Kogoro dari bidikan Chianti, dan tentu saja, Shuichi, yang sukses memusnahkan alat penyadap Conan di tangan Gin dengan tembakannya (saya selalu berdecak kagum setiap kali mengulang adegan ini, kya~ kya~), dan memberikan satu tembakan lagi untuk melukai pipi Gin. Bahkan, tindakan Shuichi mengundang rasa takjub Korn, sang sniper Organisasi Hitam. Dari jarak sejauh itu, Shuichi bisa melakukannya. Memang terbaik, Kesayangan.

Bonus—Kasus Ilusi Optik (file 781). Ini nggak saya masukkan dalam list angka, karena berbeda dari kelima daftar lainnya, kasus ini nggak melibatkan campur tangan Organisasi Hitam maupun FBI. Di kasus ini, terpecahkanlah tiga trik pembunuhan yang ketiga-tiganya menggunakan ilusi optik. Kata Heiji, ‘Mata dibayar mata.’ Dari kasus dinding kamar mandi yang menyembunyikan pesan kematian, potongan kue yang beracun, sampai pada huruf kanji yang membawa maut, semuanya membawa ilusi optik atau fenomena psikologis.

Kasus Paling Menyebalkan

Dari ratusan kasus yang berlangsung dalam kehidupan Conan, hanya ada dua kasus yang benar-benar menyebalkan bagi saya. Yang satu adalah kasus menyebalkan karena tokohnya, dan yang satunya lagi kasus yang menyebalkan karena saya nggak rela semuanya berakhir seperti itu.

1—Tersangkanya Shinichi Kudo (file 646). Kasus di mana Shinichi hilang ingatan dan membunuh orang lain. Lol. Kasus ini membuat citra Shinichi di mata saya buruk sekali.

Kenyataannya, Shinichi yang hilang ingatan dan membunuh orang lain memang bukan Shinichi yang asli. Saya juga tahu, dong, kalau itu bukan Shinichi, karena Ran nggak bersikap seperti biasanya atau mencemaskan kondisi Shinichi, jadi, bukan karena saya tertipu, makanya saya sebal. Orang itu, ternyata adalah seorang anak SMU yang melakukan operasi plastik demi memiripkan wajahnya seperti Shinichi karena dendam pada sang detektif SMU dari Timur, atas kesalahan analisis setahun yang lalu, yang sebetulnya juga bukan kesalahan.

Bayangkan saja, dengan wujud Shinichi, dia bertanya, “Siapa aku? Kenapa aku ada di sini?” macam orang bego yang amnesia dalam FTV. Ada lagi adegan lain di mana dia berdarah-darah sehabis membunuh dan bertanya sendiri ketika dipergoki Heiji dan yang lain, “Ap-apa yang kulakukan?” Bagaimana nggak nyebelin?

2—Kasus Pesta Pre-Wedding (file 793). Diceritakan, Kogoro, Ran, dan Conan mendatangi pesta (katakanlah) bujang teman lama Kogoro yang besok bakal nikah. Teman Kogoro adalah si laki-laki. Dia dan pasangannya konon sudah saling ‘klik’ satu sama lain begitu berjumpa pertama kali. Memang ada beberapa saling curiga satu sama lain, tetapi keduanya saling memahami. Namun, si calon pengantin perempuan tewas karena ledakan di mobil. Usut punya usut, usai melalui segala macam perdebatan, diketahuilah fakta tragis: si perempuan bunuh diri karena nggak kuasa menerima informasi memilukan tentang dia dan calon suaminya yang sudah lama hidup bersama.

Menyebalkan, ‘kan? Jadi teringat kisah Autumn in Paris-nya Ilana Tan. Saya pikir, ini benar-benar dramatis, dan membuat saya pengin menjerit, ‘Kenapa ending-nya harus seperti itu?’

Karakter Pertama yang Membuatku Jatuh Cinta

Tentu saja Shinichi, sang tokoh utama. Siapa lagi? Saya menyukai dan mengikuti komik ini jelas karena jatuh hati pada kemampuan deduksi detektif SMU itu. Ia membuat saya banyak belajar tentang banyak hal yang mungkin nggak pernah atau luput saya dapatkan dari sekolah.

