Masa Lalu dan Masa Depan Kami: Aku dan Blog

PERINGATAN: Tulisan ini benar-benar panjang, karena merupakan gabungan dari tiga pos yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu. Jika saya diminta membicarakan sejarah pacaran saya dengan blog, maka akan ada rentetan kisah; sejarah yang barangkali tidak singkat. Dan, saya pun adalah tipe manusia yang suka dan senang berbelit-belit dalam menulis.

Usia blog ini memang belum seberapa renta. Selustrum pun belum ada. Namun, berkat kelabilan orang di baliknya lah, maka ia harus melewati beberapa kali perombakan nama, penggantian status dari privat sampai publik, serta pengobrak-abrikan isi. Untung saja ganti nama blog tak mesti pakai kurban kambing, sehingga tiada yang perlu melarat di sini. Namun, tetap saja cerita ini bakal panjang.

Awal Nge-blog

macbook pro on white bed
Photo by Justin Morgan on Unsplash

MEMBUAT sebuah blog baru mampir ke daftar keinginan saya sekitar 2014. Waktu itu, saya bergabung dalam sebuah komunitas menulis, lalu berkenalan dengan beberapa teman yang memang menekuri dunia blogging demi mengabadikan tulisan-tulisan mereka yang kebanyakan fanfiksi, atau sekadar berbagi gagasan serta peristiwa-peristiwa unik yang mereka alami.

Saya, yang waktu itu cuma berbekal sebuah gadget berwujud ponsel murahan, yang cuma mampir ke warnet kalau-kalau ada tugas yang ‘amat penting’ (karena kalau untuk tugas yang tidak terlalu penting atau tidak membutuhkan komputer berinternet, saya masih bisa mengetiknya via komputer di rumah sambil mencari informasi lewat internet ponsel berbekal kuota harian), cuma bisa menjadi pembaca yang budiman. Sebelumnya, saya malah tidak tahu apa itu blog. Saya tahu alamat-alamat situs seperti blablabla(dot)wordpress(dot)com atau blablabla(dot)blogspot(dot)com, demi membaca fanfiksi, tetapi tidak tahu kalau itu namanya blog. Saya baru tahu setelah bergabung dengan komunitas itu.

Melihat gempita teman-teman dalam menulis di blog mereka, rumah yang bisa mereka desain sesuai selera, saya pun mencoba mencelupkan diri ke dalam dunia blogging. Saya masih ingat judul situsnya: Pena Irama, dengan alamat situs penairama.wordpress.com yang kemudian saya hapus karena jemu di bulan keempat. Padahal, sudah ada cukup banyak pos blog dan beberapa pengikut aktif. Domain-nya masih tersedia sampai sekarang, tetapi sudah tidak ada lagi kontennya, karena sempat saya hapus semua isi di dalam sana sebelum lupa apa alamat email dan kata sandi yang saya pakai. Tagline-nya mengutip ayat pertama surat Al-Qalam. Kontennya berwujud postingan dakwah yang referensinya saya ambil dari majalah dan buku Abah, selebaran kampus, serta buletin Jumat. Pos-pos di sana dipublikasikan lewat warnet, yang itu pun baru sempat saya sambangi kalau sedang mengerjakan tugas kuliah, karena tidak punya fasilitas internet di rumah.

Belakangan saya ingat mengapa waktu itu saya memutuskan menghapus semua postingan di dalam sana. Akhir 2014 adalah masa jatuh saya yang pertama kalinya. Selain itu, pada tahun yang sama pun sepertinya saya menjumpai ‘pencerahan’. Berdakwah di kala diri sendiri masih belum bisa istikamah melakukan apa yang saya anjurkan itu, mengancam saya dengan perasaan tak nyaman. Jadi teringat ayat ‘Mengapa kamu tidak mengerjakan apa yang kamu katakan?‘ Merinding, dong.

