Kecerdasan Spiritual dari Kacamata Awam

SUDAH 2021, dan barangkali, kita sudah bolak-balik menamatkan teori tentang 8 aspek kecerdasan manusia alias kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang dicetuskan oleh Howard Gardner. Mungkin malah ada yang sampai mabuk dicekoki info yang sama terus-menerus.

Akan tetapi, beberapa waktu yang lalu saya menemukan pembaharuan. Atau mungkin saya yang kudet dan baru tahu kemarin-kemarin. Selama ini, saya cuma tahu delapan model kecerdasan dari Gardner, ahli psikologi itu. Rupanya ada tambahan satu lagi. Jadi, kecerdasan manusia dibedah menjadi kecerdasan linguistik, kecerdasan logika matematis, kinestetik, spasial, musikal, naturalis, intrapersonal, interpersonal, dan yang terakhir: kecerdasan eksistensial. Iya, yang terakhir itu konon baru ditambahkan. Memberi arti bahwa proses manusia dalam memahami hakikat hidupnya juga merupakan jenis kecerdasan.

Di sisi lain, kita tahu ada pula yang membagi inteligensi manusia jadi tiga bagian, yaitu IQ (kecerdasan intelektual), EQ (kecerdasan emosional), serta SQ (kecerdasan spiritual). Jika IQ adalah parameter kecerdasan kognitif (berpikir), dan EQ adalah parameter kemampuan pengendalian rasa (emosi), maka kecerdasan spiritual (SQ) dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mentranspose dua aspek kecerdasan lain (IQ dan EQ) menuju kebijaksanaan dan pemahaman yang lebih mendalam. SQ mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri, yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik sebuah kenyataan atau kejadian tertentu.

Belakangan muncullah pemekaran atau pengembangan dari kecerdasan spiritual dalam pemaknaan yang lebih luas, yang dinamakan dengan Trancendental Quotient (TQ) alias Kecerdasan Transendental. TQ meliputi kemampuan manusia memaknai hidup dan kehidupannya, dalam perspektif keTuhanan. Jadi, TQ bisa juga disebut sebagai kecerdasan ruhaniah/ ilahiyah. Dengan kata lain, TQ 11:12 dengan kecerdasan eksistensial di atas.

Meski bukan seorang spiritualis, saya berminat untuk lebih mengulas SQ secara umum, enggak terbatas pada TQ, berdasarkan apa yang saya rangkum dan saya simpulkan.

Kecerdasan spiritual (SQ) yang sangat terkait dengan persoalan makna dan nilai ini pertama kali digagas dan ditemukan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. Zohar dan Marshall dalam Siswanto (2012), menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual menurut terminologi berarti kecerdasan pokok yang dengannya dapat memecahkan masalah-masalah makna dan nilai, menempatkan tindakan atau suatu jalan hidup dalam konteks yang lebih luas, kaya, dan bermakna¹. Zohar sendiri menganggap kecerdasan spiritual sebagai bentuk kecerdasan tertinggi, yang memadukan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Sebab, SQ erat kaitannya dengan awareness alias kesadaran orang untuk bisa memaknai segala sesuatu, dan merupakan jalan untuk bisa merasakan kebahagiaan.²

Dari sini kita bisa menyimpulkan kalau spiritual enggak melulu soal agama. Spiritual lebih condong pada bagaimana kita mendapatkan dan mentransfer ketenangan. Dan, perjalanan spiritual masing-masing individu itu berbeda-beda. Namun, bukan berarti orang spiritualis menolak dan menentang agama yang cenderung dogmatis.

Menurut saya, agama adalah salah satu wadah dan jalur bagi seseorang untuk menemui spiritualitas mereka. Meski begitu, spiritualitas diperoleh secara personal, bukan kelompok, melalui perjalanan hidup masing-masing individu. Ada yang melaluinya lewat agama yang dianut sejak lahir, ada pula yang melaluinya dari hal-hal lain, barulah kemudian menemukan agama yang mereka rasa klop. Atau apa yang biasa kita sebut ‘hidayah’, ‘pencerahan’, dan kawan-kawannya. Ketenangan dan spiritualitas ini bisa dicari lewat ibadah, meditasi, refleksi, afeksi, introspeksi, atau filsafat, khususnya altruisme.

