Punahnya (Ke)Manusia(An)

ANDAI ini masih 2014, maka saya bakalan jadi orang yang vokal membagikan keresahan akan peperangan di Bumi Para Nabi. Seperti dulu. Entah untung atau sayang, 7 tahun belakangan, banyak hal yang membuat saya belajar untuk mengerem mulut dan jemari untuk tidak membacot tentang sesuatu yang tidak saya tahu pasti.

Mungkin bagi rekan organisasi saya dulu, saya kini telah melenceng dan tersesat dari jalan mereka. Saya sendiri pun tidak berani mengiakan atau mengelak. Yang tahu pasti tentang kebenaran dan jalan yang lurus jelas hanya Satu, dan itu bukan saya, bukan pula teman-teman saya.

Sejumlah media gencar memberitakannya. Dari yang resmi sampai yang tidak resmi, bergerak sampai yang tidak, dari yang akurat sampai yang dibumbui hoaks. Berbagai macam berita menggempur saya dari segala sisi. Saya kantungi semuanya, meski tidak berani langsung saya percayai. Sejak belajar menulis, saya belajar membedah sudut pandang, dan saya lihat minim sekali media yang netral. Selalu ada keberpihakan ke satu sisi dari setiap wacana, dan lagi, kita tidak tahu jelas mana yang benar, karena segala narasi itu menyetir kita untuk melihat dari sudut pandang yang dipilih si penulis atau pembicara. Satu-satunya yang berani saya lakukan hanyalah menyatakan bahwa, sekalipun tidak saya suarakan, saya melaknat habis mereka yang melahirkan kekacauan, siapa pun ia.

Belakangan saya belajar bahwa kita hanya akan percaya pada apa yang mau kita percayai. Apalagi jika kita menutup diri dari sisi lain akan sesuatu yang menahun kita peluk erat, tidak peduli bahwa kita sebenarnya tengah melihat dunia secara parsial. Ibaratnya, saya berada di dalam sebuah kotak, yang mendoktrin saya kalau dunia di balik kotak adalah kehancuran, sehingga saya menolak apa pun yang datang dari luar, mau itu kerikil atau air hujan. Saya tidak mau tahu, bahwa air hujan bisa membantu saya menjadi tetap segar, dan kerikil bisa saja gunakan sebagai senjata untuk menyerang sosok jahat dari luar sana, karena kerikil dan air hujan itu sendiri merupakan sosok jahat dari sudut pandang saya.

Setelah melalui serangkaian proses berpikir selama sekian tahun belakangan, saya percaya bahwa pepatah ‘tak kenal maka tak sayang’ bukanlah sebatas kembang gula susastra. Keakuratannya jelas, kita tidak akan pernah tahu akan sesuatu sebelum kita mendekati, menelisik, meraba, mempreteli; mempelajarinya dari sudut pandang hal itu sendiri. Sayang, manusia, tak terkecuali saya, lebih sering takut. Takut pada sesuatu yang tidak kita mengerti. Takut pada hal yang tidak bisa kita jaminkan keamanannya, jika kita percayai ia. Takut pada hal yang baru. Takut jika hal baru itu mengusik dan meniadakan yang telah lama bercokol.

Saya memaklumi jika ada seorang teman yang kemudian menuding saya ‘kafir setelah beriman’, hanya karena saya memilih untuk tidak lagi vokal akan masalah Palestina dan malah membenarkan jika konflik ini terlalu janggal untuk dipercayai dari satu sudut pandang saja. Meski saya tahu tudingan itu tidak benar, sampai mati pun, saya tidak akan pernah bisa meyakinkan ia untuk percaya bahwa tuduhan itu tak benar. Yang tahu tentang iman saya cuma saya dan Sang Maha Tahu. Teman saya tidak tahu, dan hanya mau percaya bahwa pendapatnya lah yang benar. Biarkan sajalah, putus saya kemudian.

Hal-hal yang dulu saya yakini benar, kini justru jadi buram setelah saya mendapatkan lebih banyak lagi referensi tentangnya. Rupanya sejak dahulu, peradaban manusia memang sudah gemar membaurkan yang putih dengan yang hitam, mengamuflasekannya jadi putih yang kita percayai sebagai ‘putih’ di masa sekarang. Rupanya tak ada yang benar-benar murni ‘putih’. Tak ada persoalan agama, negara, dan sebagainya, yang terlepas dari urusan politik, di mana satu manusia atau golongan merasa lebih tinggi dibandingkan yang lain, lantas menghalalkan segala cara demi kepentingan golongannya.

