Menyoal Anak Pertama Saya: Rumpi Rumpang

MERAMPUNGKAN Rumpi Rumpang adalah hal yang cukup berat bagi saya. Ide yang semula cuma berupa fragmen-fragmen dari prompt yang diberikan dalam ajang menulis AstraFF June Challenge tahun 2018, akhirnya menemui muaranya dalam wujud novel di Storial, pada Maret 2020.

Ada masa di mana saya merasa malas menyusun kerangka karena terbiasa menulis serta-merta. Ada momen di mana saya merasa bosan ketika kerangka sudah tersusun, sehingga mengendapkannya dan berakhir pada lenyapnya outline hingga saya kembali malas. Ada lagi saat di mana saya merasa insecure. ‘Ah, ngapain sih, nulis beginian? Ampas, tahu, nggak? Kamu lihat banyak novel keren di luar, kamu nggak ada apa-apanya.’ Ada lagi momen di mana saya sengaja menghapus seluruh draft dari laptop bahkan menyingkirkannya dari recycle bin, karena rasa insecure dan kemalasan itu (ditambah lindapnya minat pada apa-apa yang saya gemari).

Namun, melihat banyak sekali cerita-cerita tidak senonoh yang bergelimpangan dan tetap ada saja orang yang memungutinya, saya jadi termotivasi untuk menulisnya kembali. Setiap buku akan menjumpai pembacanya. Apalagi, yang ingin saya sampaikan di dalam cerita ini bukan cuma hiburan berupa bacaan, tetapi juga beberapa nilai yang saya serap dari kehidupan, baik kehidupan saya sendiri maupun kehidupan orang kebanyakan.

Akumulasi dari motivasi-motivasi tersebut ditambah efek mood yang luar biasa, akhirnya membuat saya menyusun ulang kerangka hingga akhir, dan merampungkan lebih dari tujuh puluh ribu kata, hingga terlahirlah anak pertama saya.

Anak ini memang belum punya wujud fisik. Untuk sementara, dia cuma bisa dinikmati secara daring di platform Storial sampai satu tahun ke depan, setelah menyabet Juara Favorit dalam kontes menulis Perempuan Hebat 2020. Dia saya posting berkala tanpa melalui proses editing terlalu dalam, hingga ada beberapa kecacatan kecil yang saya temui (dan mungkin beberapa kecacatan besar yang luput dari penemuan), ketika saya membaca ulang secara keseluruhan dalam satu waktu singkat.

Rumpi Rumpang sebetulnya bukan jenis cerita yang unik-unik amat. Dia cuma berkisah soal beberapa perempuan yang ingin mencari kebahagiaan mereka, tetapi terbentur oleh standar bahagia yang lumrah dikenal dalam masyarakat.

Bukankah mayoritas masyarakat kita terlalu memuja ending ala dongeng legendaris, ‘Mereka menikah dan hidup bahagia selamanya’? Bukankah mayoritas masyarakat kita terlalu memandang rendah pelakor, seolah perempuan adalah satu-satunya yang punya dosa dalam perselingkuhan? Bukankah mayoritas orang tua di negeri ini, kerap terbawa egoisme dan memaksakan kehendak mereka pada anak dengan dalih ‘ini demi kebahagiaanmu’ dan menyepelekan apa yang sejatinya si anak mau? Bukankah mayoritas kita masih sering memuja standar maskulinitas toksik, sesepele ‘cowok nggak boleh menangis’? Dan, bukankah kita masih jarang peduli pada kesehatan mental anggota keluarga kita?

Itulah yang ingin saya kritisi dan akhirnya terbawa dalam wujud novel.

Blurb:

Sembilan manusia, yang kukuh dalam kerenggangan

Sembilan manusia yang saling memendam kedengkian

Sembilan manusia yang dipaksa jadi wayang dalam permainan takdir

Sembilan manusia, yang pada akhirnya saling belajar,

apa yang harus mereka pilih,

dan kapan mereka memilih

mengambil, menerima, menyerah, melawan, memberontak, atau

melepaskan

Novel ini mengambil setting di Jakarta, kota yang seumur hidup baru saya singgahi satu kali dan itu pun dalam waktu yang amat singkat. Kendati saya mengategorikannya sebagai metropop, dia mengangkat kehidupan masyarakat urban metropolitan, bukan mengungkit kehidupan penuh ingar-bingar atau pekerjaan di perusahaan terkemuka. Selain itu, dia punya tokoh yang cukup banyak, dan mungkin bakal membuat pembacanya merasa kebingungan menghafalkannya.

Namun, tenang. Saya mencoba sebisa saya untuk menghadirkan karakter yang lekat dalam ingatan, sampai-sampai saya sendiri kebingungan menetapkan siapa karakter utama dan siapa yang cuma pendukung. Dalam pos ini, saya bakal mengulas beberapa karakter yang mendapatkan sorot paling banyak dalam Rumpi Rumpang.

