Beberapa Hal yang Belakangan Ini Terpikirkan

BELAKANGAN INI banyak peristiwa berlangsung, baik yang saya alami nyata, saya dengar dari kesaksian orang lain, atau hanya saya baca dari media sosial. Terlalu singkat untuk dijadikan satu tulisan untuk tiap-tiap topik, maka saya merangkumnya dalam tulisan ini. Dengan kata lain, ini Tulisan Gado-gado lainnya.

1—”Educate Yourself”

Belum lama ini, saya sempat menemukan seseorang di platform burung biru yang bercuit tentang hal ini. Sempat saya ambil tangkapan layar juga karena saat itu, saya setuju dengan pendapatnya. Anehnya setelah saya cari lagi di galeri, tangkapan layar itu tidak saya temukan. Di mana, ya? Enggak tahu, deh. Entah terselip, atau tidak sengaja saya hapus.

Walau begitu, saya masih ingat inti twit tersebut. Si pengicau memprotes mereka yang mengaku sebagai orang-orang dengan pemikiran terbuka tetapi memerintahkan orang lain untuk mengedukasi diri sendiri. Sebab menurutnya, mereka yang berpemikiran terbuka tuh tidak akan berkata demikian (menyuruh orang lain belajar sendiri), melainkan menjelaskannya perlahan-lahan agar orang itu mampu memahami.

Waktu itu saya setuju sekali. Saya pikir pernyataannya benar. Seseorang yang merasa diri tahu akan sesuatu tetapi tidak bisa menyebarkannya, berarti tidak benar-benar memahami apa yang ia bicarakan.

Akan tetapi, usai belakangan ini melihat dan terlibat dengan orang-orang dengan ciri khas serupa, saya merasa bahwa pandangan itu terlalu arogan.

Menjelaskan kepada orang lain nyatanya enggak semudah yang disarankan. Tidak semudah yang diucapkan. Sekalipun kita paham dengan apa yang kita jelaskan; sekalipun kita telah berupaya menyusun penjelasan sesimpel mungkin agar bisa dimengerti, tetap akan ada yang menolak memahami. Banyak manusia hanya ingin percaya pada apa yang mereka ketahui. Sedangkan apa-apa di luar itu, termasuk apa-apa yang mencelat melintasi pemahaman mereka, bakal mereka anggap sesuatu yang keliru.

Kalau seseorang sudah terlalu percaya bahwa pendapatnya adalah pendapat yang benar, sampai berbusa-busa dan lelah sendiri pun, kita tidak bisa menanamkan pandangan kita. Penjelasan kita bakal percuma. Bukan selamanya karena kita tidak sanggup menjelaskan. Bisa jadi juga karena kita tahu mereka yang tidak mau menerima. Apalagi, jika mereka adalah orang yang terbiasa memandang sesuatu dengan ketersesatan logika.

Komunikasi adalah proses interaksi yang berlangsung antara minimal dua orang: pemberi dan penerima. Kalau lawan bicara kita enggan menerima, itu sama seperti air yang jatuh ke atas permukaan cermin. Tidak ada yang diserap. Tidak ada yang membekas. Mentah dan mental. 

Makanya, saya mengerti, terkadang mereka yang meminta orang lain untuk mencari tahu fakta sebenarnya dari suatu perkara yang tengah diperdebatkan, enggak selamanya enggan memberi informasi itu sendiri, melainkan ia melihat indikasi bahwa orang tertentu tidak akan menerima informasi itu saat itu, dari dirinya.

2—Menspesialkan Hari Ulang Tahun

Sejak kecil, saya enggak pernah merayakan hari ulang tahun. Dulu karena ketiadaan biaya. Belakangan karena sudah kadung larut dalam pemikiran bahwa hari ulang tahun bukan hari yang spesial. 

Memangnya buat apa merayakan ulang tahun? Itu kan sama dengan merayakan datangnya maut, demikian pemikiran lurus saya sewaktu masih remaja. 