Semua itu membawa saya pada sosok musuh sejati, yang dalam histori diceritakan sejak lama membenci manusia dan memutuskan untuk menjebloskan manusia ke dalam kesengsaraan, yang berawal dari anggapannya bahwa ia lebih baik dari manusia. Kita tahu dengan jelas siapa ia. Bahkan hal ini pun kadang membuat saya ragu. Apakah ia memang sungguhan merasa tinggi hati, ataukah ia justru diperintahkan demikian. Tapi, bukan di situ intinya. Intinya adalah, sebenarnya, dalam diri manusia itu sendiri, kita gemar memelihara dan memberi makan musuh kita yang tumbuh subur dalam diri ini.

Itulah salah satu alasan mengapa saya tidak lagi menggebu-gebu melaknat satu pihak semata. Alasan lainnya adalah, saya melihat ada banyak ironi yang tergantung di udara. Orang-orang mudah sekali menangkap kesalahan dari pihak lain, tapi membutakan diri pada kesalahan yang mereka lakukan sendiri.

Beberapa waktu lalu, saya sempat menemukan kiriman dari Paul, suami Gita Savitri Devi, yang memberitakan kabar buruk istrinya. Gita sempat kembali terserang pemikiran bunuh diri hanya karena serangan warganet barbar. Serangan yang ironis: warganet ini menuntut Gita untuk berbicara soal kisruh Palestina-Israel (dan saya yakin yang mau mereka dengar atau lihat adalah Gita yang mengutuk Israel dan membela Palestina) atas nama kemanusiaan, sambil mencoreng kemanusiaan mereka sendiri, yaitu dengan menghujat dan menyerang Gita. Lucu sekali manusia-manusia ini.

Di sinilah saya semakin yakin, manusia itu gemar memilih-milih dosa. Ini boleh karena anu dan anu tidak boleh karena itu. Penyerangan ini terjadi sebagai self defense karena si anu menyerang lebih dahulu. Kesalahan akan bernama kesalahan ketika pelakunya orang lain. Jika mereka yang melakukannya, namanya berganti jadi, ‘Sudahlah, ribet amat kamu.’ Dari dulu kita sudah akrab dengan pembenaran-pembenaran terkait dan berbagai agitasinya. Apa-apa selalu salah pihak luar.

Ironi kedua yang saya tangkap sepanjang kasus ini adalah, bagaimana beberapa pihak tidak mau mengaitkan kasus ini dengan agama, tetapi pihak tertentu jelas menggunakan kitab suci sebagai dasar pembenaran pendapatnya. Tiada bedanya mereka yang mengklaim tanah pakai referensi kitab suci, dengan mereka yang membenarkan kebencian pada sebuah golongan berdasarkan isi kitab suci. Katanya ini soal kemanusiaan, tapi Gita Savitri dituntut berkomentar karena ia muslimah. Katanya ini soal kemanusiaan, sampai para Rabi Yahudi di luar Israel pun mengutuk perang ini, tapi kita masih saja sepat kalau melihat atau membaca kata Yahudi karena mengasosiasikannya dengan ‘penjajah bernama Israel’. Lucunya.

Bagaimanapun, masing-masing pihak, baik pihak Palestina maupun Israel dan para pendukungnya masing-masing, selalu punya pembenarannya sendiri, karena, kembali lagi, mereka hanya akan percaya pada apa yang mau mereka percaya, merasa diri yang paling benar sendiri. Tidak peduli akan kemungkinan bahwa mereka tengah disetir oleh tangan-tangan yang berkamuflase jadi teman, padahal bisa jadi pihak itu tengah menarik keuntungan dari kekisruhan ini. Tidak peduli bahwa darah yang tumpah, kehidupan yang teracak, jiwa-jiwa yang rebas dari keegosian kedua belah pihak, jelas bukan hanya sebatas statistik semata. Ujung-ujungnya akan ada gencatan senjata, seperti yang sudah-sudah, tapi, bagaimana dengan korban yang tidak bersalah? Semua ini adalah sejarah panjang pencorengan nilai kemanusiaan. Atau jangan-jangan, manusia-manusia memang sebetulnya sudah hampir punah, digantikan hibrida manusia plus setan yang sombong dan ogah rugi?

2 respons untuk ‘Punahnya (Ke)Manusia(An)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.