Kemudian, sempat ada tren membuat mobile blog. Saya lupa situsnya apa. Intinya, blog dari situs tersebut bisa diakses dan postingan-postingan bisa dipublikasikan lewat handphone, termasuk ponsel saya yang kala itu berjenis Samsung Champ. Tentu tidak saya sia-siakan kesempatan itu. Memiliki wadah untuk menuangkan ide tanpa dikenal orang dunia nyata, di mana wadah itu sangat ramah pada missqueen people macam saya, jelas sebuah kesempatan emas.

Saya tidak ingat bagaimana nasib akhir blog itu. Entah saya musnahkan sebelum ia musnah bersama situsnya sendiri, atau ia memang musnah bersama lenyapnya situs itu. Namun, saya amat berterima kasih pada siapa pun yang mengembangkan situs itu, kendati sampai saat ini saya masih lupa apa namanya. Semoga suatu hari nanti saya bisa ingat kembali sekadar untuk menghargai sesuatu yang pernah menghibur saya.

Saya buat lagi sebuah akun baru, dengan domain irmallalaland.wordpress.com yang bernasib lebih nahas lagi. Tidak pernah saya buka dan saya isi sama sekali.

Blog Serius Pertama

MacBook Pro near white open book
Photo by Nick Morrison on Unsplash

SAYA BARU menseriusi dunia blog setelah itu. Itu pun terjadi karena laptop—yang akhirnya dibeli demi keperluan bekerja dan kuliah—saya berpotensi rusak, dan fiksi-fiksi yang saya tampung di dalam sana terancam ikut hilang. Saya pikir, menghijrahkan fiksi-fiksi saya ke dalam blog adalah opsi yang tepat.

Tempat itu saya niatkan untuk menampung fiksi yang tercecer di berbagai akun Facebook. Saya memiliki 14 akun, mayoritasnya akun roleplay. Dan, akun roleplay adalah akun yang paling rentan dimusnahkan Zuckerberg.

Siapa pun yang jeli, atau setidaknya, yang lagi gabut sehingga punya cukup waktu untuk menengok laman “Tentang” pada menu di atas, pasti akan menemukan informasi bahwa blog ini merupakan wujud 2 in 1 blog. Dua blog dirapatkan jadi satu, meski mereka tetap punya kehidupannya masing-masing secara terpisah. Celestillalaland adalah nama kesatuannya, kendati nama itu menjadi domain bagi salah satu bagian yang terpilih jadi blog utama. Bagian sebelahnya hidup dengan domain Illaginations, berfungsi sebagai penampung cerpen-cerpen, fiksi kilat, puisi, dan narasi tak berarah yang terlahir dari imajinasi. Fakta—anggap saja—menarik: Illaginations justru lebih senior. Ia-lah blog yang saya maksudkan tadi; blog pertama yang benar-benar saya seriusi.

Illaginations dilahirkan pada 2016 dengan mengemban misi menjadi wadah bagi fiksi-fiksi saya yang tersebar di beberapa akun facebook juga laptop yang kala itu sudah menunjukkan tanda-tanda sekarat. Nama lahirnya cukup aneh: Purimajinasilla. Jelas aneh, sebab kala itu, saya lagi keasyikan bereksperimen dengan nama pena. Nama pena saya saat itu Illa. Dan, tercetuslah ide untuk membangun ‘puri imajinasi Illa’.

Purimajinasilla pun hadir, menemani eksistensi Samilla (Samsung Illa) si ponsel, Asilla (Asus Illa) si laptop, juga Bealla-chan (Beat Illa-chan) si motor, yang telah lebih duluan ada.

Konsepnya seperti ini: Purimajinasilla merupakan sebuah puri dengan empu sesosok peri bernama ‘Mademoisilla’. Ia hidup memelihara puri itu, dengan cara menyemai ruang-ruang di dalamnya. ‘Ruang’ adalah genre yang saya jadikan kategori postingan, mulai dari AstraFF, aksi, romans, puisi, narasi, angst, dan lain-lain. Cara menyemainya adalah dengan memasukkan fiksi-fiksinya ke dalam ruang itu.