Memangnya buat apa merayakan ulang tahun? Bukannya kalender itu banyak? Ada kalender Gregorian, Hijriah, dan kalender-kalender lunar lainnya, mestinya kalau dirayakan, kita merayakannya pada setiap pengulangan tahun dalam semua kalender, dong! demikian pemikiran sok kritis saya sewaktu awal dewasa.

Memangnya buat apa merayakan ulang tahun? Bukannya penanggalan hanya ada-adanya manusia doang? Toh, kita bertambah tua setiap detik. Kenapa yang dirayakan cuma ulang tahun? Enggak sekalian tuh, merayakan ulang windu, ulang dekade, atau ulang semester, ulang triwulan, ulang bulan, ulang minggu, ulang hari, ulang jam, ulang menit, ulang detik … demikian pemikiran konyol saya beberapa waktu yang lalu.

Kemudian saya mengerti bahwa pendapat saya itu bukan karena saya benar-benar berpikir demikian, melainkan karena saya telah dididik untuk terbiasa berpikiran bahwa perayaan ulang tahun adalah hal yang tidak penting. Dahulu, untuk membenarkan bahwa saya tidak begitu menyedihkan karena tidak pernah merayakan hari ulang tahun, juga tidak memperoleh apa pun di hari itu, saya membentuk pemikiran sendiri bahwa hari ulang tahun itu tidak butuh dirayakan, karena kenyataannya, manusia bergerak tua setiap detiknya.

Pemikiran ini yang kemudian melandasi anggapan saya terhadap mereka yang memberi hadiah pada hari ulang tahun orang sebagai orang-orang yang hanya sok peduli di hari tertentu saja, sementara pada hari-hari lainnya, mereka bertindak tidak peduli. 

Akan tetapi, baru-baru ini saya belajar dari kakak ipar secara tidak langsung. 

Karena berasal dari didikan keluarga yang berbeda, kebiasaan kami pun enggak sama. Jika saya terbiasa tidak merayakan hari kelahiran, kakak ipar justru terbiasa memberi dan menerima hadiah pada peringatan kelahirannya. Namun, sejak tinggal bersamanya, mau enggak mau saya mesti membiasakan diri dengan perbedaan gaya hidup kami.

Sejak tinggal bersamanya, setiap berulang tahun, saya selalu menerima sesuatu darinya. Bukan hanya saja. Keponakan-keponakan saya, adiknya, kakak saya, sepupu saya, bahkan sepupunya. Seperti yang berlangsung beberapa hari lalu.

Kakak saya yang seorang pengusaha kue berulang tahun. Pada hari itu juga, Kakak ipar memborong kue-kuenya dan dibagikan kepada kami untuk disantap bersama. Meski tidak dikatakan secara langsung, saya menangkap sesuatu yang tersirat bahwa: kakak ipar tengah memberikan ‘hadiah’ ulang tahunnya berupa membuat kue-kue itu ludes di hari spesial si kakak.

Peristiwa ini membuat saya berpikir. Saya belajar bahwa enggak apa-apa jika kita memberikan perhatian pada hari ulang tahun seseorang. Bukan karena kita tidak memberikannya di hari-hari lain,  melainkan karena kita enggak bisa selamanya bersikap sepeduli itu setiap hari, sepanjang waktu, pada semua orang yang kita kenal. Maka, jika ada satu kesempatan di mana kita bisa memberikan sedikit perhatian, kepedulian, cinta, atau sesuatu yang sekiranya bermanfaat buat seseorang, yaitu di hari ulang tahunnya, kenapa enggak? Toh, memberi kado di hari ulang tahun seseorang enggak berarti kita benci pada dia di hari-hari lain, ‘kan? 

