“Unboxing” dan Objektifikasi Perempuan

BELAKANGAN saya menggunakan kata ganti ‘they/ them‘ untuk merujuk diri sendiri, alih-alih ‘she/ her‘, di dunia maya, kendati saya jelas-jelas terlahir dan hidup sebagai makhluk berkromosom XX dan dikaruniai ovarium. Alasannya, saya ingin kenetralan, sehingga saya menolak pada penggolongan berbasis gender, untuk hal yang tidak penting-penting amat. Sebab nyatanya, masih banyak manusia yang tidak bisa melihat seseorang sebagai si A secara khusus, malah memperlakukannya dengan mengidentifikasi identitas si A, lewat jenis kelamin, agama, golongan darah, MBTI, bahkan zodiak.

Iya, bahkan seseorang yang pernah amat tergila-gila pada segala macam kategorisasi manusia seperti saya pun bisa bosan hingga akhirnya merasa lebih baik kita melihat seseorang secara utuh, bukan menilainya dari stereotip atau generalisasi.

Di dunia berbasis patrenalistik yang melingkupi kita ini, hidup suburlah sejenis hierarki gender. Gender superior dan gender inferior. Gender ketua dan gender bawahan. Atau kita lebih familier dengan: imam dan makmum. Tak perlu denial, intinya memang ada superioritas dan inferioritas manusia dari aspek gender. Berhubung hanya ada dua gender utama yang diakui budaya kita sejak konsensus kelahiran manusia, yaitu laki-laki dan perempuan, maka salah satunya bertindak sebagai imam, sedang sisanya adalah makmum. Sebagai sang penurun nasab, laki-laki berada di posisi imam, maka otomatis perempuan menempati posisi yang lebih inferior di bawahnya.

Kendati mengecap diri sendiri sebagai separuh feminis (karena ada beberapa gagasan sebagian kalangan feminis yang tak saya setujui), sesungguhnya saya woles-woles saja menyikapi pola imam-makmum ini. Toh, yang saya lihat, kedua pihak itu sudah punya jatah dan kedudukan, hak dan kewajiban, kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kedua belah pihak pada dasarnya sama-sama punya keuntungan dan risiko sendiri secara fitrahnya. Dan, menurut saya, tidak ada yang salah dari sini.

Yang menjadi persoalan hanyalah bagaimana di beberapa kalangan masyarakat, gender perempuan ternyata masih dianggap objek semata. Sebuah trit yang pernah viral di twitter beberapa waktu lalu telah menggambarkannya secara jelas.

Ada seorang laki-laki yang menuang kekesalannya di media itu, lantaran menemukan fakta kalau perempuan yang dia nikahi ternyata sudah tidak perawan lagi.

Bukan keperawanannya juga yang menggugah minat saya membahas ini. Saya percaya setiap orang bertanggung jawab untuk pribadi dan tubuhnya sendiri, dan saya menghargai apa pun pilihan seseorang atas tubuhnya (mau dia doing sex before marriage, menjalani plastic surgery, suntik botox, bahkan sampai taraf bunuh diri sekalipun). Their body their rules. Hak-hak mereka mau mereka apakan kendaraan hidup mereka sendiri.

Kalaupun saya punya anggapan bahwa tubuh ini pun tak sepenuhnya punya kita, melainkan pinjaman Tuhan sebagai kendaraan untuk mengarungi hidup, toh yang mempertanggungjawabkannya adalah pribadi itu sendiri. Jadi saya tidak dalam otoritas untuk mengomentari bentuk tubuh si anu maupun keputusan yang diambil si anu atas tubuhnya.

Meski begitu, saya pikir kasus ini bakal lebih mudah kalau si perempuan mengaku terang-terangan lebih dulu sebelum menikah. Kamu bakal ngapa-ngapain bersama seseorang selama sisa hidupmu, jadi, apa pun yang terjadi sebelum itu, juga rencana yang bakal terjadi sesudah itu, sebaiknya langsung diobrolkan. Tak ada yang bisa disembunyikan dari partner hidupmu, karena mereka yang bakalan jadi orang paling intim denganmu dalam sisa hidup ini. Jadi, begitu pilihan menikah sudah ada, privasimu dan privasi pasanganmu sudah lebur jadi privasi bersama. Mestinya kamu tahu itu sebelum memutuskan ke KUA atau gereja.