Suatu hari, saya menyadari eksistensi hobi saya yang lain, yaitu meracau tanpa arah dalam wujud narasi. Dengan menulis, saya bisa mengempiskan balon yang menampung amukan dan keluhan di kepala juga hati. Status-status facebook dan perenungan saya pun mungkin butuh wadah yang lebih dari sekadar ‘dinding’.

Lantas, saya terpikir untuk membangun sebuah ‘rumah’ yang bisa menampung segalanya. Kebetulan juga, saat itu, saya tengah dalam masa awal konsultasi dengan psikolog yang menyarankan saya untuk menulis jurnal mimpi dan jurnal harian. Jadi, yang saya butuhkan adalah sebuah terminal yang menjadi jurnal mimpi, wadah dari pengalaman paling berkesan, komentar-komentar tidak berguna, sekaligus mampu menjadi diary terbuka yang bisa saya akses sendiri, tetapi tidak akan hilang karena keteledoran saya.

Maka pada 2018, usai melewati prosesi perenungan berkali-kali dan meminta pendapat seorang teman karib yang juga seorang penulis blog, dibangunlah ‘rumah baru’ saya; ladang baru yang bermanfaat menadah curhatan, ide-ide, omelan, dan buah pemikiran lainnya yang tidak bisa menemui muaranya dalam wujud fiksi, juga terlalu panjang dan dalam (dan aneh) untuk dituangkan dalam status Facebook.

Domain dan namanya Jurnilla. Bisa ditebak bukan, berasal dari kata apa? Yep, Jurnal Illa.

Selama beberapa lama, Jurnilla hidup damai sebagai rumah saya yang tak terjamah orang lain. Tak punya tetangga, kenalan, apalagi kerabat, sehingga tak ada kunjungan dari siapa pun. Postingan-postingannya pun kelewat pribadi dan kelewat tak penting untuk terindeks mesin pencari.

Kemudian, sampailah saya pada tahap jengkel pada diri sendiri, pada hidup, juga pada Jurnilla, karena merasa terlalu songong, terlalu cengeng, terlalu lembek, dan terlalu-terlalu lain yang berkonotasi buruk. Rasanya apa pun yang saya lakukan atau katakan, hukumnya selalu salah di mata saya sendiri, di mata orang-orang terdekat. Kekesalan itu lantas mendorong saya mengubah nama dan domain Jurnilla menjadi Errorist. Si tukang eror.

Masa hidup Errorist tak seberapa lama. Ia pun terancam oleh niatan saya untuk membuat nama pena baru.

Nama ‘Illa’ yang saya bentuk sekitar 2013 awal (terilhami dari lagu Juniel ‘Illa Illa’ dan sapaan kepada saya dari seorang teman SMA) rasa-rasanya terlalu pendek. Sempat terbersit beberapa nama: Illalalala (Illa + Lalala) karena …, uhm …, well, saya suka menyanyi; Mademoisilla (Mademoiselle + Illa); Scintilla (Science + Illa) yang kebetulan memang punya makna ‘sparkle’ dalam Bahasa Latin; Sherrilla (Sherry + Illa) yang terlahir karena sejak kecil saya suka Ai Haibara dalam Detektif Conan. Ai Haibara punya nama sandi Sherry; lalu Celestilla (Celestial + Illa) karena saya adalah makhluk bumi yang gemar mengamati langit.

Setelah melalui prosesi merenung dan seterusnya, memperhatikan dan seterusnya, menimbang dan seterusnya, juga bertanya kepada seorang anak yang saya besarkan seperti anak sendiri, saya pun mengetuk palu. ‘Celestilla’ terpilih sebagai nama pena saya yang sah. Tok! Tok! Tok!

