Merasa Lebih

DALAM KESEMPATAN LALU, telah saya beberkan sepintas argumen pribadi saya kalau dosa utama manusia adalah kesombongan. Bahwa kesombongan seperti dosa induk yang menelurkan anak-anak dosa lain. 

Kesombongan itu sendiri secara umum bisa dimaknai sebagai sikap menilai dirinya kelewat tinggi dibandingkan fakta yang ada. Dan karenanya, secara otomatis kesombongan merambah pada perasaan menganggap rendah orang lain yang bukan dirinya atau tidak seperti dirinya.

Saya selalu berpikir bahwa kesombongan ini adalah induk dari berbagai macam masalah yang melanda negeri ini. Apa yang melandasi pernyataan ini adalah pengamatan saya terhadap peristiwa yang berlangsung di dalam negeri. Saya pun berandai-andai, sepertinya jika satu hal ini–kesombongan–mampu kita tekan, peristiwa-peristiwa meresahkan yang belakangan hadir memenuhi portal-portal berita lokal dapat kita minimalisir. Bahkan dalam lingkup yang lebih luas lagi, barangkali dampaknya tidak cuma memengaruhi kehidupan orang Indonesia, melainkan kehidupan semua umat manusia.

Merasa sombong bikin orang bodoh tidak menyadari bahwa dirinya bodoh. Mengapa?

Karena mungkin dia berpikir bahwa dia tahu lebih banyak ketimbang mereka yang lain.

Buat saya, kebodohan itu sendiri bukan kesalahan. Seseorang diciptakan dengan kualitas otak dan akal pikiran yang pas-pasan, bukan suatu dosa. Maka dalam kepercayaan tertentu, hanya dikenal 7 (tujuh) dosa utama manusia yang diwakili oleh masing-masing iblis utama, yaitu Kebanggaan atau Kesombongan yang diwakili Lucifer sang mantan malaikat, Ketamakan atau Keserakahan yang diwakili Mammon, Nafsu Seks yang Berlebihan yang diwakili Asmodeus, Iri Hati yang diwakili Leviathan, Kerakusan yang diwakili Beelzebub, Kemarahan yang diwakili Satan atau Amon, serta Kemalasan yang diwakili Belphegor.

Yang membuat kebodohan menjadi sesuatu yang salah adalah kemalasan kita untuk mencari tahu kebenaran, dan kesombongan kita karena merasa diri telah benar dalam ketidaktahuan itu. Padahal, kita tahu bahwa pengetahuan itu seperti air, terus mengalir dan menganak sungai. Yang harus kita lakukan adalah tidak berhenti belajar dan enggak berhenti mencari tahu.

Merasa lebih tahu dalam aspek inilah yang barangkali mendasari sikap pantang mendengarkan omongan, nasihat, atau kritik yang diarahkan kepada kita. Merasa lebih tahu membuat kita tidak mau membuka diri akan kemungkinan lain selain apa yang kita pahami. Membuat seseorang menolak untuk mencoba melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dengan apa yang ia percayai.

Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

(H. R. Muslim)

Tidak selamanya kita perlu bersikap apatis terhadap komentar orang lain yang kita anggap tidak punya kontribusi apa pun dalam hidup kita. Keteguhan hati itu perlu, tetapi tidak selamanya. Sebab tidak selamanya pula apa yang kita pahami dan kita ketahui itu sudah mengkover satu dunia.

Sebab secara umum, sekurang-kurangnya ada 4 (empat) pengetahuan tentang diri kita sendiri. Pertama, apa yang diketahui oleh kita sendiri juga orang lain, seperti misalnya nama, jenis kelamin, dan hal-hal umum lain. Kedua, apa yang diketahui kita, tetapi tidak diketahui orang lain; sesuatu yang kita kenal dengan istilah “rahasia pribadi”. Ketiga, apa yang diketahui orang lain, tetapi tidak kita ketahui atau tidak kita sadari. Hal kecil yang bisa menjadi ilustrasi dari kasus ini misalnya ketika ada sesuatu menempeli bagian punggung kita sehingga tidak bisa kita lihat, tetapi mampu ditangkap oleh orang yang berada di belakang kita. Dan yang terakhir adalah apa yang tidak diketahui oleh siapa pun, termasuk diri kita sendiri.

