[BM] Nebeng dan Jatuh

“Kamu enggak pergi?” tanya seseorang yang aku lupa siapa tepatnya.

“Pergi. Aku masih nunggu tumpangan.”

Anehnya, meski aku sudah membalas aku bakal pergi, aku enggak lantas bersiap-siap. Tubuhku masih dibalut setelan piyama putih abu.

Waktu itu rumah kosong. Enggak ada siapa pun kecuali diriku. Obrolan tadi cuma berlangsung via Whatsapp. Rumah yang kuhuni pun kondisinya seperti bukan rumah orang tuaku yang sebenarnya. Malah lebih mirip rumah sepupuku di kelurahan Airmata.

Aku menunggu jemputan di kios, yang berbatasan langsung dengan dapur dan kamar mandi. Enggak lama kemudian, jemputan itu tiba. Masih dengan piyama abu-putih, aku menumpangi motor itu, yang ternyata dikendarai teman kuliahku, Iin. Kami cus ke lokasi.

Begitu sampai di depan gedung, Iin bilang dia enggak bisa jemput. Aku membalas, enggak masalah, aku bisa minta tebengan dari anak-anak lain. Kebetulan, waktu Iin bertolak, aku berjumpa dengan teman SD gue, Nia. Aku lekas merepet ke dia.

“Ni, nanti pulangnya bareng, ya. Aku nebeng.”

“Oke,” Nia menyahut.

Berhubung tebengan sudah ditemukan, aku berlega hati. Namun, alih-alih lekas masuk dalam hall, aku malah berdiri di depan gerbang sambil menyambut tamu persis patung selamat datang.

Wajah-wajah yang tiba jelas familier. Aku melihat Peppy, ketua kelasku waktu kelas sepuluh, yang sekarang sudah jadi dokter, dalam balutan setelan resmi berwarna hijau. Ada juga Pipit, teman sekelasku waktu kelas sepuluh yang memperkenalkanku pada K-Pop. Ia mengenakan setelah merah muda resmi. Rambutnya ditata cantik banget kayak ibu-ibu pejabat.

Mereka berdua kusambut dengan berlebihan. “Astaga, cantik-cantiknya teman-temankuuu.”

Namun, mereka enggak merespons sama sekali. Melirik pun enggak. Entah mereka yang enggak mau mengenaliku, atau karena aku memang enggak kelihatan di sana. Yang pasti banyak juga orang yang enggak mengenali apalagi menyapaku.

Saat itulah aku baru menyadari, aku belum mandi dan masih berbalut piyama abu-putih. Aku pun mencari Nia, bermaksud minta tebengan pulang. Cuma pulang, untuk datang lagi usai bersiap, aku bakal nyari tebengan lain. Dalam kepala, sudah kususun baju apa yang akan kukenakan untuk datang. Aku punya blazer hitam baru (ini beneran) yang bisa kupadukan dengan baju kaos abu dan celana yang juga hitam.

Nia mengangguk dari jauh, bersamaku menuju parkiran. Kupikir Nia bawa motor sendiri, enggak tahunya dia juga menumpangi adiknya. Sudah begitu, tanpa menunggku ikutan naik motor itu, mereka sudah langsung gas. Lagi-lagi, seolah enggak melihatku sama sekali.

Aku terbengong, antara malu, kesal, bingung, dan sedih. Kenapa Nia memperlakukanku seperti ini? Seharusnya Nia kasih tahu kalau dia enggak bisa memberi tebengan, jadi aku enggak dibuai harapan palsu. Apa aku memang sebegitu invisible-nya? Atau memang enggak ada yang mau mengenalku dalam wujud sekarang?

Di tengah kegalauan itu, seseorang datang. Gadis berbalut busana muslimah tertutup rapat. Kerudung paris dipakai dobel dan menjuntai sampai perut. Aku tahu dia siapa. Silvia, senior gue di IMM sekaligus sekretaris BEM FE sebelumku. Banyak yang bilang kami mirip—aku kayaknya mirip sama banyak banget manusia, ya, di setiap jenjang pendidikan ada saja kembaranku, LMAO—ia berjalan bersama seorang akhwat lain yang kukenal juga sebagai seniorku di IMM dan aktivis KAMMI, tapi dia berbeda fakultas dengan kami; dia anak FAI—Tarbiyah.

“Mau pulang?” tanya Silvia. “Yuk.”

Aku masih terbengong-bengong, tapi Diana, akhwat Tarbiyah tadi, menyeretku pergi. Enggak ada pilihan kecuali mengikuti langkah keduanya. Kami tiba di ujung prakiran, tempat di mana ada motor gede bin panjang yang aneh sampai aku enggak tahu merk dan tipenya apa.

Diana lekas menyalakan motor itu, Silvia naik kemudian di belakang. Sambil membenahi duduknya, gadis dengan tahi lalat di dagu kiri itu menatapku yang masih cengo.

“Ayo, naik!” titahnya.

Dengan canggung, aku naik di belakang Silvia. Jadi kami bonceng tiga. Diana-Silvia-aku. Motornya digas, derumnya menggelegar.

Aku enggak nyaman. Merasa posisi dudukku enggak stabil. Silvia duduk di tengah, tapi dia duduk menyamping. Sudah begitu, menyampingnya ke kanan, bukannya kiri.

Namun, aku berusaha keras mempertahankan diriku berada di atas motor itu dengan memeluk pinggang Silvia, supaya enggak terjengkang ke aspal. Mana jalanan yang kami arungi enggak rata pula. Banyak lubangnya.

Barulah waktu kami berbelok di tikungan tajam, aku berteriak karena sudah enggak sanggup lagi.

“Stop! Stop! Aduh, tolong stop. Sakit!”

Motor itu berhenti mendadak tepat di jalanan yang sudut-sudutnya pohon, hanya ada satu gubuk yang jualan bensin eceran di sana, meski enggak ada siapa pun yang berjaga. Aku terjerembab dan terguling, jatuh ke aspal sambil merintih. Rupanya betisku menempel di knalpot motor yang entah bagaimana, ada di dekat jok. Jadi yang menempel di sana adalah betisku yang hampir dekat paha.

Silvia dan Diana enggak merespons, hanya melengos. Sementara aku merasa heran karena setelah gue jatuh, betisku melepuh tapi rasa panasnya enggak terasa. Saat itulah gue mulai sadar bahwa ini enggak nyata. Begitu menyadarinya, dalam satu tarikan, aku pun dibawa ke dalam kesadaran dunia nyata.


Pict: harleyridingexperiences(dot)com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.