Tadinya, saya sudah kepikiran untuk mengganti nama Errorist yang tak punya keestetikan itu menjadi Celestilla, tetapi kemudian, saya tidak yakin. Nama Celestilla sebagai domain atau nama blog rasanya kelewat datar, terlalu hambar. Perlu sedikit bumbu supaya lebih kerasa nendhang. Saya pun menambahkan Lalala dari Illalala ke dalamnya, menjadi Celestillalala, dengan sebuah konsep blog yang baru: ini adalah Semesta di mana Illa menyanyikan isi hatinya.

Sebelum saya sempat mengubah Errorist menjadi Celestillalala, dua hal menarik tiba-tiba saja menyapa hari-hari saya.

Pertama, sebuah kenangan akan video cover dance Please Be My Baby-nya Wonder Girls, sebuah girl band Korea Selatan, tahu-tahu lewat di beranda. Itu adalah video di mana teman-teman SMA saya mengikuti event Shelalaland yang diadakan parfum She, kalau tak salah tahun 2010-an.

Lalu, kedua, kakak ipar saya suatu hari menonton film lawas yang dibintangi Ryan Gosling dari harddisk yang dicolok ke layar televisi, yang kemudian ikut saya simak juga. Judulnya La La Land.

Saya pun tertarik mencari tahu, apa sih arti La La Land itu? Konon, La La Land memiliki dua arti berbeda. La bisa merujuk pada Los Angeles. Dan, La La Land sendiri punya makna alam khayali; sesuatu di luar jangkauan orang lain. Misalnya, pada kalimat ‘dia lagi di Lalaland. Percuma kamu ganggu’ bisa bermakna ‘dia lagi ngayal, percuma kamu ganggu’.

Saat itu juga, saya mantap memilih nama “Celestillalaland”, kemudian mengganti nama blog serta nama domain dari yang semula ‘Errorist’. Rasanya sangat ‘klik’. Klik yang gurih. Sebab, saya memang menulis dalam rangka ‘kabur’ dari dunia nyata yang membuat suntuk. Dan, saya berharap tempat ini, Celestillalaland, bisa menjadi tempat kabur saya.

Saat Celestillalaland ini disahihkan, saya sempat kepikiran untuk memindahkan konten blog cerpen, Purimajinasilla, ke dalamnya. Alasannya, 1) kepraktisan. Dengan mengelola hanya satu blog, saya tidak perlu bolak-balik blog kalau mau posting. 2) Branding. Waktu itu, kebetulan saya sedang bergabung dalam komunitas blog dengan mendaftarkan Celestillalaland, berhubung itu merupakan blog bebas dan blog utama. Maksudnya biar anggota komunitas yang saya ikuti itu tahu kalau saya juga menulis fiksi, bukan cuma ‘bacot’ tanpa guna di sini. Hehehe.

Namun, selekas ide itu datang, secepat itu pula ia tersisihkan. Keputusannya, saya tetap mengelola dua blog ini. Alasannya 1) Malas ekspor-impor. 2) Sayang tema. Saya suka kedua tema dari kedua blog ini. Tidak bisa kalau disuruh memilih. 3) Lebih baik ‘Celestilla’ yang menulis fiksi dibedakan dengan ‘Celestilla’ yang sedang curhat. Mencampurkan keduanya hanya membuat saya kepingin muntah.

Hingga suatu hari, tercetuslah ide baru lagi. Bagaimana kalau saya gabungkan keduanya, tapi tanpa ada yang perlu dipindahkan? Ada konsep yang seketika mencuat dalam kepala.

Celestillalaland adalah nama rumahnya, rumah yang memiliki dua ‘kamar’ terpisah. Yang satu untuk menulis kreatif, sisanya untuk ngomong sendiri.

Salah satu keuntungan punya nama sesimpel “Illa” jelas, yaitu mudah diutak-atik. Sesudah era kejayaan Jurnilla, Mademoisilla, Illalala, Scintilla, Sherrilla, dan Purimajinasilla, tibalah saatnya saya menyusun sesuatu yang lain. Dan, lahirlah sub nama “Solillaquy” dari Illa + soliloquy (kb. (j. –quies) percakapan seorang diri.),  juga “Illaginations” dari Illa + imagination (kb. daya khayal, imajinasi).

