[BM] Absurditas Kampus dan Pesta

Sedang asyik-asyiknya mengobrol dengan beberapa orang yang kukenali sebagai dosenku dahulu. Hanya satu yang merupakan dosenku secara literal karena mengajariku, dua lainnya dosen dari fakultas berbeda (faperik dan fkip), membahas entah apa saja.

Tba-tiba, keluargaku menyembur masuk ke ruangan itu, yang tahu-tahu saja jadi kamarku. Mereka buka lemari dan mengeluarkan gamis-gamis dan kotak make up, sementara aku kebingungan dan bertanya, “Mau apa?”

“Pesta,” sahut kakak keempat. Ia cari-cari baju dan sepatu yang matching. Aku hanya memandangi mereka bingung, terlebih ketika bajuku mereka angkut untuk dipakaikan kepada keponakan kedua.

Ada rasa ketidakrelaan yang nyangkut di tenggorokan, tapi aku abaikan. “Pesta di mana?”

“Di rumah Paman L.”

Rumah Paman L sesungguhnya terletak di depan rumah kami. Tapi, kesannya, rumah itu di sini malah ada lebih jauh lagi, berjarak tiga rumah, dan terletak di sayap luar kompleks, bahkan memiliki nama jalan yang berbeda dengan nama jalan rumah kami. Titik yang sebenarnya merupakan alamat rumah Mama Ci, sepupu jauh ibuku, dan punya putri yang dahulu jadi kawan mainku.

Rumah itu dipagari tanaman hidup. Tepat seperti dahulu, sepuluh atau dua puluh tahun lalu, soalnya saat ini rumah itu sudah dipagari teralis besi.

“Acara apa?” tanyaku lagi.

“Aku mau nikah,” sahut keponakan kedua.

Aku ternganga sebentar, lalu mencibir. Keponakan kedua memang suka berkelakar, maka kuanggap ini juga salah satu lelucon. Namun, begitu keponakan kedua didandani, dan kakak ipar datang membawakannya buket pengantin, aku terkejut.

“Serius?”

Tak ada yang menjawab. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Jadi aku keluar rumah dan kakiku berhenti di ujung pintu dengan kebingungan. Ruang tengahku diisi begitu banyak orang. Benar-benar akan ada pesta. Kasak-kusuk merasuk ke kuping dan aku pusing karenanya. Aku berjalan menunduk minta permisi, sementara tatapan mereka menghujaniku dengan berbagai penghakiman. Dadaku ditusuk rasa tersinggung. Namun, aku berusaha berdiri tegak dan keluar dari rumah itu.

Belum sempat kakiku menjejak tanah bagian luar, kakak ipar datang. Ia beriku perintah untuk mengambil sesuatu, entah apa aku lupa, di rumah orang tuaku. Aku bingung, lho ini kan rumah orang tuaku? Tapi begitu kuedarkan pandangan, tiba-tiba saja rumah ini jadi asing. Semua orang yang duduk tidak kukenali. Bangunan, warna cat, funitur, bukan apa yang kami miliki di rumah.

Meski heran, aku mengangguk. Kakak ipar dengan gamis dan jilbab beranjak, agak terburu. Sesuatu membuatku lemas. Aku tak menggenggam ponsel, tak tahu ini di mana, dan tak tahu harus bagaimana untuk pulang ke rumah orang tuaku. Yang kutahu saat ini aku tidak punya kendaraan.

Namun, aku tetap beranjak keluar. Di sebuah jalan yang sunyi dan bukan jalan raya, aku melongok ke mana-mana, berusaha mencari apa pun atau siapa pun untuk ditunggangi. Aku sendirian di jalan asing itu. Beberapa pohon menaungiku dengan kanopinya yang rimbun, bisa kuhidu bau tanah basah dari aspal yang kutapaki. Seolah hujan baru saja reda. Ya, setidaknya tempat ini sedikit membuatku betah berjalan kaki.

Kemudian, datanglah sebuah motor melewatiku. Aku langsung berteriak menghentikannya. Seorang perempuan yang tidak kukenallah yang duduk di sana. Kutanya padanya apa ia bisa memberiku tumpangan untuk sampai ke rumahku. Ia berpikir sejenak.

“Boleh, deh. Yuk.”

Namun, aku bingung begitu ia bergeser pindah ke jok penumpang. Kupikir aku akan disuruhnya mengemudi.

“Aku nggak bawa SIM,” kataku.

Dia tertawa. “Aku nggak minta kamu mengemudi. Kamu nanti sama teman kami di belakang.”

Lalu seseorang, kupastikan cowok, datang mengambil alih jok kemudi dari cewek itu. Sementara aku menoleh ke belakang, dan seorang cowok agak gondrong dan tinggi, dengan motor yang sama tinggi (bahkan sangat amat tinggi dari motor mana pun yang kutahu), berhenti tepat di hadapanku.

Aku cengo. “Ini gimana aku naiknya? Tinggi sekali.”

“Panjat lah,” kata perempuan tadi di motor lain sambil tertawa.

Kuraih helm yang disodorkan si gondrong dan memakainya serapat mungkin. Motor setinggi ini, tak bisa kubayangkan akan mementalkanku sejauh apa jika oleng apalagi ambruk. Harus kulindungi kepalaku yang berharga dari ancaman memburainya otak dan darahku di jalanan ramai.

Kupanjat motor itu dengan menggenggam baju si pengemudi, meletakkan kaki di pedal, dan hup! Aku sukses duduk di sadelnya. Agak rapat dengan si pengemudi, tapi buatku bukan masalah. Motor pun mulai berjalan perlahan.

Di jalanan, aku tak lagi melihat motor teman kami, perempuan dan laki-laki yang berjalan sebelum kami. Hingga motor tungganganku berhenti di pelataran sebuah universitas. Si cowok gondrong minta aku turun dan aku menurut meski sambil tercengang. Di sana ada keramaian para mahasiswa yang berlalu lalang. Ini bukan tempat yang kukenali atau kutuju.

Lalu dia minta aku menunggu sejenak, sedang dia turun dan berderap entah ke mana. Waktu itulah kusadar betapa aku pendek sekali. Aku merogoh kantung mencari ponsel buat membunuh bosan selagi menunggu apa pun itu. Tapi tak ada apa-apa di sana.

Seseorang mencolek pundakku dari belakang, dan menyodorkan ponsel’ku’ (aslinya itu bukan jenis ponsel yang kumiliki), katanya ketinggalan. Entah ketinggalan di mana, ia tak menjelaskan.

Aku sedang buka notifikasi ketika suara seruan terdengar memanggil namaku. Waktu mengangkat wajah, aku lihat semua orang, mahasiswa-mahasiswi itu, memintaku ke depan; ke panggung yang sebelumnya jadi tempat ceramahnya entah siapa tadi. Si gondrong datang dan menjemputku ke sana, tapi kakiku tertahan karena aku jelas clueless untuk apa aku ke sana.

“Apa? Aku bukan mahasiswi kampus ini!” bisikku kencang.

Cowok itu cuma mengangguk, tak bersuara, tapi tetap mendorongku maju hingga aku nyaris terjatuh.

Dan di waktu hampir terjatuh itulah aku terjaga.

Satu respons untuk “[BM] Absurditas Kampus dan Pesta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.