Burung Itu Pergi

SEJAK SEPEKAN SEBELUM Ramadan, rumah orang tua saya kedatangan tamu. Tamu yang sama dengan yang pernah saya ceritakan di sini, yang juga datang saat Ramadan tiga tahun lalu dan memboyong satu keluarganya menginap hampir setengah bulan. Lagi-lagi, datangnya tanpa bilang-bilang sebelumnya.

Untungnya, kali ini hanya satu orang yang bertandang, yaitu ibunya, dan baru sekarang saya diceritakan secara jelas bagaimana silsilah dan relasi antara saya dan beliau, yang ternyata adalah sepupu dari ibu saya. Sepupu ibu saya, yang tidak pernah datang menyambangi rumah dalam dua puluh lima tahun sebelumnya, bahkan tidak pula menunjukkan muka saat kedua orang tua berpulang.

Sebagai anggota keluarga yang tersisa, sayalah yang dibebankan kewenangan untuk memutuskan apakah memperkenankan mereka tinggal di sini, atau tidak. Sudah setahunan ini abang pertama dipindahtugaskan ke Denpasar setelah menjalani dua tahun sebelumnya di Banjarbaru. Yang tinggal bersama saya hanya kakak ipar dan keponakan-keponakan, yang tentu jauh lebih asingnya dengan orang-orang ini. Dan, sebagai seseorang yang ‘tidak tegaan’, walau keberatan dan misuh-misuh sendirian, saya tidak punya pilihan kecuali harus menerima kedatangan mereka. Termasuk kali ini. Apalagi alasan kedatangannya sekarang amat penting: menjalani operasi.

Setidaknya lima tahun lalu, rumah ini memang seringkali menjadi tempat persinggahan keluarga, baik dekat maupun jauh.

Alasan pertama, kamarnya banyak. Jelas banyak. Dengan anggota keluarga yang juga banyak: 8 anak plus 2 orang tua, rumah ini memang harus punya banyak bilik pribadi. Jumlah kamarnya 5. Satu kamar utama, 4 kamar anak (salah satunya sering dijadikan kamar tamu, sebenarnya ini kamar kakak keempat). Itu dulu.

Kedua, orang tua saya pun cenderung ramah menyambut mereka-mereka yang notabene saudaranya dari kampung yang entah kapan terakhir kali mereka jumpai. Apa saja dikerahkan, bahkan jika pun itu meminjam sana sini, untuk menyenangkan hati tamu-tamu ini. Soalnya, ayah saya tipikal yang “POKOKNYA YANG NAMANYA TAMU HARUS DIPERLAKUKAN KAYAK RAJA” sekalipun istri dan putri-putrinya mesti jadi babu.

Akan tetapi, sejak rumah dialihtangankan ke tangan abang pertama, dengan istrinya yang cerdas dan berotak bisnis itu, beberapa kamar yang menganggur lantas disulap jadi kos-kosan dan kios. Bahkan, di tahun pertama sejak kembali ke rumah setelah sebelumnya nekat ngekos pun saya tidur bersama keponakan, hingga kemudian saya berubah pikiran karena negara api menyerang, lalu menyulap musala yang mungil sebagai kamar pribadi.

For your information, sejak masa yang sama dengan hijrahnya keluarga abang keenam ke kampung yaitu 3 tahun lalu, saya dan keluarga kakak ipar pertama sudah mulai memisahkan kehidupan. Kami masak masing-masing, kecuali saat lebaran. Listrik pun menyusul kemudian, sudah tiga bulan ini pisah rekening. Hanya air yang masih berbagi, itu pun karena bak penampungan cuma 1 dan pembayarannya patungan.

Seperti itulah kehidupan saya sekarang. Bukan sekali dua kali terbersit niat untuk kembali ngekos, karena jelas tiada beda antara tinggal di kos atau tinggal di rumah kalau seperti ini. Sayang, dr. Niniek, dokter saya melarang. Beliau khawatir akan ada insiden ‘apa-apa’ seperti dulu. Harus ada yang bisa mengawasi dan menangani saya secara langsung katanya.