Demikianlah sejarah dan makna di balik nama tempat yang sedang kaulihat ini. Memang ribet, tapi sebetulnya sederhana. Saya senang menyusun konsep yang melibatkan banyak sudut pandang. Rasanya memuaskan bagi diri saya sendiri. Rasanya ‘klik’. Klik yang gurih.

Harapan untuk Blog Ini

pink breathe neon sign
Photo by Fabian Møller on Unsplash

ENTAH setahun lalu, atau dua tahun lalu, saya menulis sebuah pos resolusi awal tahun seperti kebanyakan manusia lain di dunia ini. Namun, alih-alih membuat daftar keinginan dan target yang mau dicapai berikutnya, saya malah menyuarakan keskeptisan saya pada Hidup itu sendiri di sana.

Saya memang pribadi skeptis. Setidaknya, sejak 2018, masa berduka saya yang kedua kalinya. Blog ini pun awalnya hadir sebagai wadah untuk menyuarakan kekecewaan saya atas hidup. Kalau tak ada media mengeluh, kepala saya mungkin sudah meledak karena terlampau penuh.

Jangan salah dan menghakimi dulu, saya juga enggak skeptis sejak lahir. Saya bahkan pernah jadi manusia paling optimis dan paling ambisius di lingkaran saya pada masanya, kok. Namun, usai melalui rentetan badai, sudah tak ada lagi yang tersisa. Paling hanya ampas-ampasnya saja. Saya belajar bahwa semakin kita berharap, semakin sakit rasanya kecewa. Semakin kita menginginkan sesuatu, semakin besar potensi dikecewakan. Semakin ambisius, yang ada malah semakin tertekan. Salah satu ketakutan saya belakangan adalah takut dikecewakan. Berharap dan berencana hanya memperbesar peluang itu.

Maka saya belajar untuk menaruh segala ekspektasi di taraf paling rendah yang saya bisa.

Sehingga, sisa dari keinginan terkuat saya dalam hidup ini cuma satu: tetap bernapas sampai habis waktunya.

Sederhana, ya? Padahal, bernapas nyatanya tidak sesederhana itu. Dalam sepersekian sekon, dalam sekedipan mata, tubuh kita memang bekerja otomatis mengais oksigen dan membuang karbon dioksida. Kontraksi dan relaksasi otot diafragma berlangsung tanpa kita sadari. Tapi, percayakah kamu, bahwa banyak dari kita yang tidak tahu cara bernapas yang benar?

Siapa pun bisa dengan mudah mencari dan menemukannya dari mesin penjelajah web. Para yogi berkata, bernapas yang baik adalah melalui hidung dan menggunakan perut, bukannya dada. Para penyanyi bahkan melatih pernapasannya dengan menahan udara di perut, lalu mengeluarkannya sedikit demi sedikit.

Saya pikir, memang seperti itulah seni dari bernapas. Sayang, banyak yang tidak mengetahuinya. Jadi tidak heran jika orang-orang yang lagi stres, cemas, panik, disugesti untuk mengatur napas mereka.

Bernapas jelas punya dampak yang besar bagi hidup. Bahkan, bukankah bernapas itu sendiri justru menjadi pertanda kehidupan? Tidak bisa saya bayangkan jika kemampuan seremeh sekaligus sekrusial itu suatu waktu terganggu. Sebagai manusia beragama, kita juga pasti seringkali disusupi kesadaran untuk mengingat kematian. Bukan untuk menakuti kematian itu sendiri, melainkan untuk lebih mensyukuri hidup. Membayangkan jika suatu saat nanti napas kita berhenti, jelas membuat kita lebih bisa menghargai setiap napas yang masih bisa kita tarik dan embuskan.