Oleh karenanya, ada kalanya kita perlu membuka diri, mengosongkan cangkir, untuk menerima hal-hal yang barangkali tidak kita ketahui atau kita ketahui tetapi hanya dari satu sudut pandang semata.

Di sisi lain, hal yang sama pun berlaku sebaliknya. Kesombongan dalam aspek ini juga yang barangkali menjadi landasan berpikir dari orang-orang yang merasa pantas mengomentari hidup dan pilihan orang lain.

Sebab mereka rasa mereka lebih tahu, lebih berpengalaman, lebih berilmu, sehingga mencoba memberi saran yang menurut mereka bakal lebih membantu ketimbang pilihan orang yang mereka beri saran, dengan cara yang terkadang kelewat batas.

Menyampaikan memang penting. Memberi saran pun sama penting, karena seperti yang sudah diulas tadi, barangkali kita melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain atas dirinya sendiri. Dan setiap manusia memang kadang perlu mempertimbangkan sudut pandang lain demi melapangkan wawasan diri.

Masalahnya, menyampaikan pendapat tidak harus dengan menghujat keputusan orang lain yang sebetulnya tidak berhubungan dengan hidup mati kita, ‘kan? Apalagi kalau sampai mengeluarkan ancaman atau bahkan melaknat orang lain.

Yang belakangan ini terjadi adalah banyak manusia yang tanpa sadar mulai menuhankan diri. Merasa terlalu tinggi. Mengingatkan, padahal menghakimi. Seolah lupa, bahwa tiap-tiap insan bertanggung jawab dan kelak bakalan dihisab atas diri dan namanya sendiri.

Merasa sombong pun bikin orang berpikir bahwa dirinya lebih superior dibandingkan banyak orang.

Perasaan superioritas ini yang barangkali kemudian mempercabangkan perasaan wajar untuk bertindak semena-mena kepada orang yang dianggapnya inferior.

Misalnya saja dalam kasus manusia menyakiti hewan. Sebab barangkali terkadang, kita kelewat arogan dengan memanfaatkan ayat bahwa Tuhan menciptakan hewan dan tumbuhan untuk kemaslahatan hidup manusia, sehingga apa pun yang kita lakukan pada mereka kita perbolehkan begitu saja. Kita anggap diri kita lebih tinggi derajatnya dari binatang (yang mana menurut saya pun pada dasarnya tidak salah), hingga alih-alih menyayangi mereka, kita justru merasa wajar jika menyakiti makhluk itu. Boleh-boleh saja menolak fakta sains bahwa manusia sebetulnya berkerabat dekat dengan simpanse, tetapi bukan berarti itu menjadi alasan bagi kita untuk merasa tinggi hati.

Dalam kasus lain, perasaan superioritas ini pula yang mungkin melandasi seseorang hingga ia melakukan kekerasan, fisik maupun psikis, termasuk pula kekerasan seksual. Pelaku merasa si korban adalah tipikal yang lebih lemah darinya, baik secara status, fisik, maupun hukum, sehingga si korban tidak akan berani mengadu kepada siapa pun. ‘Memangnya siapa yang mau percaya pengakuan kamu? Orang bakalan lebih percaya kata-kata saya.‘ Maka terlahirlah kekerasan seksual di area sekolah atau universitas oleh pengajar kepada yang ia ajar, juga kekerasan seksual oleh ayah, paman, kakak, kepada anak, keponakan, atau adik mereka yang tidak memiliki kekuatan satara dirinya. Terwujud pulalah keberanian dalam benak suami untuk menyakiti istrinya. Terciptalah kekerasan terhadap orang tua dan anak-anak.

Dalam konteks lain, perasaan superior pula yang sepertinya membuat manusia berani merendahkan orang yang fisiknya dianggap lebih buruk di mata mereka. Menghina-dina orang yang dipandang jelek menurut standar kecantikan atau ketampanan yang tengah ngetren. Bertindak rasis dan menghina etnis, ras, agama, atau golongan lain yang dianggapnya lebih rendah dibanding apa yang ia miliki. Juga merasa lebih pantas mendapatkan warisan hingga menghabisi nyawa saudara sendiri. Bahkan, mengorupsi apa-apa yang sebetulnya bukan haknya, tapi karena keserakahan, juga lantaran merasa “lebih berkuasa“, maka buat mereka itu halal-halal saja.