Ada pula yang beragama tapi enggak berusaha meningkatkan kecerdasan spiritual mereka, sehingga jadilah orang-orang yang cuma tahu dogma, tapi mengenyampingkan keseimbangan antara jiwa mereka dengan kehidupan itu sendiri. Beribadah cuma karena itu rutinitas. Bangga pula. Otak jadi enggak dipakai buat memilih dan mencoba memahami jalan spiritual sendiri, karena sudah berpuas diri dengan apa yang diterima. Menjadikan tubuh kita enggak ada bedanya dengan robot yang disuruh nganu ya nganu. (Jangan khawatir, saya sedang ngomongin diri sendiri, kok.)

Ada lagi yang justru mengaku spiritualis, dan dari sana memilih untuk melepaskan diri dari agama, tapi sambil menghina-dina orang yang beragama karena menganggap semua orang beragama itu seperti kerbau dicucuk hidungnya. (Jangan khawatir lagi, ini juga masih ngomongin diri sendiri.)

Yah, di mata saya, golongan agamis yang taklid tapi bangga merendahkan orang lain dengan golongan mengaku ateis dan bangga merendahkan orang lain itu sama saja.

Selain itu, spiritual juga enggak selamanya berhubungan dengan hal klenik, mistis, sihir, dan lain-lain. Ada orang-orang yang ketika mendengar frasa ‘Guru Spiritual’ malah mencibir, karena menganggap spiritualitas sama seperti urusan klenik. Padahal, perkara dunia dan kehidupan lain lebih cocok dinamakan supranatural (alam atas) yang masuk dalam ranah metafisika (melampaui fisis).

Walau begitu, orang spiritualis pun semestinya memiliki pemahaman kalau semesta ini enggak cuma dihuni oleh dirinya sendiri, melainkan juga ratusan makhluk lain, baik yang tampak maupun enggak kasatmata tapi mereka percaya ada. Beberapa kalangan supranaturalis juga bisa membawa mereka ke dalam tahap spiritualis, kalau saja enggak terbuai dalam hasrat ini-itu. Pengetahuan mereka akan kehidupan lain bisa saja mendorong mereka buat enggak berjalan jumawa di muka bumi yang faktanya cuma setitik debu biru yang melayang di tengah mahahidup. Membuat mereka lebih menghargai satu sama lain dalam aspek apa pun, bahkan kepada tumbuhan yang di mata awam kelihatan enggak bernyawa sekalipun. Misalnya saja, Nabi Musa a.s dan Firaun, atau para tukang sihir dan para wali yang dibekali karomah. Kedua pihak sama-sama memiliki kemampuan supranatural, tapi mereka ada di jalur yang berbeda.

Percaya atau enggak, saya belajar soal ini dari serial Supernova-nya Dee Lestari. Ini memang fiksi, tapi kita bisa lihat tokoh-tokohnya datang dari latar belakang yang berbeda. Ferre si eksekutif merangkap pujangga bucin, Diva si peragawati dan pelacur dengan kecerdasan tinggi, Bodhi si tukang tato Buddhis, Rana istri yang menyelingkuhi suaminya, Firas dan Zarah yang hidup dalam lingkungan Islamis, juga Alfa yang datang dari kepercayaan lokal masyarakat Toba—Malim. Dari arah yang berbeda-beda, mereka datang dan mengerucutkan diri dalam kesadaran spiritual yang sama. Makanya para peretas diistilahkan sebagai kaum yang sadar atau terbangun. Mereka menyadari bahwa manusia adalah satu kesatuan. Kalau melihatnya dari sudut pandang seorang Muslim, kita bisa menarik benang konklusi bahwa kita semua datang dari sumber yang sama; Zat yang sama yang meniupkan ruh-Nya pada kehidupan kita.

Spiritualitas adalah cara hidup dalam memperoleh ketenangan. Proses pendewasaan dan pembijaksanaan pribadi yang efeknya bisa kita lihat dalam wujud sifat welas asih, obyektif, dan lapang dada. Seperti para filsuf di masa lampau, para sufi, para wali, orang-orang zuhud, orang-orang stoic, juga sebagian pertapa, biarawan, atau segelintir agamawan. Siapa pun yang mampu belajar dari Hidup, menghargai kehidupan, dan mampu menerima kenyataan sepahit apa pun tanpa menyalahkan siapa pun, dan dengan begitu menjadikan jiwa mereka seluas dan seteduh samudera, merekalah para spiritualis sejati.


¹ Siswanto, Wahyudi. 2012. Membentuk Kecerdasan Spiritual Anak. Jakarta. Amzah. ( hal. 10)
² Azzet, Akhmad Muhaimin. 2010. Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Bagi Anak. Yogyakarta. Kata Hati. (hal. 31)

2 respons untuk ‘Kecerdasan Spiritual dari Kacamata Awam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.