Apalagi ini menyangkut persoalan selaput dara, hal yang sensitif di kalangan masyarakat kita. Saya pribadi enggak menganggap selaput dara sebagai sesuatu yang sakral sampai harus dipuja sedemikian rupa (moralitas perempuan enggak dinilai dari sana), tapi masyarakat kita punya standar lain. Dan, hal ini seharusnya sudah dibahas sebelum kamu melangkah ke depan penghulu atau pendeta.

Namun, lagi-lagi, bukan itu inti pembahasan di sini. Yang membuat saya geleng-geleng kepala tidak habis pikir adalah bagaimana si laki-laki yang curhat ini, memilih padanan kata yang amat buruk untuk menjelaskan malam pertamanya. Dia menggunakan kata ‘unboxing‘. Unboxing istri.

Betapa lucu dan mirisnya melihat bagaimana seorang perempuan dianggap sama seperti barang yang dipesan online, lalu dibuka-buka dan dibongkar pada malam pertama. Dirimu rupanya tiada bedanya dengan paket kiriman, Woman. Oh, iya, ya. Kiriman yang Tuhan jajarkan di etalase dunia, lalu dipilih oleh para lelaki untuk jadi teman hidupnya. Proses transaksi berlangsung lewat akad nikah atau pemberkatan, lalu begitu sudah sah jadi hak milik, tinggal unboxing, deh. Begitu, ‘kan?

Dalam proses pemajangannya sendiri, perempuan dituntut untuk mengemas dan menjaga dirinya agar lebih menarik. Menarik untuk apa? Menarik bagi kaum laki-laki, dong. Perempuan diharuskan menjaga diri dan martabat mereka sebagaimana sebuah barang jualan yang harus berada dalam perawatan ketat agar kualitasnya terjaga dan dipercantik sedemikian rupa, yang ujung-ujungnya juga untuk menyenangkan hati si laki-laki. Kalau sudah enggak perawan, sudah pernah ‘dipakai’, berarti ‘benda’ itu jelas-jelas sudah cacat. Kebanyakan laki-laki menolak ‘memakai barang bekas’. Kebanyakan lelaki lebih suka ‘permen yang dipajang di etalase tertutup’, bukannya ‘kue yang dipajang di area terbuka, dikerubungi lalat, disentuh sana-sini.’ Namun, dalam beberapa momen, laki-laki adalah si kucing yang kalau disodori ‘ikan asin’ juga tak bakalan menolak.

Lihatlah, ada begitu banyak benda mati yang diasosiasikan dengan perempuan, dan semua itu akrab dengan telinga kita. Mulai dari permen yang dibungkus, kue yang dijajakan di etalase, sampai ikan asin, semua itu adalah benda mati. Obyek. Dan, subyeknya jelas si laki-laki. Mereka yang memilih pajangan, menyeleksi permen, mencari kue, menyambar ikan asin. Sama seperti si laki-laki yang curhat itu, yang mempermasalahkan ‘kecacatan barang yang baru dia tahu setelah proses unboxing‘ dan membuatnya kepingin meretur ‘barang’ tadi karena tidak sesuai dengan apa yang dia mau.

Sekali lagi saya mau bilang nih, saya bukan misandri. Yang saya kutuk adalah pandangannya. Toh, banyak juga laki-laki netral dan normal, dalam hal ini, melihat manusia sebagai manusia seutuhnya, serta menghargai semua manusia tanpa mengkotak-kotakkan jenis kelamin. Bahkan ada pula laki-laki yang walau tidak melihat kedua gender secara setara, justru memperlakukan perempuan dengan spesial (yang berkonotasi positif) karena itu. Dan, lucunya, ada pula perempuan yang mau-maunya dianggap dan menganggap diri mereka sebagai objek. Pemikiran ini yang saya kritisi di sini. Manusia, apa pun gendernya, jelas bukan benda mati. Kehidupan yang bersemayam dalam tubuh kita perlu lebih dihargai lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.