[BM] Dua Mimpi

Keributan dari dalam rumah, sementara aku baru pulang dari suatu tempat. Ayah dan Ibu berkelahi. Aku yang tengah dirundung lelah pun ikutan naik pitam begitu melihat Ayah mengomeli Ibu. Aku tahu bagaimana kerasnya upaya Ibu dalam memenuhi semua tuntutan Ayah. Laki-laki sialan, pikirku, sudah menarik anak orang dan diperlakukan bagai babu, malah dihina juga. 

Kendati di masa normal aku lebih akrab dengan Ayah lantaran kami berbagi hobi yang sama, aku tak terima ibuku diperlakukan demikian. Maka aku pun maju, menjadi perisai Ibu.

Ayah menatapku nyalang. “Eh, anjing ini!” Iya, semua manusia yang membuatnya emosi adalah anjing. Kecuali Ibu. Beliau lain lagi di mata Ayah yang kalap. Sesosok pelacur.

Dia tanggalkan sandal rematiknya yang berduri-duri itu, bersiap menampar kepala, atau mungkin wajahku. Sementara aku mematung di tempat dengan jantung berdebar kencang akibat adrenalin dan antisipasi berlebih terhadap rasa sakit. Kalau mati, ya matilah. Yang masuk penjara juga siapa, coba?

Tamparan itu tidak jadi mengenai permukaan tubuhku, karena aku sudah kadung terjaga. Kutengok ponsel di bawah ranjang. Pukul tiga malam kurang sedikit. Bantalku basah dibaluri keringat. Jantungku di dunia nyata pun ikut berdebar kencang, sampai rasanya aku takut terkena serangan jantung tak lama lagi. 

Aneh. Meringkuk di tepi ranjang, aku merenungkan mimpi itu. Malam ini adalah sebuah ketumbenan. Kuimpikan peristiwa nyata di masa lalu, meski endingnya tidak begitu. Kenyataannya, dahulu aku sedang belajar dan benda yang Ayah jadikan senjata adalah kursi plastik. Bukan pula wajah atau kepalaku, melainkan punggung. 

Aku lupa apa yang terjadi berikutnya, tetapi aku tertidur lagi dan bermimpi kembali. Tidak ada tokoh lain selain diriku. Tidak ada apa-apa selain padang rumput tinggi dan rasa haus yang menggila di kerongkongan, serta panas yang jatuh ke permukaan kulitku dari sinar mentari kuning. 

Aku berlari, mencari oase. Sumber air. Apa pun yang bisa mengguyur hilang dahaga dan panas biadab ini. Detik itu juga aku teringat pada mimpiku tentang Ayah dan Ibu, lalu pelan-pelan awas bahwa aku semestinya masih ada di atas pembaringan, maka kesimpulannya, rasa haus dan panas ini tidaklah nyata. Dari pemikiran itulah, kutanamkan sugesti agar aku lekas terbangun. 


Langit-langit kamar masih gelap. Aku menengok keterangan waktu pada ponsel yang sebelumnya kuletakkan di sisi bantal. Pukul setengah empat tepat. Aku hanya tertidur lagi tidak sampai satu jam, tetapi rasanya lelah sekali seolah mimpi yang satu dengan yang lainnya itu diselingin oleh beberapa hari. Karena merasa benar-benar haus, dan aku enggak suka kalau anyang-anyangan bangsat itu kumat lagi, maka aku pun beranjak ke dapur mencari minum. Kutenggak lima gelas air putih, meski harus kembung sekalipun. Aku capek. 

Pict: ultrahaunts(dot)tumblr(dot)com/post/93898934572/gravitationalbeauty-desert-storm-by-hougaard/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.