3—Tidak Usah Terburu-buru Memberi Penilaian

Sudah berkali-kali banget disampaikan kepada kita tentang pentingnya mengonfirmasi kebenaran suatu kabar. Kalau dalam Islam, dikenal istilah tabayyun. Akan tetapi, kenyataannya, manusia itu suka ngeyelan. Disampaikan berkali-kali pun cuma dijadikan quotes cantik, tapi tanpa diamalkan. 

Baru-baru ini ada kabar panas dari dunia selebrita negeri ginseng. Seorang aktor yang tengah naik daun karena dramanya, terlibat skandal. Katanya, dia pernah menyuruh mantan pacarnya untuk aborsi. 

Kabar ini sontak menerima reaksi yang beragam. Ada yang langsung menelan mentah-mentah berita ini, dan menghujat aktor yang bersangkutan.

Ada yang bilang ‘mari kita tunggu konfirmasi dulu, soalnya belajar dari yang sudah-sudah, pengakuan begini kadang cuma permainan biar kasus pejabat negara sana teredam, atau cuma nyari sensasi, atau cuma datang dari orang yang mengiri dan mau mematikan karier si aktor‘.

Paling banyak mereka yang—umumnya datang dari penggemar si aktor—menolak percaya. Beberapa di antaranya menggunakan alasan sok tahu seperti si aktor pasti anak baik-baik karena tampangnya macam santa (lmao, pernahkah kamu dengar kalimat don’t judge books by their covers, sayang?), meski yang saya tangkap, mereka menolak percaya karena si aktor tampan. Coba kalau jelek? (kalau jelek dia enggak mungkin jadi aktor terkenal begitu sih, yeaaa i know i’m moron).

Sejujurnya, saya masuk kategori kedua pada awalnya. Barangkali karena saya bukan penggemarnya, jadi, tiada rasa kecewa yang mendasari saya kalau memang kemungkinan terburuklah yang saya percayai. Kemudian, begitu nongol permintaan maaf dari si aktor, ohlala, saya langsung hijrah ke kategori pertama, meski saya enggak seterbuka itu untuk ikut-ikutan menghujat beliau di mayantara—cuma merutukinya dalam hati.

Pasalnya, waktu itu saya berpikiran begini:

Seks itu pekerjaan dua orang. Kecuali dalam beberapa kasus khusus (misal seseorang diperkosa). Jika sepasang kekasih melakukan hubungan intim mau sama mau dan ceweknya sampai hamil, maka itu akibat dari perbuatan dua orang. Saya bukan manusia anti-aborsi, sih. Sekalipun saya tahu bahwa itu ilegal. Andaikata dua orang ini enggak siap jadi orang tua, atau enggak siap mencoreng aib ke muka sampai kehilangan pekerjaan dan sebagainya (tapi sepertinya di Korea kalau punya anak di luar nikah bukan aib di zaman sekarang, CMIIW), dan keduanya sepakat untuk aborsi, ya jalani saja. Toh, yang merasa sakit atau menanggung dosanya juga mereka. Kalau saya berkoar-koar di media sosial bahwa itu dosa, memangnya mereka bakal baca? Bakal mengerti? Kan, kagak. 

Berangkat dari pemahaman ini, waktu itu saya pun jadi berpikir bahwa jika si A (mantan kekasih sang aktor) sampai meminta pertanggungjawaban aktor itu, mungkin saja pada proses diskusi mereka seputar aborsi dulu itu diisi dengan ‘permainan’ dari sang aktor. Inilah yang membuat saya ikut menyalahkan si aktor, kendati hanya saya sendiri yang tahu.

Lalu, muncullah kabar terbaru dari Dispatch (samacam ‘pengulik kebenaran dan rahasia-rahasia tertentu dari kehidupan selebritis Korea’). Dari sana muncullah bukti yang melahirkan dugaan baru yang melemahkan posisi si cewek dalam kasus ini, dan memperkuat bahwa si aktor tidak bersalah.

