Akhir Pekan adalah Waktu Tersibuk

AKHIR PEKAN adalah waktu tersibuk yang kita miliki. Setidaknya, yang saya miliki.

Kendati teori umum berkata bahwa dua hari libur kerja adalah kesempatan di mana para budak korporat bisa berleha-leha, fakta di lapangan mengatakan hal yang terbalik. Dua hari di penghujung pekan menyimpan banyak agenda yang saling susul. Ada sederetan undangan untuk kita hadiri. Ada setumpuk pakaian kotor yang menanti untuk dicuci. Ada keluarga yang menunggu buat family time-an. Ada bocah-bocah yang minta untuk kita ajak jalan-jalan sebentar. Ada tubuh yang harus kita rawat dengan maskeran, luluran, creambath-an, manicure-pedicure, atau olahraga rutin. Ada kebun yang mesti kita urusi. Dan lain-lain kesibukan, termasuk sibuk beristirahat sampai tidak bisa dan tidak mau diusik seorang pun. Itu juga kesibukan, ‘kan?

Bukan berarti lima hari kerja merupakan hari yang tak sibuk. Setidaknya, di masa weekdays, kesibukan kita terpatri pada hal yang jelas: bekerja. Kita menghadapi orang, monitor, terjun ke lapangan, atau tumpukan kertas dan gulungan karton, untuk tujuan itu. Kita dituntut untuk bersiaga. Lain halnya di masa weekend, yang seperti saya bilang tadi, punya banyak to do list. Dan, sifatnya enggak pasti karena bisa saling tergantikan.

Saya sendiri sebetulnya sudah dari jauh-jauh hari menargetkan banyak hal untuk dilakukan di akhir pekan ini. Salah satunya istirahat, dan salah duanya adalah menulis. Namun, begitu hari H tiba, kesibukan saya ganti arah. Menulis dan beristirahat harus ditunda dulu. Draft tulisan jadi enggak terjamah. Bahkan, utang menulis fiksi yang berbatas waktu Sabtu malam pun enggak mampu saya selesaikan gara-gara—bukan writerblock karena saya tergolong yang percaya bahwa itu cuma mitos, melainkan—ketiduran. Padahal isinya sudah saya susun sampai tengah, tinggal dilanjutkan beberapa paragraf, maka saya bisa mengumpulkannya, hanya saja saya terdistraksi dengan kesibukan lain yang tiba-tiba menghadang. Kemudian berkas itu pun terlupa untuk dilanjutkan, dan ujung-ujungnya benar-benar diluputkan sampai saya terlelap dan batas waktu terlewati.

Agenda hari ini pun menemui nasib yang sama. Niat mula ingin beristirahat dan menulis review film yang saya tonton beberapa hari yang lalu, malah berakhir jadi tukang ojek-tak-dibayar, angkut sana-sini, menemani ke sana-kemari, dan lain-lain sampai hal-hal yang diniatkan tadi pun kian tersodok ke bagian bawah daftar keinginan.

Kelimpungan menyambut akhir tahun ternyata tidak cuma dialami berkat ranah pekerjaan, melainkan juga melibatkan hidup dan seluruh aspeknya, terlebih pada masa covid yang masih belum menampakkan tanda-tanda akan hengkang. Akhirnya, waktu yang tersisa cuma cukup untuk dipakai beristirahat, sambil mengambil kesibukan lain yang sangat jauh dari perencanaan: scrolling akun medsos selagi menanti kantuk datang, yang itu pun menyimpan potensi untuk terdistraksi, lagi.

Jadi, benar. Akhir pekan adalah hari tersibuk. Sekali lagi, setidaknya buat diri saya sendiri, kalau-kalau selepas ini bakal ada orang yang memprotes, “Enggak semuanya kayak begitu, jangan digeneralisir.”

Dan, benar. Inti dari tulisan ini adalah keluhan. Tidak ada faedah yang bisa kamu petik dari sini selain bahwa saya adalah satu dari sekoloni manusia yang gemar mengeluh, tapi tetap melaksanakan apa yang dikeluhkan juga.

Ada beberapa orang sok bijak yang sering berpetuah, “Kalau tidak ikhlas, mending tidak usah dilakukan,” mungkin karena saking bosannya mendengar atau membaca keluhan orang lain tentang hidup mereka, atau keluhan atas apa yang sudah mereka lakukan untuk orang lain. Orang-orang ini seolah punya pandangan bahwa jika seseorang mengeluh, berarti apa yang ia lakukan itu tidak ikhlas.

Padahal sebetulnya enggak juga. Seseorang mengeluh karena dia mau mengeluh, dia butuh mengeluh, atau dia harus mengeluh. Dorongan untuk tidak mengeluh tidak sesimpel dengan tidak melakukan hal yang dikeluhkan itu. Keikhlasan tidak dinilai dari orang mengeluh atau tidak. Urusan pahala yang berkurang setiap keluhan dilontarkan adalah urusan si pengeluh, bukan pemrotes keluhan.

Seseorang bisa saja ikhlas melakukan sesuatu, hanya saja ia ingin melontarkan rasa lelahnya dalam wujud kata-kata, supaya rasa itu setidaknya bisa ia kurangi. Terkadang memendam sesuatu justru malah tambah bikin letih. Atau bisa saja orang itu tipe yang selalu menuliskan apa pun yang mau rasakan, dan kebetulan, mayoritas yang ia rasakan adalah keinginan untuk mengeluh. Bisa saja, ‘kan?

Ada orang yang bangga jadi people pleaser dan tidak pernah mengeluh. Ada orang yang setengah-setengah, di satu sisi bangga melayani manusia lain, sementara di sisi seberang ia juga merasa capek soal itu, dan perasaannya baru akan membaik setelah keluhannya tertoreh atau terlontar dalam wujud lisan maupun tulisan. Ada pula orang yang keras: tidak akan melakukan apa pun yang tidak mau ia lakukan, sehingga ia tidak akan mengeluh untuk hal-hal seperti itu. Hidup bukan cuma melulu soal iya dan tidak, tapi ada ranah abu-abu dengan berbagai pertimbangan yang enggak bakalan dipahami orang luar, sekalipun kau menjelaskannya sampai jarimu pegal-pegal atau mulutmu berbusa.

Jadi, tidak masalah jika kamu mau mengeluh kapan pun kamu merasa lelah usai bergelut dengan kesibukan ala dunia yang serba terburu-buru ini. Orang-orang yang tidak suka dengan keluhan, seharusnya bisa dengan mudah memilih jalan paling aman ketimbang menyinyiri keluhanmu yang mereka anggap tidak berfaedah dan tidak punya nilai guna, dengan cara tidak melihat atau mendengarkannya.

Dan, tidak masalah jika saya mengeluhkan kesibukan yang notabene saya ambil sendiri. Mengeluh adalah hak segala bangsa.

2 respons untuk ‘Akhir Pekan adalah Waktu Tersibuk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.