Bahkan, bisa saja ini juga yang mendasari perilaku barbar segelintir kalangan. Menganggap kaum mereka sebagai kaum superior, lebih tinggi, lebih banyak, lebih suci, dan lebih … pokoknya lebih dibanding kaum lain, sehingga mewajarkan tindakan dalam menyakiti hati, perasaan, bahkan fisik orang yang mereka anggap rendah, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun, karena sudah merasa bahwa langkah merekalah yang paling benar. Maka merebaklah manusia-manusia kelewat bangga dan gemar memelihara standar ganda. Apa-apa yang baik dan menguntungkan pun diakui, apa-apa yang buruk dan merugikan dibilang, “Bukan golongan kami.” Kelewat membangga-banggakan seseorang yang menyeberang menuju tempat mereka, dan di sisi lain mengutuk serta menyerapahi orang yang menyeberang keluar. Bahkan, ada pula yang kesombongannya sampai pada taraf merasa mampu mengelabui Tuhan yang (katanya) mereka imani sendiri.

Tak perlu saya sebut secara khusus orang seperti apa atau golongan mana yang seperti ini. Semua orang barangkali telah mengerti. Pemahaman itu kembali pada diri sendiri. Kembali pada pribadi masing-masing. Kita yang paling paham apakah kita memelihara kesombongan itu di dalam diri, ataukah tidak. Kesombongan tentu ada dalam setiap pribadi, tidak terkecuali saya. Coba kita bertanya pada diri sendiri, ‘Apakah saya sombong? Dan pantaskah saya sombong?‘ Semua ini kembali pada kita, mau kita pupuk dan beri makan hingga ia tumbuh subur dan menggelepar megar, atau justru kita kendalikan ia dengan berprinsip bahwa di atas bumi yang sama, kita ini sama-sama sebutir debu.

Jika iblis dijatuhkan dari surga karena keangkuhannya, maka bisa jadi kesombongan bakal berlaku sama—punya dampak yang kurang baik kepada manusia. Dalam ajaran yang saya imani, ada sebuah larangan untuk memalingkan wajah dari manusia lain dan berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sebab yang pantas merasa maha adalah Sang Maha itu sendiri. Selagi kita sama-sama diciptakan, sama-sama bakal binasa suatu saat nanti, kita tak punya kepantasan untuk merasa ‘lebih’.

Saya lupa dari mana dan kapan saya baca, tapi ada satu kutipan yang terus menghantui saya sejak itu. Mungkin waktu masih SD. Tidak begitu melekat sampai terngiang-ngiang di kepala, sebetulnya. Akan tetapi, saya ingat intisari kalimatnya yang mengimbau kita untuk tidak bersikap sombong, baik sombong akan ilmu, sombong akan status, sombong akan harta, maupun sombong akan ibadah. Berikut saya improvisasi biar lebih “umum” kedengarannya.

“Manusia jangan sombong terhadap manusia lain. Esok, jika kamu tidak bisa berbuat apa-apa dan kehilangan segala daya untuk bisa apa-apa, manusia lain yang bakal mengurusimu menuju keabadian. Manusia jangan pula sombong terhadap hewan. Esok, jika kamu sudah menuju keabadian, tubuh yang jadi tungganganmu di dunia dan kamu bangga-banggakan itu bakal lebur dilahap belatung, berada sekian meter jauh di bawah kaki makhluk lain, atau melebur jadi sesuatu yang masuk ke dalam perut hewan yang kita anggap rendah.”

Kemudian, …

You think you’re special? You’re not. Everyone lies, everyone hides things… Nobody makes it through this life being completely honest.

(Orihara Izaya – Durarara!!)

Satu-satunya alasan kita tampak lebih dibanding orang lain adalah karena dunia memang diciptakan bervariasi. Maka mari kita terima perbedaan dengan tidak merasa lebih dibandingkan semua orang. Sebab kebencian dan membeda-bedakan sama sekali bukan kebiasaan yang lahir begitu saja, melainkan diajarkan dan kita biasakan sendiri.

No one is born hating another person because of the color of his skin, or his background, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes more naturally to the human heart than its opposite.

(Nelson Mandela)

Gambar Andalan: Canva

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.