Menumpas Prokrastinasi: Fokus pada Tujuan, Blur Sisanya

DI AWAL JANUARI, saya sempat menyusun tantangan untuk diri sendiri dalam menulis fiksi selama sebulan penuh. Saya pikir saya bakal mampu merebut kembali abilitas semasa kuliah yang telah hilang seiring saya menanggalkan status mahasiswi, yaitu multitasking. Dulu, di samping bekerja pagi sampai sore dan kuliah dari sore sampai malam, saya masih bisa memanfaatkan sisa waktu untuk produktif, aktif ber-roleplay, bahkan menjadi ‘satpam’ di sana yang notebene pekerjaannya adalah memelototi laman akademi semampu yang saya bisa sampai titik kantuk terakhir. Lol.

Kenyataannya, kemampuan itu memang sudah lenyap. Rupanya, rencana untuk disiplin menulis sehari satu fiksi, gagal. Dalam perencanaan semula yang menargetkan tiga puluh satu karya untuk tiga puluh satu hari, ada setengah bulan yang harus bolong dengan segudang alasan. Entah karena kesibukan, rasa malas, atau alih fokus.

Meski begitu, saya justru mendapatkan pengetahuan baru. Bahwa sesungguhnya, yang saya lakukan dahulu bukanlah multitasking, melainkan task altertaning. Dalam task alternating, saya bisa melakukan banyak hal, tapi enggak dengan mencoba segalanya sekaligus, melainkan memilih melakukannya dalam fase-fase. Saya enggak membelah fokus untuk melakukan semua hal dalam sekali waktu, melainkan fokus pada masing-masing hal yang berbeda di waktu yang juga berbeda.

Dan, itulah pula yang seharusnya saya praktikkan, yang sayangnya enggak. Entah sejak kapan, saya jadi gampang bosan dan gampang terdistraksi. Belum lagi ditambah dengan kebiasaan buruk yang hadir entah sejak kapan, yaitu prokrastinasi, musuh dari konsistensi dan fokus ini.

Oh, the mighty procrastination.

Siapa yang enggak tahu makhluk macam apa dia ini, sih? Prokrastinasi bisa dimaknai sebagai tindakan mengganti tugas berkepentingan tinggi dengan tugas berkepentingan rendah, sehingga tugas penting pun tertunda. Tindakan ini diambil seseorang dengan kesadaran penuh bahwa ada hal lain yang lebih mendesak yang seharusnya mereka lakukan, tetapi mereka tetap memilih untuk mengabaikannya dan mengambil atau melakukan hal lain.

Fakta psikologi di balik kebiasaan buruk seperti menunda-nunda maupun sering terlambat erat kaitannya dengan kondisi psikis seseorang. Rasa enggan itu berasal dari kondisi psikologis yang dialami, yang mendorong untuk menghindari tugas-tugas yang seharusnya dikerjakan. Psikolog sering menyebut perilaku ini sebagai mekanisme mencakup kecemasan yang berhubungan dengan memulai atau menyelesaikan tugas atau keputusan apa pun. Secara ilmiah, amygdala (bagian otak temporal lobe (samping) yang memroses emosi dan mengontrol motivasi manusia) bentuknya lebih besar pada seorang penunda.

Sepertinya prokrastinasi merupakan musuh yang enggak bisa dibenci. Kita tahu bahwa prokrastinasi adalah tindakan buruk, tetapi kita tetap saja mau mempertahankannya. Kenapa begitu? Karena enak! Lmao. Betapa kita menikmati hidup dalam irama yang santuy.

Enggak terkecuali juga diri saya.

Ada waktu luang dari hari-hari selama Januari kemarin yang saya manfaatkan untuk scrolling beranda media sosial alih-alih berpikir keras buat menggali ide lalu menulis, dengan alasan, ‘Ah, nulis mah bisa nanti-nanti. Hari ini masih panjang, masih ada sisa beberapa jam. Saya masih bisa menulis terus posting nanti mendekati tengah malam.’ Namun, ujungnya saya malah melewatkan hari itu karena capek atau ketiduran lantaran efek obat yang saya konsumsi. Esok harinya, saya terbangun dengan merutuk dan menyesali hari yang sudah berlalu. Nyatanya, penyesalan itu pun enggak cukup masif untuk membuat saya enggak mengulanginya lagi. HAHAHA. Lima belas hari. HAHAHA. ㅠㅠ

Menurut Joseph Ferrari, Ph.D, profesor psikologi dari De Paul University, Chicago, ada 5 kebohongan utama yang dipercayai prokrastinator untuk membenarkan tindakan dalam menunda pekerjaan. Di antaranya:

