Jangan Melebihkan Apa yang Tidak Perlu Diper-lebay-kan

“Kalian cocok. Jadian, gih.”

Komentar-komentar demikian bukannya jarang kita temukan. Di celetukan orang-orang yang mengaku shipper sebuah pasangan. Di ketikan-ketikan iseng dalam tayangan atau potret momen ‘uwu’ antara dua orang yang mereka rasa klop. Ada banyak sekali orang yang berkata atau berpotensi berkata begitu.

Menjadi pendukung sebuah pasangan, baik itu official atau bukan, adalah hak segala bangsa. Tiada yang salah. Hipokrit kalau saya bilang itu salah atau buruk, toh, saya sendiri juga jadi shipper dari beberapa pasangan, baik itu dari anime, tokoh drama, tokoh novel, maupun figur publik, termasuk idol serta artis. Dan, kalau memang ada kecocokan di antara kedua orang itu, wajar kalau sampai terlahir macam-macam fantasi di benak para pemirsa, termasuk gambaran bagaimana mereka berakhir jadi sepasang kekasih. Para pemirsa kepingin melihat bagaimana kecocokan-kecocokan itu mampu dipadukan dalam sebuah temali romantis bernama hubungan cinta.

Salah satu ilustrasi yang baru saja terjadi misalnya, melibatkan seorang artis yang mengirimkan truk makanan kepada lawan mainnya di sebuah drama, yang saat itu sedang syuting drama terbarunya. Tingkah manis itu membuat penggemarnya yang bertebaran di negeri ini klepek-klepek. Melahirkan komentar-komentar iseng warganet dalam sebuah postingan di salah satu halaman facebook, yang sebagian besarnya adalah dukungan agar keduanya lekas-lekas jadian. Seolah truk itu dikirimkan karena si artis punya perasaan khusus di luar persahabatan mereka.

Hanya saja, di mata saya, tindakan warganet ini justru norak. Begitu pula dengan apa yang saya lihat dari mayoritas shipper Haibara – Conan, Shiho – Shinichi, Harry – Hermione, bahkan shipper-shipper dari kalangan mana pun yang ngotot sekali agar dua sahabat karib jadi sepasang kekasih saja. Menjodohkan pasangan favorit mereka ke dalam sebuah relasi romantis, bahkan tidak jarang terlibat cekcok di dunia maya hanya untuk menyatakan bahwa sepasang sahabat yang mereka sukai lebih pantas berpacaran, itu lucu.

Kita memang berhak jadi pendukung sebuah pasangan. Tapi, bukan berarti pasangan itu harus atau baru bisa dibilang pasangan kalau berlabuh dalam hubungan pacar-pacaran. Saya suka pasangan IU-Lee Jun Ki, juga Haibara-Conan, serta interaksi manis antara mereka, tapi tidak berharap mereka berakhir jadi sepasang kekasih. Mereka memang pasangan, dan ada cinta, banyak cinta, yang berkelindan di antara mereka, tapi bukan berarti cinta itu harus mewujud dalam sepasang kekasih. Cinta tidak sesempit itu.

Komentar-komentar serupa pun tidak luput dari kehidupan warga jelata seperti kita. Sering, ‘kan, kita temukan dua sahabat yang dicie-ciein. Utamanya persahabatan yang sifatnya hetero alias beda jenis kelamin. Masih ada pula orang yang tidak menerima keberadaan persahabatan antara laki-laki dengan perempuan, karena mereka tidak percaya. Mereka mengandalkan kutipan pasaran yang tidak jelas keakuratannya seperti, ‘tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan, kecuali salah satunya bakal jatuh cinta.‘ Mulailah berdatangan komentar beraroma hasutan kepada salah satu di antara sepasang sahabat tadi, untuk menjadikan si lawan jenis sebagai kekasih, alih-alih cuma sahabat. Seolah persahabatan tiada nilainya dibanding hubungan percintaan.

Hubungan persahabatan yang murni itu ada. Tak terikat gender. Dan, itu juga cinta. Cinta itu sendiri wujudnya beragam, tidak sesempit kasmaran, pacaran, tunangan, lalu menikah. Ada banyak sekali cinta yang bertebaran di antara manusia; di antara kamu dan dia, dia dan dia yang lainnya, kamu dan saya, saya dan dia, dan lain-lain. Cinta seperti jenis energi, memiliki beragam bentuk dan wujud masing-masing, serta tidak cukup untuk dilihat dari kacamata sempit.

