Membuka Gerbang Kesadaran (dan Kewarasan)

BEBERAPA WAKTU LALU, seorang teman mengunggah seuntai status yang sedikit menampar.

Ia singgung perihal tren sekarang yang gemar menjadikan isu atau penyakit mental sebagai sebuah kekurangan yang patut dimaklumi banyak manusia, hingga kelakuan yang sebenarnya bisa diubah dan dibenahi justru cenderung dituntut untuk dimengerti dengan dalih seperti, ‘Ya maklum, gue kan borderline, bipolar, ini itu blablabla dsb.’

Meski separuh hati saya bilang saya tidak sedrama itu, sebagiannya menimpali bahwa saya pun tidak berbeda. Ada kalanya saya menuntut orang paham. Ada kalanya saya menyalahkan kondisi. Mungkin memang tidak salah, tapi tindakan itu juga tidak sepenuhnya benar. Seharusnya saya berusaha untuk menerima dan merangkul amukan itu buat didamaikan, bukan malah bersikap masa bodo dan membiarkan ia merajalela.

Berkat pernyataan teman saya ini—yang sebetulnya tidak ditujukan khusus bagi saya, hanya saja saya yang mengambilnya secara pribadi—kemarin-kemarin, saya sempat marah dan tersinggung. Saya anggap bahwa memang tidak sebaiknya membuka diri kepada semua orang. Tidak sebaiknya saya sambat di dunia maya, karena sama seperti dunia nyata, sebagian orang tidak akan peduli dan malah menertawakan kita.

Sebagiannya mungkin peduli, tapi cuma penasaran. Sebagian yang lain peduli, tapi tidak percaya, bahkan ada yang menjadikan cerita kita sebagai bahan olokan hanya karena mereka menerima sebagian informasi semata. Mereka bersikap sok tahu seolah apa yang kita ceritakan adalah sebuah kesatuan yang utuh, tidak berpikir bahwa ada hal-hal yang tidak diceritakan dengan berbagai alasan. Sementara tipikal manusia pada dasarnya adalah: cuma mau percaya apa yang mereka percaya. Sebagian yang lain mungkin peduli, tapi tidak akan membantu karena ini bukan urusan mereka. Sebagian yang lain peduli, ingin membantu, tetapi tidak bisa, sebab bagaimanapun, kita hanya orang asing yang kebetulan dikumpulkan dalam satu tempat bermain.

Akhirnya saya putuskan untuk tidak lagi membuka diri pada manusia-manusia asing ini. Hanya di tempat ini kini saya berani berkisah, sebab ini jelas rumah saya, dan tidak ada tuntutan dari saya bagi siapa pun untuk tetap berada di sini. Social media is nice, but personal media is nicer. Kalau merasa semua cerita di sini hanya omong kosong belaka, mencari perhatian saja, atau terlalu berdrama, adalah suatu kebebasan untuk tidak lagi mengikuti pembaruan dari sini. 

Terlepas dari kekesalan di atas, belakangan saya mencoba untuk lebih berkaca lagi. Saya menyeberang ke kuadran yang berbeda untuk menganalisis kepribadian sendiri. Reframing; istilahnya. Dan, sebetulnya, apa yang orang-orang ini bilang pun tidak salah. Jika berada di sisi mereka, penilaian saya juga tidak begitu berbeda. Saya akan anggap diri saya sebagai seorang pencari perhatian dan tukang drama. Karena dari sisi itu, sebagian hal dari saya tertutup dan saya tak bisa pandang permasalahan secara utuh. 

Pernyataan teman saya itu benar. Ada sebagian hal yang terus saja saya persalahkan padahal solusi yang lebih bijak adalah berdamai dan berusaha terbuka. Maka saya coba analisis di sini beberapa hal yang datang dari distorsi kognitif saya; sesuatu yang barangkali bisa menjadi batu loncat biar saya bisa membuka gerbang menuju kesadaran (dan kewarasan).