  • Merasa masih banyak waktu untuk mengerjakan tugas. Nah, ini senasib dengan apa yang sering saya percayai. Seringkali saya merasa melakukan suatu hal bisa nanti-nanti. Apalagi, kalau deadline masih jauh.
  • Merasa hanya sedikit waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dengan kata lain, menganggap remeh tugas yang kita punyai. ‘Ah, itu kan kalau diselesaiin cuma lima belas menit, kuy, santuy dulu.’
  • Merasa akan lebih semangat jika mengerjakan esok hari, minggu depan, bulan depan, atau waktu tertentu. Biasanya, para deadliners seperti ini. Merasa kalau tugas akan lebih sempurna kalau dikerjakan di saat kita benar-benar mau mengerjakannya. Pengerjaan tugas enggak akan optimal kalau kita enggak berada dalam mood yang baik, jadi, ya… mari menunggu mood. Lmao. Sejujurnya saya bukan deadliner, tapi belakangan saya merasa saya mulai masuk kategori begini. Padahal sebelumnya, pada momen-momen jelang deadline malah segala urusan yang perlu saya selesaikan harus sudah kelar.

I won’t blame my mental illness, but, adalah nyata bahwa ia juga punya pengaruh pada semangat saya yang lekas melindap. Konon, rendahnya level hormon dopamine dan hormon serotonin juga memengaruhi seseorang untuk bersikap menunda-nunda. Dopamine mampu memotivasi untuk bertindak mencapai tujuan dan memberikan efek kejut menyenangkan ketika tujuan tadi tercapai. Serotonin mengalir ketika seseorang merasa berguna dan penting. Rendahnya level serotonin dapat memengaruhi rasa kesepian dan depresi yang menjangkiti mental. Nah, buat saya yang moodswing adalah makanan sehari-hari, fokus pada tujuan seperti sudah jadi dongeng tersendiri.

“Kamu bisa jadi lebih baik hari ini, tetapi kamu memilih esok hari.”

—Marcus Aurelius

Pada awal menulis ini, saya sempat teringat akan sebuah buku berjudul The Procrastination Equation. Di dalam sana, psikolog Piers Steel, Ph.D membahas pentingnya motivasi, yaitu tujuan yang membuat manusia bersemangat mengerjakan sesuatu, dalam 4 spektrum pertimbangan psikologi manusia.

Menurut beliau, poin penting yang memengaruhi motivasi manusia dalam melakukan sesuatu serta kecenderungan menunda untuk melakukannya, di antaranya expectancy, value, impulsiveness, dan delay. Expectancy (E) adalah poin dari seberapa besar harapan sukses seseorang dalam mengerjakan sesuatu, serta seberapa besar hadiah atau hasil yang akan didapatkan. Jadi, reward and punishment juga punya andil di sini. Value (V) merupakan poin dari seberapa besar seseorang menikmati suatu pekerjaan atau aktivitas tertentu, juga seberapa besar kita akan menikmati hadiah atau hasil yang akan didapatkan setelah menyelesaikannya. Impulsiveness (I) ialah kecenderungan manusia untuk teralihkan dari fokus. Sedangkan Delay (D) adalah kecenderungan seseorang (pada dasarnya) untuk menunda.

Dua faktor pertama punya hubungan positif terhadap motivasi, sedangkan dua faktor sisanya punya relasi yang terbalik. Semakin tinggi value dan expectancy, maka semakin tinggi motivasi kita (untuk enggak menunda). Sementara itu, semakin rendah impulsiveness dan delay, justru semakin masiflah dorongan dan kebiasaan kita untuk menunda.

Nah, bicara soal delay, sisi manusia itu sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan atau tugas terbelah jadi dua, yaitu procrastinators vs doers. Tipe doers (bukan penunda) cenderung punya level conscientiousness dalam Big Five Personalities yang tinggi. Conscientiousness itu sendiri merupakan faktor pembentuk kepribadian yang mencakup kecermatan, ketelitian, dan keteguhan. Biasanya, tipe doers menyukai struktur dan jadwal dalam kehidupan mereka untuk menjaga irama kehidupan mereka tetap berada dalam kedisiplinan.

Dalam tes Big Five Personalities yang saya ikuti beberapa bulan lalu, level Concientiousness saya cukup tinggi. Bahkan, Concientiousness saya sebetulnya merupakan poin paling tinggi. Artinya, pada dasarnya saya tipe manusia yang menyukai rutinitas dan jadwal ketat. Dan, saya sendiri juga menyadari itu, bahkan sejak dahulu, jauh sebelum saya kenal MBTI yang mengklasifikasikan diri saya ke dalam golongan Judgers. Anehnya, hal ini enggak serta-merta mendorong saya buat menuntaskan apa yang seharusnya saya selesaikan selama sebulan kemarin. Berarti, poin D sendiri enggak cukup kuat untuk memengaruhi motivasi dan kebiasaan menunda. Masih ada faktor lain yang punya potensi jadi momok di sini.

