[BM] Makan, Diburu, Pura-pura Pingsan

(Jadi hari ini beneran bangun kesiangan dan luput ibadah cuma karena mimpi ini. Enggak bangga. Cuma mengabadikan ketololan ini biar besok enggak berulang.)

Aku ada di sebuah gedung. Mirip hotel. Yang kutahu, ada sebuah pesta.

Berbeda dengan pesta kebanyakan, sepertinya pesta ini menyewa semua lantai. Ke mana-mana ada meja prasmanan.

Hadirinnya wajah-wajah yang kukenal. Kebanyakan juniorku waktu sekolah dan kuliah. Aku berkeliling bawa piring, niatnya mau ambil makanan. Tapi selalu saja ada kendala. Aku lupa apa saja kendalanya, cuma ingat yang paling akhir. Lauk dagingnya habis.

Jadi aku pindah ke lantai lain. Pas waktu itu wadah daging habis juga dan belum sempat diisibulang. Akhirnya ya … aku makan apa adanya. Mungkin karena kasihan atau bagaimana, ada adik kelasku yang datang, berbagi daging langsung dari piringnya ke piringku.

Usai berterima kasih, aku beranjak ke suatu tempat membawa piring makanku. Semacam sebuah tribun apa stadion begitu, dengan kursi berundak melingkar. Di sana, lagi-lagi kulihat wajah familier. Ada teman-teman dari manajemen nasyid tempat aku bergabung dahulu.

Kuhampiri mereka. Bang I, kepala kami, bertanya-tanya soal ke mana saja aku. Aku cuma nyengir sambil menjelaskan seadanya kalau aku agak sibuk. Jadi Bang I mempersilakanku duduk di sebelah kiri Kak N, personil DK, dan aku pun mengobrol banyak sama dia. Di sebelah kanannya ada F.

Aku baru saja menyuapkan makanan ke dalam mulut waktu tiba-tiba ada suara pengumuman dari pengeras. Katanya aku dipanggil sama kepala. Bu Kepala yang ada salam bayanganku entah kenapa adalah Bu Kepsek waktu aku SMP, Ibu K. Jadi aku menaruh piringku yang belum kelar kusantap itu, lalu berjalan naik tangga kayu buat memenuhi panggilan.

Tangganya mesti dipanjat lagi. Macam tangga kayu di kapal-kapal penumpang pas air surut begitulah. Tangga dari balok kayu bertali-tali. Sepanjang perjalanan tuh, rasanya semua pasang mata tertuju padaku. Aku jadi risi, tapi kepedeanku benar-benar tinggi. Selama aku enggak merasa bikin salah, kenapa aku harus cemas dan merasa bersalah?

Kemudian aku bertanya-tanya apa memang aku benar-benar yakin enggak punya salah apa pun. Tiba-tiba saja aku jadi enggak yakin. Dan tiba-tiba saja aku merasa lelah. Juga ngantuk. Apalagi mengingat perjuanganku mencari daging dari satu lantai ke lantai lain, dari satu meja ke meja lain, dan selalu terlambat. Satu-satunya kesempatanku memperolehnya justru dari belas kasihan.

Rasa capek plus cemas, gugup, dan overthinking bikinku makin capek. Kakiku lemas. Sontak saja ada sebuah gagasan terbersit dalam benak untuk pura-pura pingsan.

Aku melakukannya. Tepat di lantai puncak itu setelah mendaki tangga-tangga kujatuhkan diri. Entah kenapa rasanya aku enggak berpura-pura. Aku benar-benar mengantuk dan kuputuskan tidur. Rasanya damai. Seperti inilah kabur dari masalah. Meski begitu, masih bisa kurasakan orang-orang mendekat. Masih bisa kudengar mereka meributkan antara aku sungguhan pingsan atau cuma berpura-pura. Bahkan aku merasakan kuku jempolku ditekan; sebuah metode jitu untuk mengetahui seseorang betulan pingsan atau pura-pura semaput. Tapi karena kadar ketahananku terhadap rasa sakit cukup tinggi pada kenyataannya, aku tetap bisa bertahan.

Waktu itu pula kudengar samar-samar pengakuan adik kelasku yang datang. Dia menegaskan bahwa aku betulan semaput karena dari tadi belum makan (yang ia ketahui) dan sempat terlihat begitu lelah mondar-mandir cari makanan. Aku senang mendapatkan pembelaan. Kuputuskan benar-benar tidur saja karena, di alam mimpi pun, aku sungguh-sungguh mengantuk dan capek.

(Sudah bangun tidur pun rasanya masih capek)

Pict: perpustakaan canva

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.