Saya baru benar-benar menyukai komik ini sejak SD kelas lima. Sewaktu saya duduk di bangku kelas lima, ada seorang murid pindahan bernama Lia, yang suka akan komik ini juga lantaran terpengaruh oleh kakak dan abangnya. Namun, kala itu, komik tidak sebegitu tenar. Lia tidak menampakkan ketertarikannya sehingga saya pun belum ikut terjerat. Barulah ketika ada seorang murid pindahan laki-laki dari Medan bernama Zul, yang … yah, kalau di masa sekarang bisa saja dijuluki maniak alias otaku untuk urusan perkomikan asal negeri sakura, saya pun ikut terjerat. Pasalnya, anak itu kerapkali diskusi soal Conan di kelas bersama Lia, dan rupanya juga beberapa anak lain yang notabene merupakan sesama murid pindahan. Saya pun akhirnya terjerat.

Namun, sebagai siswi miskin yang cuma dikasih uang lima ratus perak per hari untuk jajan, membeli komik adalah hal yang kelewat mewah buat saya. Wong beli buku pelajaran saja mesti menunggak, kok. Wong SPP saja untung dapat beasiswa, kok. Wong beli baju saja untung-untungan kalau menang lomba atau dikasih om-tante yang datang berkunjung, kok. Tiada anggaran dalam hidup untuk membeli komik. Saya cuma bisa pinjam. Dan, itu bertahan hingga SMA. Koleksi saya bolong-bolong, karena belinya kalau punya duit atau habis menabung dengan pulang sekolah jalan kaki selama sebulan.

but, thank, God. Kini aku punya kendali untuk memiliki mereka

Kini daku punya daya untuk memiliki mereka.

Karakter yang pernah menjadi biasku, tetapi sekarang sudah tidak lagi

Barangkali, Haibara. Pada awalnya, saya punya kecenderungan untuk menyukai karakter yang dingin dan tsundere, seperti misalnya Uchiha Sasuke, Midorima Shintarou, juga Haibara Ai. Saya juga suka Haibara karena menurut saya, dia anggota organisasi hitam yang cerdas, di usia tiga belas tahun, dia sudah jadi ilmuwan dan apoteker andal. Bahkan, saya sering menulisi buku-buku pelajaran saya dengan nama Sherry, nama sandi Haibara di organisasi hitam.

Sayangnya, ketika belakangan saya maraton menekuri keseluruhan volume serial komik ini dan menontoni beberapa episodenya, saya malah memandangnya dari sudut pandang yang berbeda. Beberapa tingkahnya kadang membuat saya tidak enak hati pada Ran. Entah itu karena Ran mengingatkan dirinya pada kakaknya, atau justru merupakan potret kecemburuannya akan Shin-Ran, saya nggak paham. Ia begitu dingin pada Ran, tanpa alasan yang jelas. Ia terlihat senang ketika Shin-Ran punya masalah, dan tak suka ketika Shin-Ran bersama.

Yah, tetapi bukan berarti saya tidak menyukai Haibara. Bisa saja itu karena kewaspadaannya akan terbocornya identitas ia dan Shinichi jika Shinichi kelewat baper sama Ran. Saya juga maklum, kok, kalau melihat kehidupannya. Ia yang sejak kecil belum pernah melihat sosok orang tuanya, hidup dalam kurungan organisasi, harus menjadi ilmuwan di usia belia, membuat racun bagi umat manusia, tidak punya teman, satu-satunya teman baginya hanya kakaknya yang juga meninggal muda, begitu bertemu Shinichi yang bernasib sama dan begitu jenius hingga bisa ia bagi bebannya, tentu saja merasa cemburu pada Ran dan Shinichi yang sejak kecil bersama-sama. Sedih, ya?