1—Caroline Stephanie Wattimena (Carol/ Olin)

Yang Memadamkan

Lahir pada 19 September 1986, mengambil titel Sarjana Sains (Biologi) di Universitas Indonesia pada 2010, Magister Sains di Almamater yang sama, dan gelar Doktor di Universitas California, Berkeley.

Caroline adalah anak sulung dari dua bersaudara. Ayahnya, Albertus Wattimena, seorang penyanyi dan komposer ternama berdarah Ambon asli yang menjadi juri tetap salah satu kontes menyanyi nasional, dan ibunya, Maria Cicilia Salim, seorang penyanyi gospel berdarah Tionghoa-Surabaya. Adiknya, Christian, seorang mahasiswa musik di Universitas Manchester, Britania Raya, dan seorang finalis Britain Got Talent yang punya kanal Youtube laris manis.

Yah. Kelihatannya, hidup Caroline memang sempurna. Namun, itu jika kau melihatnya dari hasil. Ada banyak hal yang telah cewek yang kerap disapa Olin itu lewati sebelum mencapai mimpinya. Salah satunya adalah pertentangan dengan ibunya yang kepingin Caroline lekas-lekas menikah, dan selalu punya upaya perkenalan dengan anak keluarga anu, itu, dan lain-lain.

2—Nerissa Reswari Mardiningrum Pramono (Icha)

Yang Melepaskan

Lahir pada 8 Agustus 1988. Sahabat Caroline dalam grup yang mereka namai Dasista. Punya kebiasaan menghafalkan kutipan-kutipan keren, karena ingatannya bagus untuk itu. Sarjana arsitektur yang begitu lulus langsung menikah dengan pemuda pilihan orang tua. Dia punya beberapa mimpi yang akhirnya harus rela dia padamkan demi hal lain yang menurutnya lebih baik. Ibu dari sepasang anak kembar lelaki yang lucu-lucu, Alfa dan Aleph. Nggak ada yang lebih penting baginya kecuali melihat kedua anaknya bahagia. Dan, untuk itu, dia rela meski harus memendam sakit hati dan pura-pura buta akan penyelewengan yang dilakukan suaminya.

3—Garini Rahmaniah Putri (Rini)

Yang Menerima

Wanita Sunda tulen yang terlahir tahun 1990, mantan teller sebuah bank swasta yang resign dari pekrjaan setelah menikah, kemudian membuka bisnis toko busana muslim dan mempekerjakan dua mahasiswi. Anak tunggal sehingga sering kesepian selama hidupnya. Maka baginya, Nerissa dan Caroline adalah saudari-saudarinya yang dilahirkan dari rahim dan gen yang berbeda. Sejak kedua orang tuanya wafat, hal utama baginya adalah berbakti pada suami. Namun, takdir menamparnya dengan satu hal: mereka belum kunjung menjumpai keturunan, yang membuat ibu mertuanya benci padanya.

4—Narendra Reswara Mardiansyah Pramono (Naren)

Yang Memberontak

Saudara kembar-tidak-identik Nerissa, lahir sepuluh menit usai kelahiran saudarinya. Anak IT yang tidak bermata empat. Tipe cowok yang YOLO banget. Yang penting baginya cuma pekerjaan, futsal, gundam, dan hura-hura. Flamboyan dan doyan clubbing. Masih punya sedikit jiwa kekanakan di usia kepala tiga, sampai-sampai tidak pernah kepikiran untuk menikah. Bersama Caroline, mereka menolak keras perjodohan yang coba dijalin kedua orang tua masing-masing.

5—Daksa Anargya Lhoksewara (Daksa)

Yang Menyesal

Pria kelahiran 1986 yang akhirnya menjadi suami Nerissa. Sahabat Narendra dari zaman kuliah sarjana sampai keduanya mengambil magister di Negeri Sakura. Beda dengan Narendra, Daksa sudah taubat main perempuan sejak kenal salah satu wanita. Sayangnya, itu bukan Nerissa.

6—Raden Ajeng Farika Nakeisha (Farika)

Yang Menyerah

Tebak, siapa yang akhirnya menjadi pasangan kukuh Narendra? Dialah R.A. Farika Nakeisha, perempuan baik-baik dari kalangan aristokrat. Perempuan Jawa yang begitu lemah-lembut, meski dibesarkan dengan tatanan yang keras dan tegas. Ada satu rahasia yang disembunyikannya rapat-rapat agar tidak memicu kehancuran di sekitar, tetapi malah membuat dirinya sendiri hancur berkeping-keping.

7—Eila Dheandita Lubis (Eila)

Yang Dipersalahkan

Here we go, sang pelakor dalam rumah tangga Daksa-Nerissa LOL. Eits, apa benar dia pelakor? Apakah dia punya alis menukik dan pakai lipstik shocking pink, bergaya mentereng dan doyan memoroti kekasih gelapnya? Jawabannya tidak. Dia seorang guru berdarah Minang yang merantau ke Jakarta sejak kuliah. Bagaimana bisa seorang pendidik bangsa melakukan hal bejat? Hahaha.

