Waktu Berlalu, Dunia Berbalik, Orang-orang Berubah

PADAHAL CUMA BENDA MATI, tapi terkadang, jejak digital tidak tanggung-tanggung menunjukkan kekejamannya dalam mengekalkan kenangan. Sebab ada banyak sekali hal berlalu dan berubah seiring waktu tanpa disadari, tapi begitu saya menoleh ke belakang, saya lantas dibuat terkejut, “Ohlala, ternyata saya sudah berjalan sejauh ini! Tapi, kok, masih begini-begini juga.” 

Kekejamannya pada saya baru benar-benar saya sadari begitu kemarin nekat membuka akun facebook lawas.

Jadi, saya memiliki 3 akun pribadi di luar kepentingan roleplay (yang mana mengharuskan saya untuk beternak akun).

Akun pertama saya buat saat awal SMA, 2009, saat-saat perdana facebook menyentuh kehidupan kawula muda Indonesia. Hype media sosial yang satu itu memang luar biasa, hingga membuat saya, yang kala itu hanya punya ponsel nokia berjaringan E yang lemot tidak keruan (terkadang saya sampai ketiduran waktu menunggu ia memuat sebuah laman) ikutan melibatkan diri. Akun ini saya nonaktifkan sekitar 2013 karena jujur, saya iri melihat teman-teman seangkatan memposting aktivitas perkuliahan mereka.

Akun kedua saya buat jelang akhir SMA, 2012, akibat turut terseret arus akun facebook Nama Part II. Akun inilah yang masih hidup awet hingga sekarang, karena memang sejak awal kelahirannya, saya fokuskan ia pada ranah kepenulisan. Bedanya, pada saat awal kehidupan, lingkarannya berkisar pada cerpen-cerpen serba Indonesia, sementara kini ia berada dalam lingkungan kehidupan roleplayer narasi. 

Akun ketiga saya buat 2014, karena saya lupa kata sandi akun pertama yang telah saya nonaktifkan, sedangkan akun kedua telah penuh oleh ampas-ampasnya saya, sementara pergaulan rupanya menuntut saya untuk memiliki akun facebook lagi. 

Beberapa hari lalu, saya coba aktifkan akun pertama lewat surel lama (yang juga kemudian mengingatkan saya pada nama situs mobile blog yang lama saya lupakan: wapblog). Rasa penasaran dan rindu berlebihan pada nama-nama asing juga kenangan-kenangan usang, membuat saya habiskan waktu untuk sekadar “self-stalking“, membaca-bacai status lawas sendiri.

Dan saat itulah kekejamannya menyambar saya tak kira-kira.

Saya baru ingat bahwa saya pernah menuliskan satu artikel panjang untuk “menyemangati” seorang teman yang sedang stres nyaris depresi menyelesaikan skripsi, saat fitur catatan facebook masih ada. Di dalam sana, ada kalimat yang sungguh membuat saya yang sekarang ingin menangis: “Punya Allah, kok, bisa depresi?”

Dahulu saya berpikir bahwa kalimat itu sudah yang paling benar. Kenapa kita depresi dan larut dalam kecemasan kalau kita sudah yakin ada Zat yang Maha Ada dan Maha Mengatur apa-apa yang kita jalani di dunia? Namun, kini saya tahu, saya mengatakannya hanya karena saya tidak benar-benar mengenal seperti apa dunia ini. Saya melihat dunia dari kacamata sempit yang saya gunakan, tanpa ada keinginan beringsut dan melihat dunia dari sudut teman saya yang mengalami semua itu. Bertahun-tahun berlalu, dan lihatlah perbedaan antara saya dahulu yang superoptimis plus antipati itu, dengan saya saat ini; sosok yang depresif itu sendiri. Ternyata orang tidak akan tahu, saya tidak akan tahu sesuatu, sebelum saya merasakannya sendiri. 

Ya … belakangan saya tahu bahwa saya memendam bibit depresi itu sendiri sejak duduk di bangku sekolah menengah. Hanya saja, ia terpendam oleh optimisme saya akan dunia ini. Pemberontakannya datang seiring mengendurnya optimisme itu lantaran aus dikikis kehilangan demi kehilangan, dan keterbukaan mata saya (atau barangkali terpengaruh?) oleh menjamurnya bahasan depresif di alam maya. Dugaan ini membuat saya terperenyak. Apakah dengan demikian, berarti semakin kita sadar bahwa merasa tidak nyaman itu wajar, ada kalanya kita malah semakin tidak nyaman?

