Selamat Tahun Baru

KATANYA, waktu cuma sewujud konstruk yang diada-adakan manusia untuk mengukur perkembangan dan perjalanan. Untuk menandai peranjakan dunia yang bertambah renta, tambah sekarat. Sesuatu yang menkonkretkan apa yang abstrak, tapi datang dari hal yang konkret pula.

Secara keseluruhan, kemarin tak ada bedanya dengan hari ini. Kendati kesibukan manusia saban waktu berubah-ubah dan, enggak ada, akan kutebalkan ini, enggak ada pengulangan, sekalipun apa yang kita jalani adalah rutinitas.

Ajaibnya, dalam konstruk itu, hari ini bisa lebih spesial dari kemarin karena ia adalah hari ini, bukan kemarin, bukan kemarin lusa, atau kemarin tulat. Hari ini spesial karena menjadi hari pertama dalam kalender Gregorian yang paling umum dipakai manusia.

Berhubung saya hidup sebagai manusia umumnya, maka saya pun menerima pergantian tahun ini sebagai sesuatu yang enggak biasa-biasa saja.

Happy New Year. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, enggak ada resolusi yang saya susun khusus untuk mengganti penanggalan setelah 366 hari berlalu. Resolusi saya dari hari ke hari itu sama: mempelajari lebih banyak hal untuk kepuasan pribadi, dan berbahagia atas diri sendiri. Setidaknya, dua hal tadi punya kans yang minim untuk berujung jadi kecewa. Kemudian saya akan selamat dari penyesalan yang menanti di waktu berikutnya.

Berbahagia atas diri sendiri. Kalimat itu sederhana. Mimpi itu enggak muluk-muluk. Namun, untuk mewujudkannya, ada segudang agenda yang menanti dimanifestasikan. Mereka pun cuma sarana. Pelaku dan objek adalah diri sendiri.

Membahagiakan diri sendiri sebetulnya adalah kemutlakan paling wajib di dunia ini. Siapa lagi yang bisa membahagiakanmu kalau bukan kamu? Siapa lagi yang harus kamu bahagiakan kecuali dirimu sendiri? Mau membahagiakan orang lain pun, sewajarnya dimulai dengan dirimu terlebih dahulu.

Agenda untuk membahagiakan diri ini akan dimulai dari: mengenali dan menyembuhkan.

Tadinya, saya berniat untuk menulis tentang kata: maaf. Menyembuhkan luka identik dengan menerima luka. Menerima luka punya korelasi dengan memaafkan. Sebab seringnya, luka-luka yang menggores diri datang melalui ulah tangan orang lain.

Akan tetapi, saya membatalkannya. Topik itu terlalu menelanjangi diri. Subtitusinya adalah sesuatu yang lebih ringan, tapi masih punya koneksi dengan penyembuhan.

Namanya: menuliskan ketenangan.

Kita memiliki momen khusus yang privat dan, meski kadangkala aneh dan enggak bisa diterima akal sehat orang lain, ia sukses mengalirkan ketenangan.

Seperti: alunan permainan biola yang mengalun perlahan.

Seperti: pemadaman listrik, saat di mana orang melepaskan diri dari autisme gadget demi irit batere, lalu tidur, atau mengobrol, atau duduk di beranda lalu merokok, bercerita, melihat bintang.

Seperti: gerimis. Jangan deras-deras, meski yang deras pun enggak apa, tapi gerimis punya hawa yang lain dari tumpahan hujan yang riuh. Gerimis, tapi langit mendung total.

Seperti: berbaring di atas sajadah setelah salat.

Seperti: penerangan samar-samar.

Menulis berarti membayangkan. Membayangkan, dengan caranya sendiri, mampu mengonveksikan apa-apa yang dibayangkan melalui pikiran. Menuliskan ketenangan memiliki tujuan: menggiring ketenangan datang meski cuma sugesti.

Well, belakangan saya merasa cemas akan satu hal.

Kecemasan ini masih merupakan sekuel dari kecemasan lanjutan sindrom seperempat abad, yang, mayoritasnya bersifat material. Utamanya: ancaman bahwa saya harus keluar dari zona nyaman; dari pekerjaan ini, dari kehidupan yang sekarang saya jalani, dari kondisi ekonomi saat ini, karena suatu peristiwa yang bisa saja berlangsung di kemudian hari. Enggak ada yang mampu menerka masa depan, ‘kan? Meski menerka hal buruk di masa depan juga kalau salah arah bisa jadi distorsi kognitif seperti apa yang disampaikan terapis saya.

Suatu hari, mau atau enggak mau, kita pasti bakal tergusur.

Jadi, saya sedang berencana, berniat, berminat, lalu bertekad untuk: menambah keahlian.

Kendalanya ada di: sesuatu yang di awal saya bilang, ‘konstruk yang diada-adakan’ tadi. Lebih spesifik lagi: kesempatan.

Katanya, kesempatan seharusnya tidak dinanti. Kesempatan itu butuh diusahakan untuk ada. Diusahakan untuk tercipta. Kenyataannya, buat saya, kok, sulit sekali. Saya bahkan kagum dengan orang yang mampu menyelesaikan banyak hal, lebih banyak hal dibanding yang bisa saya lakukan, dalam jatah kesempatan yang sama.

Sebagai salah satu anak yang tumbuh dalam didikan yang memaksa kompetitif, saya khatam berkali-kali dengan petuah semacam ini:

“Kamu sama dia, apa bedanya? Kalian sama-sama makan nasi. Sama-sama berak tahi. Kenapa dia bisa sementara kamu enggak bisa?”

Belakangan, saya baru sadar kalau pernyataan semacam ini enggak ada bedanya dengan pernyataan: “Di luar sana masih banyak orang yang lebih menderita dibanding kamu.” Sama-sama menggenjot, tapi dengan menyalahkan kekalahan. Sama-sama memotivasi, tapi menciptakan ‘bayangan’ bahwa kalau dirimu enggak bisa mencapai sesuatu, berarti kamulah yang payah.

Saya menyadari itu. Namun, kesadaran itu enggak cukup untuk meniadakan pemikiran yang kadung terbiasa untuk muncul:

“Kamu sama dia sama-sama diberi waktu 24 jam, kok dia bisa lebih produktif dibanding kamu?”

Saya pun berakhir mempertanyakan, apa saja yang saya lakukan sampai saya ketinggalan dibanding banyak orang. Berakhir pada penyesalan. Lagi-lagi.

Pemikiran saya berkelana lebih jauh, dan saya menangkap kalau pernyataan “Enggak ada usaha yang mengkhianati hasil” pun bermakna demikian. Diniatkan agar kita senantiasa berupaya sampai titik terakhir dan pantang menyerah. Akan tetapi, tidakkah itu juga menyatakan bahwa jika kita gagal mencapai hasil, sebabnya adalah usaha kita yang enggak sungguh-sungguh?

Enggak tahu. Enggak tahu. Barangkali itu cuma pemikiran saya yang salah jalan karena dipenuhi distorsi kognitif.

Baiklah. Mari kembali: menuliskan ketenangan.

Seperti: ketiadaan manusia di sekeliling.

Seperti: meditasi dalam keheningan.

Seperti: malam.

Waktu memang hanyalah konstruk. Namun, ada bagian gelap dari hari usai Mentari tenggelam dan memberi kesempatan bagi kita untuk beristirahat. Kita menyebutnya: malam.

Jadi, selamat malam.

Satu respons untuk “Selamat Tahun Baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.