Menyalahkan Orang Tua

Perilaku ini yang paling sering terjadi, sadar atau tidak sadar. Penyesalan telah terlahir yang kerap merubung jelas ada kaitannya dengan ini.

“Kalau saja orang tua tidak seenaknya berhubungan seks, saya tidak akan terlahir dan menyicipi kebusukan dunia. Kalau saja orang tua cukup bijak buat beranak, keluarga saya mungkin tidak seampas ini. Kalau saja orang tua mau menabung, saya tidak akan terlahir miskin. Kalau saja orang tua lebih bijak jadi orang tua, saya tidak akan menderita. Kalau saja orang tua tidak membebankan pengasuhan semasa kecil kepada kakak-kakak, saya tidak akan punya keterbelakangan keinginan untuk maju, sebab saya ingat dahulu kakak-kakak saya adalah manusia-manusia yang doyan mencibiri setiap prestasi hingga saya takut memilih dan ragu melangkah maju. Dan beribu kalau saja yang belakangan justru jadi muak saya dendangkan kembali.

Mereka mungkin memang salah, tapi saya pun jauh lebih salah karena terkadang, saya iri pada kehidupan keponakan-keponakan yang hidup ketika kakak-kakak sudah lebih belajar sehingga bisa memotivasi anak-anak mereka lebih maju. Saya merasa dipecundangi dan dikhianati, seolah saya adalah manusia yang diciptakan sebagai bahan percobaan, menjadi tempat dibebankannya semua trial dan error penelitian parenting mereka, sedang hasil dan kesimpulan penelitian itu bisa mereka limpahkan ke anak-anak mereka sendiri.

Maka saya buka pikiran dengan melantangkan: lho, saya juga salah karena mau-maunya terus berkalang sesal. Dendam tidak bikin saya maju. Malah makin menambah basah luka sukma dan bikin tidak sembuh-sembuh. Sudah saatnya obati luka itu sungguh-sungguh, meski sendirian, meski susah payah, meski berat, dengan memaafkan semua kesalahan mereka, dan bangkit menatap dunia yang tak pernah sudi menunggu. 

Terlalu Mengharapkan Kesempurnaan

Menuntut kesempurnaan memang bukan hal buruk, tapi tidak pula berarti baik. Saya suka semangat dan ambisi ini karena itu tandanya saya masih dialiri vitalitas hidup yang kadang bersembunyi di balik kemunduran minat, tetapi, hal ini membuat frustrasi sendiri lantaran kerap membentuk pola pikir: kalau tidak sempurna, berarti saya gagal.

Ini sejalan dengan salah satu tipe distorsi kognitif, kata psikolog, yaitu all or nothing thinking, yang memelintir untuk berpikir hanya pada dua titik ekstrem. Salah satu potretnya, misal, percaya bahwa “usaha tidak akan mengkhianati hasil” sehingga jika saya gagal, berarti usaha saya yang tidak maksimal dan berakhir menyalahkan diri lagi. Padahal ada faktor lain yang turut bermain di sini. Salah satunya jelas: keberuntungan. Mereka yang beruntung bakal lebih maju ketimbang siapa pun yang sungguh-sungguh. 

Akan tetapi, bukan berarti ketidakberuntungan adalah sesuatu yang cacat. Di poin pertama saya bilang bahwa menyalahkan orang lain itu salah, tetapi bukan berarti menyalahkan diri sendiri juga benar. Self punishment adalah salah satu penyebab gagalnya menyembuhkan diri.

Maka, mari anggap semua ini tidak apa-apa. Tidak apa-apa jika gagal. Tidak apa-apa jika sakit. Tidak apa-apa jika hidup tidak se”wah” teman-teman. Lingkungan kita memang terbiasa dengan membandingkan pencapaian, tapi siapa lagi yang bisa menerima diri yang serba kekurangan ini jika bukan diri sendiri? 

