‘Call’, Sebagaimana Panggilan yang Tersahuti, Ada Konsekuensi dari Setiap Tindakan Kita

Beberapa waktu lalu, di timeline saya muncul ulasan dari seorang teman yang sudah menonton film ini. Call, alias 콜. Mulanya, saya pikir film ini membahas soal perjalanan lintas waktu, karena apa yang saya tangkap dari ulasannya adalah tentang mengubah masa lalu, sehingga saya tertarik, sekalipun pemeran utamanya Park Shin-hye. Saya memiliki sentimen pribadi dengan aktris yang satu ini berkat perannya dalam beberapa drama. Mayoritas karakter yang dia perankan (kecuali Go Minyeo dalam serial He’s Beautiful) selalu punya aura serupa. Cuma bisa menangis, tanpa berbuat apa-apa. Namun, tema yang menarik membuat saya menontonnya juga.

Oh, ternyata, film ini bukan perjalanan lintas waktu. Memang ada ‘perlintasan waktu’, tetapi bukan Park Shin-hye yang melakukan perjalanannya. Ini berkisah tentang telepon dari masa lalu.

Kim Seo-yeon yang diperankan oleh Park Shin-hye, gadis yatim berusia 28 tahun yang terancam piatu berhubung ibunya sedang dirawat di rumah sakit karena sakit kanker, kehilangan ponsel. Entah di mana, entah siapa yang mengambilnya, yang jelas, itu membuatnya resah. Sebagaimana orang yang kehilangan ponsel pada umumnya, hal pertama yang ia lakukan adalah, menelepon ke handphone yang hilang itu. Hal itu ia lakukan setelah tiba di rumah lamanya, dengan sebuah telepon rumah lawas. Ada seseorang yang menyahut, tetapi tanggapan orang itu sewaktu Seo-yeon mengabarkan ponselnya agak kurang menyenangkan.

Dalam kondisi demikian, Seo-yeon menunggu-nunggu bagaimana telepon lawas itu berdering kemudian. Siapa tahu, panggilan datang dari pemungut ponselnya yang tahu-tahu berubah pikiran jadi baik hati untuk mengembalikan ponselnya. Ketika telepon itu berdering, yang menyambar kupingnya justru suara asing. Suara seorang wanita yang sedang tertekan dan mengabarkan kalau ia sementara dikurung oleh ibunya. 

Setelah beberapa kali mereka saling telepon, Seo-yeon pun akhirnya menemukan sebuah fakta mencengangkan. Ia dan si penelepon tadi, sebetulnya berada dalam rumah yang sama, hanya saja waktunyalah yang berbeda. Jika Seo-yeon hidup di tahun 2019, perempuan bernama Oh Young-sook hidup satu dekade sebelumnya. Dengan kata lain, telepon itu merupakan sambungan lintas waktu.

Maka, dari panggilan ke panggilan, kedua wanita itu saling berbagi informasi tentang apa saja yang mereka lalui. Bahwa Seo-yeon adalah seorang yatim yang menyalahkan ibunya atas kematian ayahnya, dan Young-sook adalah yatim piatu yang hidup bersama ibu tirinya yang adalah seorang shaman dan tukang eksorsis. Sampai suatu kali, Seo-yeon mendapat ide menarik. Ia manfaatkan Young-sook yang hidup di masa lalu, untuk mengubah hidupnya. Dengan informasi yang disampaikan oleh Seo-yeon, Young-sook pun menyelamatkan rumah Seo-yeon dari kebakaran yang menewaskan ayahnya.

Tiba-tiba saja, segala sesuatu dalam hidup Seo-yeon masa kini, berubah. Tiada lagi kesuraman. Tiada lagi luka bakar di kakinya. Ayahnya masih hidup, dan ibunya tidak masuk rumah sakit. Hidupnya berubah jadi sebegitu drastisnya, hanya dengan mengubah satu momen di masa lalu.

