Kontemplasi Hujan dan Badai

SEBAGAIMANA kebanyakan manusia melankolis bin emo lainnya, saya juga suka hujan. Saya suka pemandangan awan mendung menutupi angkasa sepenuhnya dan menumpahkan derai presipitasinya dari sana. Di area kota saya yang curah hujannya bisa dikatakan seuprit, pemandangan hujan lebat cukup langka, sehingga tidak pernah tidak menuai rasa rindu setiap tahunnya.

Selama tiga hari libur Paskah dan akhir pekan beberapa waktu lalu, hujan tumpah tanpa berhenti. Sebelumnya, tepatnya di hari Kamis, saya sempat membaca berita lokal bahwa di area Kolbano sempat ada gelombang tinggi. Kala itu di tempat saya langit memang sempat muram, tapi tidak sampai hujan deras, hanya gerimis kecil. Begitu melihat potret suasana di Kolbano sana, saya langsung menerka bakal ada badai datang. Langit di sana tampak terlalu gelap.

Ta-da. Jumat pun datang membawa hujannya. Muram tidak bertepi menyelimuti langit. Suram tidak bertepi terungkit dari perasaan saya. Seharusnya saya menyambut fenomena ini dengan sukacita, persis menjemput kedatangan kawan lama. Apalah daya saya yang lagi tidak bersemangat dua bulan terakhir ini ketika dicekoki udara dingin tidak berujung. Alih-alih semangat, malah kian senewen.

Di hari Jumat, saya masih sempat mendapatkan ketenangan kendati rasanya pengin rebahan saja entah sampai kapan. Bahkan saya masih sempat hujan-hujanan menemani keponakan saya yang memang sepertinya bertekad buat menyodorkan dirinya selalu setiap hujan bertandang. Konsekuensinya, saya diterjang meriang dan karena itu, mood saya makin labil seperti listrik kota kami setiap cuaca buruk begini. Saya lewati sisa waktu yang ada untuk rebahan di kamar persis pesakitan yang tinggal menunggu ajal.

Di hari Sabtu, hujan masih belum memberi tanda-tanda mau permisi. Saya mendapat kabar dari grup obrolan kalau bakalan ada mati listrik dari pukul 15:00 WITA sampai waktu yang tidak ditentukan, dan ini merupakan pemadaman total. Dari Kupang sebagai daratan Timor paling Barat, sampai Atambua, daratan Timor paling timur yang berbatasan dengan negeri tetangga, akan gelap. Saya sudah menduga-duga bakal seperti apa penampakan pulau ini kalau dipotret dari angkasa pada malam hari. Untunglah tidak sampai terwujud, sebab sebelum magrib, listrik kembali menyala.

Di hari Minggu, saya pikir hujan bakalan hengkang. Yang ada ia malah kian deras. Badai yang sempat saya perkirakan benar-benar datang. Jalanan dan lorong gang tergenang air. Pandangan sejauh radius lima meter buram, terhalang kabut dan tirai hujan.

Seharusnya saya senang karena ini hari-hari yang saya rindukan. Kenyataannya saya malah cuma bisa memandang lewat jendela, sambil bergelung dengan selimut dan sweter tebal, hidung meler, wajah merah, beserta rasa kantuk dan lelah tidak berkesudahan. Kakak ipar saya yang sempat keluar demi pengajian rutin memberi kesaksian kalau di beberapa jalan protokol tergenang banjir sampai mobil yang mereka sewa harus memutar lagi. Lampu mati sejak pagi, sempat menyala pukul dua belas selama setengah jam, lalu mati lagi, menyala lagi, mati lagi pukul setengah lima, menyala lagi tidak sampai lima belas menit berikutnya—ah, ya… saya segabut ini sampai menghitung berapa kali pemadaman.

Dalam rumah kami, berbagai ember dan baskom bergelimpangan di beberapa titik. Kebocoran. Termasuk di kamar kami, yang membuat kami pusing menata ulang posisi furnitur di dalam sana demi menghindarkan kasur dari rembesan yang menjatuhkan air dari plafon.

Ada perbedaan budaya mengenai hunian, yang sudah lama kepingin saya bahas, antara orang Kupang dengan orang di luaran, termasuk teman-teman di Indonesia Barat sana. Rumah di sini, mayoritasnya beratapkan lapisan seng, bukan genteng. Bayangkan saja betapa riuhnya setiap kali derai hujan mengetuk atap, apalagi jika rumah itu tidak memiliki plafon dan beratap rendah, seperti bagian dapur rumah orang tua saya. Hal ini sempat membangkitkan rasa heran dari keluarga kakak ipar saya dari Jakarta yang sempat berkunjung 2015 silam.