Memang belum ada kepastian tentang kebenaran kasus yang sejelas-jelasnya. Akan tetapi, bukti ini saja sudah mampu mengetuk kepala saya.

Sekalipun saya tidak menyuarakannya, saya sempat yakin bahwa si aktor memang bersalah dengan bukti yang minim, dan itu sama sekali bukan hal yang bijak. Terkadang, sebuah kasus sama seperti bawang, terlindung oleh banyak lapisan, dan kita perlu mengupas tuntas setiap bukti serta sabar menunggu, karena akan ada bukti-bukti lain yang menyusul dan kemudian mencerahkan kasus itu.

Dengan kata lain, jangan lekas termakan prakonklusi, ya Illa. Dalam kasus apa pun. Berhipotesis boleh, tapi jangan terlalu yakin. Di sinilah pentingnya kita untuk menahan diri, lalu ber-tabayyun terlebih dahulu. 

4—Kupandang Hidup, Manusia Sombong Bertaburan …

Sampai saat ini, saya masih memegang keyakinan kalau dosa utama manusia adalah kesombongan. Belum tahu besok. Belum tahu nanti.

Dalam beberapa tulisan sebelumnya sudah pernah saya utarakan alasan ini. Kesombongan seperti dosa induk yang menelurkan anak-anak dosa lain. Mereka yang sombong akan merasa diri lebih dibanding siapa pun sehingga berpikir ‘enggak apa-apa kalau aku menyakiti orang lain yang lebih lemah, memangnya mereka bisa apa?

Mereka yang sombong bakal merasa kelewat yakin dan terlalu percaya diri bahwa golongan merekalah yang paling benar, sehingga berpikir bahwa bukan masalah kalau mereka menghabisi atau menekan orang-orang yang enggak sejalur.

Mereka yang sombong bakal merasa lebih tahu dibanding orang lain, sehingga menghujat orang lain bodoh, menilai orang lain berdosa, bahkan enggak pantas hidup. 

Kesombongan juga yang bikin manusia tidak menghargai makhluk lain. Membuat manusia bertindak semena-mena terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan. Memang sebagai muslim, saya mesti meyakini kalau manusia adalah makhluk yang sebaik-baiknya pernah diciptakan. Tapi, kalau kita merasa tinggi hati (even kepada makhluk halus sekalipun, makanya saya agak kurang suka menyaksikan prosesi rukyah, kemudian si perukyah bilang “saya ini makhluk yang lebih sempurna daripada kamu” kepada you name it Jin yang tengah dilawannya, walau saya mengerti mungkin itu semacam gertakan biar si jin yang enggak bertingkah sombong dengan menguasai apa yang tidak berhak ia kuassi), apa bedanya kita sama iblis yang juga menganggap rendah manusia?

Jadi, sebenarnya kita ini entah sadar atau tidak, sudah terlalu banyak mengakarkan kepribadian iblis dalam kehidupan kita sendiri. Salah satu potret nyatanya barangkali kasus yang dilakukan para oknum dari instansi yang semestinya mengayomi masyarakat, sampai-sampai kehilangan kepercayaan dari masyarakat itu sendiri. “Oknum kok, segudang?” Demikian pertanyaan yang kerapkali bermunculan, saking banyaknya peristiwa meresahkan yang melibatkan instansi yang bersangkutan. 

Menurut saya, banyaknya oknum-oknuman sehingga menjadikan penurunan kepercayaan masyarakat kepada instansi terkait itu wajar. Inilah yang dinamakan reputasi. Sebuah perusahaan atau brand saja bisa tiba-tiba ambruk hanya karena tingkah laku beberapa karyawan atau malah seorang saja brand ambassador. Saham sebuah perusahaan bisa anjlok cuma gara-gara satu kasus kecil yang melibatkan pengusahanya. Itulah yang sejak kecil kita pelajari dengan pepatah ‘karena nila setitik rusaklah susu sebelanga‘. Apalagi kalau kasusnya sesering kita menjemur pakaian, dan mainnya keroyokan?