Kekariban antara kedua wanita itu makin erat. Seo-yeon, yang merasa perlu membalaskan budi baik Young-sook, mencari tahu tentang Oh Young-sook. Yang ia ketemukan adalah fakta mengejutkan. Oh Young-sook akan mati, dibunuh ibu tirinya dalam sebuah ritual eksorsisme. Informasi tentang kapan waktu itu akan berlangsung, disampaikan Seo-yeon kepada Young-sook agar gadis dari masa lalu bisa mencegahnya. Dan, tentu saja. Ia bisa mencegahnya. Young-sook bisa hidup bebas selepas membunuh ibu tirinya.

Namun, satu kejahatan saja rupanya tidak cukup bagi Young-sook. Tidak mudah menyimpan bangkai dalam rumah. Dan, tindakannya, suatu kali, diketahui oleh seorang laki-laki yang mengantarkan stroberi pesanan. Seo-yeon di tahun 2019 mengetahui hal ini kemudian, lantaran laki-laki yang sebelumnya adalah kenalan keluarganya, justru jadi nihil sama sekali dalam ingatan orang tuanya. Hal itu membuatnya mengonfrontasi Young-sook. Sayangnya, apa yang ia lakukan malah membuat Young-sook kesal. Dan, imbasnya adalah makin banyak nyawa yang ia renggut, hingga memberikan pengaruh besar bagi hidup Seo-yeon.

Film ini cukup menegangkan menurut saya, karena ancaman dari Young-sook terasa mengerikan. Orang yang memiliki kuasa atas masa lalu, bisa mengubah masa depan. Saya menunggu-nunggu apa saja hal yang bakal diubah oleh Young-sook dan bagaimana dampaknya bagi kehidupan di tahun 2019. Dari sana, saya memperoleh sebuah pembelajaran. Satu saja hal, sekecil apa pun itu, ternyata bisa punya dampak yang amat besar di kemudian hari. Hidup yang paradoks digambarkan jelas dalam film ini.

Ada satu fakta mengejutkan yang kemudian membuat saya berteriak, “Oh, benar juga! Pantas saja…!” Itu adalah adegan sebelum ibu tiri Young-sook menghunuskan benda tajamnya ke tubuh Young-sook yang terlelap (dan ternyata adalah bantal yang ditutup selimut). Saat itu, ibu tiri Young-sook berkata begini: “Akan ada banyak kematian yang kamu hasilkan di masa depan, maka lebih baik kamu saja yang mati sekarang.” Terbuktilah kemudian. Young-sook yang berkepribadian antisosial akhirnya menjadi pembunuh berantai. Memang tidak boleh menyepelekan mereka yang punya kuasa membaca pertanda dan perjalanan kosmik.

Ini menjadi salah satu film Korea yang cukup berkesan bagi saya setelah Parasite. Idenya segar. Banyak orang yang kesal dengan ending-nya, tapi tidak dengan saya. Saya malah suka akhir dari film ini karena bagi saya, memang sudah sepantasnya akhirnya begitu. Ada konsekuensi yang harus kita terima dari setiap kelakuan kita, apalagi kalau kita lancang bermain-main dengan mengubah sesuatu. Seo-yeon pantas menerima semua itu, sebagai bayaran dari permintaannya yang paling awal, yakni bermain-main dengan waktu.

3 respons untuk ‘‘Call’, Sebagaimana Panggilan yang Tersahuti, Ada Konsekuensi dari Setiap Tindakan Kita

  1. Saya Mba yang termasuk kesal dengan endingnya hehehe bukan karena engga sesuai tapi karena menggantung dan malah bikin penasaran. Ya, namanya juga penonton ya Mba.

    Tapi, bener banget. Awal2 tau film ini juga gak nyangka akan sekejam dan keji ini deh Mba, aku kira ini cuma ya kayak menghadapi konsekuensi biasa aja atas perubahan2 masa lalu yang mereka lakuin dan Young Sook sama Seo Yeon itu temenan eh kok malah jadi sadis hahaha upredict sih kalo buat aku ini tapi emang bagus banget!!

    Suka

  2. ngeliat foto artis ceweknya salah kenal … kirain mau nulis kasus artis yg lg tersandung kasus. judulnya jg pas sih “konsekuensi” Film korea bnyk yg bagus, ceritanya kuat. tp yg genre suspence suka sadis

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.