“Kalau di Jakarta, rumah dengan seng biasanya dibilang kandang ayam,” komentar ibu kakak ipar saya, tanpa bermaksud menghina budaya kami. Murni terpukau dengan perbedaan budaya ini. Kami malah ngakak-ngakak mendengarnya.

“Kalau di sini, rumah dengan genteng itu rumah pejabat,” timpal ibu saya, masih sambil ngakak.

Memang, sih. Kebanyakan rumah dengan genteng itu rumah gedongan, milik orang Jawa. Orang Jawa yang datang kemari, kalau bukan untuk jualan, berarti orang berada yang punya jabatan penting. Setidaknya, itu dulu. Dan, rumah orang berada kebanyakan beratapkan genteng. Di kompleks kami, satu-satunya rumah beratapkan genteng hanyalah rumah mantan bos saya—dulu saya bekerja di butik beliau demi tabungan kuliah—yang orang Sunda, sedang suaminya adalah arsitek berdarah Jawa.

Masih hari Minggu, dengan mata nyalang ke mana-mana mencari titik-titik kebocoran ekstra yang perlu dibereskan. Menjelang asar, lampu yang sempat menyala ikut menyertai jedanya hujan sementara. Saya menghitung ada kurang lebih dua puluh menit, sebelum pemadaman dan hujan kembali hadir. Dalam dua puluh menit itu angin kencang menghantam udara. Bahkan saat hujannya datang, deru anginnya tidak berhenti juga. Benar-benar badai, ternyata. Saya masih bertahan di depan jendela, kali ini sambil menyesap secangkir teh kamomil hangat yang rasanya makin pahit di lidah dan pahit di perasaan yang lagi tidak enak-enaknya. Berusaha menjejali benak dengan berbagai macam pemikiran supaya tidak diisi hal-hal negatif, saya mengamati pepohonan yang diporakporandakan angin.

Ada sebatang pohon kelapa yang kami tanam di depan halaman, ketika saya masih SD. Kini ia sudah tumbuh setinggi empat meter. Bisa dibilang, ialah pohon dengan batang termenjulang di depan rumah saya. Dibandingkan pohon srikaya atau kesambi yang usianya lebih tua tapi batangnya bantet (walau si kesambi punya dedaunan yang lebih rimbun sehingga terlihat hampir sama tinggi dengan si kelapa), ia lah yang paling mencuat. Setiap diterpa angin kencang selagi badai, batangnya melengkung jauh sampai rasanya bakal patah. Kalau tumbang, sasarannya adalah rumah kami atau rumah bibi saya. Untungnya, ia tidak patah. Setidaknya waktu itu. Ia tetap tabah dengan posisinya. Mungkin sedari awal ia sudah tahu, sebagai sosok di titik paling puncak, angin yang menghadangnya bakal lebih agresif. Risikonya untuk jatuh jauh lebih besar.

Sebagai seseorang yang percaya bahwa setiap hal, bahkan benda yang dianggap mati sekalipun, punya ‘nyawa’nya sendiri (buat saya, nyawa tidak melulu soal ruh atau sel-sel tubuh), tumbuhan pun saya anggap ‘merasa’. Mendadak saya terbayang seperti apa pendapat para tumbuhan ketika mereka ditebang. Apakah mereka tetap melemparkan pujian pada Yang Menguasai, lalu menganggap penebangan itu sebagai ibadah mereka dalam menyuapi kebutuhan (dan ambisi) hidup manusia? Ataukah mereka sedang misuh-misuh dan mengutuk keras ulah manusia yang tidak sadar-sadar juga kalau spesies Homo sapiens yang berjalan angkuh dan dibangga-banggakan Tuhan justru adalah perusak bumi?

Rentetan pemikiran ini mengalirkan saya pada sebuah gagasan:

Mungkin tumbuhan adalah makhluk hidup paling ikhlas.

Dalam hujan atau kemarau, musim dingin atau panas, mereka berada di titik yang sama. Mereka tidak bisa kabur ke mana-mana, harus bertahan menghadapi segalanya dengan sikap kesatria. Hanya memanfaatkan siklus hidup mereka untuk tetap beradaptasi demi bertahan melalui putaran zaman, menyaksikan perubahan demi perubahan di sekitarnya tanpa berpindah haluan. Sekali akar mereka tertancap ke bumi, mereka sudah tahu konsekuensi hidup mereka. Mereka harus menyediakan sumber kehidupan bagi para binatang, termasuk manusia, sekalipun itu juga berarti mereka bisa binasa, dengan penebangan, dengan pembakaran, dan lain-lain.

Saya berharap bisa meminjam secuil ketabahan dan ketegaran dari tumbuhan. Di saat-saat begini, yang harus saya lakukan adalah mengikhlaskan segalanya. Menganggap setiap fase dan permasalahan hidup sebagai badai yang mesti diterjangi tanpa jadi memburuk ambruk atau menyerah kalah.