Belum redup rasanya gaung skeptisme masyarakat kepada instansi ini sejak kasus di mana seseorang kehilangan anggota keluarga, laporannya bertahun-tahun mandeg, sementara begitu mengandalkan magic-nya media sosial, ternyata hanya butuh 24 jam untuk ketemu. Pakai harus ditambah lagi dengan kasus di mana seseorang disidak di media sosial cuma karena kata ‘mampus’ yang keliru ditafsirkan. Seolah belum puas, datang lagi kasus pemukulan gara-gara bersin.

Manusia zaman sekarang kenapa, deh ya? Yuk, istirahat dulu, yuk, kalau lelah, biar urat sarafnya enggak tegang terus sehingga gampang sekali disulut emosi. 

Bahkan, ada yang bilang kalau sekarang ini, kata oknum itu terbalik. Sepertinya oknum lebih cocok disandingkan pada mereka yang berkinerja baik, benar-benar mengabdi dan mengayomi masyarakat sipil, saking sedikitnya orang-orang seperti ini. Maka, wajar kalau masyarakat lebih memercayai security bank ketimbang mereka yang sudah berkali-kali meruntuhkan kepercayaan.

Saya masih merasa ini terlahir karena kita terlalu sombong. Sombong bahwa kitalah yang benar sedangkan orang lain salah. Sombong bahwa kitalah yang kuat sedangkan orang lain lemah. Sombong bahwa kitalah yang bakal menang, sementara orang lain akan kalah. 

Saya sengaja enggak menyebut nama instansi terkait karena saya masih manusia yang taat hukum, termasuk Undang-undang IT. Walau siapa pun bakal tahu instansi mana yang sedang saya bahas. Saya juga masih menghargai dan menghormati instansi yang bersangkutan, sebab itu salah satu yang pernah menjadi cita-cita saya di masa lalu. Dua paman saya adalah ‘oknum’ mereka yang baik, sehingga saya masih berusaha optimis bahwa masih ada sosok-sosok yang benar-benar mengabdi, meski cahayanya redup karena kalah pamor dibanding mereka yang berulah.

Malahan, saya juga pernah menulis sebuah novel yang bermaksud untuk menyatakan kalau anggota instansi ini yang baik itu masih ada. Kalau ingin baca, boleh mampir Kwikku dan cari Handcuffed Heart. Iya, ini promosi colongan, tapi kan, enggak apa-apa promo di rumah sendiri. 

Tak jarang, dalam waktu-waktu lelah membaca berita tentang oknum-oknuman ini, saya merasa sakit hati karena mereka yang berhasil ada di tempat yang saya mimpikan dan malah menyia-nyiakan kesempatan menabur juga menebar kebaikan di jalan itu.

Barangkali saya sendiri juga sombong dengan merasa lebih pantas jadi anggota mereka. Sombong dengan merasa yakin bahwa kalau saya ada di sana, saya pasti bakalan melakukan tugas saya dengan baik.

Saya pikir dengan banyaknya protes dan kritik dari masyarakat, seharusnya pihak yang bersangkutan bukan malah semakin emosi lalu menuntut dengan tuduhan pencemaran nama baik. Hal seperti ini mengingatkan saya pada kaum yang menolak mengakui bahwa ada sesuatu yang salah dari umatnya dewasa ini, padahal faktanya telah bertaburan seperti bintang di angkasa malam. (Atau bisa jadi, mungkin di mata mereka setiap hari selalu siang, makanya bintangnya enggak kelihatan). Yang sewajarnya dilakukan oleh orang berjiwa kesatria, bijak, dan berkepala dingin setiap menerima kritik adalah: bercermin, mencari kesalahan, meminta maaf, kemudian berbenah diri. Kritik datang karena memang ada yang salah. Ini toh demi kebaikan kita bersama juga, ‘kan, ya? 


foto: canva

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.