[BM] Clueless dalam Final Lomba

Yang jelas ada sebuah perlombaan yang mesti kuhadiri. Tapi tahu-tahu sudah babak final. Sementara aku tidak ingat apa pun sebelum itu, kecuali bagaimana aku dan teman-teman bergerak ke tempat lomba diselenggarakan.

Kami berlima. Aku sampai bengong menyaksikan teman-temanku memuja-mujiku karena kegarangan dan keganasanku juga seorang teman lain—yang tidak kuingat wajahnya—di arena lomba. Katanya kami seperti duo beringas yang berduet menebas semua pertanyaan dengan rakus. Lomba ini seperti cerdas cermat dengan materi gabungan semua mata pelajaran umum. Dan kami berdua dijuluki macan dan serigala di sini.

Sementara aku masih berupaya menggali ingatanku yang emtah tertimbun di mana. Serius, aku tak ingat kalau aku pernah menjawab pertanyaan mana pun! Aku bahkan sempat berpikir kami baru mau memulai perlombaan ini, bukannya malah tahu-tahu sudah final saja.

Karena tindakan dan sikapku yang tak biasa itulah, teman-temanku bertanya apa aku sakit dan ada apa denganku. Aku juga tak tahu ada apa. Malah kulakukan banyak kesalahan dalam perjalanan kami saking nihilnya informasi dari dalam kepala.

Pertama, salah angkot. 

Kami menunggu di depan halte, dan beberapa angkot berangka 10 lewat. Aku menaiki salah satunya, dan begitu angkot itu berjalan, aku baru sadar teman-temanku tidak membersamaiku. Kaget, kutengok keluar dan ternyata mereka ada di angkot belakang, memanggil-manggilku yang salah naik. Walhasil kuhentikan angkot, turun, dan kulihat bahwa angkot yang kunaiki tadi rupanya bukan angka 10, melainkan 27.

Tiba di area perlombaan pun, aku masih kebingungan menghadapi betapa semua orang segan padaku. Puja puji kutuai lagi. Tatapan mereka sarat akan penghargaan. Saat itulah aku mulai yakin ada sesuatu yang salah. Kesimpulanku pun merambah pada: sepertinya dalam dua putaran perlombaan sebelumnya, aku dirasuki sesuatu yang super pandai.

Waktu kami diminta berbaris, aku satu-satunya yang cengo mendapati kami ditempatkan di posisi yang memperoleh poin tertinggi. Beragam tatapan kagum malah buatku terbebani. Ada beban massa yang diletakkan di atas kedua pundakku semena-mena. Dalam hati aku bertanya-tanya, kenapa setannya tidak datang menguasai tubuhku lagi?

Maka tibalah saatnya kami berdoa. Dua perwakilan masing-masing tim mencomot satu helai sobekan kardus dan menghadap sebuah pohon kecil yang ditanam di dalam pot. Di kardus masing-masing ada sederet tulisan yang kulupa apa. Kami berdua berhadapan mengapit pohon dan mulai merapalkan doa yang ditujukan pada “pencipta dari pohon itu”.

Namun, dalam hati yang kudoakan adalah: tolong wahai siapa pun yang merasuki tubuhku kemarin-kemarin, ayo, datang lagi. Aku ikhlas lahir batin membiarkanmu menguasaiku, asal kaubikin kami menang sampai lomba ini selesai.

Tapi tiada tanda-tanda makhluk itu datang. Aku berdiri gelisah dan clueless, mengikuti langkah temanku yang katanya partner jawabku itu, menghadapkan tubuh kembali pada panitia yang memberi kami sobekan kardus tadi.

Panitia itu lagi-lagi memuji. Katanya, ajang final ini hanya formalitas, sebab mereka sudah tahu siapa juaranya jika melihat performance kami kemarin-kemarin dan jika kami mempertahankannya hari ini. Makin clueless lah diriku. Kulihat temanku bersikap biasa saja, aku jadi gugup karena takut mengecewakan banyak orang justru karena ini aku, sedang yang kemarin-kemarin, yang buat mereka memuja-muji itu, kutahu bukan diriku. 

Potongan kardusnya disuruh untuk dikembalikan. Aku mengerjap bingung, lho, tadi kutinggalkan di dalam pot. Kening si panitia berkerut, kentara banget kalau dia heran sebab aku melakukan kesalahan ini sebab barangkali ini aktivitas yang juga kami lakukan dalam dua kesempatan sebelumnya.

Temanku pun memandangku aneh. “Kamu kok nggak kayak kamu. Kenapa? Sakit?”

Ingin rasanya kuteriak, “Justru kemarin aku sakitnya. Sekarang mana hantunya? Ayo datang rasuki aku lagi, menangkan dulu kami! Aku benar-benar nggak tahu mesti ngapain aja di sini. Aku sungguh clueless, apalagi kalau disuruh jawab pertanyaan. Apa itu macan? Apa itu serigala? Aku malah jadi tikus kejepit di sini tanpa dirasuki.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.