[BM] 4K (Kecepirit, Kran Air, Kasidah, dan Kotak Pensil)

Ketika mataku membuka, yang pertama kali difokuskan indera adalah suara air mengalir. Jadi, kupastikan seseorang menyalakan kran yang mengisi bak mandi, bak WC, dan tong-tong penampungan di dapur.

Tiba-tiba, ada dorongan ingin kentut. Jadi kentutlah aku. Namun, dari sana, bukan hanya gas yang keluar. Ternyata meluncur serta kotoran. Bukan yang encer karena diare, melainkan kotoran padat.

Karena malu masih berak di celana pada usia setua ini, juga takut diejek siapa pun jika ketahuan, aku berusaha menutupinya dengan bergegas ke WC. Agak hati-hati jalannya, biar kotorannya nggak malah jatuh ke lantai.

Di depan lorong kamar mandi, aku berpapasan dengan abang pertama. Ia sementara menyikat gigi sambil membersihkan kamar mandi. Bunyi air mengalir makin terdengar riuh mengisi bak.

Kepadaku, ia bertanya, “Mau masuk WC?”

Kujawab, “Ya.” Sesegera mungkin aku menuju WC, menutup pintu, biar nggak ada lagi pertanyaan yang menahanku lebih lama dan memperkuat potensi ketahuan berak di celana.

Begitu masuk, kubuang kotoranku pada lubang kloset. Besar juga ternhata kotoranku wkwkwkwkwk.

Anehnya, tiada bekas juga tercetak di pakaian dalamku. Seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Jadi aku tak mengganti celana. Selepas mengguyur lubang kloset dan keluar, aku malah langsung duduk santai di meja makan sebab diajak makan bersama.

Yang mengelilingi meja itu hanya aku, kakak ipar, dan kakak keempat. Entah ke mana abang pertama. Yang kupastikan, tak ada lagi suara air kran. Tapi tak sempat kuperhatikan detail isi meja, ada atau tiadanya makanan di sana.

Tiba-tiba seseorang datang berkunjung. Sudah jadi kebiasaan bagi kerabat dekat buat langsung ngeloyor masuk menjumpai tuan rumah di belakang jika ada keperluan. Kukenal ia sebagai Bibi I.

Wanita itu kenakan gamis dan kerudung bergo panjang, duduk di sofa tanpa lengan di ruang makan dan bilang,

“Bu, nanti kita latihan ya. Ada yang manggil.”

Jadi sepertinya kakak ipar punya tim kasidah dari pengajian keluarga.

Kakak ipar menjawab, “Bisa. Tapi Bu H tak ada nih.”

Bu H itu seorang qoriah, sempat mengajariku juga waktu aku masih di bangku SD. Dan di sini, obrolan mereka seolah menyiratkan Bu H sebagai vokalis utama.

“Memang kapan tampil? Kita bisa tunggu Bu H datang dulu.”

Tamu kita terbahak. “Besok.”

Kakak ipar melirikku. Aku menaikkan alis karena menangkap itu sebagai gelagat ia mau menyuruhku bergabung dan jadi vokalis utama. Kuberi isyarat yang bermakna, “Apa? Serius? Aku ini tuli. Mana bisa jadi vokalis qasidah? Dari tim nasyidku saja aku mengundurkan diri, kok.”

Namun, di sanalah aku rasakan kejanggalan pertama. Aku kan tuli. Jelas. Jadi, bagaimana bisa kudengar suara kran mengalir sejelas itu tadi? Juga obrolan yang tak seperti diselubungi peredam?

Tanganku pun merambat naik dan berjumpa dengan lubang telinga yang kosong keduanya. Tak ada alat bantu pendengaran yang seharusnya menyumpal. Di sinilah aku mulai menyadari, ini tak nyata.

Kakak ipar mengambil sebatang spidol dari kotak pensilku yang tahu-tahu ada di atas meja di hadapanku itu. Kejanggalan kedua, sebab kuyakin tadi tak ada benda itu di atas meja kami. Kejanggalan ketiga, kupastikan kotak pensil ini sudah hilang. Semua alat tulisku kini kupindahkan ke stoples plastik yang kuhias sendiri dengan kain perca.

Lantas kususun konklusi: ini hanya mimpi. Namun, lagi-lagi aku terpentuk di sini. Lho, rasanya benar aku sempat beli tas pensil warna merah itu, deh. Di depan maupun belakang ada risletingnya. Hanya saja karena aku merasa ribet harus mengambil satu-satu benda dari sana dengan menggeledah isinya, jadi aku alihkan semuanya ke dalam stoples.

Lalu; sekarang, di mana ya, tas pensil ini? Sebab ingatan akan eksistensi benda ini yang sesungguhnya, hanya sebatas membelinya dari Gramedia.

Didorong oleh rasa penasaran untuk mencari tas pensil itu, aku pun memaksa diri untuk bangun.

(Perasaan yakin akan adanya tas pensil merah itu bercokol hingga segera setelah bangun sungguhan, kugeledah meja belajar yang kini dialih fungsi jadi meja buku, tempat aku menaruh banyak barang pribadiku pula.

Akan tetapi, semakin lama dipikirkan, keyakinanku kian menyurut. Apa benda itu benar-benar ada? Kuputuskan masuk WC lebih dahulu, dan di sana, usai merenung lebih lama, keyakinanku habis sama sekali. Sepertinya aku tak pernah beli tas pensil itu.

Dan, semakin ke sini, aku pun tahu, benar, aku tak pernah membeli kotak pensil. Jadi keyakinan dan ingatan palsu yang kuperoleh tadi itu dari mana datangnya?)

Foto Unggulan: Canva

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.