Satu yang saya syukuri, ada keluarga saya di samping kali ini. Saya tidak melewati saat-saat seperti ini sendirian, sehingga tidak luput mengobati diri, tidak luput memberi asupan gizi,tidak luput dari hiburan sama sekali. Keponakan saya yang paling kecil, yang kini duduk di bangku SD kelas tiga, rutin bertandang di sisi saya dan menggagas setiap banyolan yang ia pelajari demi membuat saya tertawa. Mungkin ada sedikit rasa tak enak hati di sini untuk mereka, entah karena sudah merasa merepotkan pun direpotkan, tapi mungkin itu juga salah satu sarana bagi kami untuk mengabdi pada Pemilik Kehidupan. Sekalipun masih ada keraguan atas kehidupan itu sendiri bagi saya, dan saya juga tak yakin tidak digoyahkan sama sekali ke depannya, di momen ini saya berharap segalanya berlangsung baik-baik saja. Untuk saya. Untuk keluarga saya. Untuk semua manusia yang berjuang menghadapi dunia dan dirinya sendiri.

Omong-omong, hujannya benar-benar awet sampai Senin pagi. Begitu saya membuka mata subuh hari, yang saya dapati adalah kehebohan. Beberapa pohon benar-benar tumbang. Termasuk pohon kusambi di depan rumah saya. Rumah tetangga saya yang berbahan separuh tripleks porak poranda. Kompleks kami berantakan tak keruan. Untungnya, pohon kusambi itu tidak rubuh ke arah rumah saya. Sisi pertama yang mungkin jadi sasaran jika ia rubuh menimpa rumah jelas kamar yang saya pakai tidur saban malam.

Jujur, saya tak menyaksikan seberapa dahsyat hujan angin malam itu. Tanpa alat bantu dengar, desau angin malam itu hanya terdengar samar-samar, jadi saya benar-benar kudet akan kabar sekitar jika terlelap, apalagi dalam pengaruh obat dan sedang demam cukup tinggi. Laporan abang saya kemudian membuat segalanya lebih jelas: bahwa di jalan-jalan raya juga banyak sekali pohon tumbang. Listrik padam sama sekali. Sinyal pun bernasib sama. Kami melalui hari sebagaimana kami dua dekade lalu. Semua ponsel dan alat elektronik sama sekali tak berguna. Rupanya benar-benar telah terjadi badai itu.

Senin pagi itu juga, beberapa pemuda di sekitar memutuskan untuk menebang pohon yang rubuh dan berpotensi rubuh. Termasuk pula pohon kusambi kami yang mengenaskan. Dipangkas sampai pendek benar. Jujur, saya sedih. Apa alasan mereka ditebang? Sepertinya jelas: biar tidak rubuh kena rumah atau menjatuhkan korban jiwa dari pihak manusia. Lagi-lagi, manusia. Sungguh, tumbuhan adalah makhluk paling ikhlas. Ibadahnya luar biasa. Demi seonggok manusia yang sering sekali ingkar.

Sampai malam, listrik dan sinyal tak juga menampakkan tanda-tanda bakal pulih. Ada kabar bahwa segalanya baru akan membaik dalam empat hari. Jika saja saya tinggal sendiri dalam kondisi seperti ini, mungkin saya tidak akan bisa bertahan. Dingin, minim hiburan, sakit, dalam fase mood yang buruk, dan badai ini mungkin membangkitkan badai lain dari dalam kepala saya.

Kenyataannya, listrik di kota kami terbangkitkan perlahan, berangsur-angsur. Teknisi PLN pontang-panting menyambangi gardu demi gardu, satu demi satu. Apa itu empat hari? Empat minggu, mungkin. Di tempat tinggal saya lumayan beruntung, listrik menyala kembali tepat sehari sebelum puasa dimulai. Malam tarawih perdana bisa kami laksanakan tanpa perlu dibekap gulita. Lain halnya dengan di daerah-daerah yang tingkat keparahannya lebih sadis lagi, seperti di area Kabupaten atau mendekati Kabupaten, listrik bahkan belum menyala sampai detik ini. Beberapa desa tenggelam. Ada danau baru terbentuk pula. Benar-benar parah dampak dari Siklon Seroja kali ini.

Badai memang bakal segera berlalu. Namun, dampaknya sendiri belum tentu. Yah, syukurlah, badai di dalam diri saya sendiri sudah bisa saya tenangkan sedikit. Terima kasih untuk alam yang luar biasa ini. Terima kasih untuk Tuhan yang Maha Luar Biasa, yang menciptakan alam yang luar biasa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.