Maka, saya coba menyusun list-nya untuk mengklasifikasikan alasan lain yang membuat saya gemar menunda.

  1. Bingung mau melakukan apa (I +1): √ (Ada kalanya saya malas menggali udara demi ide untuk menulis. Dan seringnya, ini yang menjadi sumber kemalasan saya untuk mengerjakan tulisan tadi)
  2. Terlalu banyak hal untuk dikerjakan (I +1 dan E -1) √ (Saya cukup percaya kedua faktor ini sama keras. Selain karena saya bingung melakukan apa, saya enggak punya reward yang saya sediakan untuk diri sendiri ‘kalau’ berhasil menyelesaikan fiksi selama sebulan penuh.)
  3. Prioritas tidak jelas (V -1) √ (Buktinya, saya lebih memilih scrolling timeline media sosial ketimbang menulis)
  4. Kurang percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki (E -1) √ (Ini sudah jelas. Kadangkala saya merasa mending tidak usah menulis, toh hasilnya juga jele, enggak akan sebagus yang saya harapkan, jadi buat apa?)
  5. Pekerjaannya membosankan (V -1) × (Menulis enggak membosankan, tapi mengguliri media sosial lebih seru ketimbang menulis. Hahaha.)
  6. Pekerjaannya terlalu sulit (E -1 dan V -1) × (Menulis itu sendiri sebenernya enggak sulit, cuma idealisme kita yang menuntut kita menyulitkan diri)
  7. Pekerjaan/proyeknya terlalu besar/menyita waktu lama (D +1) √ (Proses menggali ide, menulis, dan menyunting tulisan jauh lebih lama dibandingkan proses membacanya)
  8. Hasil/ hadiahnya lama didapatkannya (D +1) √ (Enggak ada hadiah kecuali kepuasan pribadi)
  9. Takut gagal (E -1) √ (Perasaan takut dikecewakan karya sendiri juga ada, kok … huhu)
  10. Takut dihakimi/ dinilai orang lain (E -1) × (Sebagian besar tulisan saya hasilkan untuk diri sendiri, jadi saya enggak peduli pada penilaian orang lain)
  11. Tidak suka hasil dari pekerjaan itu/ tidak mendukung idenya (V -1) √ (Beberapa tulisan yang pernah saya lahirkan enggak benar-benar menunjukkan apa yang mau saya tuliskan semula)
  12. Tidak yakin dapat pengakuan/ penghargaan setelah menyelesaikannya (E -1) √ (Lebih menjurus pada rasa enggak percaya bahwa tulisan saya bakal memuaskan)
  13. Suka terdistraksi (I +1) dan sering diganggu/ terganggu (I +1) √ (Inilah yang terkuat)
  14. Tujuan terlalu abstrak/ mengawang/ jauh (D +1) √ (Kepuasan sendiri memang abstrak dan semakin saya belajar teknik kepenulisan blablabla, ia semakin jauh dari kemampuan saya saat ini)
  15. Ada dorongan impuls diri yang kuat untuk tidak mengerjakannya/malas (I +1) √ (Ini juga yang paling kuat)

Total Skala yang Saya Peroleh:

V: -2
E: -4
D: 3
I: 4

Jadi, dalam konteks ini Value saya sebenarnya lumayan. Setidaknya enggak menembus angka minus tiga. Hanya saja butuh usaha ekstra untuk meningkatkan unsur Expectancy dan mengurangi Impulsiveness dan/ atau juga Delay.

Sebagai bantuan, berikut saya sertakan poster untuk meneruskan fokus setelah sukses mengidentifikasi prokrastiner macam apa diri kita.

Source (kalau gambarnya pecah, boleh langsung menuju tautan ini)

Terkadang kita merasa cukup dengan mendengar motivasi-motivasi kesuksesan buat membangun semangat dalam beraktivitas dan mencapai tujuan dalam kehidupan kita. Nyatanya, motivasi saja enggak cukup. Sifatnya hanya sebagai bahan bakar sistem semata. Kita juga perlu mematenkan niat dengan membuat jadwal.

