“Andai Saya Lelaki”

PERNYATAAN SEJENIS INI sering bernaung dan bergaung di kepala saya, bahkan sejak saya masih kecil.

Sebagai anak yang pautan usianya cukup jauh dari kakak-kakak perempuan, saya lebih dekat baik secara usia maupun pergaulan dengan abang yang menempati urutan kelima, keenam dan ketujuh. Sepertinya ini menjadi faktor pertama dan utama yang membentuk pengadaian absurd itu.

Lingkungan pergaulan awal saya pun enggak banyak terisi anak perempuan dalam usia sepantaran. Lebih banyak anak cowok. Hingga, sekalinya bergaul dengan anak perempuan, sayalah yang akan jadi bodyguard mereka. Pasang badan membela mereka dari setiap serangan.

Mungkin karena itulah saya tomboi sejak kecil. Sisi feminim yang ada dalam diri ini palingan hanya serpihan manja yang timbul karena fakta bahwa saya kebetulan anak bungsu, ditambah kecengengan yang bermukim karena kerap dibela ibu saya di atas kejahilan abang-abang. Sementara kebiasaan saya lebih banyak dipengaruhi anak cowok. Makan porsi kuli (bahkan hingga sekarang). Hobi saya naik pohon, panjat ini-itu, gapai sana-sini, lalu roleplay jadi tarzan. Saya juga tidak pernah takut matahari atau ketinggian. Busana favorit saya baju kaos loreng ala tentara. Saya punya sepupu tentara yang kelihatan gagah dan berwibawa, dan saya pengin jadi seperti beliau yang kalau mampir ke rumah selalu menyisipkan uang ke dalam genggaman saya. Sebab, saya berpikir bahwa laki-laki yang jadi tentara itu tampan, kuat, kaya, dan bisa memiliki segalanya.

Ketika menanjaki usia sekolah, pengandaian saya untuk menjadi seorang laki-laki bukannya lenyap, malah makin mengetat. Berawal dari hobi saya teriak-teriak bernyanyi, dan celetukan seseorang yang entah siapa yang memuji, “Suara kamu bagus andai dipakai azan,” saya pun makin ngebet pengin jadi lelaki, terlebih saya suka sekali mengikuti dan meniru laguan lantun ayat suci dari imam masjid saya kala itu (kini sudah almarhum, alfatihah). Kalau saja saya lelaki, pikir saya percaya diri, mungkin saya sudah berkali-kali menang lomba azan di sekolah dan jadi bakal calon imam masjid juga.

Syukur, meski tidak jadi lelaki dan tidak jadi muazin, seiring waktu berlalu, suara saya tetap bisa dimanfaatkan untuk mendulang uang, hingga saya tidak lagi berpikiran untuk jadi lelaki hanya demi bisa melantunkan azan. Sampai sekolah menengah, saya masih tomboi. Cara jalan saya yang lebar-lebar dan cepat (saya bahkan punya kebiasaan menyingsingkan rok seragam sekolah saya sewaktu berjalan karena merasa tidak leluasa bergerak), pun aktifnya saya di ekstrakurikuler Tapak Suci menjadi segelintir cerminannya.

Akan tetapi, ketomboian itu (untunglah) tidak menjurus pada pemikiran bahwa saya salah gender. Mungkin faktor jarak yang lambat-laun terpaut antara saya dan abang-abang juga yang menjadi faktor penyebabnya, sementara sejak pindahan ke tempat tinggal baru, saya jadi mulai punya banyak teman perempuan, hingga pemikiran saya kala itu ‘dinetralkan’ dan tidak sampai masuk ke tahap yang ‘gawat’.

Ayah saya kebetulan memang pribadi keras yang tidak membedakan mana anak perempuan dan mana yang lelaki. Kami semua disuruhnya berlatih ilmu bela diri. Sebelum saya terlahir dan kami pindah ke lingkungan Muhammadiyah, abang-kakak saya sudah terlebih dahulu menjadi bagian Silat Tauhid. Sementara saya dan abang ketujuh pun dititahkan menyerap ilmu tapak suci, sebelum saya berhenti, kemudian meloncat ke sisi taekwondo saat SMP.

Mengapa kami diizinkan (dan malah diwajibkan) ikut bela diri? Biar kebal, kata ayah saya. Sebab dalam menghukum putra-putrinya, beliau tidak akan segan main fisik. Tidak peduli kau perempuan atau lelaki.

Akan tetapi, ketidakpedulian ayah saya ini berimbas pula pada perlakuannya atas ibu saya. Beliau tidak peduli bahwa ibu saya juga seorang perempuan, dan—catat ini—tidak mempelajari ilmu bela diri seperti putrinya. Awalnya, ayah saya memang tidak pernah memukuli istrinya. Tidak, sebelum sebuah penyakit merenggut kewarasannya di usia senja, membuat ia terbelenggu dan tergelintir oleh anggapan dan delusinya yang irasional dan merugikan beberapa kalangan.

Saat itulah pemikiran ‘Andai saya lelaki’ yang semula sudah mulai menyurut dan terpendam, kembali naik menyelimuti kepala saya. Sebab saya pikir menjadi perempuan itu sulit. Juga sakit. Dianggap minor, tapi dituntut pula untuk tetap tegar.

Belum lagi abang keenam dan ketujuh yang sempat turut terjangkiti emosi ayah saya dan bisa sewaktu-waktu bersikap abusif pada seseorang yang mereka anggap ‘lebih rendah dan kalah dan lemah’ dari sisi usia, gender, dan kekuatan, yaitu saya. Apa-apa main tangan. Kesal sedikitt main hajar. Saya enggak baper, karena saya masih sanggup membela diri, tapi saat itu saya berpikir bahwa, andai saja saya lelaki, mereka mungkin enggak akan berani bersikap seenaknya seperti itu terhadap saya.