Mencoba Menyenangkan Semua Orang

Berada di tengah-tengah pertentangan itu beban. Saya berusaha untuk jadi pihak netral, takut dianggap memihak salah satu pihak. Ujungnya, saya kembali lagi pada kebiasaan masa kecil: pasang wajah inosen, pura-pura tidak mengerti akan problema ‘orang dewasa’. Toh, saya juga tidak pernah diajak berdiskusi atau dimintai pendapatnya. Namun, bukan berarti ini selesai. Berikutnya akan ada orang yang datang dan menceletuk, “Kamu ternyata belum dewasa, ya. Dalam kisruh ini pun kamu bertingkah masa bodo macam anak kecil yang tidak paham apa-apa. “

Bahkan seperti yang saya katakan di atas, sambat di dunia maya demi memuntahkan sesak dari dunia nyata pun bakal diikuti dengan cibiran dan cemooh.

Curhat sama orang asing itu sebetulnya melegakan. Cenderung lebih tidak memungkinkan bagi orang asing untuk menyebarkan info pribadi saya, karena kecil kemungkinan mereka berada di lingkaran sosial saya.

Namun, aman bukan berarti selamanya nyaman. Akan ada manusia antah berantah yang bilang bahwa saya cuma cari perhatian dengan menjual curhatan. Mereka yang hanya tahu saya dari sepotong cerita, kemudian menyimpulkan garis besar ceritanya sendiri, yang sebenarnya salah, lalu bangga sekali karena merasa spesial lantaran tidak dikelabui oleh ‘omong kosong’ saya. Dulu kan saya biasa-biasa saja, kata mereka, lalu kenapa sekarang saya jadi riuh sok nelangsa?

Sungguh, saya gatal sekali mengajak manusia ini untuk berjumpa, biar dia lihat sendiri hidup saya seperti apa aslinya.

Terkadang saya heran. Ada yang menampakkan betapa hidupnya kaya dan jaya, dirundung. Katanya sombong, riya, bahkan tidak jarang pula yang bilang berpura-pura atau sok kaya. Ada juga yang menampakkan kesedihan dan kemiskinan, di-bully juga, dikatai drama, cari perhatian, menye-menye, sok miskin, dan lagi-lagi, berpura-pura. 

Lalu saya temukan pernyataan Ayudia bin Slamet berikut:

“Badut aja yang niatnya nyenengin orang, bisa membuat sebagian lain takut. Selalu ada sisi lain yang diterima orang lain apa pun yang kita kerjain. Kita gak bisa bikin semua orang senang.”

Ayudia Bing Slamet

Benar. Sudah saatnya menerima bahwa apa pun yang kita lakukan, akan selalu ada orang yang menangkap sisi yang keliru. Bahwa kita tidak bisa memenuhi segala hal yang sejalan dengan pemikiran semua orang. Ini adalah sebuah cara biar tidak merasa tertekan. Harusnya kita bebaskan diri untuk melakukan apa pun yang ingin kita lakukan, tanpa membatasi diri akan komentar orang.

Memang, kadang komentar orang juga berguna, karena ada sisi yang tidak kita lihat dari sudut pandang sendiri. Dan di sinilah letak kesulitannya: memilah apa yang bisa kita dengar dan apa yang tidak seharusnya kita dengar.

Sudah saatnya menyayangi diri sendiri dengan sungguh-sungguh berusaha pulih. Maka, mari jadikan ini sebagai batu loncatan untuk membuka kesadaran; gerbang kebijaksanaan yang mungkin sudah lama berselimut lumut.

Bismillahirrahmanirrahim.

2 respons untuk ‘Membuka Gerbang Kesadaran (dan Kewarasan)

    1. Benar sekali, karena ada kalanya kita tanpa sadar denial akan hal-hal yang sebetulnya sudah kita tahu ada. Ada kalanya pula kita semacam menutup mata dan malah memelihara hal-hal yang sebetulnya tidak sehat bagi diri sendiri, atau kita tidak menyadari itu. Mungkin itu kenapa intrapersonal juga jadi salah satu tipe kecerdasan yang perlu kita latih.

      Sama-sama, Mas.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.