Sebagaimana yang saya katakan di atas, untungnya, kali ini cuma seorang yang datang. Bibi saya. Dan untungnya, kasur saya, walau single bed punya ‘anak kasur’nya pula. Jadi, saya dan bibi ini bisa tidur bersama di kamar yang sempit itu; saya di bawah dan beliau di atas.

Sayangnya, untung ini rupanya tidak selamanya dan tidak betulan untung. Yang bersangkutan membawa datang dua jiwa lain hari ini, tanpa sebelumnya minta perkenan saya. Ketika saya pulang dan menemukan koper-koper lain plus tumpukan kardus memenuhi rumah, saya hanya mampu geleng-geleng kepala sambil berusaha menahan pertanyaan ketus juga mengendalikan ekspresi murka. Belum lagi tumpukan piring kotor yang menyambut dan bikin dada sesak.

Aslinya saya tidak habis pikir dan mau meledak seisi-isi kepala. Ya Robbi, batin saya, ramadan kali ini ujiannya gini amat. 2 jiwa ekstra yang ternyata keponakan si bibi yang saya tidak peduli apa masih berbagi darah yang sama dengan saya atau tidak, harus saya tampung untuk beberapa hari sebelum mereka bersama-sama bertolak pulang kampung.

Mau bagaimana lagi? Gimana-gimananya saya pun harus ngomong dengan Kakak Ipar untuk memohon bantuan sekaligus perkenan, sebab, faktanya, saya sudah tidak bisa seenaknya lagi di rumah ini, yang notabene tidak jatuh ke tangan saya.

Pulang-pulang, belum pula mandi, tumpukan piring kotor saya libas sekaligus. Sehabis mandi dan pergi tarawih, saya merasa sedikit tenang. Memang ibadah adalah salah satu jalan saya untuk menggapai ketenangan. Namun, begitu pulang tarawih, ada lagi tumpukan piring lain. Kepala saya mendadak kembali panas, mau meledakkan kehancuran saja rasanya. Ditambah lagi pusing memikirkan besok harus memberi makan apa untuk orang-orang asing ini saat sahur.

Di tengah rasa capek lahir dan batin ini, saya pun memutuskan untuk main werewolf di Telegram bersama teman-teman AstraFF. Saya butuh pengalihan, juga hiburan. Namun, bukannya hiburan, saya justru makin diimpit kesumpekan.

Saya join dalam permainan sebelum mencuci piring. Berpikir bahwa saya bakalan afk dan disangka musuh, saya pun terburu menyelesaikan cucian secepat mungkin hanya demi bisa kembali bermain. Akan tetapi, belum apa-apa, peran saya sudah dimatikan di awal oleh seseorang, dan ini terjadi dua kali berturut-turut.

Saya pun mengamuk. Rasanya effort saya untuk terburu menyelesaikan tugas hanya demi mencari secuil hiburan fana ini sia-sia. Dalam kekesalan itu saya memutuskan untuk tidak lagi bermain dalam permainan itu untuk waktu yang belum bisa dipastikan. Bahkan sampai pagi ini pun kekesalan itu masih menyisa, masih kental, masih membuat saya tidak tertarik bergabung andai mereka memulai permainan baru.

Jujur, semakin waktu berlalu saya semakin asing dengan konsep keikhlasan. Maka ketika curhatan saya perihal menjadi babu para tamu ditanggapi seorang teman dengan kalimat, “Yang ikhlas, dong. Kalau kamu ngeluh, pahalanya berkurang. Apalagi ini bulan Ramadan. Anggap aja sedekah,” saya justru bingung dan alih-alih menerimanya, justru makin murka.

Keikhlasan buat saya itu berat. Dan, idealis. Juga utopis. Hanya segelintir manusia yang bisa ikhlas. Kebanyakan mereka yang berkoar tentang keikhlasan jelas-jelas masih mengharapkan imbalan. Sekalipun imbalan yang diharapkan itu pahala dan surga yang konsepnya imaniah, menurut saya apa yang mereka pikirkan tidak bisa dinamai keikhlasan. Sama halnya seperti iming-iming yang dijanjikan seorang pemuka agama yang belakangan santer diungkit perihal kasus dirinya sendiri maupun putrinya, yang menyuruh orang bersedekah, dengan harapan agar diganti oleh Tuhan sepuluh kali lipat. Kalau nanti miskin, katanya, Tuhan ikutan tanggung jawab. Ikhlas dari mana?