Kendati waktu berlalu dan dunia berputar, pengandaian menjadi seorang lelaki masih bercokol hingga saya mendewasa dan terlilit krisis seperempat abad. Pikir saya, lelaki enggak perlu direpotkan sama berbagai macam tuntutan yang membelenggu kaki. Lelaki enggak perlu dipaksa menikah di umur sekian dengan batasan umur sekian karena kekhawatiran soal ‘masa produktif’ dan diperingatkan melulu seputar ‘batas kedaluwarsa’. Lelaki enggak perlu menerima tatapan buruk andai pulang malam, dan bisa seenak jidat merokok karena telah diwajari oleh masyarakat. Dan masih ada sisa-sisa keunggulan dari lelaki di mata masyarakat yang membuat saya berpikir bahwa, menjadi lelaki adalah sebuah privilese. Bahkan dalam agama saya pun, pengakuan saksi dan pembagian warisan lebih berat timbangan dan kapasitasnya atas lelaki ketimbang perempuan.

Hal inilah yang mendorong saya mencelupkan diri dalam feminisme untuk pertama kali. Sekarang saya masih berada dalam pusarannya, tapi jika dibilang sebagai seorang feminis, saya tidak mengakui sepenuhnya, sebab ada pula segelintir paham mereka yang kurang saya setujui. Uniknya, dari niat semula yang ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa lebih unggul dibandingkan lelaki, justru feminisme membuka mata saya untuk melihat bahwa, ternyata, rasa sakit lelaki pun enggak jauh berbeda.

Saya mulai mengenal sesuatu yang diistilahkan dengan ‘maskulinitas toksik’. Mungkin kaum lelaki bisa melepaskan diri dari anggapan jelek masyarakat seputar attitude mereka, tetapi tidak dengan tanggung jawab yang dibebankan di punggung mereka. Jika perempuan yang tidak beranak baik oleh takdir maupun keputusan mereka dianggap tidak sempurna, lelaki yang tidak berpenghasilan sekian di usia sekian pun dipandang sebelah mata. Lelaki dianggap tidak boleh menangis. Lelaki tidak boleh lemah, cengeng, lembek, apalagi sampai mengidap penyakit mental, sebab mereka tulang punggung keluarga yang harus bisa menanggung beban seberat apa pun yang dibebankan ke atasnya. Lelaki harus mampu menelan air mata mereka sendiri dan mengeluarkan rasa lelah mereka hanya lewat kucuran keringat. Lelaki enggak boleh cerewet, enggak boleh nyinyiran, enggak boleh a, b, c, sementara perempuan yang melakukannya malah diwajari. Lelaki tidak boleh menggunakan benda, warna, kategori, gaya rambut dan busana, dan/atau corak tertentu, karena itu dianggap milik dan khas perempuan. Selain daripada itu, lelaki yang melenceng dari jalur yang ditetapkan akan diberi label ‘banci’.

Hakikatnya, feminisme tidak mengajarkan untuk menyetarakan hal-hal trival ini, tetapi saya merasa sebagian besar kaum feminis itu nanggung. Di depan berkoar tentang perempuan harus bisa sejajar dengan lelaki (bahkan ada pula kaum yang cenderung misandris), tetapi di belakang menghina kaum lelaki dengan kalimat serupa: ‘Cowok kok gitu, sih’.

Maka saya pun sadar bahwa menjadi lelaki bukan solusi. Solusi sebenarnya cuma satu: tidak mengkotak-kotakkan segala hal berdasarkan gender. Memang ada beberapa hal yang secara kodrati dan aturan enggak bisa dipersamakan antara lelaki dan perempuan, tetapi di luar dari itu semua, perempuan dan lelaki nilainya tetap setara. Andai mau mengikuti tuntutan dan larangan agar tidak menyerupai busana lawan jenis, standar busana lawan jenis yang seperti apa yang dipakai?

Perempuan tidak dilarang mengenakan celana, atau jaket kulit, atau topi. Jadi, seharusnya enggak ada larangan lelaki pakai rok, toh di beberapa belahan dunia lelaki pakai rok (pernah lihat tarian sufi?). Enggak ada larangan lelaki pakai kerudung, toh di jazirah Arab, lelaki juga lumrah menutup kepala dengan turban dan sorban. Maka demikian pula, enggak ada larangan lelaki pakai make up, bukan? Hingga pandangan miring orang-orang atas lelaki yang berkulit halus dan berias diri adalah banci enggak bisa saya terima.

Perempuan dan laki-laki sama-sama manusia. Terkadang, masih sering terbersit pengandaian untuk jadi lelaki saja tiap kali saya muak pada standar sosial yang melingkupi dengan tuntutannya terhadap perempuan, tetapi untunglah, perjalanan pemikiran ini membawa saya menjumpai hasil bahwa, tidak ada salahnya menjadi perempuan, tidak ada salahnya menjadi lelaki, dan tidak ada salahnya menolak dikategorikan ke dalam keduanya, sekalipun fakta biologis berkata pasti. Jenis kelamin hanya jenis kelamin, dan seharusnya tidak menjadi penentu strata dan derajat manusia. Kebijaksanaan masing-masing individulah kunci sebenarnya.

3 respons untuk ‘“Andai Saya Lelaki”

  1. Semua dah diciptakan sesuai porsinya mbak..tergantung bagaimana kita mensyukurinya..
    Jangan hanya karena segelintir “oknum” lalu memandang aturan agama kurang adil terhadap wanita..
    Karena yang membuat aturan adalah yang menciptakan manusia itu sendiri..pastilah kebaikan yang terdapat didalamnya..🙏
    Salam kenal mbak..dari emak2 Solo yang tinggal di Citayam..😊

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.