Pasangan yang dulu pernah kusukai, tetapi sekarang tidak

Conan-Ai atau Shin-Shiho. Ohoho. Ini nggak ada hubungannya dengan poin sebelumnya, kok. Alias, bukan karena saya hilang kesan akan Ai, sehingga mempengaruhi kesan saya terhadap pasangan ini. Saya pernah ada dalam posisi melihat hubungan Conan dan Ai sebagai sesuatu yang manis. Bagaimana mereka berdua sering ledek dengan sinisme, lucu gitu. Belakangan ketika saya semakin dewasa, saya justru menganggap itu murni cuma persahabatan. Mereka hanya cocok dengan persahabatan tok, tidak lebih. Ya, meski Ai kelihatan sekali menyimpan rasa bagi Conan, ya?.

Ultimate Favourite Character

Orang ini, beserta seluruh penyamarannya.

Akai Shuichi

Okiya Subaru

Moroboshi Dai/ Rye

Saya sudah jatuh hati pada pandangan pertama (cie elah) sejak kemunculan perdananya sebagai Akai, sekalipun saya sempat punya anggapan kalau ia villain. Namun, saya tahu ia bukan cuma tokoh numpang lewat. Ia termasuk tokoh penting dalam plot.

Selain tampan dan misterius, ia juga cerdas, tetapi nggak kelewat songong menunjukkan kecerdasannya. Ia cukup lihai dalam menyusun strategi, dan yang pasti, ia seorang sniper andal yang bisa menembak dari jarak yang mustahil. Dengan jarak sejauh itu, ia bisa meluruhkan alat penyadap yang diapit Gin dengan jari, dan melukai pipinya. Ya Allah, kurang apa coba, tokoh ini? Nggak heran, jika organisasi takut padanya dan FBI menganggap Shuichi sebagai peluru perak. Dia memang sekeren itu.

Karakter tercantik menurutku

Kudo Yukiko. Ibu Shinichi merupakan karakter tercantik dalam komik ini, menurut saya. Dia nggak sering pakai make up berlebihan, tapi kelihatan cantik dan awet muda. Ditambah lagi, dia energik dan kadang tingkahnya bikin ketawa. Karakternya menyenangkan dan membuatnya tampak lebih muda. Mungkin ini juga mengapa dia nggak kelihatan sebagai ibu Shinichi, melainkan kakak. Kata orang, mereka yang bertingkah bahagia dan ceria biasanya tampak lebih muda. Saya juga suka sekali model rambut dan poninya yang kayak keong (LOL) meski agak bingung bagaimana model rambut kayak begitu diaplikasikan ke dunia nyata (sebetulnya model rambut Ran dan Conan pun aneh LMAO). Intinya, Yukiko adalah karakter tercantik, bagi saya.

Karakter yang paling kubenci

Gin? No. Vermouth? Tidak. Chianti? Bukan juga. Bahkan Mouri Kogoro atau Inspektur polisi dari prefektur Gunma, Yamamura Misao yang sering ngasal pun bukan. Setidaknya, mereka berdua bisa menghibur dengan bikin ngakak dengan tingkah konyol mereka. Lantas siapa?

Shiratori Ninzaburo! Kesal sekali setiap lihat dia, sumpah. Entah karena alisnya yang tebal kayak ulat bulu dan rambutnya yang kayak batu karang, atau karena dari awal sikapnya memang sombong.

Oke, Shinichi juga sombong, tetapi sikapnya nggak ngeselin. Shiratori ini ngeselin. Dia mengejar-ngejar Miwako Sato sampai mengerahkan personil kepolisian untuk menggagalkan kencan Sato Miwako dan Takagi Wataru. Gara-gara dia juga, cincin yang dibeli Takagi hanyut di air tanpa sempat melingkari jari Miwako. Cemburu dan iri sih, boleh saja. Sirik juga boleh saja. Tapi tolong dong, jangan dengki dengan kebersamaan keduanya. Itu kan, penyalahgunaan wewenang. Mentang-mentang punya jabatan yang lebih tinggi dari Takagi dan kaya-raya, jadi sombong dan sering pamer di depan Miwako.

Lah, begitu tahu kalau Miwako bukan cewek yang merupakan cinta pertamanya, ia move on secepat jaguar. Bucin habis. Namun, saya menghargai kok, sikapnya ketika ia berbesar hati menerima kekalahan dari pertaruhannya dengan Miwako serta mengaku sewaktu orang yang ia kira merupakan cinta pertamanya karena bunga sakura dari kertas pembungkus sedotan jadi pelaku kasus pembunuhan. Bagaimanapun, dia tetap polisi.