8—Jahran Lazuardi Ramadhan (Jahran)

Yang mencemaskan

Jahran adalah suami Garini. Satu hal yang mencolok darinya adalah betapa ia sangat mencintai istrinya. Cinta yang membuatnya takut akan kehilangan.

9—Giovanni Gaspersz (Gio)

Yang Menyadarkan

Sosok pebisnis muda yang tajir-melintir, tetapi tidak angkuh. Cenderung kaku, namun tidak dingin, ramah malah. Kemunculannya sempat memberi rona merah muda bagi tokoh utama yang disebutkan di nomor satu. Punya kebiasaan membubuhkan identitasnya pada setiap benda miliknya.

Banyak? Memang. Masih banyak pula nama-nama yang disebutkan dalam cerita sepanjang ini (ketika saya iseng mengurutkannya dalam wujud PDF, cerita ini menembus jumlah halaman 470-an, cukup kurang ajar bagi penulis pemula. Ada 26 bab di dalamnya, belum termasuk Prolog dan Epilog). Barangkali kisah ini bakal membuat Pembaca bingung akan nama-nama tokohnya, sehingga saya mencoba mencari nama yang sederhana tetapi tetap bisa berkarakter. Sebagai pemain RP, karakter adalah hal yang paling penting dalam sebuah karya fiksi, bagi saya.

Mungkin benar kata Mas Azhar, novel debut biasanya adalah karya yang paling idealis. Saya merasa kesulitan memangkas apa saja yang harus saya singkirkan dari novel ini. Perjodohan yang sukses? Perjodohan yang gagal? Orang yang menolak perjodohan? Orang yang memilih pilihannya sendiri? Yang bahagia karena menikah? Yang tidak bahagia karena menikah? Yang bahagia karena tidak menikah? Yang bahagia karena membuang mimpinya? Yang bahagia karena berhasil mewujudkan mimpinya? Semuanya ada. Bukannya saya maruk, tetapi mereka adalah satu paket inti yang ingin saya sampaikan pada Pembaca. Bahwa apa pun yang kita lihat dari siapa pun belum tentu bisa berlaku pada diri kita sendiri. Karena saya, kamu, dia, kita semua punya nasib sendiri-sendiri.

Saya mengambil sudut pandang orang ketiga agar bisa lebih leluasa mengganti karakter. Cerita dibuka dan ditutup oleh Caroline sebagai sorot utama, tetapi pada bagian pertengahan akan muncul kisah-kisah tentang kedelapan tokoh di atas yang tersisa.

Last but not least, kenapa cerita ini saya beri judul Rumpi Rumpang?

Karena keseluruhan kisah ini akan bermula dari rumpi tiga wanita yang jadi tokoh utama kita: Caroline, Nerissa, dan Garini. Lantas mengapa rumpang? Menurut KBBI, rumpang bermakna bersela-sela karena tanggal; ompong; cuil pada tepian. Ada satu hal yang Caroline sadari ketika mereka sedang rumpi: mereka sebetulnya saling iri.

Tentang Kafe serta Restoran Apéllo

Kesemua tempat di dalam cerita ini, kecuali nama Bandar Udara, adalah rekaan. Mulai dari universitas yang menjadi tempat kerja Caroline, perusahaan Giovanni, butik Garini, pusat perbelanjaan yang sering didatangi Dasista, bahkan nama kafe dan restoran yang dijuluki Nerissa sebagai ‘Pohon Boddhi’-nya, yakni Apéllo, adalah rekaan juga. Referensinya datang dari foto acak yang saya temukan di pinterest. Namanya sendiri saya ambil secara serta-merta, sebelum kemudian saya tersadar ini bisa jadi sesuatu yang filosofis. Apel adalah buah yang bagi beberapa kalangan, memiliki nilai tertentu. Dalam kepercayaan tertentu, apel disebutkan sebagai buah pengetahuan yang dimakan Adam dan Hawa. Apel juga terlibat dalam penelitian Newton. An apple a day keep a doctor away. It’s a hyperbole, of course. LOL.Yah. Jadi, sampai di sinilah saya bisa membacot soal novel perdana saya (sedang mencoba untuk membuat yang kedua, ketiga, dan seterusnya), tanpa perlu terlalu dalam saya memberi spoiler. Untuk lebih jelasnya, silakan kunjungi Rumpi Rumpangdi Storial.

2 respons untuk ‘Menyoal Anak Pertama Saya: Rumpi Rumpang

  1. Wah, congratulations mbak!! Ikut seneng, ih. Sebab sebagai cewe yang cuma demen-nulis-kelar-kaga postingan mbak ini jadi ‘cambuk’ buat aku. Selama ini juga kebanyakan excuse yang bikin project novel keteteran terus. Dan bener, lama-lama ilang dari peredaran…
    .
    .
    Laptop 😭😂

    Ga sabar pingin cus ke storial, deh. Sukses ya, mba! Doakan aku juga bisa nyusul 😅

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.