Buat saya keikhlasan itu adalah saat di mana seseorang melakukan tindakan baik hanya karena tindakan itu baik dan bermanfaat. Hal-hal yang sifatnya reward dan punishment sama sekali tidak ambil andil, selain rasa senang karena melakukan tindakan baik itu sendiri.

Maka dari itu saya sama sekali tidak bisa melakukan saran teman saya. Kendatipun saya masih bersedia membabukan diri hingga keesokan sorenya , di mana saya pulang-pulang langsung berjibaku beli takjil, lauk-pauk, untuk tuan-tuan ratu di rumah, saya melakukannya dengan tidak ikhlas, karena masih merutuk dan menyumpah-serapahi dalam batin. Saya hanya melakukannya karena saya harus. Tidak ada lagi pilihan lain.

Di sisi lain, ketika saya pulang kemarin, bukan hanya tumpukan piring kotor dan dua sosok asing yang menginvasi kamar saya yang saya jumpai, tetapi juga seekor burung hijau yang jatuh di tanah di halaman samping. Sayapnya koyak. Kakinya lemas. Matanya lebih sering menutup. Hanya membuka saat saya soroti cahaya.

Saya pungut ia dan saya bawa ke rumah. Keawaman saya akan jenis-jenis burung dan kehidupannya membuat saya harus menanyakan spesiesnya ke teman-teman di grup telegram Astraff dan timeline Facebook perihal pakan si burung yang sudah diobati tetapi masih juga lemas ini. Paruhnya bahkan tidak pula membuka hingga saya harus menyuapinya air dengan pipet.

Beberapa orang bilang itu burung pemakan madu. Sebagian lain bilang itu burung pemakan serangga. Ada pula yang bilang ia makan ikan. Saya tampung semuanya, tetapi berhubung yang saya punya hanya madu (murni) maka suapi ia dengan madu itu untuk sementara semalam.

Saya tertidur usai memajukan alarm ke pukul dua pagi, mengingat beban untuk memasak lebih banyak demi dua jiwa ekstra. Di sofa. Jangan ditanya bagaimana kacaunya kepala dan mata ini. Begitu bangun, rasanya satu dunia sudah diserap masuk ke dalam batok kepala. Berat.

Saya hanya bisa menengok burung itu dan mengelusnya sebagai hiburan, sebelum kembali roleplay jadi babu. Setelah menyiapkan makanan di meja dan mempersilakan para tuan putri menikmatinya, saya membawa santap sahur sendiri ke ruang tamu yang kini jadi kamar pribadi sementara, sembari kembali menengok si burung. Masih lemas, bahkan makin lemas. Tetapi, melihat sudah ada kotoran burung di sana, saya merasa sedikit lega. Pikir saya, setidaknya sistem metabolisme si burung masih berjalan.

Sehabis makan, saya sempatkan mengelus bulunya yang hijau itu dan membisikkan padanya, “Kalau kamu sudah sembuh, saya lepas kamu terbang kembali.”

Usai membereskan kekacauan berupa tumpukan piring kotor (lagi), kemudian mandi kilat dan menjalankan ibadah fajar, barulah saya kembali menengok si burung.

Akan tetapi, burung itu ternyata sudah kaku. Bobotnya pun ringan. Seolah-olah ia hanyaa burung mainan yang biasa ditaruh di etalase kaca.

Saya menangis. Baru kali ini saya menangis lagi sampai sesenggukan setelah entah berapa lama tidak bisa melakukannya. Saya ketakutan dan kecewa dengan berpikir sayalah penyebab burung itu mati. Bahkan belum dua belas jam dia bersama saya, dia sudah mati. Semua amarah dan kekesalan saya meluap begitu saja, dan rasanya saya makin capek, lagi dan lagi.

2 respons untuk ‘Burung Itu Pergi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.