Berbahagialah Kamu yang Mati Muda

SEPANJANG hari ini hujan di tempat saya. Dan, hujan adalah waktu terbaik untuk melamun. Di tengah udara dingin dan aroma petrichor, bertahan di dalam kamar adalah pilihan terbaik. Ditemani secangkir teh hangat dan sebungkus biskuit, saya pun siap masuk ke dalam palung kontemplasi. Hujan kali ini mengingatkan saya akan seorang sahabat. Dahulu, ketika masih SD, … Lanjutkan membaca Berbahagialah Kamu yang Mati Muda

Pelayaran Tanpa Makna ini Bernama: Hidup

Seringkali, di saat aku sedang suntuk akan sesuatu, atau justru terlalu menganggur sehingga punya waktu untuk melamun, aku merasa hidup ini tak bermakna. Sementara di satu sisi, aku meyakini dengan teguh bahwa aku ada atas izinNya, untuk menyembahNya, melayaniNya. Sayangnya, segala asersi religius tetap saja tak bisa melungsurkan pandanganku bahwa hidup ini membosankan. Membosankan. Benar. … Lanjutkan membaca Pelayaran Tanpa Makna ini Bernama: Hidup

Menangisi Ketuntasan #2

DI SEBUAH pemakaman, ada geliat sedu dan sedan. Berbagai macam tangisan mewarnai peziarah berbusana monokrom. Tangis meraung-raung. Ratapan penyesalan. Isak-isak pilu. Tangisan bisu yang hanya diwarnai titik-titik airmata. Sampai tangisan yang cuma dikeluarkan dalam hati. Berbagai macam karangan bunga dengan ungkapan belasungkawa terpajang. Turut berduka cita. Turut bersedih. Turut merasa pilu. Patutkah kematian diwarnai dengan … Lanjutkan membaca Menangisi Ketuntasan #2

Menangisi Ketuntasan #1

TAHUKAH KAMU, apa yang lucu dari kematian? Dalam prosesi pemakaman, mereka yang semasa hidup tak pernah peduli mendadak muncul dengan wajah duka. Berbelasungkawa. Menampakkan luka. Saling mengenang kebaikan si orang mati dan menyesali waktu-waktu dan pengabaian mereka selama ini. Memang benar, sesuatu akan diketahui keberhargaannya pabila dia telah hilang atau musnah dari genggaman.Padahal semasa hidup, … Lanjutkan membaca Menangisi Ketuntasan #1