OTP

Tentu saja Shin-Ran,

Heiji-Kazuha,

Wataru-Miwako,

dan Sonoko-Makoto.

Karakter yang disukai semua orang, tetapi aku tidak

Rei Furuya

Sorry not sorry. Dia terlalu berlagak. Dan, terlalu sempurna. Yah, namanya juga Perfect Zero. Setelah awalnya saya pikir dia memang betulan jahat, saya lantas dikecewakan begitu tahu kalau dia ternyata sosok yang nggak hitam-hitam amat. Agen ganda, euy. Mana PSB, pula. Seolah kemampuannya yang semula digembar-gemborkan (hebat menganalisis dan lihai dalam penyamaran), itu sia-sia, karena saya pikir, dia bakal jadi lawan yang cukup tangguh bagi para protagonis. Saya juga nggak ngerti apa tugasnya, setelah gagal memburu Ai. Membunuh Shuichi? Lawan Shuichi sudah ada, si Gin, ‘kan? Dia cuma mau melawan Shu karena terbawa dendam pribadi, itu pun gara-gara salah paham dan kenyang dengan salah pahamnya sendiri. Kok semakin ke sini malah dia yang lebih banyak tersorot.

Meski begitu, saya memaklumi kebencian Rei pada Shuichi. Itu bukan sesuatu yang tak berdasar atau tidak bisa diterima. Bayangkan saja jika kamu menjadi Bourbon. Ketika identitas sahabatnya, Scotch, terbongkar sebagai seorang Non Official Cover dari kepolisian Jepang yang menyusup ke dalam organisasi, terbongkar. Kemudian, dia berlari mati-matian, dan setibanya di tujuan, ia dihadapkan dengan sahabatnya yang sudah jadi mayat dengan jantung menyemburkan darah. Dan, di sana, ada seseorang yang menghina status Scotch sebagai ‘Tikus Kepolisian Jepang’ serta mengaku bahwa ia yang telah melubangi jantung sahabatnya.

Marah, ‘kan? Emosi, ‘kan? Dendam, ‘kan? Wajar saja jika Bourbon merasakannya. Ia mendendam bertahun-tahun. Bisa jadi ia memang salah paham, tetapi sepertinya, Bourbon tahu kalau Dai alias Rye alias Shuu cuma membual dan tidak benar-benar membunuh Scotch. Namun, bagaimana pun, Rye yang mengaku demikian. Dan, kalaupun itu cuma salah paham, usai itu malah Rye yang identitasnya terbongkar (gara-gara si Mulut Ceroboh dari FBI, Andrew Camel) sebagai NOC (LOL) dalam organisasi. Gimana nggak tambah kesal tuh, si Bourbon? Mengingat betapa angkuhnya (akting) Rye dalam menghina NOC. Bourbon mungkin saja menganggap kematian Scotch bukan sesuatu yang semestinya terjadi. Kalaupun Scotch mati, bukankah Rye juga semestinya mati? Kan, sesama NOC yang ketahuan, ya nggak? Serta, jika saja Rye cuma membual kalau ialah yang menembak jantung Scotch padahal tidak begitu yang terjadi, tentu Bourbon bertanya-tanya, mengapa Rye membiarkan Scotch mati. Mengapa dia tidak menolong atau menyelamatkan Scotch sebagai sesama NOC.

