[BM] Rumah Kapal

Entah angkot, entah bus, atau barangkali hibrida dari keduanya, yang kami tunggangi. Aku bersama rombongan berisi ibuku bersama kakak perempuan keempatku. Di sudut lain, tampak sahabatku semasa SMP, sebut saja M, A, dan H.

Mobil itu bergerak menyusuri jalanan berkelok. Bikin mabuk. Kesannya seperti perjalanan menuju kabupaten. Cukup familier, kalau saja tiada penampakan deret pegunungan yang menjulang hijau di sebelah kiri sementara di sebelah kanan membentang pantai yang permukaan airnya berkilau memantulkan sinar mentari.

Tiba-tiba, M bertepuk tangan, meminta sopir berhenti. Dia ingin singgah ke rumah kerabat di sekitar situ, katanya. Kebetulan, yang lain juga merasa sumpek, hingga memutuskan untuk ikut turun demi istirahat sejenak.

Mobil menepi di sisi kiri jalan yang lapang, mulus, lurus, dan lengang. Kami menyeberang, hendak menuju pantai untuk bermain air. Dari jalanan, pantai itu terlihat dekat. Namun, tidak begitu kami menuju ke sana dengan jalan kaki. Ada undakan karang yang perlu kami panjati untuk bisa mencapai pepasir putih.

Di sana, kami berfoto-foto sejenak. Anehnya, meski dari jalanan kami melihat sinar yang memantul pada permukaan laut seperti saat siang, ternyata sewaktu kami sampai di pantai, matahari justru tampak mau terbit. Bayangannya merah, menoreh warna yang senada pada lautan dan pepasir yang kami pijaki.

Setelah puas, kami putuskan kembali ke bus. (Kali ini saya yakin bus). Supirnya mengambek. Katanya, kami terlalu lama membuatnya menunggu. Dia menagih bayaran tambah untuk jasanya itu.

Maka masing-masing kami merogoh kocek, dompet, mengais recehan demi bisa patungan. Anehnya lagi, uang yang kukeluarkan itu beberapa uang lembaran 100 rupiah yang merah, meski kondisinya licin selayaknya uang baru.

Sang sopir menerimanya, lanjut menyetir. Perjalanan seakan dipercepat. Kami tiba di kawasan perumahan kuno yang seperti dipahat dari batu-batu kelabu dan sama sekali tidak disepuh cat.

Akan tetapi, begitu memasukinya, bagian dalam bangunan itu sama seperti bangunan kebanyakan. Lebih mirip kos-kosan atau motel dengan jejeran kamar memanjang.

Sudah ada orang yang duduk menanti. Nenek-nenek berbalut kain tenun adat duduk memilah beras. Kami menyapa sepintas, hanya ibuku yang lanjut mengobrol dalam bahasa daerah, sementara kami lanjut masuk ke dalam sambil menarik tas-tas.

Tiba-tiba, A berteriak dari salah satu sudut, mengundang kami diantarkan ke sana. Dari bagian dalam yang minim cahaya, kami telusuri menyisiri lorong seperti terowongan, semakin ke dalam, dan dihadapkan pada sebuah paviliun berwujud gedung satu petak berlantai tiga. Tangganya di luar, dari kayu yang dipaku-paku.

Dari balkon lantai tiga itu, kami bisa melihat sebagian besar wilayah di sana. Hijau, dan perairan. Aku masuk ke dalam ruangannya, menaruh barang-barangku yang tampak lebih banyak daripada yang sebelumnya kujinjing, dibuntuti oleh H. Tapi, H jatuh. A ketawa dan mengejeknya banci.

Aku yang menolongnya. Kepadanya aku sempat bicara, “Kamu pernah ngakakin aku wajtu jatuh, tapi aku nggak sepicik kamu.”

Dan tiba-tiba saja A berlari keluar, menutup pintu dari luar.

Di dalam petak itu hanya ada aku dan H. Seketika dunia bergetar dan oleng. Rasanya seperti menaiki kapal. Ketika kutengok keluar jendela kaca, rupanya kami ada di atas kapal betulan.

Pict: slice(dot)ca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.