Lalu, gimana dengan saya yang sudah menyusun prompt menulis harian tapi tetap gagal dipenuhi, dong? Ini sama juga kayak orang yang sering menonton dan membaca motivasi tentang produktivitas hidup, tapi masih sering rebahan. Membuat jadwal pun enggak cukup, ini kesaksian saya untuk sebulan kemarin. Realitanya, memang jarang ada hal besar yang bisa diwujudkan hanya dalam satu malam, apalagi yang berhubungan dengan pencapaian. Enggak ada kesuksesan yang terjadi begitu saja. Semuanya pasti melalui sebuah proses. Mengubah perilaku dan kebiasaan butuh waktu dan usaha. Kita juga perlu sekuat tenaga berdisiplin dengan jadwal yang sudah disusun itu. Kuncinya: fokus, konsisten, istiqamah. Ini yang sulit buat saya. Karena, sebagaimana yang saya bilang tadi, kendala paling kuat saya dalam prokras ada pada spektrum E dan I.

Ada beberapa poin yang sudah saya susun demi meneguhkan fokus dalam hal apa pun, yaitu:

  • Menentukan skala prioritas, mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu dengan deadline terdekat. Fakta bahwa saya tetap memilih untuk menunda-nunda melakukan sesuatu walau tahu urgensi dalam hal tersebut bersifat tinggi, menunjukkan bahwa saya lebih tertarik melakukan hal lain.
  • Menentukan durasi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan.
  • Menyadari tujuan dan berpikir realistis.
  • Mengapresiasi diri sendiri untuk memperkuat motivasi.
  • Yang harus dilakukan dalam meneguhkan fokus, ya fokus. Fokus dengan tujuan. Fokus dengan jadwal. Fokus dengan kerangka. Fokus dengan sistem. Fokus untuk bersikap masa bodoh segala macam distraksi. Meminjam kuwot Pinterest, ‘focus on our goals and blur everything else‘.

Ada sebuah konsep bernama The Compound Effect yang menyatakan bahwa segala hal besar dalam hidup datang dari akumulasi hal-hal kecil yang dilakukan secara terus menerus. ‘Sistem mengalahkan Motivasi’, demikian jargonnya. Sistem itu sendiri kita terjemahkan sebagai hal yang bakal kita terapkan dalam kehidupan kita secara konsisten, sekalipun realitanya enggak 100%. Konsep ini percaya, setiap orang punya otot disiplin, hanya saja kapasitasnya berbeda-beda. Ada yang lemah, ada yang kuat.

Namun, kabar baiknya, selayaknya otot tubuh, otot kedisiplinan juga bisa dilatih. Tubuh dan otak kita mencintai konsistensi mungkin lebih dari yang kita duga. Ya …, setidaknya dengan keterbiasaan, bakal muncul perasaan bersalah kalau kita enggak melakukan apa yang sudah terjadwalkan. Dengan pola ini, saya coba menarik konklusi lanjutan bahwa misi sebulan kemarin gagal karena saya enggak membiasakan diri menulis sebelum-sebelumnya itu, dan lebih terbiasa untuk scrolling timeline. Lmao.

Jadi, demikianlah uneg-uneg saya dan ulasan seputar tantangan menulis untuk diri sendiri yang saya canangkan Januari kemarin. Tadinya mau saya buat pos ini sekaligus untuk me-review fiksi paling gampang, paling sulit, dan paling saya sukai dari sana. Namun, batal. Tulisan ini bakal sangat panjang, dan bisa-bisa kehilangan fokus pembahasannya sendiri.

2 respons untuk ‘Menumpas Prokrastinasi: Fokus pada Tujuan, Blur Sisanya

  1. Tulisannya bagus sekali kak, aku baru tau kalau ternyata ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi manusia. Karena aku sejujurnya tipe deadliners, aku jadi mulai paham beberapa hal atau faktor yang perlu dipertimbangkan lagi dalam mengubah habit itu biar gak melulu jadi procastinator, wkwk. Aku setuju sih, salah satu hal yang membuat kita menunda aktivitas high priority adalah scrolling media sosial. Buatku, itu juga godaan terbesarnya. Jadi, membesarkan value dan self reward bisa menjadi salah satu cara untuk mengubah kebiasaan tersebut ya. Thanks for Sharing ^x^

    Salam kenal,
    Atta

    Suka

  2. Beberapa waktu yang lalu ngeliat ada orang yang share tentang prokras dan hubungannya hal-hal tentang mental. Di situ semua pertanyaanku terjawab: kenapa aku nggak bisa rajin kayak dulu? Membaca postingan ini, baru tau ternyata penjelasannya jauh lebih panjang lagi wakaka

    Btw gak apa kalau ada bolong selama 15 hari. Ingat aja sisi positifnya: ada 15 hari lain yang udah memenuhi target~ next bakal lebih baik lagi~

    Tapi sih biar makin nggak patah hati: yang penting bukan cuma kuantitas, tapi kualitas. Kerjaan apa pun asal memuaskan adalah yang terbaik 💪

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.