Entah timbal balik atau karma yang tiba lebih cepat dan pantang menanti untuk kehidupan selanjutnya, kini giliran saya yang menuai sindiran. Tidak main-main. Datangnya dari seseorang yang saya anggap guru. Semula saya pikir itu hanya firasat atau kecemasan saya semata. Namun, rupanya benar. Sinisme itu datang gara-gara status depresif saya di dunia maya. Sejujurnya saya kecewa. Seseorang dengan pendidikan dan akhlak setinggi beliauwati saya pikir tidak akan pernah menumpahkan pernyataan antipati. Akan tetapi, bakal saya terima semua itu sekarang dengan lapang dada. Fase nangis-nangis sudah saya lalui kemarin-kemarin. Mungkin memang saya semestinya dihantam sendiri biar tidak keseringan bacot sok tahu lagi tentang kehidupan orang di masa kemudian.

Saya pun baru ingat bahwa saya pernah berceletuk dalam kolom status dengan bunyi: “Aku kepingin menikah pada usia 20, biar sama seperti Yukiko Kudo. Meminimalisir zina, dan meski anakku sudah besar, aku tetap masih muda, duh Mas Jodoh, where are you?” lengkap dengan emotikon pacman. Urutan kalimatnya tidak persis seperti itu, tapi intinya sama. Hanya bumbu kelayannya yang sudah saya singkirkan demi kenyamanan hati dan keamanan diri. 

Status ini bikin saya tertawa sampai berderai air mata. Lucu, miris dan kepingin menangis. Optimisme saya di masa lalu sungguh bikin saya di masa kini amat takjub. Betapa polosnya pandangan gadis manusia belia zaman megalodon ini yang berpikir bahwa menikah itu menyenangkan dan bisa menjadi solusi dari kesemrawutan hidup.

Lalu lihat saya yang sekarang ini. Dalam kurun hampir satu dekade telah berlalu dari target yang saya canangkan, rupanya pandangan saya berbalik, nyaris 180 derajat. 

Kali ini saya paham. Benarlah bunyi hadis itu. Cintai sesuatu sewajarnya, sebab kelak ia bisa jadi sesuatu yang saya benci. Bencilah sesuatu sewajarnya, sebab kelak ia bisa jadi sesuatu yang saya sukai. Dulu saya terobsesi jadi muslimah alim berkerudung panjang biar dapat jodoh ikhwan-ikhwan. Sekarang, yang ada dalam pikiran saya cuma semoga saya bisa hidup tenang. Dulu, saya illfeel pada orang yang suka berdrama di status. Sekarang, justru sayalah yang gemar sambat di postingan beratus-ratus kalimat seperti sekarang. Meski sampai saat ini saya masih tidak suka depresi. Ingin sekali saya tukarkan semua yang saya punya dengan hilangnya perasaan yang satu itu, andai bisa.

Tapi, perbedaan kecil dalam kasus saya ini tidak mengurangi esensi yang bisa saya petik dari sana: hati-hati berbicara sebelum paham rasanya, sebab esok lusa bisa saja saya telan ludah sendiri. Dan itu memalukan.

Amukan terpendam itu baru benar-benar meledak selepas saya temukan status omelan saya pada orang-orang yang gemar menadah jawaban. Rupanya saya pernah bilang, “Lucu melihat manusia-manusia yang koar-koar antiKKN tapi kalau di sekolah atau kuliah demen nyontek, ngerpek (membuat contekan dari kertas kecil), bahkan ngemis jawaban dan kalau nggak dikasih ngamuk. Atau mereka yang apa-apa pakai kekuatan orang dalam, bangga pula. Entitas seperti ini, perlu dibuka isi kepalanya. Jangan sampai ada benang kusut nyangkut di otaknya.”

Lalu kepala saya refleks mengorelasikannya dengan sebuah cuitan di platform burung biru, yang kebetulan lewat di beranda karena di-retweet seorang mutual. Bunyinya begini: “Elu-elu yang dulu pelit dimintai jawaban, sekarang sudah jadi direktur mana?” 

Sebab saya pernah termasuk tipe manusia yang pelit jawaban itu. Saya yang ambisius lebih tertarik memberikan penjelasan atau kisi-kisi ketimbang jawaban mentah jika ditanya. Rasanya tidak adil, mengingat kita memiliki waktu dan kesempatan belajar yang sama, tapi yang satu belajar mati-matian, sementara yang lainnya tinggal minta. Lalu, lihat kini, jadi apa saya? Belum jadi apa-apa. Hanya satu manusia yang jadi beban dunia. Sementara mereka yang saya sindir dalam status lawas di atas, setelah saya telusuri akun mereka berbekal rasa kepo luar biasa, justru sudah jadi orang ternama semua.