Dalam bernapas, setidaknya ada beberapa zat yang terlibat. 1) Oksigen, dibutuhkan untuk dihirup oleh tubuh. 2) Karbon dioksida dan uap air, perlu diembuskan agar tubuh bebas dari toksin, tapi zat itu masih bisa tetap berguna bagi alam semesta.

Buat saya, membaca dan menulis itu seperti bernapas. Saya membaca, lalu terinspirasi oleh buku, tulisan, peristiwa, alam, banyak hal—seperti oksigen yang merasuk ke dalam tubuh dengan pemahaman-pemahaman yang mengonstruksi cara saya berpikir. Usai memikirkan, mengolah, merunutkan, mengategorikan, dan membedahnya, saya pun bisa menuangnya dalam tulisan, berekspirasi, entah sekadar buat mengosongkan kepala untuk mempersiapkan diri mempelajari dan memikirkan hal lain, atau dengan niat supaya tulisan-tulisan saya bisa bermanfaat bagi makhluk lain—seperti karbon dioksida.

Blog ini hadir sebagai tempat di mana saya menuang dan mengabadikan karbon dioksida itu.

Harapan saya untuk blog ini pun sederhana. Sesederhana harapan saya dalam hidup: tetap bernapas. Bernapas dengan benar, bernapas dengan baik. Saya berharap saya selalu bisa menuang apa pun yang kepingin saya tuang; menuliskan apa saja yang mau saya tuliskan di sini. Saya berharap berharap tempat ini bisa terus hidup. Saya berharap tempat ini tetap dialiri vitalitas itu.

Setiap bloger memiliki tujuan masing-masing dalam membentuk sebuah blog, yang disesuaikan dengan minat mereka, tidak terkecuali saya. Ada yang menjadikan kegiatan ngeblog sebagai sumber pemasukan pasif. Ada pula yang cuma butuh ketenaran, alias memperbanyak lingkaran atau pengikutnya, dan sudah sampai di situ saja. Ada juga beberapa kalangan yang hanya mau berbagi apa yang pengin mereka bagikan.

Sebagai bloger yang masih memanfaatkan situs gratisan, saya bahkan merasa tidak cukup cocok menyandang predikat ‘bloger’. Count me out jika bloger yang kamu maksud adalah mereka yang aktif membuat konten, memaksimalkan pendapatan pasif dari iklan, dan bla bla bla lain yang tidak saya pahami. Saya menulis di blog gratisan cuma karena saya butuh menulis dan butuh media untuk itu, sementara kertas buku amat mahal—bukan harganya, melainkan proses produksinya—dan laptop, harddisk, maupun flash disk terlalu fana. Daripada buku-buku itu berakhir jadi debu tanah suatu hari nanti sebagaimana buku dan diary saya yang terdahulu, lebih baik ocehan tak berguna saya dituangkan dalam blog pribadi. Anggaplah saya mencoba untuk tidak merugikan alam semesta dengan menolak sepersekian persen dari hasil buminya berakhir tercampakkan dalam tangan saya demi seonggok hobi.

Kelihatannya sederhana, karena saya tidak menaruh target seperti harus punya berapa follower, harus menentukan niche, harus beli domain sendiri, dan harus-harus lainnya. Saya cuma harus bernapas di sini. Menulis di sini. Apa pun, mau itu fiksi, atau curhatan enggak berarah. Sebab, kehadiran saya di sini adalah pertanda bahwa diri saya masih baik-baik saja. Selagi masih bisa menulis, berarti saya masih punya cukup daya untuk belajar, berpikir, dan meramu kalimat. Selagi saya masih bisa menulis, berarti saya masih bernapas. Masih dialiri kehidupan. Dan, meski beberapa kali saya sempat tercekat dengan napas yang hampir putus; meski sudah merasa skeptis terhadap kehidupan itu sendiri, saya masih ingin hidup dengan sebaik-baiknya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Time Hari Blogger Nasional Blogger Perempuan Network dengan tema: Aku dan Blog.

Gambar Andalan: Canva

6 respons untuk ‘Masa Lalu dan Masa Depan Kami: Aku dan Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.