[BM] Bangku, Baju, dan Disorientasi Waktu



Aku dan kakak sepupu sedang duduk berdua di belakang rumah, tepat di muka pintu. Kesannya seperti dahulu: bagian luar rumah memiliki permukaan lebih rendah ketimbang bagian dalam. Kubilang dahulu, karena sekarang sudah diratakan sama tinggi dengan cor semen.

Sepertinya kami sedang mencari kutu, atau uban, atau entahlah. Di depan kami ada tiga buah bangku; pertama biru polos, kedua biru bolong, ketiga pink bolong. Jauh di depan lagi ada anak-anak kosan berkumpul. Semuanya laki-laki.

Salah satu anak kosan mengatakan sesuatu pada kami. Aku tidak memahami sepatah kata pun, karena tak bisa mendengarkannya. Maka kutanya pada sepupuku, tapi sepupuku bertingkah seperti tidak memahaminya pula. Aku kesal pada sepupuku ini, telinganya utuh tapi otaknya kopong. Jadi aku nekat mengambil sebuah bangku dan kusodorkan pada laki-laki; menganggap bahwa mereka barusan meminta bangku.

Kerumunan laki-laki tertawa seperti meledek. Mereka menggeleng dan lambaikan tangan, mengisyaratkan bukan itu yang dimintanya, lalu menunjuk satu bangku lain, yang pink. Jadi kudodorkan bangku itu, dan mereka menerimanya dengan masih sambil tertawa. Jujur saja, aku sedikit tersinggung, dan kesal. Sepupuku yang telinganya utuh kok tidak membantu sama sekali. Maka aku beranjak masuk dengan keki.

Di dalam ada banyak orang berkumpul, juga tas-tas dan koper bertebaran. Kutangkap ada tamu ingin menginap. Aku tak kenal bibi-bibi itu siapa saja, dan hanya kusapa dengan senyum canggung. Sepertinya mereka keluarga kakak ipar. Daripada bengong, aku masuk ke kamar, hendak mandi.

Kebiasaanku adalah menyiapkan dahulu pakaian ganti sebelum masuk kamar mandi. Jadi sehabis mandi nanti tidak perlu ribet cari-cari lagi berbusanakan wardrobe. Kusiapkan sebuah baju lengan panjang yang memang ada sedikit sobek di bagian dada atas (tertutup kalau pakai hijab), dan celana jins hitam lebar, celana milik kakakku tapi sudah kujadikan milik karena dia entah di mana.

Namun kemudian aku sadar bahwa itu bukan bajuku karena baju yang sama pun kutemukan lagi. Begitu kubentangkan baju itu, kudapati ia asing. Kutangkap itu bukan milikku, melainkan milik para tamu yang kebetulan turut kupungut karena kami menumpangi jemuran yang sama. Maka kubangkit dan bermaksud mengembalikan baju itu sang empunya.

Waktu itu tiba-tiba saja aku terbangun. Dan, ada keinginan untuk lekas mandi karena kepalaku memberi ingatan bahwa aku belum mandi. Kulirik jam di ponsel, pukul setengah enam, dan hari berhujan di luar. Aku bermaksud bangun mandi demi jemput magrib, sebelum pelan-pelan kusadar bahwa: ini bukan sore, melainkan pagi. Hari sudah berganti.

Semalam aku tidur jam berapa? Tidak kuingat sama sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.