Sontak kepala saya mendentangkan sebuah lagu nasyid yang kerap saya nyanyikan. Liriknya dari hadis Rasul:

Uthlubul ‘ilma walau bissin. Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina. Jangan berilmu tanpa amalan. Bagai pohon tanpa buahnya. Ilmu yang baik membuahkan takwa, bermanfaat sesama insan.

Sampai saat ini saya mempertanyakan: apa manfaat dari pengetahuan yang saya timba sejak kecil sampai sebangkotan ini, selain hanya demi selembar kertas yang memvalidasi saya sebagai seorang pekerja? Jujur, saya masih ingin melanjutkan studi, lalu mengajar. Melanjutkan estafet pengetahuan ke tangan-tangan yang lebih muda. Saya yakin saya berkompetensi di sana dan bisa berkompetisi bersama dua teman dan seorang sepupu yang menjadi salah satu alasan saya menuliskan curhatan ini. Hanya saja, keyakinan itu tidak dibarengi kesempatan dan sokongan kondisi. Meski orang bilang kesempatan itu diciptakan, dan kondisi itu bisa disesuaikan, untuk seseorang yang kerapkali lelah hanya karena berusaha memahami omongan orang dan mesti amat berhati-hati dalam menjalani hari biar tidak banyak yang memengaruhi suasana hati, hal-hal enteng jadi terasa amat sulit. 

Maka saya benar-benar menangis. Benarlah apa yang saya duga. Privilese dari Atas itu pengaruhnya sungguh biadab. Seorang dosen pernah berkata, mereka yang lahir pandai akan kalah dari yang bekerja keras. Kini, biar saya tambahi. Yang pandai dan bekerja keras pun bakal kalah oleh mereka yang diberi kelapangan jalan dari Ilahi—privilese—dalam wujud apa pun. Meski buat saya, kepintaran itu sendiri pun privilese karena tak semua orang memiliki kemampuan mencerna yang sama baik, tapi seolah ada Tangan Tak Kelihatan yang bekerja dengan membuka jalan lebih mudah pada sebagian orang, dan menyempitkan jalan sebagian lainnya. 

Dari cuitan itu pula, benak saya meletuskan kecewa. Betapa prestasi masa lalu dan proses belajar seolah tidak ada harganya di mata dunia. Kebanyakan orang hanya akan melihat hasilnya, titik mana yang mampu saya capai, bukan apa saja yang sudah saya lakukan atau pelajari, bukan pula proses dari pencapaian itu. Kebanyakan orang hanya akan melihat saya jadi apa sekarang, bukan apa saja yang pernah saya lakukan di masa lalu. 

Hal ini melahirkan pertanyaan baru: memangnya titik macam apa yang perlu kita lihat untuk pencapaian puncak itu sendiri? Kalau seseorang sudah mencapai sebuah prestasi, kemudian jatuh, bukankah akan ada lebih banyak manusia yang fokus pada kejatuhannya daripada prestasi puncaknya? Seolah orang-orang ini tahu bahwa dunia ini berputar, tapi mereka tetap tidak mau melihat bahwa di antara malam dan siang, ada pula pagi dan petang. Yang ditangkapnya hanya gelap dan terang. 

Sudah lama saya beranggapan bahwa waktu itu sendiri pun adalah sebuah tangan tak terlihat lainnya yang membuai, lalu membanting kita dalam kesadaran yang tiba-tiba. Bilangan masa berlalu tanpa di-notice, tapi di dalamnya ia hadirkan peristiwa yang perlahan-lahan rupanya mengubah manusia menjadi sesuatu yang berbeda dari titik ia berdiri semula.

Tapi, jujur, baru kali ini saya merasa amat terpukul menyadarinya dengan fakta-fakta yang terbentang dari sekeliling. 

Apalagi saya hidup memelihara masa lalu dalam relung memori. Ada kalanya kabar-kabar dari kenalan bertandang, lalu tanpa sadar saya larut dalam kenangan dan penyesalan. Mereka sudah begitu, sedang saya masih begini-begini saja. Mereka seolah berlari terlampau cepat, sedang saya yang memulai segalanya agak terlambat pun tetap saja tersendat-sendat. Akselerator macam apa yang mereka punya? Saya juga kepingin satu. Saya juga kepingin bisa membebaskan diri dari belenggu dendam masa lalu, insekuritas masa kini, dan kecemasan akan masa depan yang tampak buram sejauh ini.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.