Kalau diurutkan berdasarkan timeline, peristiwa menyusupnya Shuuichi ke dalam organisasi adalah sekitar 4 tahun sebelum masa sekarang, dan terbongkarnya identitas Rye sebagai Akai Shuuichi si antek FBI adalah 2 tahun sebelum masa sekarang. Maka, terbongkarnya kedok Scotch (meski nama aslinya konon tak ada yang tahu) tentu lebih duluan dibanding kedok Shuu, berkisar antara 2-4 tahun yang lalu. Pada masa kematian Scotch, dua teman Rei yang lain sudah tiada. Hagiwara, tiga tahun lalu, dalam ledakan bom, dan Matsuda dalam, kasus yang sama tak lama usai/ sebelum kematian Scotch, yang amat membuatnya menyesal itu, bagaimana dia nggak dendam? Ditambah dengan insiden tabrakan yang menewaskan sahabatnya yang lain, Date, setahun kemudian, sehingga sahabatnya musnah sudah, tentu saja wajar, betapa Furuya Rei alias Bourbon amat membenci Akai Shuuichi dan kepingin membunuhnya dengan tangan sendiri.

Karakter yang ‘even if you’re a piece of trash but you’re still a fave’

Mouri Kogoro

Serius, saya ngefavoritin Kogoro. Meski dia sering bikin analisis asal-asalan, hobinya mabuk-mabukan, taruhan pacuan kuda, sampai menimbun utang-utang, demen ngelirik perempuan, dia ayah yang baik. Maksud saya, baik dalam hal, dia benar-benar menjaga dan merawat putrinya (meski kelihatannya sebaliknya). Bukan hal yang gampang lho, mengurus anak perempuan sendiri selagi pisah rumah sama istri. Dia juga nggak berkeberatan membawa serta putrinya kalau mengusut kasus di luar daerah. Begitu-begitu, Kogoro punya hati yang hangat. Kalau nggak hangat, mana mau dia menerima buat menampung Conan, di saat pendapatannya sendiri pun nggak jelas?

Dia juga sebetulnya nggak sebodoh itu, cuma dia nggak punya cukup kemauan untuk menarik setiap informasi dan memperhatikan sekeliling serta mengurutkannya dengan sistematis. Buktinya, beberapa kali, dia berhasil memecahkan kasus sendiri meski itu pun harus dibantu Conan dengan sedikit petunjuk. Dia cuma serampangan dan enggan menyelami setiap petunjuk lebih dalam. Setidaknya kan, dia masih lebih pintar daripada Inspektur Megure Juzo yang notabene polisi. Lol.

Detective Boys

Lebih tepatnya, tiga anak yang bener-bener anak kecil, Kojima Genta, Tsuburaya Mitsuhiko, dan Yoshida Ayumi. Mereka anak-anak yang cerdas, berani, dan bersemangat. Meski Ayumi sering sekali jadi korban ancaman atau target penculikan, lalu Genta sering bertindak gegabah terlebih dalam urusan makanan atau harta karun, mereka bisa menguasai diri dalam penyelidikan kasus rumit karena percaya bahwa kebenaran akan menang. Mereka punya bakat. Mitsuhiko dengan pengetahuannya yang luas, Genta dengan kepemimpinannya, dan Ayumi dengan ketulusan hatinya. Kelak, mereka bisa jadi polisi yang keren.

Beautiful cinnamon roll yang pantas mendapatkan hal yang lebih baik

Tentu saja Yoshida Ayumi. Dia unyu banget astaga gemay …. Dia begitu jatuh suka sama Conan, dan Conan juga responsnya begitu-begitu saja. Kalau dia tahu Conan sebetulnya adalah anak SMU, bagaimana? Kan, makanya … Ayumi pantas dapat yang lebih baik.

Pasangan ini salah, dan membuat saya kepingin ngeguyur diri pakai air suci, tapi ya gimana …

HAHAHAHAHA. Shuichi-Shiho. Agak nggak rela sih, menyebut nama pacal(?) sendiri, tapi memang dalam menjawab ini, saya harus jujur dari lubuk hati terdalam.

Pasangan ini sebetulnya bener-bener salah dari sananya; dari awalnya. Ibu mereka, Akai Mary dan Miyano Elena, adalah kakak-beradik, yang artinya, mereka sepupuan. Di samping itu, Shuichi pernah pacaran dengan kakak Shiho, Akemi, dan masih menyimpan rasa buat Akemi. Padahal awalnya cuma modus supaya bisa menggali lebih dalam soal organisasi. Padahal kini gadis itu sudah tiada. Sementara Shiho, adik Akemi, pernah beberapa kali bertemu Shuichi yang ia kenali sebagai Moroboshi Dai, pacar kakaknya. Dalam wujud Ai, seringkali ia memusuhi laki-laki itu, bahkan dalam wujud penyamaran Shuichi sebagai Subaru. Dan, mereka berdua sama-sama merupakan pelarian dari organisasi hitam, yang kemudian hidup dengan identitas palsu.