Selain Eros, cinta paling umum dalam pengertian romantis yang melibatkan ketertarikan, rasa ingin memiliki, seksualitas, dan gairah, yang bertujuan akhir pada kepuasan diri yang mencintai, dan dilambangkan dengan malaikat kecil yang membawa-bawa busur dan panah ke mana-mana itu, masih ada lagi jenis lainnya. Ada Ludus, tipe cinta main-main yang tidak mengandung unsur komitmen, lebih terkesan kekanak-kanakan, dan full of rayuan gombal. Ada pula Philia, cinta platonis yang mendasarkan persahabatan, kepercayaan, dan ketergantungan di antara dua orang yang bersahabat. Tidak dilandasi nafsu, rasa ingin memiliki, dan sifatnya lebih membebaskan. Atau kebalikannya, Mania, cinta Eros yang ditambahi bubuk ambisi, posesivitas, dan kenekatan, yang kalau sampai cintanya direnggut dan tidak diperoleh, maka seseorang bisa merasa hidupnya tak berharga. Ada lagi cinta dewasa, praktis, dan berhubungan dengan kepentingan jangka panjang, seperti yang datang dari dua orang yang menikah atau yang merencanakan pernikahan, yang diistilahkan dengan Pragma. Dan, bahkan, ada Agape, yang merupakan perwujudan rasa kasih antarsesama manusia atau kepada alam semesta dan Tuhan, yang tidak tergantung pada kekariban, kepemilikan, gairah, seksual, dan lain-lain, melainkan lebih mengedepankan aspek spiritualitas; cinta murni seperti yang dimiliki para sufi.

Bukan hanya relasi pacar-pacaran yang bisa mewadahi cinta sepasang anak manusia. Persahabatan pun mengandung cinta. Cinta yang bebas dan membebaskan, yang sudah tidak kuno lagi, yang tidak lagi dikontaminasi nafsu atau memusingkan status kepemilikan. Tak dibutuhkan kalimat khusus untuk mengukuhkan sebuah hubungan persahabatan. Tidak perlu ada tanggal jadian, dan tidak pula ada tanggal putus, meski manusia adalah makhluk tak tertebak yang bisa saja datang dan pergi atau sayang dan benci begitu saja.

Kalau saja kita mau melihat manusia sebagai satu kesatuan utuh, bukannya terfokus pada batasan gender dan lain-lain, maka mungkin kita bisa meminimalisir pemikiran seperti itu. Tidak semua hubungan harus berakhir jadi sepasang kekasih. Tidak semua cinta harus berlabuh dalam jalinan asmara. Mari berhenti jadi korban pengaruh drama romantis, apalagi yang trope-nya tidak jauh dari friend to lover. Tidak jauh berbeda dengan kisah romantis yang trope-nya para putri dongeng, alias yang memiliki ending utopis semacam ‘Mereka Menikah dan Hidup Bahagia Selamanya, THE END’, kisah friend to lover juga seringkali meracuni otak pembaca, sehingga tanpa sadar, kita jadi sering mengkhayalkan bagaimana sahabat bisa jadi sepasang pacar, dan yang kita tanyakan dalam interaksi dua jiwa yang kita rasa manis tidak jauh-jauh dari, ‘kenapa tidak jadian saja’ dan ‘kapan jadian’ melulu.

Namun, ini juga tidak berarti bahwa sahabat jadi cinta yang macam judul lagu band Zigaz itu mustahil, kok. Ada beberapa pasangan yang pernikahannya awet justru dimulai dari sebuah jalinan persahabatan. Ada sebagian figur publik sebagai contoh, sebut saja Ayudya Bing Slamet, atau Gita Savitri Devi. Dan, ini fakta, bahwa tak akan terwujud sebuah hubungan percintaan yang baik, kalau tiada persahabatan itu pula di dalam sana. Dalam kasus cinta sahabat yang jadi cinta sepasang kekasih atau suami-istri, berarti wujud cinta telah ditambahi beberapa macam unsur lain. Kalau diibaratkan, jenis energinya sudah berubah bentuk jadi sesuatu yang lebih praktis dan berhubungan dengan jangka panjang.

Macam-macam cinta inilah yang menjadi penekanan bahwa saya dan kamu, sekalipun mengaku saling sayang dan punya banyak kecocokan, bahkan ditaburi berbagai macam kebetulan, tidak lantas harus jadi sepasang kekasih. Sudah sewajarnyalah kita berkasih-sayang, toh kita memang diciptakan sebagai sebagian kecil dari karakteristik Pencipta kita Yang Maha Cinta, ‘kan?

Saya pikir, kita berhak, bisa, dan boleh berbagi perhatian, saling memberi hadiah, afeksi, bahkan bilang ‘I Love You‘ dan kawan-kawan antara satu sama lainnya tanpa berakhir dicie-ciein, atau bahkan dianggap homoseksual. Bukankah dulu sahabat Rasul juga saling bertukar kata cinta tanpa dilabeli macam-macam? Dan, kita juga seharusnya bisa melihat orang-orang berbagi kasih-sayang tanpa harus meng-cie-ciein atau melabeli macam-macam. Mari belajar untuk tidak melebih-lebihkan apa yang tidak perlu kita perlebaykan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.