Iblis di dalam Kepala

Beberapa hari belakangan berlalu bagai bayangan. Rasanya tidak nyata karena saya lewati seperti sedang mengambang; seperti menjalani sebuah mimpi yang tidak teraba oleh indera secara langsung. Saya duduk, berdiri, melangkah, tidur, mandi, makan, beribadah hanya karena memang rutinitas, seolah sudah teratur oleh sistem, tetapi tidak bermakna.

Dalam sepekan, saya kena tegur 4 atau 5 kali. Ketahuan bengong, tidak fokus, salah ambil barang nasabah, dan sederet ‘prestasi’ lain yang dahulu bakal membuat saya keki berat jika dilakukan oleh orang lain, kini saya praktikkan sendiri. Keteledoran murahan. Rasanya malu campur menyesal.

Konsentrasi saya terhisap oleh pemikiran-pemikiran yang berseliweran tanpa mampu saya kendalikan. Pemikiran itu membisikkan petuah-petuah iblis yang membuat saya dihinggapi insekuritas.

Fase ini sudah pernah saya bayangkan sebelumnya, tetapi begitu saya kembali berhadapan langsung dengannya, saya sedikit terguncang. Melihat orang-orang yang dahulu datang mengemis pertolongan saya, kini sudah jauh melampaui saya, sementara saya sendiri masih stagnan di posisi terbelakang, ternyata sukses membikin saya sedikit … minder. Oh, tidak sedikit. Saya memang minder. Sangat minder.

Rasanya bagai, membantu orang berjalan. Tahu-tahu mereka sudah mulai berlari… Berlari terus, meninggalkanmu yang terseok-seok di belakang karena dihempas kondisi yang berbeda.

Lalu, saya jadi kelewat paranoid.

Albert Einstein bisa saja berkata bahwa Tuhan tidak bermain dadu dengan SemestaNya, tetapi teori fatalisme-nya yang saya percayai justru membuat saya ingin protes.

Kurangkah usaha saya selama ini?

Saya berpikir bahwa Tuhan, dengan SemestaNya benar-benar sedang mempermainkan saya.

Memang, pemikiran ini kelewat pede. Seberharga apa saya sampai Tuhan sudi mempermainkan saya, menyetel semua rangkaian plot hanya untuk membuat saya kecewa? Sayangnya, dalam kondisi terhimpit seperti ini, saya tidak mampu untuk keluar dan melihat situasi saya dari kacamata yang berbeda.

Saya jadi kepingin mengemas semua barang-barang saya, pura-pura mati tenggelam di lautan. Lalu, saya yang asli berlayar ke mana saja, mengganti nama, dan latar belakang, hidup dalam keterasingan dengan identitas baru. Sungguh. Biar saya bisa membunuh iblis di dalam kepala.

Saya tahu, ‘iblis’ cuma kambing hitam. Saya sendirilah yang menyusun semua pemikiran ini. Saya sendirilah yang menjadikan diri saya terbelenggu seperti ini. Dan, benarlah apa yang dikatakan Rasulullah berabad silam,

Jihad yang paling utama adalah berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya.

Jihad inilah jihad paling susah. Saya tidak bisa mengangkat pedang untuk membunuhnya, karena kemenangan dengan pedang melawan diri sendiri berarti juga kekalahan. Kini saya pun bingung, bagaimana caranya untuk bisa menang?

7 respons untuk ‘Iblis di dalam Kepala

  1. “Rasanya bagai, membantu orang berjalan. Tahu-tahu mereka sudah mulai berlari… Berlari terus, meninggalkanmu yang terseok-seok di belakang karena dihempas kondisi yang berbeda.” :”

    Suatu hari nanti, semoga Umma bisa menang:”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.