Meski begitu, saya pikir, Haibara pun cocok dengan sosok yang dewasa seperti Shuichi, karena meski sering sok galak dan sok kuat, Ai sebetulnya merindukan pengayoman. Bayangin aja, bocah tiga belas tahun udah berkutat sama tabung reaksi dan berbagai zat kimia, dan belum pernah ketemu orang tuanya. Sedih juga ketika melihat bagaimana Shuichi awalnya menolak bertemu muka dengan Ai (yang berarti dia benar-benar sudah tahu kalau Ai itu Shiho, adik Akemi), sementara Ai sendiri selalu menghindar karena ketakutan akan aura Shuichi, bahkan Subaru Namun, saya tetap nge-ship mereka. :’) Berlayarlah sebentar meski harus karam kelak ….

Kutipan Favorit

“Yakin akan tetap hidup sebelum kematian dipastikan adalah sikap seorang detektif sejati.”

(Kashimizu Natsuki, Kasus Rumah Lavender)

“Nyawa manusia itu berharga karena ada batasnya. Batasan itulah yang bisa membuat seseorang berjuang dalam hidupnya.”

(Hattori Heiji, -lupa kasus apa-)

“Yang paling menakutkan adalah hati manusia. Di sana tumbuh kebencian terdalam dan kesunyian yang terpekat.”

(Kudo Shinichi)

“Keberanian adalah kata kebenaran untuk membangkitkan semangat diri. Tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk membunuh orang.”

(Mouri Ran, Kasus Mayat Guling-guling Di Lautan dalam Jaring(?))

“Alasan untuk membunuh orang itu banyak, tetapi tidak diperlukan alasan untuk menolong orang.”

(Kudo Shinichi, Kasus Golden Apple)

“Sekalipun ditempatkan di telapak tangan kita, bukan berarti kita bisa menggenggamnya.”

(Edogawa Conan)

“Jangan lupakan. Sebab, orang yang sudah tiada hanya bisa hidup di dalam hati manusia.”

(Takagi Wataru, Serial Pengeboman Pawai)


Yah, demikianlah bacotan perdana saya tentang karya Aoyama Gosho ini. Memang nggak penting amat, tetapi saya sudah gatal pengin menulis ini sejak lama dan … yah, daripada blog ini semakin betah dihuni laba-laba.

Iklan

4 respons untuk ‘Kesan Atas Apa yang Menahun Kubucini

  1. Runut dan lengkap banget, Kak. :”)) Jadi sekalian nostalgia juga pas penjabaran beberapa kasusnya, huhu.

    Bagian Kogoro yang “even if you’re a piece of trash but you’re still a fave” itu favorit aku, hahaha. Kutipan itu lucu. 😂

    Suka

  2. Saya kesini lagi setelah sekian lama karna beberapa waktu lalu menemukan sebuah teori tentang hubungan akai dan shiho. Haha Saya lupa sudah berapa tahun saya memang ship dengan mereka dan entah kenapa dari awal saya tidak pernah menginginkan conan alias shinichi bersama ai. Ran dan Shinichi saling mencintai dan cinta mereka murni.
    Shiho membutuhkan sosok yang kuat yang bisa melindunginya seperti ai dan tentang umur itu sama sekali bukan masalah saya benar benar ingin mereka bersama dan dari sekian banyaknya teori dua ini benar benar masuk akal meski beberapa diantaranya masih sulit di percaya. Maaf mungkin euforia saya sedang tak terkendali lol.
    https://kenhsinhvien.vn/topic/akai-co-that-su-yeu-akemi-lieu-tuong-lai-co-thanh-doi-voi-haibara-shiho.808823/
    https://kenhsinhvien.vn/topic/akai-va-haibara-co-that-su-la-anh-em-ho.630191/

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.